Benih Pengikat

Benih Pengikat
Hanya karena benih


__ADS_3

Lama Zea menunggu di parkiran, setelah kepergian sang Kakak. Berulang kali, gadis itu melirik jam dipergelangan tangannya. Namun, orang yang ia tunggu tidak juga segera datang.


"Kemana sih dia? Katanya sepuluh menit? Ini mah udah tiga puluh menit," gumam Zea bermonolog sendiri.


Tring!


Terdengar sebuah notif dari ponselnya. Segera ia meraih ponsel itu dan melihat chat dari seseorang yang tak lain dari suaminya.


[Aku sibuk!]


Satu balasan dari Darren, setelah beberapa menit chatnya baru pria itu balas. Bahkan, ia sempat menghubungi Darren beberapa kali. Namun, tidak ada tanggapan dari suaminya tersebut. Dan sekarang? Hanya satu chat singkat dikirim pria itu, membuat Zea hanya mampu menghembuskan napas dalam.


**


"Apa hari ini sangat sibuk?" tanya Zea dan hanya dibalas deheman dari pria yang tengah fokus mengemudi itu.


"Apa tadi kamu makan?" tanya Zea dan lagi-lagi hanya dibalas Darren sebuah deheman.


Tentu Zea merasa aneh, saat Darren hanya membalas demikian. Wanita itu mencoba menebak apa yang terjadi pada suaminya itu. Padahal, ia melihat chatnya tadi siang tidak menujukkan tanda-tanda Darren marah atau sebagainya. Justru, Darren terlihat memberi perhatian padanya.


Tak berselang lama, mobil sampai di basemen apartemen. Raut wajah Darren masih sama. Tidak ada sepatah kata pun keluar dari bibi pria tampan itu. Zea masih memilih diam dengan segala pertanyaan yang bersarang di otaknya. Hingga keduanya tiba di unit mereka.


"Em, kamu mau makan apa? Biar aku masak," tanya Zea mencoba mencairkan suasana.


"Gak perlu! Aku udah pesan," balas Darren dan berlalu begitu saja ke dalam kamarnya.


Zea menghela napas kasar, entah apa yang membuat pria tampan itu kembali cuek dan seolah tidak peduli padanya. Apa dirinya membuat kesalahan? Pikirnya bertanya-tanya.


Setelah lama berperang dengan pemikirannya. Zea memasuki kamar untuk mengajak suaminya itu bicara.


"Kayaknya dia lagi mandi," gumam Zea, saat mendengar gemericik air dari dalam kamar mandi.

__ADS_1


Si ibu hamil itu memilih untuk menunggu diatas kasur, seraya memainkan ponselnya. Sudah lama ia tidak membuka media sosialnya yang ternyata banyak notif masuk.


"Cih! Nih anak mau pulang? Kok gak ngabarin," tanya Zea bermonolog sendiri, saat melihat postingan seseorang.


Segera ia mengirim chat pada seseorang yang tak lain sahabatnya yang akan pulang dari luar Negri.


[Kurap! Mau pulang gak bilang-bilang. Awas aja!]


Satu chat dikirimkan oleh Zea, namun tidak ada tanggapan sama sekali. Chat itu centang satu, pertanda nomor tersebut tidak aktif.


"Apa dia udah take off?" gumamnya bermonolog sendiri.


Kembali ia mengecek postingan sahabatnya itu untuk melihat kapan postingan tersebut di buat. Hingga suara pintu kamar mandi yang terbuka tidak disadarinya.


Darren yang melihat Zea sibuk dengan benda pipih ditangannya, semakin kesal. Bahkan, gadis itu tidak berbicara apapun saat melihat sikapnya seperti itu. 'Cih! Sepertinya kamu memang gak akan pernah menganggapku,' gumamnya dalam hati.


Pria itu memilih untuk keluar dari kamarnya, dan tanpa sengaja menutup pintu sedikit keras. Hingga sukses membuat Zea terlonjak kaget.


"Astaga!" pekiknya memegang dada. "Dia kenapa sih?" tanyanya bingung.


"Aku mau ngomong," Zea mencekal tangan Darren, hingga menghentikan pergerkaan pria itu yang hendak membuka lemari pendingin.


Darren berbalik menatap sang istri. "Apa?" tanyanya singkat.


"Kamu yang kenapa?" Bukan menjawab, Zea justru bertanya balik. Darren hanya mengalihkan tatapan malas.


"Kenapa kamu bersikap cuek lagi sama aku? Kenapa kamu seolah marah sama aku? Apa bisa kamu jelaskan?" cecar Zea yang sudah tidak bisa menahan segala uneg-uneg yang bersarang di otaknya.


Darren tersenyum sinis mendengar pertanyaan itu. "Kenapa? Kenapa aku harus memberimu penjelasan?" tanyanya.


"Karena aku ingin kita mengakhiri perjanjian bodoh itu. Apa kamu gak pikir bagaimana anak kita nanti? Dia gak cuma butuh sosok ayah ataupun Ibu. Tapi, dia juga butuh keluarga utuh," jelas Zea.

__ADS_1


"Tanpa cinta?" sambar Darren bertanya.


"Kita bisa memulainya," balas Zea.


Darren tertawa sumbang menanggapi. Ia berjalan mendekat, hingga reflek Zea sendiri mundur dan terbentur pada meja dapur. Darren mengukung wanita itu diantara meja, hingga Zea diam tak berkutik.


"Ingatlah! Aku menikahimu hanya karena benihku yang gak sengaja memasuki rahimmu. Jadi jangan berharap lebih!" peringat Darren penuh penekanan dengan bahasa yang kembali formal.


Bukan takut, Zea justru tersenyum mengejek. "Akan aku ingat itu. Tapi ... Aku gak yakin, jika suatu saat kau sendiri yang menginginkan lebih," ucapnya menantang.


Zea memutuskan tidak akan menyerah ataupun gentar untuk memulai hubungan baik diantara mereka. Entah apa yang mendorong dirinya untuk melakukan hal tersebut. Namun, ia sendiri yakin. Bayinya menginginkan hal itu.


Zea mendorong pelan tubuh Darren agar tidak terlalu menghimpit dirinya, terutama baby dalam kandungannya. "Maaf, kamu bisa menyakitinya, jika terlalu berhimpitan," ucapnya tersenyum mengusap perut ratanya.


Darren melengos segera berbalik dengan perasaan kesal. Ia tidak bisa menebak apa isi kepala istrinya itu. Zea yang menyatakan tidak ingin mengakuinya, dan sekarang wanita itu juga yang menyatakan untuk memulai. Sungguh hal itu membuat Darren bingung. Ia memilih untuk meninggalkan wanita itu dan kembali ke kamarnya.


"Kamu lihat saja Darren. Aku akan membuatmu memperhatikanku. Bukan hanya karena bayi kita!"


**


Brukk!!!


Darren membantingkan tubuh diatas kasur. Pikirannya benar-benar kacau hari ini. Sikap sang istri sungguh tidak dapat ia pahami. "Apa yang sebenarnya dia inginkan?" gumamnya.


Drrttt ... Drrttt ...


Suara getaran ponsel yang tergeletak disamping wajahnya membuat ia mengerenyit heran. Penasaran ia pun melihat siapa yang memanggil pada ponsel istrinya itu.


"Rafka?" gumamnya membaca si pemanggil.


Darren bangkit seraya memperhatikan benda yang tidak mau diam itu. Ia mencoba mengingat siapa pemilik nama tersebut. Hingga, tiba-tiba ia pun mengingatnya.

__ADS_1


"Ngapain dia menghubungi Zea?"


\*\*\*\*\*\*


__ADS_2