Benih Pengikat

Benih Pengikat
Khawatir


__ADS_3

Zea masih terisak disamping sang Kakak. Gosip itu membuat mood si ibu hamil itu anjlok. Padahal ia bukanlah type gadis cengeng dalam menghadapi masalah seperti itu.


"Kayaknya, ponakan Om ini manja banget ya. Masa cuma gara-gara gosip gitu aja cengeng," ledek Alzein mengusap perut rata sang adik.


"Isshh, Kak!" rengek Zea kesal.


Alzein tergelak mendapat rengekan manja yang sudah lama tidak ia dengar. Segera ia merangkul tubuh adiknya itu. "Kamu gak usah khawatir. Gosip-gosip itu bentar lagi juga hilang. Lagian ngapain sih, nanggepin gosip kayak gitu? Mening kamu fokus sama kesehatan baby kamu," jelasnya.


"Ya, tetap aja Kak, aku kesel. Aku gak terima mereka ikut jelek-jelekin Kakak sama Darren," protes Zea.


Mendengar hal itu membuat Alzein terkekeh. "Ciee segitu cintanya ya, sama Darren?" godanya.


"Isshh apaan sih, kak?!" elak Zea melengos. Mendapat godaan dari sang Kakak, membuat wajah Zea tiba-tiba memanas.


Alzein tersenyum seraya mengusek kepala adiknya itu. "Kakak seneng, denger hubungan kalian membaik. Apapun pilihanmu, Kakak akan selalu mendukungmu, hem?"


Zea tersenyum menganggukan kepala. Sungguh ia sangat bersyukur memiliki Kakak yang begitu menyayangi dan selalu melindunginya.


"Wah, kayaknya lagi reuni nih?" celetuk seseorang tiba-tiba, mengalihkan atensi mereka.


Kedua saudara itu menoleh melihat siapa yang menyapa mereka? Ternyata ia adalah Rafka. Pria itu memiliki janji bersama Alzein ditempat tersebut. Sebuah kafe yang tidak jauh dari kampus mereka.


"Kuraf?" Zea melirik sang Kakak meminta penjelasan. Ia pikir ada kemungkinan Alzein sengaja meminta Rafka bertemu untuk membahas apa yang terjadi.


"Hem, tatapannya biasa aja!" ledek Alzein menutup mata Zea, yang kemudiam dibalas decakan wanita itu. "Kita mau bahas sebuah projek," lanjut Al menjelaskan.


Rafka yang tidak memahami situasi, menautkan alis bingung. "Kenapa? Apa ada masalah?" tanyanya.


"Enggak, bukan apa-apa!" sangkal Zea tersenyum. "Kalo gitu, aku pergi dulu. Takut mengganggu kalian," pamitnya.

__ADS_1


Ia hendak berdiri, namun Rafka mencegatnya. "Apaan sih? Aku berasa orang lain tau gak," ucap Rafka tak terima.


"Apa kamu masih marah karena kejadian waktu itu?" tanya Rafka menyelidik. "Maaf, sudah mengatakan hal itu. Maaf juga, kalo itu membuatmu merasa canggung. Tapi ... Apa gak bisa kamu bersikap seperti sebelumnya padaku? Aku ingin persahabatan kita tetap seperti dulu," jelasnya sendu.


Tentu saja hal itu begitu mengganggu Rafka. Zea terlihat memberikan jarak diantara mereka. Hanya karena satu ungkapan, haruskah membuat persahabatan mereka berantakan? Meski harus diakui, ia memiliki perasaan lebih dari itu. Apa tidak ada perasaan Zea menganggapnya seorang kakak?


"Maafin aku Raf," sesal Zea tertunduk. Seperti yang dikatakan Rafka, dirinya memanglah berpikir seperti itu. Hingga ia sadar, ia memang tidak seharsunya demikian. Zea pun mengurungkan niatnya untuk pergi dan memilih duduk kembali.


"Aku tau, kamu melakukan ini, agar gak ada salah pahamkan di antara kalian? Tenang aja, aku benar-benar menghargai itu," lanjutnya tersenyum meyakinkan.


Zea menatap Rafka dan ikut tersenyum. Mungkin seperti yang dilakukan Rafka, ia pun akan menghargai persahabatan mereka.


"Ze!"


Panggilan seseorang kembali mengalihkan atensi mereka. Darren berjalan cepat dari arah pintu kafe, menghampiri mereka.


"Darren?" Zea bangkit dari duduknya. Bagaimana bisa pria itu keluar saat masih jam pelajaran? Pikirnya.


Tanpa di duga, pria itu mendekap Zea dengan erat. "Kamu baik-baik aja? Apa mereka menyakitimu?" tanyanya dan dibalas gelengan oleh Zea.


Terdengar hembusan napas kasar dari bibir pria itu. "Maafin aku, semua salahku!" sesalnya.


Rafka yang tidak tau apapun menatap Alzein dengan sebuah kode untuk meminta penjelasan. Alzein, hanya tersenyum. Lalu, tanpa menjawab menegak minumannya.


Darren melepaskan dekapannya, ia menangkup kedua pipi sang istri. Melihat keadaan istrinya dari ujung kepala hingga ke ujung kaki, memastikan bahwa wanita itu benar baik-baik saja. Sontak hal itu mengundang tanya dari Zea.


"Kamu tau dari mana aku disini?" tanya Zea heran.


"Itu gak penting," balas Darren. "Apa mereka mengucapkan kata-kata kasar sama kamu? Apa mereka melukaimu?" tanyanya khawatir.

__ADS_1


Zea tersenyum melihat garis ke khawatiran di wajah suaminya. "Aku gak apa-apa, kok. Kata-kata mereka gak melukai aku sama sekali," balasnya menenangkan.


"Iya, cuma komentar di postingan aja, yang buat kamu nangis," ledek Alzein.


"Kakak!" peringat Zea menatap tajam sang Kakak. Alzein hanya terkekeh melihat ekspresi itu.


"Kamu nangis?" tanya Darren semakin khawatir. Zea menggeleng menyangkal ucapan sang Kakak.


"Dia nangis, karena banyak komentar jelekin suaminya," celetuk Alzein lagi.


"Kakak ihh!!!"


Grepp!!!


Darren kembali memeluk tubuh istrinya itu. "Maaf udah buat kamu nangis. Bukan aku yang harus dikhawatirin. Tapi, kamu!" sesalnya.


"Kamu jangan khawatir. Aku gak apa-apa kok, beneran!" balas Zea menenangkan, membalas pelukan suaminya. Sungguh begitu bahagia melihat sang suami yang mengkhawatirkannya.


Sementara Rafka yang melihat adegan itu, hanya mampu menghela napas berat. Meski ia terus meyakinkan untuk ikhlas. Namun, nyatanya itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Benar-benar butuh waktu untuk ia bisa melakukan itu.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Rafka mengalihkan perhatiannya pada Alzein.


"Kesalah pahaman menyebar. Dan kamu juga terlibat," balas Alzein.


"Hah?! Aku? Kenapa?" tanya Rafka bingung. Belum juga Alzein menjawab, suara Dareen menyelaknya terlebih dahulu.


"Sebaiknya, kita pergi sekarang!" ajak Darren melerai pelukannya.


"Kemana?" tanya Zea bingung.

__ADS_1


"Untuk membeberkan fakta, dan membungkam mulut mereka."


\*\*\*\*\*\*


__ADS_2