Benih Pengikat

Benih Pengikat
Bukan malam pertama


__ADS_3

Ceklek!


Pintu terbuka, menampilkan Zea yang hanya berbalutkan bathrob. Tentu saja hal itu mengundang tanya di hati Darren. Kedua alis tebal itu tertaut, pertanda ia bingung.


"Kamu mandi?" tanya Darren.


Zea tersenyum kikuk, ia bingung harus membalas apa? Ia pun memilih berlalu tanpa menjawab menuju tempat tidur. "Sebaiknya kita cepat tidur!" ajaknya.


Darren semakin bingung dengan tingkah istrinya itu. Mungkinkah ia tidak menyukai pakaian pemberian sang Mama? Dan menginginkan pakaian lain. Ia pun berinisiatif mengambil kaos oblong beserta boxernya dari dalam lemari.


"Nih!" Lalu, ia memberikan kedua kain itu kehadapan sang istri yang sudah mendudukkan diri di tepi ranjang. "Kamu bisa masuk angin kalo cuma pake itu," lanjutnya.


Zea kembali bingung menatap pakaian itu. Haruskah ia mengenakannya atau ...??


'Sebenarnya dia kenapa?' tanya Darren dalam hati. Ia hendak duduk disamping istrinya itu, namun tiba-tiba atensinya teralihkan pada sekilas kain dibalik handuk kimono tersebut.


'Bukannya dia udah pake baju? Kenapa ditutupi handuk?' batinnya semakin bingung.


Setelah mendaratkan bokongnya, Darren hendak bertanya seraya memegang bathrob tersebut. Namun, tanpa diduga. Zea justru berdiri, membuat tangan Darren tak sengaja menarik talinya.


Sreett!!!


Tali bathrob yang dikenakan Zea terlepas. Menyisakan kain tipis berwarna hitam yang ia kenakan. Tarikan itu juga membuat tubuhnya berbalik ke hadapan Darren, hingga kain tebal itu melorot dan terjatuh.


Deg!


Zea syok bukan main, reflek ia mendekap tubuh bagian atasnya dengan wajah memucat. Hal demikian juga dirasakan Darren. Pria tampan itu membelakak, menelan salivanya kuat-kuat. Sungguh pemandangan yang sulit dilewatkan. Bagaimanapun ia pria normal yang tidak bisa menghindari itu.


Keadaan mendadak hening diantara sejoli itu, disertai degup jantung yang bergemuruh. Sekelebat bayangan malam itu, kembali terputar. Suara mereka saat menikmati permainan panas tiba-tiba terdengar bersahutan memenuhi gendang telinga masing-masing. Membangkitkan gelenyar aneh dari dalam diri mereka.


Zea tersadar terlebih dulu dan hendak kembali berlalu kedalam toilet. Namun, langkahnya terhenti saat Darren mencekal pergelangaan tangannya. "Mau kemana?" tanyanya.

__ADS_1


"A-aku, a-aku, mau ganti baju," balas Zea tergagap. Sungguh ia merutuki dirinya sendiri yang memaksa mengenakan kain tersebut.


Darren menarik tangan Zea, hingga ia mundur dan terjatuh di pangkuan Darren. Bahkan kaos dan boxer yang sempat ia peluk, jatuh bertaburan ke atas lantai.


Deg! Deg!


Degup jantung keduanya semakin tak beraturan. Darren memejamkan mata, mencoba menenangkan diri. Ingin sekali ia menghindar. Namun, mengingat status mereka saat ini, bukankah tidak ada salahnya mereka melakukan itu?


"Maaf! Apa kita juga bisa memulai yang satu ini?" bisik Darren lirih, tepat ditelinga Zea.


Gadis itu memejamkan. Hembusan napas hangat yang menyapu ceruk, membuat bulu kuduk wanita itu meremang seketika. Sejujurnya ia belum siap, masih ada rasa takut diujung hati. Takut, jika Darren hanya mempermainkan perasaannya. Namun, ia pun tak bisa menampik akan label halal yang sudah tercap diantara mereka.


Belum sempat Zea memberi jawaban, Darren memutar tubuh itu menyamping. Hingga ia bisa dengan jelas melihat wajah sang istri. Lalu, satu tangan meraih pipinya.


"Kalo kamu belum siap, gak apa-apa. Kita bisa menundanya. Aku gak mau membuatmu terbebani," ucap Darren.


Zea mendongak menatap serius pria dihadapannya. "Kenapa kamu mau melakukannya? Apa alasan kamu mau kita memulai hubungan ini?" tanya Zea memastikan.


"Seperti saat awal kamu menolakku. Apa alasanmu, gak menginginkan tanggung jawab dariku? Jawabannya karena gak ada cinta ataupun hubungan spesial diantara kita. Lalu, kamu menginginkan kita memulai, karena satu alasannya. Keluarga yang utuh untuk bayi kita. Begitu 'kan?" selak Darren.


"Pun aku sekarang. Jika kamu bertanya kenapa sebelumnya aku menolak? Aku gak ingin memulai, karena alasan yang sama. Untuk apa jika kamu hanya melakukan itu karena bayi?"


"Aku ingin kita memulainya karena hati. Entah cinta atau karena kamu benar-benar ingin hidup bersamaku. Bukan sekedar bayi. Itu jawabanku," jelas Darren panjang kali lebar.


Zea terdiam, dengan hati yang tiba-tiba menghangat. Ia benar-benar sudah salah berpikir tentang Darren. Ia mengira, pria itu hanya sebatas mempermainkannya untuk membalas apa yang pernah ia lakukan. Namun, ternyata pria itu berpikiran lain.


Grepp!!


Zea memeluk leher Darren menyembunyikan bulir bening yang tiba-tiba menetas dari kedua ujung matanya. "Aku gak tau apa itu cinta? Tapi, aku yakin, aku ingin hidup bersamamu dan membesarkan anak kita bersama. Itu jawabanku!"


Senyum terukir dari bibir Darren, ia membalas mendekap tubuh istrinya itu. Terasa lega setelah mengungkapkan apa yang selama ini menggganjal dihatinya. Ia memanglah bukan type orang yang bisa blak-blakan mengungkapkan apa yang dirasanya. Butuh waktu dan keyakinan untuk melakukan itu.

__ADS_1


"Makasih, kamu mau hidup bersamaku!" ucapnya. "Aku tidak bisa menjanjikan apapun. Tapi, akan berusaha melindungi dan membahagiakan kalian."


Darren melepaskan pelukannya. Lalu, menghapus jejak kebasahan dipipi cantik itu dengan kedua ibu jarinya. Menangkup kedua pipi chuby itu, hingga tatapan keduanya bertemu dan saling mengunci.


Perlahan Darren menarik wajah Zea. Lalu, ia pun menyambar bibir ranum yang siang tadi sempat ia jamah. Menyatukan bibir keduanya tanpa ada lagi keraguan. Menyecap pelan penuh perasaan.


Begitupun dengan Zea, ia tidak ragu lagi untuk membalas hal tersebut. Mereka belum bisa mengartikan perasaan masing-masing. Namun, tubuh keduanya tidak demikian.


Merasa tidak mendapat penolakan, Darren semakin leluasa mengikuti nalurinya. Tangan besarnya bergerak menelusup kedalam kain tipis itu. Membelai lembut, paha sang istri yang terekspos.


Ciuman mereka kian dalam. Darren sudah tidak dapat mengontrol dirinya. Perlahan ia mengangkat tubuh Zea, merebahkan tubuh itu dengan hati-hati. Hingga posisi Darren berada diatas tubuh Zea dengan kedua tangan ia tumpu untuk menopang bobot tubuhnya.


Pagutan mereka pun terlepas.Nafas keduanya memburu silih bersahutan. "Apa boleh?" tanya Darren dengan tatapan sayu.


Zea tersenyum seraya menganggukkan kepala. Tentu jawaban itu membuat Darren ikut tersenyum. Kembali ia pun meraup bibir yang sudah mulai membengkak itu. Reflek Zea mengalungkan tangan pada leher Darren. Satu tangan Darren mulai bergerak, menarik tali lingery yang dikenakan Zea. Hingga kain itu terbuka lebar.


Bibir Darren mulai berjalan menelusuri ceruk sang istri, semakin ke bawah membuat wanita itu mendesis pelan. Tentu sensasi itu berbeda pada saat mereka melakukannya dengan pengaruh alkhol waktu itu. Zea benar-benar dibuat terbang melayang, hanya karena dengan sentuhan saja.


Kain dari tubuh mereka sudah berhamburan tak tentu arah. Detik-detik saat benda panjang nan besar itu hendak memasuki tubuhnya, Zea tiba-tiba merasa takut.


"Kenapa?" tanya Darren khawatir, saat melihat wajah istrinya itu memucat.


"Apa itu gak akan sakit?" tanya Zea polos.


Darren terkekeh mendapat pertanyaan itu. Itu bukan malam pertama mereka. Namun, Zea seperti seroang gadis yang ketakutan kehilangan keperawanannya.


"Aku gak yakin. Tapi, kata mereka, kedua kalinya itu gak akan sakit," jelas Darren. "Mau berhenti aja?" tanyanya memastikan.


Tidak adanya jawaban, membuat Darren mengerti. Ia hendak beranjak, namun tangan Zea menghentikannya.


"Ayo lakukan!"

__ADS_1


\*\*\*\*\*\*


__ADS_2