Benih Pengikat

Benih Pengikat
Kritis


__ADS_3

Suara roda brankar bersama langkah kaki tergesa, menggema disepanjang lorong Rumah sakit. Zea dan Rafka sama-sama memasuki ruangan IGD untuk segera mendapat penanganan.


"Saya mohon, Dok. Lakukan yang terbaik untuk mereka! Apalagi adik saya tengah hamil, Dok. Tolong selamatkan pula janinnya!" pinta Alzein memelas, sebelum Dokter menutup pintu ruangan tersebut.


"Anda tenang dulu. Kami pasti melakukan yang terbaik!" balas sang Dokter meyakinkan.


Alzein terduduk pasrah diatas kursi tunggu. Pikirannya kacau, mengingat tiga nyawa yang ia sayangi kini tengah berjuang di ruangan itu.


Sementara ketiga pria yang membantunya berpamitan untuk pulang. Alzein memberikan beberapa lembar uang untuk ongkos mereka pulang. Tak lupa, ia juga mengucapkan banyak-banyak terima kasih pada mereka.


Setelah kepulangan ketiganya, Alzein hanya tertunduk dengan air mata berjatuhan. Ia tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi pada adik dan sahabatnya didalam san. Hingga, tiba-tiba suara seseorang mengalihkan atensinya.


"Al ...!" Panggilan itu membuat ia mendongak.


Dengan nafas ngosngosan, Darren segera menghampiri kakak iparnya. Mendaratkan bokong disamping pria itu seraya memegang kedua bahunya. "Apa yang terjadi? Dimana Ze? Gimana keadaannya?" tanyanya khawatir, memberondong Al dengan berbagai pertanyaan.


Alzein hanya mampu menghembuskan napas pelan. Ia sampai lupa untuk mengabari adik iparnya itu. Al hanya menggelengkan kepala, karena ia juga belum mendapat kabar dari ruangan itu. Darren yang mendapati reaksi Alzein, melepaskan pegangan dibahu pria itu dengan lemah. Kemudian, kembali bangkit mencoba mengintip apa yang terjadi diruangan itu.


"Ze!" cicitnya yang tidak dapat melihat apapun dari ruangan tersebut. Air matanya berdesakan keluar mengingat apa yang akan terjadi pada istri dan calon bayinya.


"Ini semua salahku! Aku suami yang gak becus, melindungi istriku sendiri," sesalnya menjabak kasar rambutnya sendiri.


Alzein yang tersadar akan keterpurukan Darren, mendekat dan mencoba menenangkan. "Tenanglah, mereka sedang dalam penanganan!" ucapnya menepuk bahu adik iparnya.


Beberapa saat kemudian, pintu IGD terbuka. Menampakkan Dokter bersama beberapa tim keluar dari sana. Gegas kedua pria itu menanyakan keadaan di dalam sana.


"Keadaan Bu Zea, baik-baik saja. Hanya mengalami syok berat. Kandungannya juga sejauh ini baik. Hanya saja ...." Dokter itu menggantungkan ucapannya sebentar.

__ADS_1


"Hanya apa, Dok?" tanya Darren khawatir. Alzein tidak dapat berkata apapun, saat sadar kemana arah pembicaraan sang Dokter.


"Hanya saja, Pak Rafka kehilangan banyak darah," balas Dokter.


"Apa?" pekik Darren.


Tentu ia tak menyadari, jika di dalam bukan hanya istrinya. Namun, ada Rafka yang lebih kritis dari Zea. "Rafka?"


"Iya, luka dikepalanya cukup parah. Sepertinya diakibatkan benturan yang cukup keras. Pak Rafka harus segera di pindahkan ke ruang operasi," jelas sang Dokter. Darren terdiam, masih belum mengerti keadaan tersebut.


"Tolong, Dok. Bagaimanapun, selamatkan sahabat saya!" pinta Alzein memohon.


"Kita pasti melakukan yang terbaik," balas Dokter. "Segera urus-urus surat persetujuan operasinya!" titahnya pada salah satu suster.


"Baik, Dok!" balas Suster. "Mari, Pak! Ikut saya, ke bagian administrasi," ajaknya. Alzein menganggukkan kepala sebagai jawaban.


Alzein mencoba tersenyum. "Kamu lihat mereka lebih dulu! Biar aku yang beresin ini," titahnya menepuk bahu Darren.


Alzein berlalu bersama suster. Sementara Darren dipersilahkan untuk memasuki ruangan. Benar, didalam sana bukan hanya sang istri ada Rafka juga, dengan oksigen yang terpasang dan dan juga infus. Kepalanya diperban dengan rembasan darah di kain putih itu.


Darren menghampiri sang istri terlebih dahulu. Menggenggam tangan Zea dan mengecupnya sayang. Beralih pada pucuk kepalanya juga. "Maafin aku, Ze! Aku gak bisa jagain kamu," sesalnya. "Aku mohon, sadarlah!" lirihnya tertunduk.


Tak lama, datang petugas untuk memindahkan Rafka ke ruang operasi. Darren tersadar dan mendekat terlebih dahulu pada brankar Rafka. "Aku tau, kamu pria kuat. Bertahanlah!" ucapnya mengusap bahu Rafka yang terbujur lemah.


Meski ia tidak tau apa yang terjadi. Tapi, ia yakin, jika Rafka sudah berkorban untuk menyelamatkan istri dan calon buah hatinya. Terbukti, jika Rafkalah yang terluka serius, dan bukan Zea.


Setelah brankar keluar, Darren kembali mendekat dan duduk di kursi tepat disamping sang istri. Kembali menggenggam tangan istrinya itu berharap ia segera sadar.

__ADS_1


Hingga tak membutuhkan waktu lama, Zea pun sadar. Terdengar lenguhan, yang membuat Darren sedikit bisa bernafas lega. Gegas ia bangkit untuk melihat keadaan istrinya.


"Ze, Sayang, kamu gak apa-apa? Apa ada yang sakit?" tanya Darren dan dibalas gelengan oleh Zea yang masih memejamkan mata.


"Aku sangat mengkhawatirkanmu!" Tanpa aba-aba ia mendekap tubuh yang masih lemah itu, menyembunyikan isak lirih yang menggambarkan isi hatinya saat ini.


Zea menyunggingkan senyum saat sadar suaminya begitu mengkhawatirkan dirinya. Hingga senyum itu surut, saat ia teringat sesuatu.


"Kurap?" cicitnya. "Der, gimana keadaan Rafka? Apa dia baik-baik aja?" tanyanya.


Darren melerai pelukan saat Zea bertanya mengenai Rafka. Terlihat wajah panik dan khawatir dari wanita itu.


"Aku, aku, aku lihat darah ..." tangis Zea pecah. "Kepala ... Darah dari kepala Rafka ...." isaknya.


Darren yang mengerti kembali mendekap kepala sang istri. "Ssstt kamu tenang dulu, ya! Rafka sedang dalam pemeriksaan," ucapnya menenangkan, mengusap kepala Zea dan mengecupnya bertubi-tubi.


"Ini semua salah aku ... Andai aku, aku bisa menghindar. Rafka ... Rafka ...." jelas Zea disela isak tangisnya.


Tebakan Darren ternyata benar. Rafka memang menyelamatkan sang istri dan buah hatinya. Ia membiarkan Zea menumpahkan tangisnya. Pastilah wanita itu merasa bersalah atas apa yang terjadi. Darren terus mengusap rambut untuk menenangkan istrinya itu, dengan menggumamkan kata penenang.


"Semua akan baik-baik aja! Rafka akan baik-baik aja!"


Dalam hati Darren mengucap banyak terima kasih pada Rafka. Jika tidak, entah apa yang akan terjadi pada dua nyawa yang ia cintai itu.


'Makasih Raf! Sampai kapanpun, aku akan selalu mengingat pengorbananmu ini. Dan aku berharap kau bisa bertahan. Agar aku bisa membalas kebaikanmu.'


\*\*\*\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2