
Bayangan itu semakin memperdalam ciuman mereka. Bukan hanya Zea, Darren pun membayangkan hal yang sama. Hingga membangkitkan si Jack dibawah sana. Tidak ingin sesuatu terjadi, mengingat dimana keberadaan mereka sekarang, segera Darren melepaskan tautan bibir mereka.
"Bukankah ini cukup untuk memulai?" Darren menyunggingkan senyum, seraya menghapus bibir ranum dan basah milik Zea, dengan ibu jarinya.
Zea terpaku menatap senyum manis yang baru pertama ia lihat. 'Senyum itu ... Rasanya aku akan terbakar,' batinnya bergumam.
**
Suasana malam terasa menghangat diantara dua keluarga yang sudah menjadi satu. Pembahasan calon anggota baru dikeluarga mereka membuat suasana makan malam semakin terasa nikmat.
"Jadi ... Jenis kelaminnya belum terlihat?" tanya Daffa.
"Belum lah, Pa, baru juga beberapa minggu. Kata Dokter, mungkin bisa terlihat dipemeriksaan berikutnya," jelas Riska.
"Mau laki-laki atau perempuan yang terpenting keduanya sehat," sambung Aska, yang disetujui semua orang.
"Aku sih, mau ponakan cewek atau cowok gak apa-apa. Asal sifatnya jangan kayak Kak Darren. Nyebelin!" komentar Dara, adik Darren.
Gadis yang masih duduk di bangku sekolah dasar itu, memanglah nyablak seperti sang Mama. Ia akan menyampaikan apa yang ada dipikirannya tanpa beban. Seperti kalimat berikutnya yang diucapkan Dara sukses membuat semua orang menjadi riuh.
"Kak, Al. Nanti kalo kita punya anak harus kayak Kak Al ya, kalem. Jangan sampai kayak Kak Darren, ribet," celetuk Dara pada pria disampingnya. Alzein hanya tergelak dengan gemas mengusek pucuk kepala gadis itu.
"Ck! Belajar dulu yang benar. Masih bau telon juga," kesal Darren menoyor pipi sang adik, yang kebetulan disamping kirinya.
"Issh, aku tuh udah gede, Kak. Udah baligh. Sebentar lagi juga usiaku tiga belas tahun, mau masuk SMP," protes Dara tak terima.
"Tetap aja, masih belum waktunya mikirin pacaran, apalagi nikah," balas Darren lagi.
"Tapi 'kan ini rencana. Iya 'kan Kak Al? Kak Al pasti mau lah nunggu aku sepuluh tahun lagi, ya minimal tujuh tahunan lagi lah," lanjut Dara yang mana langsung mendapat acakan rambut dari Darren. Jika Al mengsuek gemas, Darren justru mengacak kasar. Hingga gadis itu merengek kesal.
Zea tersenyum melihat keakraban aneh dari adik kakak itu. Jika dirinya dengan sang kakak begitu harmonis, bahkan nyaris tidak ada pertengkaran. Berbeda dengan Darren dan Dara. Usia yang terpaut jauh, ditambah sikap Darren yang cuek membuat keduanya tidak pernah akur.
"Dara-Dara kamu itu, lucu banget," kekeh Vani. Jika saja ia tidak mengalami keguguran, mungkin adik si kembar sudah seperti Dara sekarang.
"Aku 'kan emang lucu, Mami mertua," celetuk Dara lagi dengan wajah seimut mungkin. Hal yang semakin membuat Vani tergelak.
"Ishh kamu tuh! Udah-udah, gak sopan ah!" tegur Riska menyelak ucapan putrinya.
__ADS_1
Meski itu terdengar candaan. Namun, ia tau sang putri memanglah memiliki perasaan lebih pada putra sahabatnya itu. Ia tidak ingin hal itu sampai terjadi. Akan tidak baik jika keduanya harus menyatu dalam ikatan pernikahan, karena bagaimanapun itu akan terasa rumit untuk keluarga mereka.
Pernikahan Darren dan Zea pun masih terasa canggung untuk Riska sendiri, mengingat suaminya Daffa pernah terikat dengan Vani, hingga selangkah lagi hampir menuju pelaminan. Ia sendiri belum yakin pasti, suaminya benar-benar sudah mengubur perasaan terhadap besannya itu atau belum. (Biar lebih jelas bisa baca cerita mereka sebelumnya, di novel berjudul "Bossku, Jodohku!)
Dara hanya memanyunkan bibir, tidak berani memprotes sang Mama. Mereka pun kembali melanjutkan pembicaraan mengenai calon bayi dalam rahim Zea yang penuh dengan segala persiapan.
"Lain kali, giliran kalian ya, yang makan dirumah kami!" saran Vani. Kini mereka sudah berada di teras rumah untuk berpamitan pulang.
"Iya, Kak. Nanti kita jadwalkan makan bersama di rumah kalian," balas Riska dan diangguki Vani disertai senyuman.
"Kalian juga, Mami pengen kalian menginap juga dirumah, ya!" lanjut Vani mengusap pundak putrinya itu.
"Iya, Mi. Siap!" balas Zea dan dibalas tawa kecil keduanya.
"Kalo gitu, kita pulang dulu ya, Daf!" pamit Aska menepuk bahu sahabat sekaligus besannya itu.
"Iya, Ka. Hati-hati di jalan, ya!" balas Daffa memabalas tepukan dipunggung Aska.
Setelah kepergian kedua orang tua Zea beserta kakaknya. Zea dan Darren pun kembali memasuki rumah bersama kedua orang tua Darren. Karena waktu sudah terlalu larut, mereka pun memutuskan untuk menginap dirumah itu.
**
Tok! Tok!
Ceklek!
"Iya, Ma?!"
"Ini ... Mama bawain baju ganti buat kamu. Masih baru, kok!" Riska menyerahkan paper bag yang langsung diterima oleh Zea.
"Wah, makasih, Ma! Jadi ngerepotin," balas Zea tak enak hati.
"Issh kamu tuh, kayak sama siapa aja? Jangan gitu ah, berasa orang asing tau Mama nih!" canda Riska membuat Zea tersenyum lebar.
"Maaf, Ma. Bukan gitu maksudku."
"Udah gak usah dipikirin, Mama cuma becanda," sela Riska tersenyum mengusap lengan menantunya itu. "Pokoknya kalo kamu butuh apa-apa, jangan sungkan buat panggil Mama, ya!" pesannya.
__ADS_1
Zea mengangguk mengiyakan. Setelah sang Mama berpamitan, Zea pun kembali kedalam kamar dan menutup kembali pintu tersebut. Sungguh senang sekali mendapat ibu mertua yang baik kepadanya. Zea hanya belum terbiasa karena mereka baru menjadi keluarga. Takut salah bicara dan berprilaku kurang baik di hadapan orang yang harus ia hormati, membuat ia masih merasa canggung.
"Kenapa?" Suara Darren yang baru keluar dari kamar mandi, membuat Zea tersentak kaget.
"Oh, ini ... Mama ngasih pakaian ganti buat tidur," balas Zea memperlihatkan paper bag di tangannya.
"Ya udah, kamu ganti dulu! Terus cuci muka aja, jangan mandi. Udah terlalu malam!" titah Darren dan diiyakan istrinya itu.
Sesuai intruksi, Zea pun gegas memasuki kamar mandi. Ia berencana hanya akan mencuci muka saja. Namun, melihat adanya sikat gigi baru, ia pun mengerti dan segera menggunakan benda itu.
"Oke, tinggal ganti baju!" ucapnya bermonolog sendiri. Ia meraih paper bag itu dan melihat isinya.
Betapa terkejutnya Zea, saat ia membeberkan kain tersebut. "A-apa ini?" tanyanya dengan mata membelakak.
Sebuah kain tipis tembus pandang berwarna hitam yang biasa orang sebut gaun malam atau pakaian dinas.
Glek!
Zea menelan salivanya susah payah. Haruskah ia mengenakan pakaian tersebut? Jika ia kenakan, bukankah sama saja ia menyerahkan diri pada Darren? Namun, jika tidak? Pakaiannya pun tidak akan nyaman untuk dikenakan.
"Apa yang harus aku lakukan? Apa aku siap untuk itu?"
Sementara ia menimang, bayangan malam itu tiba-tiba kembali terputar. Bahkan rasa itu terasa nyata, membuat ia memejamkan mata merasakan sesuatu yang aneh di bagian inti tubuhnya. Berbagai bisikan didengar Zea di telinga kanan dan kirinya.
"Jangan, Ze! Kamu harus memastikan dulu perasaan Darren terhadapmu. Pikirkan perjanjian itu yang tiba-tiba dia ingkari! Apa benar dia mau memulai begitu aja?"
"Gak apa-apa, Ze. Dia suamimu, kamu berkewajiban untuk melayani dia. Bukankah kamu sendiri yang ingin memulai hubungan itu? Demi anak kalian."
Zea memijit pelipisnya, mendengar bisikan mana yang harus ia penuhi, hingga ketukan pintu membuat ia terkesiap dengan jantung berdegup kencang.
Tok! Tok! Tok!
"Ze, kamu lagi ngapain? Kamu gak apa-apa 'kan?"
\*\*\*\*\*\*
Kira-kira Zea mau pake gak tuh gaun haram?🙈🤣🤣
__ADS_1