Benih Pengikat

Benih Pengikat
Masih belum percaya


__ADS_3

Setelah beberapa saat berkonsultasi bersama Dokter, kini Zea diminta untuk menaiki brankar, untuk pemeriksaan USG.


"Silahkan, Pak. Siapa tau mau melihat baby nya?!" titah Suster untuk ikut memasuki tirai penghalang brankar.


"Gak apa-apa, Mbak. Saya disini aja," tolak Rafka halus, dengan wajah kikuk.


Suster itu merasa aneh. Tentu saja, ia mengira pria itu adalah suami dari pasiennya. 'Dasar lakik. Disuruh lihat bayinya malah gak mau. Giliran buatnya pasti semangat lah itu,' batinnya keheranan.


Belum selesai pemeriksaan Zea, pintu ruangan terbuka. Mengalihkan atensi Rafka yang terududuk dikursi.


"Hem, kamu?" Seorang wanita paruh baya menatap heran pria yang duduk sendiri di ruangan itu. Ia celingukan, mungkinkah ia salah masuk ruangan? Atau menantunya sudah selesai pemeriksaan.


Rafka tersenyum menghampiri wanita itu. Segera ia menyalimi takzim tangannya, hingga membuat wanita tersebut kebingungan.


"Apa kabar Onty Riska? Pasti Onty lupa sama aku?" tanya Rafka terkekeh.


Riska terdiam sejenak mengingat wajah pria muda dihadapannya. "Ya ampun, ini Rafka ya?" tebaknya dan diangguki oleh pria itu.


"MasyaAllah, Raf. Onty sampai pangling lho, kamu makin ganteng. Gimana kabar kamu?"


Disaat si calon nenek itu sibuk menanyai kabar Rafka, pintu kembali terbuka. Menampakkan Darren dengan napas terengah-engah. Ia menautkna alis saat melihat Rafka dan sang Mama yang tengah mengobrol. Tidak mau ambil peduli, ia memilih untuk segera memasuki tirai untuk melihat kondisi bayi dan istrinya.


"Darren?" tanya Zea bingung.


"Maaf, Pak! Bapak boleh tunggu di luar," ucap Suster melarang.


"Saya suaminya," balas Darren dan dibalas 'oh ria' Suster itu. Tentu dengan merutuki pemikirannya yang salah.


'Pantesan, lakik tadi gak mau lihat,' batin sang Suster.


"Kamu ... Bukannya ...." heran Zea. Namun, Darren hanya tersenyum, seraya menggenggam tangannya.


"Bagaimana, Dok, hasilnya?" tanya Darren memastikan.


Dokter itu tersenyum ramah. "Keadaan bayinya sehat. Tumbuh kembangannya, oke. Anda bisa dengar sendiri, detak jantungnya sangat bagus. Jadi ... Tidak ada yang perlu di khawatirkan," terangnya.


"Syukurlah ...." Darren tersenyum senang, mendengar kabar tersebut.


Riska ikut masuk untuk melihat keadaan menantu dan calon cucunya. Semua orang disana tersenyum melihat gumpalan darah yang tertera dilayar USG. Rasa haru kembali dirasakan calon orang tua baru itu.

__ADS_1


"Dapat dilihat ya, hasilnya sangat bagus. Tapi, Bu Zea harus tetap mengonsumsi makanan sehat dan susunya. Saya akan kasih resep vitamin penambah darah juga, jangan lupa diminum ya, Bu!" final Dokter dan diangguki Zea.


"Terima kasih ya, Dok!" ucap Darren dan diiyakan Dokter tersebut seraya berlalu keluar, bersama Suster dan Riska. Meninggalkan sepasang suami istri itu disana.


Cup!


Satu kecupan dalam dilayangkan Darren di atas perut Zea yang sudah tertutup bajunya. Sontak hal itu membuat Zea terpaku, semakin hari perlakuan Darren semakin membuat, hatinya berdebar tak menentu.


"Yuk!" Darren mengulurkan tangan, untuk membantu Zea bangkit. Wanita itu melengos untuk menyembunyikan rona merah dipipinya.


Dengan telaten, Darren membantu sang istri turun, memapahnya hingga keluar dari tirai. Semua atensi tertuju pada keduanya, termasuk Rafka.


Perasaan pria itu bercampur aduk mendengar detak jantung si jabang bayi yang terdengar begitu nyaring saat pemeriksaan tadi. Hatinya masih saja bertanya-tanya. Kenapa bukan darahnya yang menjadi janin di rahim Zea? Rafka hanya mampu menghela napas berat, ketika kenyataan menampar kesadarannya.


Setelah mendapat resep dari Dokter, keempat orang itu keluar dari dalam ruangan. Zea baru tersadar, jika Rafka mungkin ditunggu Mamanya.


"Raf, Onty Sofi pasti sudah masuk ruang pemeriksaan. Sebaiknya, kamu susul!" titah Zea.


"Hem, iya!" balas Rafka tersenyum kecut. Tentu keberadaanya sekarang sudah tidak ada gunanya, saat ia sadar sudah ada suami dan mertua wanita itu disana.


"Baiklah, Onty Riska. Aku permisi dulu, ya!" pamit Rafka.


Riska mengangguk tersenyum. "Kapan-kapan main ya ke rumah. Salam juga buat Mama kamu!" pesannya dan diiyakan Rafka.


"Mama yakin, gak ikut kita?" tanya Zea memastikan.


"Nggak usah, Mama mau langsung ke supermarket. Nanti sore aja, Mama tunggu kalian dirumah, ya! Mama juga udah hubungi Mami Vani, biar kita makan malam bersama," balas Riska.


Zea pun mengangguk mengerti. "Iya, Ma!"


Setelah berpamitan, mobil yang dikendarai Darren pun melesat meninggalkan parkiran Rumah sakit.


"Em, kamu kenapa nyusul? Sidangnya gimana?" tanya Zea penasaran.


"Jadwalnya diundur ke siang. Aku lupa mengecek ponsel, sampai ketinggalan informasi," balas Darren yang dibalas 'oh ria' oleh si ibu hamil itu, disertai anggukan kepala.


Setelah keberangkatan Zea, Darren juga segera berangkat. Hingga, saat sampai di kampus ia baru mendapat kabar, jika jadwal ternyata di undur. Ia pun memutuskan untuk menyusul Zea ke rumah sakit.


"Apa ... Kamu menghubungi Rafka?" tanya Darren ragu, tatapannya yang fokus mengemudi melirik sekilas ke arah istrinya.

__ADS_1


Zea mengerutkan dahi, hingga di detik berikutnya ia menyunggingkan senyum. "Nggak! Kebetulan kita bertemu di ruang tunggu. Dia mengantar Onty Sofi buat chek up kesehatan. Tau aku sendiri, dia nemenin aku," jelasnya. Darren hanya mengangguk mengerti.


"Emm, apa kamu cemburu?" goda Zea mendekatkan wajah, untuk melihat jelas ekspresi suaminya itu.


Darren menyunggingkan senyum simpul. "Apa aku perlu cemburu?" Bukan menjawab, Darren justru bertanya balik.


"Cih!" Zea berdecih disertai kekehan, seraya menjauhkan diri. Ia baru menyadari sikap Darren, saat berulang kali mereka bertemu Rafka. Tentu itu bisa diartikan sebagai sikap cemburu. Namun, ego pria itu sulit sekali mengakuinya.


Darren menghentikan mobil mereka disebuah parkiran taman. Tentu hal itu membuat Zea keheranan. "Ngapain kita kesini? Bukannya kamu harus kembali ke kampus?" tanyanya.


"Apa kamu masih belum mempercayaiku?" tanya Darren.


Seketika Zea menolehkan wajah, hingga mata keduanya bertemu. Jantung Zea kembali berdegup kencang, diantara keheningan kedua manusia itu.


"Bukannya aku sudah bilang, kita akan memulainya."


"Tapi Perjanjian itu ...."


Kalimat Zea tertahan, saat tiba-tiba terbungkam oleh bibir Darren. Tentu saja hal itu membuat Zea membelakak kaget. Untuk pertama kali lagi Zea merasakan bibir lembut Darren menyapu bibirnya. Hingga bayangan malam itu pun tiba-tiba terputar di otaknya. Beberapa memori yang sempat hilang saat malam itu kini kembali.


'Ini?'


Flash back on~


"Kakak beneran, gak akan pergi ke reuni?" tanya Zea untuk kesekian kali pada Alzein.


"Nggak! Kakak ada janji untuk menemui seseorang," balas Alzein seraya membenahi penampilannya.


"Cih! Aku pikir Kakak sudah rapih, untuk menghadiri acara reuni," ledek Zea, yang di balas senyum oleh pria tampan itu.


Alzein mengusek pucuk kepala Zea. "Bersenang-senanglah! Kakak mungkin baru bisa pulang lusa," ucapnya.


"Wah, pesona Rayna benar-benar membuat Kakakku ini gak berkutik. Sampai jarak jauh pun, dia rela pergi menemuinya," kekeh Zea.


Alzein tertawa menanggapi. Jika tidak hari ini, tidak akan ada waktu lagi untuk pria itu menemui pujaan hatinya. "Nanti kamu bakal tau, kalo udah merasakan jatuh cinta," balasnya semakain mengacak rambut sang adik.


"Haissh, aku udah merasakan cinta tau. Kakak 'kan cinta keduaku," celetuk Zea menggandeng lengan sang Kakak manja.


Alzein kembali tertawa dan semakin gemas mengusek kepalanya. Kini kedua saudara itu berjalan keluar dari kamar Alzein.

__ADS_1


"Beda lah. Cintamu ke Kakak itu cinta gadis pada saudaranya. Kakak yakin, nanti ada saatnya gadis manja ini mencintai pria lain, selain Kakak dan Papi."


\*\*\*\*\*\*


__ADS_2