
Hari pemeriksaan kandungan pun tiba. Zea sudah membuat janji dengan dokter kandungan hari ini.
"Apa kamu mau antar aku periksa?" tanya Zea yang kini tengah duduk didepan meja rias.
"Kapan?" tanya balik Darren.
"Hari ini," balas Zea.
Darren terdiam sejenak, tentu ia ingin sekali melihat tumbuh kembang si jabang bayi dalam perut Zea. Namun, hari ini ia sudah harus mengikuti sidang skripsi.
"Oh iya, aku lupa. Hari ini kamu bilang sidang skripsi, ya?" sambar Zea mengingat percakapan mereka kemarin. "Ya udah gak apa-apa, biar aku berangkat sendiri aja," finalnya.
"Tapi ...."
"Udah gak apa-apa, aku pernah sekali pemeriksaan. Jadi udah tau. Nanti, aku hubungi Mama atau Mami buat nemenin," ucap Zea meyakinkan. Tentu ia tidak ingin mengganggu kegiatan Darren. Ia pikir masih ada sang mami atau mama mertuanya yang bisa mengantar.
"Hem, baiklah! Akan ku usahankan menyelasikannya cepat. Lalu, menyusul." ucap Darren menyetujui.
Zea tersenyum mengangguk, hingga ia dibuat syok, saat tiba-tiba Darren berlutut dihadapannya.
"Maafin Papa ya, Nak! Mungkin gak bisa melihatmu hari ini," sesal Darren mengelus perut rata istrinya.
Sungguh hal itu membuat Zea terpaku. Perlakuan Darren membuat hatinya bergetar dengan mata tiba-tiba memanas. Apakah ia tersentuh dengan perlakuan suaminya itu?
"Kamu hati-hati! Kalo terjadi sesuatu kamu harus cepat menghubungiku!" Suara Darren sontak membuat Zea terkesiap.
"Hem," Zea mengangguk memberi jawaban.
"Sebentar, aku akan memesan taxi online untukmu," Segera Darren berdiri untuk mengambil ponselnya. Mengetikan sesuatu di atas layar benda tersebut.
"Dalam sepuluh menit, taxinya akan datang. Aku juga udah mengirim pesan sama Mama untuk menyusulmu," ucapnya memberitahu.
Zea tersenyum menanggapi. "Makasih!" ucapnya tulus menatap Darren.
__ADS_1
Pria itu ikut menyunggingkan senyum meski tak selebar senyum Zea. Mendaratkan tangan dikepala istrinya itu. "Pergilah dan hati-hati!" pesannya.
Blush!
Tiba-tiba saja kedua pipi Zea memerah dan terasa memanas. Ia berdehem untuk mengalihkan perhatian. Hingga reflek, Darren segera menarik tangannya kembali. Membawa tangan itu pada tengkuknya, mengusap tengkuk tersebut merasa kikuk.
Zea berdiri dari kursi rias dan berpamitan. "Kalo gitu aku berangkat sekarang!"
Darren mengangguk megiyakan. Lalu, Zea pun berangkat dengan perasaan kian menghangat. Ternyata bukan hanya Zea, Darren pun merasakan hal yang sama. Ia memegang dadanya yang sama berdebar.
"Ada apa? Apa yang terjadi padaku?" gumamnya bermonolog sendiri, memegang dadanya. Wajahnya ikut memanas seperti yang terjadi pada Zea.
"Perasaan apa ini?"
**
"Maaf ya, Sayang. Mama sedikit telat, ada sedikit masalah sama mobilnya," sesal Riska dari sebrang telepon.
"Iya, Sayang. Hati-hati ya, nanti Mama segera menyusul!" pesan Riska mengakhiri panggilan setelah diiyakan Zea.
Si ibu hamil itu, memang merasa tak masalah jika harus periksa sendiri. Namun, sepertinya Darren sangat mengkhawatirkannya. Hal itu tentu membuat perasaannya semakin tak menentu. 'Apa ini? Apa ini perasaanku, atau perasaan baby?' batinnya bertanya-tanya.
Tak berselang lama, mobil yang ditumpangi Zea sudah sampai didepan rumah sakit. Segera ia turun setelah membayar taxi terlebih dahulu. Memasuki gedung tinggi dengan suasana yang cukup ramai.
Terlihat diruangan tunggu, begitu banyak pasien yang mengantri, hingga ia bisa melihat seseorang yang sangat familier untuknya. 'Rafka sama onty Sofi?' batinnya bertanya.
Ia pun mendekat pada pasangan ibu dan anak itu. Lalu, menyapanya. "Onty Sofi! Onty disini?"
Sontak kedua orang yang tengah duduk pun menoleh. Seorang wanita seusia Maminya tersenyum senang melihat dirinya. Segera Zea menyalimi takzim, wanita yang sudah seperti ibunya itu.
"Kamu lagi ngapain disini?" tanya onty Sofi.
"Aku mau periksa, Ti. Onty sendiri? Apa Onty sakit?" tanya Zea cemas.
__ADS_1
"Nggak! Biasalah Onty mau chek up kesehatan aja. Mumpung ada Rafka, Onty mau manja-manja," kekeh wanita itu yang membuat Zea ikut terkekeh.
"Oh ya, kamu sendiri, Ze?" tanya Rafka.
"Iya, bentar lagi Mama mungkin nyusul. Katanya mobilnya mogok," balas Zea.
Rafka terdiam sejenak, padahal ia berharap panggilan itu Zea sematkan untuk wanita disampingnya. Memanggil wanita yang melahirkannya, sebagai Mama mertua.
"Maksudmu, Mama Riska?" tanya Sofi dan diangguki Zea.
"Lho, emang Darren kemana?" tanya Sofi lagi heran. Zea pun menjelaskan, jika suaminya sibuk dan tidak bisa mengantarnya.
"Harusnya sesibuk apapun, dia gak boleh mengabaikan kewajibannya," celetuk Rafka menyindir.
"Ishh, kamu tuh. Gak baik ngomong gitu! Darren begitu juga beralaskan. Dia calon penerus perusahaan cukup besar. Setelah wisuda, dia bakal mengemban tanggung jawab besar di perusahaan," balas Sofi memperingati.
Rafka hanya mencebikkan bibir mendengar pembelaan sang mama terhadap pria yang tiba-tiba menjadi musuhnya. Zea terkekeh melihat ibu dan anak yang masih saja tidak sependapat itu. Ketiga orang tua mereka memang bersahabat cukup baik, namun entah kenapa sulit untuk Rafka dekat dengan Darren.
Ditengah obrolan mereka, suara salah satu Suster memanggil nama Zea pun mengalihkan perhatian ketiganya.
"Kalo gitu aku tinggal ya, Ti. Nanti kita ngobrol lagi!" pamit Zea dan diiyakan Sofi.
"Biar aku temenin!" tawar Rafka.
"Gak usah, gak apa-apa kok!" tolak Zea halus.
"Udah ayo! Kayak sama siapa aja," Belum sempat Zea kembali protes, tangan Rafka sudah menggandengnya.
Terpaksa, Zea pun hanya pasrah mengikuti. Kedua manusia itu berjalan santai menuju poli kandungan. Rafka berusaha terus mencairkan kecanggungan, mengajak si ibu hamil itu mengobrol ringan sebelum memasuki ruang pemeriksaan. Hingga tanpa mereka sadari seseorang tengah memperhatikan mereka.
"Itu kan Zea? Sama siapa? Terus ngapain mereka memasuki poli kandungan?"
\*\*\*\*\*\*
__ADS_1