Benih Pengikat

Benih Pengikat
Flash back 'Panas'


__ADS_3

Hingar bingar pesta begitu meriuh. Zea tak mengira acara reuni kali ini akan begitu dipenuhi dengan minuman yang tak pernah ia sentuh.


"Ayolah, Ze. Kamu harus minum, dikit aja!" bujuk Rachel, sahabat SMA nya.


"Nggak! Aku gak biasa minum," tolak Zea.


"Ck! Gak asyik ah. Sekarang kita udah dewasa, minum dikit aja gak akan mabuk kok," protes Rachel lagi.


Zea tetap menolak gelas pemberian sahabatnya. 'Tau acaranya kayak gini, aku gak akan ikutan,' batinnya merutuki.


"Ya udah kamu minum ini aja! Ini aman, kok." Seorang pria mendudukkan diri di hadapan kedua gadis itu, memberikan segelas minuman berwarna kuning tepat ke hadapan Zea.


"Apaan nih?" tanya Zea menyelidik.


"Cuma jus!" balas David, si pria tersebut. "Jangan takut, tuh kamu lihat! Banyak yang minum juga, mereka gak mabuk." lanjutnya yang mengerti raut wajah Zea.


Gadis itu hanya menatap minuman itu dengan perasaan khawatir. Hingga ia memilih untuk menahan rasa hausnya itu.


"Woy, Der. Gabung sini!" ajak David melambaikan tangan.


Darren yang baru memasuki tempat itu pun, akhirnya menghampiri mereka. Seraya mengambil minuman ditangannya. Lalu, mendaratkan bokong di samping pria itu.


"Woles man. Gak usah kaku gitu lah!" ucap David menepuk bahu pria itu. Darren hanya cuek tidak menanggapi seperti biasa.


"Jeh elah, kayak cewek aja minum jus. Minum ini lah, kali-kali. Biar jadi lakik," ledek David memperlihatkan botol minuman berkualitas di tangannya.


"Gak tertarik!" balas Darren menyeruput jus yang sama seperti Zea.


Sontak David tergelak. Temannya yang satu itu emang terlampau cuek dan gak asyik. Namun, entah kenapa ia sendiri masih saja menganggapnya teman. "Sebaiknya, anak Mama sih gitu," ledeknya.


Bukan tersulut, Darren justru cuek saja menegak minumannya sendiri. Melihat Darren yang tidak apa-apa saat meminum air tersebut, membuat Zea yakin air itu memanglah aman. Tenggorokannya yang kering membuat ia pun segera meminumnya.

__ADS_1


Darren menarik satu sudut bibirnya, saat melihat Zea begitu bersemangat meminun air digelasnya. Tampak Kedua pipinya mengempis masuk kedalam saat menye dot minuman itu, yang nampak terlihat begitu lucu. Mungkinkah dia kehausan?


Semakin lama, Zea merasakan matanya kian berat. Tidak ingin sampai tertidur, ia meminta izin ke toilet untuk menyegarkan matanya tersebut. Rachel yang sudah hilang kesadaran, hanya mengiyakan dan tak menghiraukan ajakan Zea. Akhirnya, ia pun ke toilet seorang diri.


Bukan hanya Zea, Darren pun merasakan aneh pada pandangannya yang mulai kabur. Ia mengangkat gelas ditangannya dan bertanya pada David. "Kau yakini ini bukan minuman keras?"


David yang sama sudah mabuk terkekeh. Lalu, merangkul leher Darren seraya membisikkan sesuatu. "Sebenarnya, semua minuman disini mengandung alkohol. Panitia sengaja menyebut ini jus, biar orang-orang sepertimu mau meminumnya," jelas David diakhiri tawa.


"Ck! Sialan!" Darren melepaskan rangkulan David dengan kasar, hingga pria itu tersungkur dengan tawa yang tak henti.


"Brengsek mereka," umpat Darren kesal.


Tiba-tiba ia teringat Zea yang kemungkinan jatuh atau tersungkur karena keadaannya. Sedikit sempoyongan, ia pun menyusul gadis itu. Mengingat Zea yang enggan minum, dipastikan gadis itu tidak pernah menyentuh alkohol seperti dirinya.


Hingga ia pun sampai di depan toilet, meski matanya sudah mulai blur. Namun, ia masih belum hilang kesadaran. Ia bisa melihat Zea yang tengah digoda dua pria.


"Apa yang kalian lakuin? Lepasin dia!" tanya Darren.


"Darren. Nagapain, mau jadi pahlawan kesiangan?" sambung satu temannya.


Merasa muak, pada kedua pria yang terkenal bad boy itu. Darren melayangkan bogeman mentah tepat mengenai salah satu dari mereka hingga tersungkur. Darren mencoba untuk tidak hilang kesadaran agar bisa membawa Zea pergi dari tempat itu.


"Brengsek!" Satu temannya lagi tak terima dan melayangkan bogeman yang dapat ditangkis oleh Darren, hingga berbalik pada pria itu. Ia pun tersungkur menindih pada temannya. Kedua pria yang sama mabuk seperti dirinya, tidak bisa menangkis bogeman Darren. Hingga ambruk, terkapar bersama.


Segera Darren memapah Zea yang sudah terkulai dilantai. Kesadaran Darren kian menipis. Ia melihat sebuah pintu dan memilih membawa Zea masuk kedalam sana. Entah siapa pemilik kamar tersebut, yang jelas kamar itu tidak terkunci.


Brukkk!


Darren ambruk bersama Zea di atas ranjang dengan posisi Darren menindih tubuh Zea. Darren masih bisa melihat jelas wajah cantik itu kian menawan. Tangannya bergerak membelai wajah tersebut.


Tiba-tiba tangannya tertangkap oleh tangan Zea. Mata gadis itu terbuka, hingga beradu dengan mata Darren. Seperti mata keduanya, sejoli dibawah sana pun bertemu, meski terhalangi pakaian masing-masing. Tatapan keduanya sayu dan diselimuti kabut gairah yang tiba-tiba membuncak.

__ADS_1


Perlahan Darren memiringkan wajah, menyambar bibir ranum Zea. Tanpa diduga, Zea pun membalas ciumannya. Meski terlihat kaku, karena itu kali pertama keduanya tersentuh oleh lawan jenis. Namun, mengikuti naluri ciuman pun kian memanas.


Tangan Zea melingkar di leher Darren, tubuhnya mengingkan lebih dari sekedar ciuman. Begitupun dengan Darren, perlahan tangannya bergerak, meraba belakang dress Zea. Menarik resletingnya, hingga kain itu terbuka.


Gairan yang kian membara membuat Darren tak tahan, dan segera menarik cepat kain yang melekat dari tubuh gadis itu. Menjelajah seluruh kulit putih itu, hingga membuat si empunya menggeliyat tak karuan. Suara lengu han Zea, membuat Darren kian liar. Segera ia melucuti kain yang membuat tubuhnya kian terbakar.


Meski itu pengalaman pertama. Namun, mereka hanya mampu mengikuti naluri dan gairah yang menguasai. Pengaruh alkohol membuat mereka hilang kewarasan. Yang ada hanya rasa ingin saling memuaskan dan kesenangan.


"Akkhh!" pekik Zea, saat benda panjang nan keras milik Darren menembus selaput dara miliknya.


Rasa sakit, namun penasaran membuat Zea tidak ingin Darren menghentikan itu. Darren yang sempat berhenti, karena tidak sanggup menembus, hendak menghentikan dan menjauh. Namun, Zea tidak membiarkan itu. Ia memeluk erat leher Darren dengan satu kata terlontar dari bibirnya.


"Lanjutkan!" titahnya.


Mendengar permintaan Zea, membuat Darren kembali bersemangat. Perlahan namun pasti, ia pun dapat menenggelamkan senjatanya yang baru saja masuk separuh ke dalam tubuh Zea hingga tenggelam sempurna.


Terasa hangat dan berdenyut. Membuat Darren tanpa ragu menggerakan tubuhnya. Zea mencengkram kuat punggung Darren saat ia merasakan sakit, sesak dan nikmat bersamaan. Hentakan yang diberikan Darren membuat suara Zea melantun indah, meriuhkan kamar tersebut.


"Mhhh uhh!!"


Tidak ada pikiran apapun dari kepala keduanya. Baik itu konsekuensi atau hal yang terjadi berikutnya. Hanya sebuah kenikmatan yang sering orang bilang surga dunia lah yang mereka rasakan. Hanya rasa ingin sama-sama mencapai nirwanalah keinginan mereka sekarang.


Hingga entah di menit keberapa, erangan panjang dari keduanya terdengar menggema bersama. Darren ambruk diatas tubuh Zea, dengan membiarkan senjatanya menyemburkan lava panas mengaliri dinding rahim gadis itu. Membiarkan bibit kehidupan tertinggal dan tumbuh disana.


Flash back off~


\*\*\*\*\*\*



Pokoknya bayangin aja mereka diranjang🙈🤣

__ADS_1


__ADS_2