Benih Pengikat

Benih Pengikat
Kekecewaan


__ADS_3

Hah~ hah~


Deru nafas terdengar menggema dari seoramg pria yang tengah berlari disebuah treadmill di dalam ruang temaram. Peluh bercucur membasahi tubuh yang hanya terbalutkan sinlet dan boxer. Hingga terlihat membentuk otot-otot dibagian perut dan dadanya.


"Zea hamil!"


Kalimat itu terus terngiang-ngiang di kepala Rafka. Mendengar sang pujaan menikah saja, sudah membuat ia sakit. Fakta lain jika gadis yang ia cintai mengandung benih pria lain, sungguh! Hal itu membuat Rafka begitu kecewa.


Waktu kian larut, namun ia belum juga ingin berhenti dari atas benda tersebut. Karena, hanya cara itu yang membuat ia akan sedikit tenang dan lelah. Maka memungkinkan ia akan terlelap malam ini, untuk sekedar melupakan beban yang menghimpit otaknya.


'Kenapa? Kenapa harus sesakit ini? Aku mencintaimu, Ze. Kenapa kamu melakukan ini padaku? Kenapa kamu tidak memberiku kesempatan untuk mengungkapkan semuanya? Kenapa, Ze? Kenapa?' batin Rafka terus bertanya-tanya.


Bayangan Rafka kembali pada enam tahun silam. Dimana waktu sebelum ia pergi meninggalkan gadis cantik itu.


Flashback on~


Seorang gadis berseragam putih biru tersenyum melihat kupu-kupu diatas bunga yang bermekaran. Seorang lelaki dengan seragam yang sama menghampiri gadis itu.


"Kamu sama kayak bunga ini," ucap lelaki muda itu yang tak lain adalah Rafka.


"Sama apanya?" tanya Zea, gadis cantik itu.


"Sama-sama cantik," celetuk Rafka.


"Cih! Gombal!" ledek Zea menoyor kepala sahabatnya itu dan dibalas tawa oleh Rafka.


"Cieee ... Pasti mau gombalin cewek. Ya 'kan? Ya 'kan?" goda Zea. "Ayo ngaku! Siapa sih ceweknya, kasih tau aku dong?" lanjutnya menyenggol-nyenggol bahu sahabatnya itu


Rafka hanya terkekeh seraya melirik gadis yang tengah menggodanya itu. Sementara Zea terlihat antusias mendengar pengakuan dari Rafka. "Emm, ada deh!"


"Isshh Kuraf! Ngeselin deh," kesal Zea mendorong tubuh lelaki tampan itu hingga ia terguling ke samping.


Kedua remaja tanggung itu tengah duduk di atas hamparan rumput hijau taman sekolah. Zea memberenggut kesal saat Rafka tidak juga mau jujur padanya.


"Udah gak usah cemberut," Rafka menjawil kedua pipi gadis itu hingga ia meringis dan berdecak kesal.

__ADS_1


"Sekarang bukan waktunya buat suka-sukaan. Jadi, nanti aku kasih tau setelah pulang nanti. Bahkan, aku akan mengatakannya langsung pada gadis itu," jelas Rafka.


"Ck! Awas ya, kalo bohong! Pokoknya aku harus jadi orang pertama yang tau, siapa yang kamu suka, oke!" peringat Zea.


"Iya, siap tuan putri!" kekeh Rafka memberi hormat dan dibalas tampolan gadis itu yang membuat keduanya tergelak.


"Tapi, ada syaratnya!"


"Apa?"


"Kamu harus janji satu hal sama aku. Kamu gak akan pacaran atau menikah sama siapapun, saat aku kembali nanti," pinta Rafka.


"Aissh syarat apaan itu?" tanya Zea tak terima.


"Ya udah aku bakal rahasiain selamanya dari kamu," final Rafka.


"Ck! Gak asyik. Iya, deh iya!" Meski kesal, Zea tetap menyetujui, hingga membuat lelaki tampan itu tersenyum senang.


Kemudian Rafka menaikan jari kelingkingnya dihadapan wajah Zea. "Janji?"


"Janji!"


Flashback off~


**


Zea terbangun dari tidurnya. Wanita itu mengerjapkan mata, untuk megumpulkan kesadaranya. Ia tertegun saat hembusan nafas Darren menyapu wajahnya.


Deg!


Jantungnya berdegup dengan kencang. Gelenyar aneh menguasai dirinya kali ini. Apalagi ia tersadar tubuhnya masih dalam dekapan sang suami. 'Jantungku kenapa?' batinnya bertanya.


Perlahan Zea mendongak menatap wajah Darren yang masih terpejam. Begitu terlihat tenang dan tampan. Zea menggigit bibir bawahnya disertai semburat merah dipipi, kala ia harus mengakui ketampanan Darren yang baru dilihatnya dengan jelas.


Satu tangannya bergerak untuk menyapa wajah tampan itu, menelusuri lekuk tegas dengan jari telunjuknya. Diiringi senyum yang tiba-tiba terukir dibibirnya.

__ADS_1


Grepp!!!


Zea kaget, saat tiba-tiba jari telunjuknya tertangkap tangan besar yang tak lain milik Darren. Mata pria itu terbuka perlahan, terlihat sayu. Namun, begitu meneduhkan. Keadaan mendadak hening saat kedua pasang mata mereka beradu. Menerka apa yang kini menguasai hati dan diri mereka.


Semalaman Darren memikirkan bagaimana sebaiknya hubungan mereka. Penawaran Zea, apakah masih berlaku? Mengingat seseroang dari masalalu gadis itu hadir, entah kenapa membuat pria itu takut. Takut kehilangan bayinya, dan mungkin wanita itu juga. Namun, egonya selalu menolak akan hati yang berbicara.


Sementara Zea sendiri terus menerka, apa yang sebenarnya ada dihati dan pikiran pria itu. Peringatan yang keluar dari mulutnya semalam, tidak sesuai dengan tindakan yang ia lakukan. Lalu, apa yang sebenarnya ia inginkan?


Zea tersadar dan hendak keluar dari tubuh tegap itu. Namun, pergerakannya terkunci saat Darren tidak mau melepaskan dan justru semakin mengeratkan pelukannya.


Zea menatap heran Darren yang tidak mau melepaskan, hingga tiba-tiba terbesit ide jahil diotaknya. "Kenapa, hem?" godanya tersenyum.


Telunjuknya bergerak di dada Darren dengan nakal. Namun, tatapan masih mengarah pada wajah pria itu. "Apa kamu berubah pikiran? Mau mencoba untuk memulai?" tanyanya.


Darren terdiam dengan tatapan yang sulit diartikan. Zea yang merasa tidak mendapat tanggapan berdecak kesal. Ia sudah bisa menebak, pria cuek itu tidak pernah mau menerima tawarannya. "Sudahlah, minggir! Aku mau mandi," kesalnya mendorong sedikit tubuh pria itu.


Namun, tanpa di duga. Darren bangkit bukan untuk bangun dan menjauh. Pria itu justru mengukung tubuh Zea, hingga wanita itu terpaku. Lalu, tanpa aba-aba menyambar bibir ranum yang sedari tadi mengoceh itu.


Zea membelakak kaget mendapat perlakuan tak terduga itu. Meski ini bukan pertama mereka melakukannya, namun dengan kesadaran penuh tentu ada rasa lain di hati wanita itu. Jantungnya kian berdetak tak beraturan, bibir Darren bergerak lembut menyapu bibirnya. Ia tidak dapat membalas ataupun mencegah.


'Ya Tuhan, apa ini artinya ...?' batin Zea bertanya-tanya.


Darren yang tersadar membuka matanya perlahan. 'Apa yang gue lakuin?' batinnya syok.


Seketika Darren menghentikan aktifitasnya. Ia segera bangkit seraya berdehem keras. Lalu, tanpa kata ia berlalu cepat menuju kamar mandi. Sontak hal itu membuat Zea kehernan. "Kenapa dia? Apa tadi ....?"


"Jangan-jangan dia ngigo?" tebak Zea melongo.


Ia berdecak saat sadar mungkin Darren tidak dalam keadaan sadar. Ia yang sempat baper dan mengira pria itu berubah pikiran, harus kembali menarik pemikiran itu. Tetap saja ia harus mengakui itu Darren si pria cuek.


Didalam kamar mandi, Darren berulang kali mengatur napasnya setelah mencuci muka. Entah apa yang terjadi, kenapa bisa tiba-tiba dengan berani ia melakukan hal itu?


"Astaga, apa yang aku lakuan?" gumamnya tak habis pikir.


"Kenapa ...?" ia tidak dapat melenjutkan ucapan dan hanya mampu menghela napas berat. Saat ia harus mengakui, perlakuan Zea merangs*ng jiwanya. Hingga nekad melakukan demikian.

__ADS_1


"Oke tenang, itu bukan karena hati. Itu hanya normalku sebagai seorang pria."


\*\*\*\*\*\*


__ADS_2