
"Lupain soal omonganku kemarin. Anggap aja aku gak pernah mengatakan itu padamu. Jadi ... Kita tetap sahabat 'kan? Hem?" ungkap Rafka tersenyum. Zea membalas senyum seraya mengangguk menanggapi.
Rafak menepuk rambut sahabatnya itu. "Aku juga selalu mendoakanmu, smoga kamu selalu bahagia bersama keponakanku di dalam perutmu," lanjutnya, hingga Zea terkekeh.
Namun, hal itu tentu saja tidak dengan Darren yang sudah berwajah datar. Ia menepis kasar tangan Rafka yang masih juga bertengger dikepala istrinya.
"Aww!" ringis Rafka. "Apa sih lu?" kesalnya.
"Udah-udah!" lerai Alzein merangkul bahu Rafka. Takut-takut terjadi lagi hal-hal tidak diinginkan.
"Berlakulah, sebagaimana mestinya. Karena mungkin saja, perlakuanmu membuat orang lain salah paham!" peringat Darren pelan namun penekanan, menatap tajam ke arah Rafka.
"Ayo!" Darren menggandeng tangan Zea untuk segera berlalu dari depan resto menuju mobil mereka. Zea hanya mampu melambaikan tangan pada kedua pria yang mereka tinggalkan.
Sementara Rafka bedecih kesal akan kelakuan pria arogan itu. Tingkahnya sungguh membuat pria itu kebakaran jenggot. Ingin sekali ia menghajarnya sekali lagi, jika saja Alzein tidak menghentikannya.
"Udah, gak usah dihiraukan. Darren emang gitu. Panteslah gak ada yang mau berteman sama dia. Tapi ... Aku yakin, dia bisa menjaga Zea dengan baik," ucap Alzein.
"Seyakin itu?" tanya Rafka tak percaya.
"Ya, smoga aja!"
"Menurutmu, apa yang membuat Zea bertahan? Bukannya dia tau, Darren sendiri yang membuat perjanjian itu?" tanya Rafka heran. Tentu saja mereka tau dengan sifat Zea, yang tidak akan mempertahankan apapun yang menurutnya tidak penting atau tidak berguna.
"Entahlah ... Mungkin bayi dalam kandungan Zea yang membuat dia seperti itu. Bayi itu seolah hadir menjadi pengikat untuk kedua orang tuanya."
**
Dalam perjalanan pulang, Zea terus memperhatikan gerak-gerik Darren yang cuek seperti biasa. Perlakuannya hari ini, sungguh membingungkan untuknya. Apa benar pria itu akan menjilat ludahnya sendiri? Padahal ia masih ingat betul, saat Darren mengatakan dirinya jangan berharap lebih. Dan sekarang?
"Hari ini, kamar baby selesai renovasi. Gimana kalo kita pilih desain untuk mempercantiknya? Sekaligus memilih furniture yang kamu inginkan," tawar Darren tiba-tiba, membuat Zea yang tengah melamun sedikit terkesiap.
"Emm, boleh. Kita langsung ke kantor Papi," balas Zea. Darren pun tersenyum tipis mengiyakan.
Tentu tidak perlu jauh-jauh untuk hal mendesain ruangan. Cukup menemui sang Papi dan mereka bisa mendapatkan apa yang mereka mau. Bahkan tukang, yang merenovasi juga dari pegawai sang Papi.
__ADS_1
Tak berselang lama, mereka sampai di kantor papi Aska. Sepasang suami istri itu memasuki kantor, tanpa memberitahu sang papi terlebih dahulu.
"Selamat sore, Mbak Ze?!" sapa salah satu resepsionist wanita. Tentu mereka kenal baik gadis cantik yang tak lain putri pemilik dari perusahaan mereka bekerja.
"Sore!" balas Zea ramah. "Apa Papi belum pulang?" tanyanya.
"Belum, Mbak. Beliau baru selesai meeting diluar," balas wanita itu. "Apa saya harus memberitahunya dulu?" tanyanya.
"Ah, gak perlu. Saya langsung naik aja. Mari!" tolak Zea halus, sekaligus berpamitan.
"Iya, Mbak. Silahkan!" balasnya mengangguk ramah.
Sepasang suami istri itu berlalu meninggalkan meja resepsionist. Kedua wanita dibalik meja tersebut, heboh setelah sejoli itu berlalu dari pandangan mereka.
"Apa itu pacar, Mbak Ze?" tanya satu teman wanita itu.
"Kayaknya iya!"
"Ya ampun cakep banget. Tapi, kelihatannya jutek ya?"
"Justru yang kayak gitu yang harus di cari. Cowok kayak gitu tuh, ciri-ciri cowok setia. Coba aja lihat, Mas yang tadi tuh! Matanya cuma fokus sama Mbak Ze. Gak sembarangan mengumbar pandnangan dan senyum, yang akan membuat wanita lain baper. Ya 'kan?"
Keduanya terus berghibah memuji pasangan tersebut. Sementara yang di ghibahkan, sudah sampai di ruangan sang Papi.
"Pilih sesuka kalian!" titah Aska, setelah Zea mengungkapkan keinginan mereka.
"Apa jenis kelamin cucu Papi udah kelihatan?" tanya Aska.
"Belum, Pi. Mungkin pemeriksaan berikutnya baru terlihat," balas Zea dan diangguki mengerti oleh Aska.
"Oh iya, Der. Papi denger Papa kamu sudah siapin tempat diperusahaannya?" tanya Aska.
"Aku belum memikirkannya, Pi. Mungkin setelah selesai skripsi," balas Darren.
Aska mengangguk mengerti. "Kalo kamu mau, disini juga ada tempat yang cocok untukmu. Jangan sungkan kalo mau belajar disini!" tawar Aska.
__ADS_1
Darren tersenyum menanggapi. "Makasih, Pi. Akan aku pikirkan," balasnya dan dibalas senyum dan tepukan dibahu dari Aska.
Pria yang masih saja tampan diusianya itu berbinar senang, melihat ke akuran putri dan menantunya. Mereka bahkan sudah mempersiapkan kebutuhan untuk bayi mereka. Sebagai orang tua, tentu hal tersebutlah yang diinginkannya.
**
Setelah pulang dari kantor sang Papi, kini pasangan itu sudah sampai di kediaman mereka. Keduanyamemutuskan untuk mendesain ruangan setelah tau jenis kelamin calon bayi mereka, agar sesuai.
Ting tong!
Suara bel mengalihkan atensi Darren yang tengah masak untuk makan malam mereka. Sementara Zea tengah membersihkan diri terlebih dahulu. Segera pria itu membuka pintu untuk melihat siapa yang bertamu.
"Selamat malam, Mas. Ada kiriman atas nama Mbak Alzea," Seorang kurir makanan mengantar sebuah bingkisan.
Darren menaikan alisnya heran. Pasalnya mereka tidak pernah memesan makanan. Apa mungkin sang istri yang memesan?
"Hem, berapa totalnya?" tanya Darren setelah menerima bingkisan tersebut.
"Gak perlu, Mas. Ini sudah di bayar," balas pria itu.
Darren ber oh ria dan berterima kasih. Segera ia membawa makanan tersebut kedalam setelah kurir itu berlalu. Ia meletakkan makanan tersebut diatas meja makan. Mungkin sang istri menginginkan makanan itu, tanpa memberitahunya terlebih dahulu. Padahal, ia tida perlu memasak jika Zea sudah memesan.
Baru saja ia hendak kembali ke dapur, suara notif chat dari ponsel sang istri yang terletak di meja makan, membuat pria itu mengurungkan niatnya. Ia mengintip untuk tau siapa yang mengirimi istrinya itu pesan. "Rafka?" gumamnya.
Penasaran, pria itu dengan berani membuka chat tersebut. Matanya membelakak dengan rahang mengeras membaca isi teks dalam chat itu.
[Ze. Aku kirim makanan kesukaan kamu. Smoga kamu suka! Makan yang banyak, biar kamu dan ponakanku selalu sehat!]
"Cih! Dia pikir dia siapa?" kesal Darren menggerutu. Segera ia menghapus chat tersebut.
Ia melihat isi makanan apa yang disukai sang istri. Hingga suara pintu kamar terbuka, membuat Darren dengan cepat menutup kembali makanan itu, dan segera pergi ke dapur membawanya.
Tidak ingin sang istri memakan makanan pemberian Rafka. Darren segera membuangnya ke dalam tong sampah. Ia akan membuat sendiri makanan, yang digadang-gadang kesukaan istrinya itu.
'Lihat aja! Rasanya akan jauh lebih enak dari buatan resto.' gumamnya dalam hati, seraya mempersiapkan bahan makanan sesuai apa yang dikirm Rafka.
__ADS_1
'Dan aku gak akan biarin Zea mendapatkan perhatian dari siapapun, selain diriku!'
\*\*\*\*\*\*