Benih Pengikat

Benih Pengikat
Membujuk


__ADS_3

Didalam ruangan luas, seorang gadis tengah memohon pada seorang pria yang diketahui ayahnya. Gadis itu terus memohon agar sang ayah mau menjodohkan dirinya dengan pria pujaannya.


"Aku mohon, Pa! Bujuk om Dafa untuk mau menjodohkan aku sama Darren. Papa tau 'kan aku tuh udah lama suka sama Darren," bujuk Laura, gadis tersebut.


Pria berkacamata itu menghembuskan napas kasar. "Papa udah terus membujuk Pak Daffa. Tapi, tetap gak bisa. Dia bilang, Darren sudah punya calon. Ya, walaupun sampai sekarang Papa juga gak tau siapa calonnya. Tapi, Papa 'kan gak bisa maksa," jelas Andri, Papa Laura.


"Calon?" tanya Laura bingung.


"Iya. Dia bilang begitu, pas dipertemuan terakhir," balas Andri.


Laura diam sejenak, mencerna ucapan sang papa dengan Darren yang ternyata bertentangan. Mungkinkah itu sebuah kesempatan untuknya?


"Makanya bujuk yang lebih keras dong, Pa. Papa tawarin kerja sama yang menguntungkan, biar Om Daffa mau," Laura masih bersikukuh, agar sang papa mau menuruti keinginannya.


Tentu, gadis itu masih tidak terima jika Darren lebih memilih Zea. Bagaimanapun ia sudah memendam lama perasaannya terhadap Darren. Dari semenjak memasuki sekolah menengah pertama, ia selalu memperhatikan pria tampan nan cuek itu. Semakin cuek Darren, semakin penasaran Laura untuk mendapatkannya. Pernah ikut dalam beberapa pertemuan kolega bisnis sang papa, membuat Laura tau jika Darren anak dari partner bisnis papanya.


"Papa akan coba lagi. Tapi, Papa gak bisa janji," balas Andri.


"Pokoknya aku gak mau tau. Aku cuma mau nikah sama Darren, titik!" pungkas Laura berlalu meninggalkan ruangan sang papa.


Andri menghembuskan napas panjang. Sungguh keinginan putrinya itu memanglah harus terpenuhi. Tapi, dengan cara apa lagi? Pikirnya.


"Hah~ lebih baik, besok aku bicarakan ini sama Pak Daffa," finalnya yang sudah cukup pusing menghadapi tingkah manja sang putri.


Sementara itu didalam kamarnya, Laura sudah mengumpat kesal pada barang-barang yang ada didalam ruangan itu. Boneka dan bantal menjadi sasaran empuk gadis tersebut.


"Arrgghhh, Zea sialan!" teriaknya memukuli benda dipangkuannya.


"Sebenarnya mereka beneran sudah menikah? Atau itu cuma akal-akalan Darren aja?" tanyanya bermonolog sendiri.


Mendengar penjelasan sang papa membuat gadis itu kebingungan. Darren dan Zea hanya calon, apa memang sudah menikah? Lalu, di poli kandungan itu?


Berbagai pertanyaan semakin memenuhi otak gadis itu. "Pokoknya aku akan cari tau, apa yang sebenarnya terjadi," tekadnya.

__ADS_1


"Jikapun benar mereka sudah menikah, aku gak akan biarin Zea berada disamping Darren. Hanya aku, akulah satu-satunya yang pantas menjadi pendamping Darren."


**


Rafka terbangun dari tidurnya, saat sinar mentari menembus gordyn kamar. Ia bangkit memijit pelipisnya yang terasa berdenyut. Memorinya terputar kembali pada kejadian semalam, dimana ia hampir menginap dirumah sahabatnya. Namun, satu insiden membuat ia kabur dari rumah tersebut.


Malam sebelumnya ....


"Sebaiknya, kita tidur di kamar tamu aja!" ajak Alzein.


Rafka menautkan alis tak mengerti. "Kenapa?" tanyanya.


"Emm, pokoknya kita dikamar tamu aja!" final Alzein berlalu terlebih dahulu.


Merasa sudah lelah, karena harus mendengar suara lucknut dari kamar kedua orang tua Alzein. Tanpa protes, Rafka mengikuti langkah sahabatnya itu. Alzein merebahkan diri di sofa dan langsung terlelap. Sementara, Rafka berbaring di atas ranjang. Ia menawarkan sahabatnya itu untuk tidur disebelahnnya, namun tak dihiraukan Alzein yang kesadarannya sudah menghilang. Hingga menyisakan Rafka yang masih terjaga.


Tidak juga dapat memejamkan mata, Rafka memutuskan untuk memainkan sejenak ponselnya. Namun, ia baru tersadar, ponselnya tertinggal dikamar Alzein. Ia pun memutuskan untuk mengambilnya terlebih dahulu.


Deg!


Rafka terpaku mendengar lenguhan Zea yang mendayu merdu. Suara Zea kian kencang, membuat hati Rafka terbakar habis. Hingga satu tetes bulir dari pelupuk matanya jatuh begitu saja.


"Jadi ini alasan Al, ngajak keluar dari kamar?" tanyanya bermonolog sendiri.


Ia menatap nanar dinding, yang seolah tembus pandang pada ruangan samping. "Sebegitu bahagianya, kamu Ze. Sampai melupakan keadaan sekitarmu?"


Tidak ingin semakin sesak, Rafka memilih untuk segera keluar. Bukan kembali ke kamar tamu, pria itu justru memilih pulang.


Dan disinilah ia sekarang di dalam kamarnya. Menetralkan rasa denyut pada kepala, akibat entah tidur di jam berapa.


"Kayaknya aku harus segera berangkat. Gak mudah untuk melupakan rasa ini, jika harus terus didekatnya."


**

__ADS_1


Sementara Zea dan Darren sudah kembali dari rumah orang tuanya. Mereka berencana untuk membeli beberapa kebutuhan disalah satu swalayan yang tak jauh dari tempat tinggal mereka.


Keduanya berjalan beriringan, dengan Darren yang mendorong troli, sementara Zea memilih bahan makanan yang akan mengisi lemari es mereka. Canda tawa pun terlontar dari pasangan itu. Hingga tak membutuhkan waktu lama, mereka pun selesai.


"Yakin udah? Gak ada yang ketinggalan 'kan?" tanya Darren memastikan.


"Emm, udah tenang aja. Semua udah komplit, kok!" balas Zea meyakinkan. Mereka pun segera membawa barang-barang menuju kasir untuk pembayaran.


"Nih!" Darren menyodorkan satu kartu dari dompetnya pada Zea, saat mereka masih menunggu antrian.


Sontak Zea menoleh dengan raut wajah bertanya pada suaminya itu. Dengan cepat Darren menyimpan kartu tersebut pada telapak tangan istrinya.


"Maaf, selama ini aku belum menjalankan kewajibanku dengan baik," sesal Darren. Selama pernikahan berlangsung, ia belum memberikan nafkah finansial pada istrinya. Hingga sekarang ia baru menyadari itu.


Zea terkekeh. Meski begitu, ia tau kebutuhan di tempat tinggal mereka, sudah ditanggung oleh orang tua Darren. Bukankah itu sama saja?


"Tapi ... Ini hasil kerja Papa. Aku pengen pegang dari hasil kerja kamu," kekeh Zea meledek.


Darren ikut terkekeh seraya mengusek pucuk kepala wanita itu. "Baiklah, bulan depan kamu bakal pegang hasil kerjaku. Sekarang pakai itu dulu, ya! Sayang juga 'kan, kalo di kasih gak digunain," ucapnya yang dibalas tawa kecil oleh Zea.


Setelah pembayaran selesai. Darren segera mengambil belanjaan mereka dari atas meja kasir. Tentu ia tidak akan membiarkan sang istri membawa barang-barang tersebut. Mereka pun berlalu keluar dari tempat itu. Tanpa mereka sadari, dari sebuah mobil Laura tengah memperhatikan mereka.


"Itu 'kan Darren?" gumamnya bertanya.


Gadis yang tengah menunggu mamanya itu, terus melihat gerak gerik keduanya. Hingga saat mobil mereka melesat, Laura dengan cepat mengikutinya. Bahkan, ia melupakan sang mama yang ia tinggal ditempat itu.


"Pokoknya, aku gak boleh kehilangan jejak mereka. Kalo mereka beneran menikah, harusnya mereka tinggal bersama 'kan?" gumamnya memberi opini.


Tak berselang lama, mobil pun sampai disebuah apartemen yang cukup mewah. Sontak hal itu membuat Laura tidak dapat lagi mengelak fakta yang dibenarkan oleh Darren.


"Jadi ... Benar? Mereka udah nikah?"


******

__ADS_1


__ADS_2