
Setelah percakapan sepasang suami istri itu di dalam mobil, kini mereka tengah membahasnya di kediaman rumah kedua orang tua Zea. Sudah diputuskan resepsi akan digelar bulan depan. Sekaligus membuat syukuran empat bulan kehamilan Zea.
"Papi, seneng akhirnya kalian mau juga membuat resepsi," ucap Aska. Sebelumnya mereka sempat menawari. Namun, ditolak keduanya dengan alasan kehamilan itu.
"Iya, Papa juga. Papa bisa menolak terang-terangan para kolega yang ingin mengajukan pernikahan perusahaan," balas Daffa.
"Lha terus selama ini, Papa bilang apa sama mereka?" tanya Riska heran menatap suaminya.
"Papa cuma bilang Darren udah punya calon. Tapi, mereka tetap gak percaya, dan tetap bersikukuh mengajukan itu. Mungkin karena belum adanya acara apapun yang kita publish, jadi mereka menganggap Papa cuma menghindar," jelas Daffa.
Semua orang disana terkekeh. Memang benar tidak adanya acara yang di gelar secara publish, membuat mereka tidak tau adanya pernikahan.
Sementara mereka tengah membahas rencana resepsi. Alzein tengah melakukan panggilan dengan seseorang di halaman belakang. Pria tampan itu tampak sumringah berbicara dengan seseorang disebrang telepon. Hal itu diperhatikan gadis kecil yang mengintip di balik tanaman berpot besar.
"Kak Al, telponan sama siapa? Apa pacarnya?" gumam Dara, gadis yang tengah mengintip itu.
Terlalu penasaran, gadis itu membuka kupingnya lebar-lebar untuk mendengar percakapan tersebut.
"Apa kamu masih belum juga yakin sama aku? Aku serius, Ray!"
Terdengar suara Alzein menyebutkan nama seseorang, membuat gadis itu menautkan alisnya. 'Ray? Kayak gak asing, ya?' batin Dara bertanya-tanya.
Gadis itu semakin penasaran, ia kembali fokus mendengar percakapan Alzein dengan orang di dalam panggilan.
"Apa aku perlu kesana sekarang menemui papihmu, agar kamu percaya?"
"Ya, untuk melamarmu!"
"Hah?!" Sontak Dara menutup mulutnya yang hampir saja menggegerkan seisi penghuni rumah.
'Kak Al ... Mau melamar seorang gadis?' batin Dara tak percaya. 'Siapa?'
Tiba-tiba mata gadis itu berkaca-kaca, mendengar cinta pertamanya sudah memiliki gadis lain yang ia yakini kekasih. Membuat gadis berusia tiga belas tahun itu patah hati. Tidak ingin mendengar semakin jauh, pembicaraan Alzein dengan lawan bicaranya. Dara memilih untuk pergi meninggalkan tempat itu.
Ia berlari melewati samping rumah, berharap tidak ada yang mengetahui dirinya menangis. Namun, baru saja ia sampai di teras samping, tiba-tiba ia menubruk seseorang karena tidak fokus melihat jalan.
Brukkk!!!
"Huaaa Mama ...." Gadis itu terjatuh diatas lantai dan menangis.
__ADS_1
Sontak hal itu membuat si penabrak kelabakan. Segera ia berjongkok dan hendak membantu gadis itu berdiri. "Dek, kamu gak apa-apa? Ssstt jangan nangis. Sini, Kakak bantuin!" bujuknya.
Bukan berhenti, gadis itu semakin kencang. Tak ingin membuat rusuh dan menggegerkan semua penghuni rumah, si penabrak yang tak lain adalah Rafka segera membekap gadis itu seraya memberi kode.
"Sssttt!!!" peringatnya.
Dara yang baru melihat orang asing itu menatap takut. Seketika tangisnya berhenti melihat pria bertubuh tegap yang lebih besar dari sang kakak, hingga terlihat lebih tua menurutnya. Meski dapat diakui ia terlihat tampan, sama seperti Al. Namun, fosturnya membuat gadis kecil itu ketakutan.
"Tenang, ya!"
Perlahan Rafka melepaskan bekapannya, dan mengangkat kedua bahu sang gadis untuk berdiri. Ia berjongkok seraya mengusek pucuk kepalanya.
"Gadis pinter!" pujinya tersenyum.
Dara tidak menimpali ia masih bingung siapa pria itu? Bagai hipnotis ia hanya mampu menurut dan tidak histeris seperti sebelumnya.
"Siapa namamu?" tanya Rafka mengusap sekilas kebasahan di pipi sang gadis.
"Dara," balasnya singkat.
"Nama yang cantik," puji Rafka lagi, menoel hidung gadis itu. "Sini, ngobrol dulu sama Kakak!" ajaknya menggandeng tangan sang gadis untuk duduk di kursi santai yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Gak apa-apa, jangan takut! Kakak bukan orang jahat, kok. Kenalin nama Kakak Rafka, teman Alzein dan Alzea!" ucapnya menyodorkan tangan.
Dara menatap tangan itu, tangan yang hampir dua kali lipat lebih besar darinya. Tentu ia begitu takut untuk meraihnya. Rafka yang mengerti terkekeh seraya mengusek pucuk kepala gadis itu.
Entah kenapa, ia begitu suka berinteraksi dengan anak kecil. Mungkin, karena ia begitu mengidam-idamkan seorang adik, membuat ia begitu akrab dengan anak manapun. Terlahir sebagai anak tunggal, membuat ia kesepian dan senang sekali mengajak main anak-anak disekitarnya.
"Pasti kamu saudaranya Al sama Zea, ya?" Rafka terus bertanya untuk mencairkan suasana. "Apa kamu adiknya Ara?" lanjutnya.
"Atau-"
"Bukan. Aku adiknya Kak Darren!" balas Dara yang akhirnya bersuara. Namun, tatapannya kembali tertunduk melihat reaksi terkejut dari Rafka.
"Ouhhh!" Rafka terdiam sejenak, tentu ia tak mengira gadis kecil itu adik Darren. Ia bahkan lupa, jika pria itu memiliki saudara.
Tidak ingin membuat gadis itu kembali ketakutan. Rafka kembali mencairkan suasana. "Wah, Kakak baru tau, kalo Darren ternyata punya adik secantik kamu," celetuknya.
"Kakak ngegombal?" tanya Dara menatap polos pada Rafka.
__ADS_1
Mendengar pertanyaan itu, sontak membuat Rafka tertawa. Dara yang kurang memahami situasi hanya menatap heran pria yang ternyata begitu manis saat tertawa itu.
"Nggak! Kakak serius," balas Rafka mengusek pucuk kepala gadis itu lagi, setelah menghetikan tawa.
"Biasanya 'kan cowok dewasa tuh gitu, suka modus. Gombal-gombal gak jelas gitu. Cuma Kak Darren aja mungkin yang gak bisa gombal," ucap Dara memberi opini.
"Nah, ini yang Kakak gak nyangka. Darren 'kan terlalu serius. Tapi, kamu kayaknya lucu, crewet, jauh banget jadi adiknya Darren. Bagusnya itu kamu jadi adeknya Kakak," balas Rafka.
"Emang bisa aku jadi adeknya Kakak?" tanya Dara.
"Bisa dong! Kalo kamu gak jutekan kayak Darren, kamu bisa jadi adiknya Kakak. Kakak tuh suka sama anak yang cerewet, manis, gak baperan, bisa diajak seru-seruan bareng," jelas Rafka.
"Kalo gitu, aku mau jadi adiknya Kak ..." Dara menggantungkan kalimatnya saat ia lupa nama pria itu.
Rafka tersenyum menanggapi. "Rafka!" jelasnya.
Dara ikut tersenyum. "Iya, Kak Raf," balasnya mengulang nama tersebut. "Aku mau jadi adiknya Kak Raf!" lanjutnya melebarkan senyum.
Rafka ikut melebarkan senyum seraya mengusek pucuk rambut gadis itu. Sungguh senang sekali dapat berinteraksi dengan anak-anak seperti Dara. Dan kali ini ia kembali mendapat adik baru.
"Dara?!" panggilan Alzein mengalihkan atensi mereka. "Eh, kamu disini Raf?" tanyanya dan diangguki pria tampan itu.
"Mama kamu nyariin tuh, Ra. Katanya mau pulang sekarang," ucap Alzein memberitahu gsdis kecil itu.
"Iya!" balasnya singkat membuat kedua pria itu menautkan alis.
Ia pun bangkit dari duduknya. "Hape Kak Raf, mana?" pintanya mengadahkan tangan.
Rafka yang sempat heran dengan sikap gadis itu terhadap Alzein, segera tersadar dan mengambil benda pipih itu dari saku celananya. Lalu, memberikan benda tersebut pada Dara.
Segera Dara meraih ponsel Rafka. Lalu, mengetikan sesuatu di layar tersebut. "Aku udah save nomor aku disini. Kak Raf, jangan lupa hubungi aku, ya! Aku pulamg dulu, bye-bye!" pamitnya tesenyum senang.
Berbanding terbalik, saat ia bersitatap dengan Alzein. Gadis itu nampak datar dan berlalu begitu saja. Hal itu tentu membuat Alzein bingung. "Dia kenapa?"
Rafka yang mengerti tergelak. Entah apa yang membuat gadis itu demikian pada Alzein?
"Contoh nih, Kakak yang baik!"
\*\*\*\*\*\*
__ADS_1