
Setelah kepulangan kedua orang tua Darren, sepasang suami istri itu memilih menginap sesuai keinginan si empunya rumah. Tentu sang Mami, Vani, bersikukuh untuk pasangan itu menginap disana.
"Mami udah beresin kamar kalian. Kalian istirahat, ya!" ucap Vani berpamitan.
"Makasih ya, Mi!" balas Zea tersenyum.
"Iya," Vani berlalu meninggalkan pasangan suami istri itu di dalam kamar.
Belum sempat Zea mengeluarkan suara, Darren sudah memeluk tubuh Zea dari belakang, mengelus perut sang istri yang masih rata.
"Maafin aku, ya!" sesal Darren menyembunyikan wajah dibahu Zea.
"Hem, untuk apa?" tanya Zea heran.
"Semua terjadi, gara-gara menyembunyikan pernikahan kita," balas Darren. Jujur pria itu masih merasa bersalah pada sang istri akan kejadian siang tadi.
Zea tersenyum, sungguh senang sekali melihat suaminya berubah drastis. Ada getaran didada yang tidak bisa ia ungkapkan dengan kata. "Udah lupain itu! Aku 'kan gak apa-apa," ucap Zea mengusap tangan Darren yang bertengger diperutnya.
Tanpa keduanya sadari, pintu kamar tidak tertutup rapat. Hingga seseorang tanpa sengaja dapat melihat adegan mereka. Rafka merapatkan pintu kamar itu, kemudian menyandarkan diri di tembok samping pintu.
"Kenapa begitu sulit melupakan perasaan ini?" gumamnya bermonolog sendiri, memegang dada yang terasa sesak. "Apa aku harus kembali, untuk bisa melupakannya?"
Sementara sejoli di dalam sana sudah ditahap siap mencari pahala. Meski mereka bukan pasangan pengantin baru lagi, namun tetap saja, mereka baru melakukan program mencari pahala itu untuk kedua kalinya.
"Papa tengok ya, De!" Darren mengelus perut Zea yang sudah polos tanpa sehelai benang. Mengecupnya bertubi-tubi, sebelum melanjutkan aksinya.
__ADS_1
Kini keduanya sudah tidak canggung lagi, meski sama-sama tanpa busana. Tidak ada lagi, yang mereka tutup-tutupi dari mulai hati bahkan tubuh mereka. Bahkan, suara-suara sexy tidak segan mereka lantunkan.
"Mmhh Der, lebih cepat!" de sah Zea terdengar menggema memenuhi ruangan luas itu.
Sementara Darren tidak mengindahkan, karena masih saja takut gerakan cepatnya bisa menyakiti baby mereka. Ia masih saja bergerak pelan membuat Zea merasa tergelitik dan gemas sendiri.
Merasa kesal keinginannya diabaikan, Zea mendorong tubuh Darren, hingga terjengkang kesamping. Sontak Darren terlonjak kaget, dan hendak bertanya. Belum juga ucapapnya keluar, Zea sudah menindih tubuhnya terlebih dahulu.
"Kamu diem, biar aku yang jadi leadernya!" titah Zea menyelak ucapan Darren yang belum keluar.
Si ibu hamil itu mulai bergerak menggerayangi tubuh suaminya. Tidak ada satu jengkal pun yang terlewat dari sapuan bibir mungil Zea. Hingga membuat Darren hanya mampu terpejam menikmati setiap sentuhan itu.
"Akhhh!"
Sejoli dibawah sana bertemu kembali. Si nona dengan lahap memakan semua pisang, hingga tertelan sempurna. Posisi tersebut, membuat Zea kian menggila. Wanita itu tanpa sungkan menari lincah diatas tubuh suaminya. Ia bergerak sesuai naluri yang menuntunnya.
"Astaga, suara itu?" guamam Alzein kaget, ia yang tengah fokus pada laptopnya seketika berhenti. "Apa harus sekeras itu?" gumamnya lagi merasa tak percaya akan suara yang terdengar dari kamar sebelah.
Ceklek!
Pintu kamar mandi terbuka menampakkan Rafka keluar dari dalam sana. Segera Alzein menarik tangan sahabatnya itu keluar dari kamar, takut suara itu kembali terdengar dan semakin membuat remuk hati pria itu.
"Apaan sih?" tanya Rafka heran, mengikuti langkah Alzein menuruni anak tangga dengan cepat.
"Temani aku ngopi," balas Alzein.
__ADS_1
"Haus banget?" tanya Rafka lagi yang masih tak mengerti.
"Banget," balas Alzein sekenanya. Rafka hanya melongo, ia bingung namun tak ayal ia hanya menurut.
Benar saja, Alzein segera mengambil gelas untuk diisi air putih, dengan sekali tegakan air tersebut tandas tak tersisa. Ternyata suara sejoli dari bilik sebelah membuat Alzein dehidrasi.
Sontak Rafka semakin bingung dengan kelakuan sahabatnya itu. Ia menempelkan punggung tangan didahi pria itu. "Wah pantesan, panas!" celetuknya.
"Apaan?" elak Alzein membuang muka. Seperti yang dikatakan Rafka, wajahnya memanas karena kejadian itu.
"Ya udah, gak usah minum kopi kalo sakit. Minum obat aja!" usul Rafka. "Bentar, aku ambilin obat, dikamarmu ada 'kan?"
Rafka hendak pergi, namun segera ditahan Alzein. "Gak usah! Gak apa-apa, kita ngopi aja udah," larang Alzein, yang kemudian segera menuju alat pembuat kopi.
Segera Alzein berperan sebagai barista, untuk mengalihkan perhatian. Mengajak sahabtatnya itu membahas akan kopi yang mereka sukai. Hingga setelah selesai, Alzein mengajak menikmati kopi mereka sambil bermain playstation. Mengenang kembali kelakuan mereka beberapa tahun yang lalu.
Tanpa rasa curiga, Rafka mengikuti saran sahabatnya itu. Keduanya terus menikmati kenangan masa kecil mereka diringi canda tawa. Bahkan, Alzein melupakan kejadian sebelumnya. Sampai hal itu kembali mengganggu indera pendengaranya.
"Al!!" Rafka menepuk bahu Alzein, seraya menghentikan gerakan tangannya. "Itu suara ...." Ia menggantungkan ucapannya, saat menyadari sesuatu.
Glek!
Kedua pria lajang itu menelan salivanya kuat-kuat mendengar suara yang terdengar dari arah kamar utama yang ternyata tidak tertutup rapat.
Alzein menghela napas berat. Sungguh malam ini begitu sial untuknya. Ia harus mendengar suara-suara lucknut dari kedua pasangan yang entah kenapa bisa mencari pahala berjamaah.
__ADS_1
"Apes banget sih. Besok kayaknya harus cari apartemen ini mah!"
\*\*\*\*\*\*