
Bughh!!!
Satu kepalan tangan dilayangkan Rafka tepat mengenai ujung bibir Darren. Bukan sekali, Rafka terus menghajar Darren hingga ia terlentang diatas lantai.
"Bajing*n! Brengs*k!" Bagai kerasukan setan, Rafka tak henti menghajar Darren. Hingga menduduki tubuh pria itu.
Darren yang tidak siap, tidak dapat menghindar ataupun melawan. Sementara Zea yang baru selesai dari kamar mandi, bergegas keluar saat terdengar suara gaduh dari ruang tamu.
"Rafka, Darren!" pekiknya kaget. Segera ia menarik tubuh Rafka dari atas suaminya. Namun, tenaganya tidak cukup untuk menarik tubuh tegap itu.
"Rafka! Ada apa ini? Lepasin Darren!" titah Zea. Namun tidak di dengar pria yang tengah kalaf itu.
Darren sudah tidak berdaya. Wajahnya penuh lebam. Bahkan darah mulai mengalir dari hidung dan ujung bibirnya. Zea menjerit melihat itu, hingga seseorang datang dan berhasil menarik tubuh Rafka dari atas Darren.
"Apa yang kamu lakuin, Raf!" bentak Alzein.
"Dia pantas mendapatkan itu. Bahkan harusnya lebih. Orang seperti dia gak pantas buat hidup!" teriak Rafka dengan napas tersenggal tidak dapat menahan amarahnya.
Alzein yang mengerti hanya mampu menepuk-nepuk pundak sahabatnya untuk menenangkan, dengan perasaan gelisah. Menyesal? Tentu saja! Kenapa juga ia harus membeberkan fakta akan pernikahan sang adik pada sahabatnya itu. Ia tidak mengira keadaan akan demikian.
Sementara Zea menangis tersedu-sedu. Ia mencoba mengusap pelan pipi Darren yang tidak berdaya. "Darren bangun, kamu gak apa-apa?" tanyanya. Kemudian ia menoleh ke arah Rafka.
"Apa masalahmu? Kenapa kamu memukuli Darren sampai kayak gini?" tanya Zea dengan nada tinggi.
Rafka tetsenyum sinis. "Kamu tanya kenapa? Harusnya aku yang tanya. Kenapa kamu nikah sama dia? Hanya karena kesalahan? Hanya karena anak yang kamu kandung?"
Deg!
Zea terpaku mendengar pertanyaan itu. Dari mana sahabatnya itu tau? Ia menatap orang di samping Rafka yang tak lain adalah sang Kakak.
"Kak?!"
"Maafin Kakak, Ze. Ini salah Kakak," sesal Alzein.
Zea menarik napasnya dalam, seraya memejamkan mata. Ia tidak mengira akan serumit itu. Cairan bening terus keluar dari matanya.
Rafka menekukkan satu kaki dihadapan Zea, memegang kedua bahu wanita itu. "Kalo kamu tertekan dengan pernikahan ini. Tinggalkanlah dia!"
Sontak Zea membuka mata seraya menatap wajah pria itu. "Apa maksudmu?" tanyanya.
__ADS_1
"Aku mencintaimu Zea!"
Deg!
Zea terpaku, mendengar pernyataan cinta sahabatnya itu. Tentu ia tidak mengira pria itu memiliki perasaan lebih terhadapnya.
"Apa kau tau tujuanku pulang?" tanya Rafka dengan air mata yang luruh begitu saja. "Aku pulang untukmu, Ze. Aku pulang untuk melamarmu," jelasnya.
"Kau ingin tau 'kan, siapa gadis yang aku suka waktu itu? Sekarang aku sudah memberimu jawabannya. Itu kamu, Ze. Itu kamu ...." Isak tangis dari dua manusia itu terdengar mengharu biru.
Zea yang merasa bersalah pada Rafka, karena tidak menyadari perasaan pria itu selama ini padanya. Sementara Rafka yang menyesal tidak menyuruh Zea untuk menunggunya kembali sebagai seorang kekasih.
"Jadi tinggalkan Darren! Biarkan aku menikahimu. Aku akan bertanggung jawab atas kamu dan bayi dalam kandunganmu," ungkap Rafka serius.
Deg!
Bukan hanya Zea, Alzein pun merasa syok dengan pengakuan sahabatnya itu. Meski ia memberitahu apa yang terjadi pada Zea, bukan berarti menjadikan itu sebagai alasan Rafka merebut Zea.
"Raf!" peringat Alzein. Namun, tangan Rafka terangkat, tanda tak ingin dibantah.
"Bagaimana, Ze. Apa kamu mau menikah denganku?"
Bughhh!!
"Berani sekali kamu menyatakan itu pada istriku? Hah?" peringat Darren mencengkram kuat kerah baju yang dikenakan Rafka.
"Huh istri?" tanya Rafka dengan senyum remeh, dengan tangan mengusap sudut bibirnya yang berdarah. "Bukankah harus di ralat?"
"Tepatnya seorang wanita yang sudah kau rusak. Dan sekarang kau sia-siakan!" teriak Rafka yang sama dikuasai emosi. "Bukan begitu?" tanyanya penuh penekanan.
"Jika kau tidak sanggup untuk membahagiakannya, bukankah sudah sepantasnya kau menyerahkannya pada orang yang layak?" tanya Rafka dengan nada ejekan.
"Apa menurutmu begitu?" tanya balik Darren.
"Denger baik-baik, Zea milikku! Begitupun bayi dalam kandungannya. Itu darah dagingku. Siapa kau? Kau tidak ada hak untuk mencampuri urusan rumah tanggaku!" peringatnya.
"Dan sebiknya kau bertanya, bukan memerintahnya. Apa dia bahagia atau tidak hidup denganku?"
Darren melepaskan cekalan dikerah Rafka dengan kasar. Ia bangkit dari tubuh pria itu. Lalu, berlenggang meninggalkan ruangan itu memasuki kamarnya.
__ADS_1
Alzein berjongkok, menenangkan sang adik yang nampak terguncang. Membawa kepala Zea kedalam dadanya. Rasa sakit yang dirasa Zea, tentu menjadi tombak juga untuk dirinya.
Rafka bangkit dan menggenggam tangan Zea. "Ze, jangan takut, kalo kamu ingin lepas darinya! Aku akan ada untukmu, aku-"
"Berhenti, Raf!" selak Zea.
"Kenapa?"
"Sampai kapanpun aku gak akan pernah ninggalin Darren. Dia suamiku, ayah dari bayiku!" jelas Zea.
Bagai tertusuk ribuan pisau, Rafka hanya mampu memejamkan mata tertunduk. Menahan segala sakit yang menghantam dadanya.
"Dan satu lagi. Tidak akan ada yang berubah diantara kita! Kamu akan selalu menjadi sahabatku," lanjut Zea.
Deg!
Rafka tidak sanggup berkata-kata lagi. Apa mungkin jika Zea tidak terjebak dalam pernikahan itu, masih ada kesempatan untuknya? Atau perasaan Zea memang tidak akan pernah berubah dan hanya menganggapnya sahabat?
**
Ceklek!
Zea memasuki kamar setelah dirasa cukup tenang, dan membiarkan Kakak beserta sahabatnya itu pergi. Ia dapat melihat Darren yang tengah berdiri di depan pagar balkon.
Wanita itu mengambil kotak P3K, lalu membawanya keluar menemui Darren yang dipastikan belum mengobati lukanya itu.
Grepp!!
Zea mencekal pergelangan tangan Darren dan menggiringnya duduk di kursi santai. Lalu, mulai mengolesi pria itu dengan obat yang ia tuangkan pada kapas. Hening! Tidak ada percakapan dari kedua manusia itu. Zea fokus membersihakn darah yang sudah mengering diwajah tampan Darren, sementara Darren hanya fokus menatap wajah istrinya itu.
"Apa kau akan meminta cerai dariku?" tanya Darren setelah lama mereka bungkam.
"Apa kau mau aku melakukannya?" Bukan menjawab, Zea justru bertanya balik.
Hanya hembusan napas dalam yang terdengar dari pria itu. Begitupun Zea yang sudah mengoleskan Salep pada luka-luka yang mulai membiru itu.
Zea sudah selesai dan hendak berlalu meninggalkan posisinya. Namun, tangan Darren kembali mencekalnya. Hingga ia menoleh kembali.
"Aku harap kamu gak pernah memikirkan hal itu. Karena bagaimanapun, dia ..." ungkap Darren melirik ke arah perut Zea.
__ADS_1
"Membutuhkan kita!"
\*\*\*\*\*\*