
Waktu sudah menujukkan pukul empat pagi, Darren baru terlelap setelah berhenti bolak balik kamar mandi. Ia yang memiliki masalah dengan saluran pencernaan, tidak terbiasa memakan makanan pedas. Sedikit saja, ia memakannya, maka berdampak seperti saat ini.
Zea yang tidak mengetahui itu, tentu merasa menyesal sudah memaksa Darren memakan apa yang ia mau. Ia hanya ingin Darren bisa menikmati apa yang ia makan.
"Maafin aku, ya! Aku gak tau kamu bakal kayak gini," sesal Zea meraba kening Darren yang sudah terbaring diatas ranjang.
Terlihat wajahnya memucat, dikarenakan banyaknya cairan yang keluar. Ia sempat menyarankan Darren ke rumah sakit, namun pria itu menolaknya. Hingga akhirnya, ia bisa berhenti dari diare nya itu.
Zea menguap merasa ikut mengantuk. Namun, ia memilih untuk menunaikan dua rakaat kewajibannya dulu sebelum kembali tidur. Setelah selasai, ia pun ingin melanjutkan tidurnya. Melihat Darren terbaring di ranjang, ia pun sedikit bingung. Antara ikut tidur di ranjang atau tidur di sofa menggantikan Darren.
Si ibu hamil itu hendak menuju sofa, namun berbelok menuju ranjang. Ia mendaratkan tubuhnya disamping Darren dengan guling sebagai sekat. "Bodo amat, dari pada badanku sakit tidur di sofa!" ucapnya, seketika menutup mata yang sudah tidak dapat diajak kerja sama lagi.
**
Drrtt ... Drrtt
Suara dering ponsel berhasil membangunkan seorang pria dari tidurnya. Ia membuka mata seraya memegang kepala yang terasa berat setelah suara itu menghilang. Ia menoleh dan terlonjak kaget, saat melihat wanita yang harus ia akui istrinya itu, tertidur di sampingnya.
'Kenapa dia tidur disini?' batin Darren heran.
Ia memutar kembali memorinya beberapa jam lalu, saat ia harus keluar masuk kamar mandi gara-gara suapan dari gadis yang kini terlelap itu. 'Cih! Ngapain juga aku ngikutin ucapan dia?' batinnya lagi bertanya.
Darren memperhatikan wajah Zea yang terlihat lebih tenang saat terlelap. Wajah tanpa riasan itu tampak cantik. Tangannya bergerak membelai pipi mulus sang gadis, hingga tersunggimg senyum kecil dari bibir pria itu.
Tiba-tiba saja. "Ergghh!" Zea bergeliyat.
Sontak Darren segera menarik kembali tangannya, seraya mengalihkan atensi. Namun, ternyata gadis itu tidaklah bangun. Zea justru semakin terlelap seraya menyusupkan wajah pada dada Darren.
"Kenapa dia makin dekat?" gumam Darren menahan napas. Tidak ingin hembusan napasnya menyapu wajah gadis itu.
__ADS_1
Hingga kembali suara dering ponsel terdengar. Kali ini, suara itu terdengar dari ponsel miliknya. Pelan namun pasti, Darren menarik diri. Hingga akhirnya ia terlepas dari sentuhan tubuh istrinya itu.
Hah~ Hembusan nafas lega keluar dari bibir pria itu. Entah demi apa, ia melakukan semua itu. Padahal, sudah jelas Zea adalah istrinya. Bahkan, ia lebih berhak atas tubuh ramping yang sudah menjadi miliknya itu. Namun, semua seolah tak berarti apa-apa.
'Apa yang gue fikirin?' gumam Darren menggelengkan kepala. Ia segera meraih ponsel untuk mengangkat panggilan tersebut agar tidak berisik.
"Mama?" gumamnya.
"Iya, Ma!" sapanya.
"Mama ganggu, ya?" tanya Riska terdwngar ragu dari sebrang telepon.
"Nggak! Ada apa?" tanya Darren.
"Zea nya mana? Mama telepon kok gak diangkat?" tanya Riska lagi.
"Dia masih tidur, Ma," balas Darren apa adanya.
Sontak Darren terdiam, dengan tatapan beralih pada sang istri yang masih terlelap. Dapat ia tebak, sang mama memprediksi Zea yang masih tertidur karena kelelahan gempuran malam-malam pengantin. Namun, nyatanya? Tidak ada sama sekali hal tersebut terjadi.
"Sebaiknya jangan terlalu sering juga Der. Kasihan cucu Mama, takut kenapa-napa kalo Zea sampai kelelahan," sambung Riska memperingatkan.
Benarkan apa yang ia fikirkan? "Iya, Ma!" balas Darren singkat.
"Oh iya, Mama juga mau ngabarin. Hari ini, Mama sama Mami Vani udah bikin jadwal sama Dokter kandungan buat chek up kandungan Zea. Kamu jangan lupa temanin Zea, ya! Mama sama Mami tunggu di Rumah sakit X, jam sebelas siang, oke!" terang Riska.
"Iya, Ma!" balas Darren pasrah. Ia bahkan belum memikirkan sampai sana, namun sang mama dan mama mertuanya begitu antusias menyambut kehidupan baru diperut istrinya.
"Kamu jangan iya, iya aja! Dari tadi Mama denger cuma iya, iya doang," gerutu Riska. "Jangan bilang kalian masih ...."
__ADS_1
"Apaan sih? Nggak, Ma. Aku juga baru bangun. Nyawaku belum kumpul semua, Mama udah nyerocos aja!" sela Darren sedikit kesal.
"Ya udah kalo gitu, kamu buruan mandi, terus siapin sarapan buat istri kamu, ya! Mama tutup dulu teleponnya." final Riska dan kembali diiyakan pria itu. "Oh iya, satu lagi. Tukang yang renov kamar, belum ada gantinya. Mungkin minggu depan bisa dilanjut," lanjutnya.
"Kenapa harus di ganti sih, Ma?" tanya Darren merasa aneh.
"Isshh harus dong! Ini 'kan harus yang khusus desain buat baby. Yang kemarin 'kan bukan," balas Riska dengan heboh.
Darren pun hanya pasrah mengikuti alur sang Mama. Setelah berpamitan, Riska pun memutus panggilan mereka. Darren yang melihat Zea tak terusik, memilih untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Membiarkan gadis itu terlelap sesukanya.
'Itu lebih baik, dari pada harus melihat dia muntah-muntah seperti kemarin,' batin Darren tersenyum lega.
**
Sesuai jadwal dari kedua Mama, Darren dan Zea sudah sampai di Rumah sakit yang di maksud.
"Jangan lupa senyum. Tunjukin kalo kita ini bahagia!" titah Zea.
"Gak kebalik?" tanya Darren dengan nada sindiran.
"Maaf, maaf aja ya! Aku peraih juara akting terbaik saat SMA dulu, lupa?" balas Zea dengam bangga dan hanya dibalas ******* kecil oleh Darren.
Tak membutuhakn waktu lama, keduanya pun sampai didepan poli kandungan dengan tag Dokter Salsa. Mereka pun memasuki ruangan tersebut setelah di persilahkan. Saat membuka pintu, ternyata dua Ibu itu sudah menyambut mereka di dalam sana.
Setelah berkenalan dengan sang Dokter dan mendapati berbagai pertanyaan, kini Zea diminta sang Dokter untuk berbaring di atas brankar. Memeriksa keadaan sang bayi dengan sebuah alat yang menampilkan keadaan rahim di sebuah layar monitor atau biasa disebut USG.
"Usia kandungannya sudah tujuh minggu ya, Bun. Masih kecil dan belum terlihat jelas. Perkiraannya masih sebesar buah kurma. Tapi, detak jantungnya sudah terdengar dan cukup normal," jelas Dokter Salasa.
Mama Riska dan Mami tersenyum haru melihat keadaan calon cucu mereka. Sementara Zea menangis melihat benar-benar ada kehidupan baru yang tengah tumbuh di dalam tubuhnya. Darren sendiri terpaku tanpa ekspresi apapun, detak jantung sang janin yang terdengar benar-benar menggetarkan hatinya. Entah perasaan apa itu? Namun, ia meyakini satu hal. Jika janin itu benar-benar darah dagingnya. Benih yang malam itu tidak sengaja ia tanam.
__ADS_1
'Maafkan Papa, sempat meragukanmu!'
\*\*\*\*\*\*