Benih Pengikat

Benih Pengikat
Tabrak lari


__ADS_3

Hari pun terus berlalu. Sepasang suami istri itu tengah sibuk mempersiapakan hari resepsi yang beberapa hari lagi siap digelar. Hari ini adalah fiting baju terakhir yang akan dilakukan keduanya.


Zea menunggu Darren di depan parkiran kampus untuk pergi bersama ke butik yang telah disiapkan mama Riska dan Mami Vani. Hingga tiba-tiba, suara dering ponsel mengalihkan atensinya.


"Iya, Tante?" sapa Zea menerima panggilan dari Tante Rose, sang pemilik butik.


"Kamu dimana, Ze? Bisa datang sekarang? Soalnya Tante ada urusan lain hari ini," balas Tante Rose dari sebrang telepon.


"Harus sekarang juga, Tan?" tanya Zea.


"Iya, Sayang. Anak tante tiba-tiba demam. Tante harus segera pulang. Kalo di pasrahin sama karyawan kayaknya gak mungkin, soalnya ini sesi terakhir pertemuan kita," jelas Tante Rose.


"Ya ampun, kasihan! Gimana, ya? Aku lagi nunggu Darren dulu, kayaknya sepuluh menit lagi beres," balasnya melirik jam dipergelangan tangannya.


"Ini hanya tinggal kamu aja sih. Gimana kalo kamu kesini duluan? Soal Darren gak apa-apa, kemarin dia udah pas juga," saran tante Rose.


Zea terdiam sejenak. Menimang apa yang harus ia lakukan. Ia teringat akan pesan Darren untuk menunggunya. Namun, ia juga tidak dapat menolak tante Rose, apalagi setelah mendengar kesehatan anaknya kini.


"Oke, Tan. Aku berangkat sekarang!" final Zea setelah beberapa saat berpikir.


Ia pun memutuskan sambungan telepon, setelah Tante Rose mengiyakan. Lalu, segera mengirim chat pada suaminya. Meminta izin untuk berangkat terlebih dahulu. Tanpa menunggu balasan ia pun bergegas keluar kampus untuk mencari taxi ataupun kendaraan umum lainnya.


"Gak ada taxi lewat. Apa aku pesan online aja, ya?" gumam Zea saat dirasa tidak ada kendaraan yang melewatinya.


"Ze!" panggilan seseorang membuat wanita yang tengah memaibkan ponsel itu mendongak.


"Kurap?!"


"Kamu lagi ngapain?" tanya Rafka disebrang jalan. Pria itu nampak keluar dari dalam mobilnya dan terlihat hendak menghampiri.


"Tunggu disana!" tahan Zea.


Rafka yang hendak mendekat pun mengurungkan niatnya. Zea melirik kanan kiri untuk menyebrang dan menghampiri sahabatnya itu. Ia akan meminta pria itu untuk mengantarnya ke butik.


Baru juga beberapa langkah, tiba-tiba mobil dari arah kiri melaju dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


Brummm ...


"Ze, awas!" teriak Rafka.


Dengan gesit, Rafka segera berlari ke arah Zea yang tiba-tiba mematung melihat mobil yang kian mendekat. Ia terpejam pasrah seraya mendekap perutnya. Rafka dengan cepat memeluk tubuh wanita itu, hingga ia tersenggol dan terjatuh bersama Zea.


Brukkk!!!


"Ze, kamu gak apa-apa?" tanya Rafka khawatir menepuk pipi Zea.


Zea membuka mata dan betapa terkejutnya ia saat melihat darah dari kepala Rafka yang tiba-tiba mengalir. "Darah Raf, darah!" cicitnya. Terlalu syok membuat wanita itu akhirnya tak sadarkan diri.


"Ze, bangun, Ze!" Rafka mencoba menepuk pipi Zea, hingga satu tetes darah mengenai wajah cantik wanita itu.


Reflek Rafka memegang kepalanya, dan benar saja darah mengalir dari sana. Tiba-tiba kepalanya terasa berdenyut hebat, pandangannya buram. Hingga ia ikut tergeletak tak sadarkan diri.


Orang-orang yang melihat kejadian itu sontak mendekat mengerumuni. Salah satu dari mereka segera menghubungi ambulans. Tidak ada satu pun dari mereka yang mau menyentuh, mereka hanya riuh mempertanyakan keadaan.


Sementara itu Alzein yang sudah berencana untuk pulang di jemput Rafka, keluar dari area kampus. Lalu, menghampiri saat melihat kerumunan di sana. "Ada apa?" tanyanya penasaran pada salah satu warga.


Terlalu penasaran, ia pun menerobos melihatnya. Betapa terkejutnya Alzein saat tau adik dan sahabatnyan tergeletak di atas aspal.


"Zea, Rafka!" pekiknya syok.


Segera ia berlutut meraih tubuh sang adik kedalam pelukan. "Ya amphnZe! Bangun Ze, apa yang terjadi sama kamu?" tanyanya menepuk pipi wanita itu. "Raf!" panggilnya pada Rafka yang juga tergeletak.


"Siapa pun, tolong bantu saya!" teriak Alzein dengan bibir bergetar dan air mata yang tiba-tiba berdesakkan.


"Mas ini tadi turun dari mobil itu. Mungkin itu mobilnya," Seseoang menghampiri, kemudian menjelaskan seraya menunjuk mobil yang terparkir.


Alzein melihat mobil yang benar saja milik Rafka. "Benar, Pak. Itu mobil sahabat saya. Sekarang tolong bantu saya membawanya kedalam mobil itu!" titahnya mencoba setenang mungkin.


Namun, belum juga mereka bergerak, ambulans datang terlebih dahulu. Mereka pun bergotong royong membopong Rafka menuju mobilnya. Sementara Alzein menggendong sang adik menuju mobil ambulans tersebut.


'Bertahanlah, Ze! Kakak janji akan melindungimu dan keponakan Kakak,' batin Alzein terus berdo'a.

__ADS_1


Beberapa warga pun membantu mengemudikan mobil Rafka mengikuti ambulans menuju rumah sakit.


Didalam ambulans, pikiran Alzein kalut. Bukan hanya Zea, namun ia juga memikirkan keadaan sahabatnya, Rafka. "Ze, bangun Ze! Ini Kakak," isaknya menggenggam tangan wanita yang berbaring diatas brankar.


"Apa yang sebenarnya terjadi sama kalian?" gumamnya bertanya-tanya.


Alzein terlalu larut dalam kesedihan dan ke khawatiran, hingga ia melupakan untuk menghubungi Darren dan keluarga yang lainnya.


**


Sementara Darren baru keluar dari dalam kelas. Entah kenapa perasaanya tiba-tiba tak karuan saat mendapati balasannya tak dibaca sama sekali oleh sang istri. Merasa penasaran, ia pun menghubungi nomornya.


"Hallo!"


Darren mengerenyit heran, saat suara seorang pria yang menerima panggilan. Ia melihat sebentar nomor yang ia hubungi, namun itu benar nomor sang istri. Sekali lagi suara dari sebrang telepon terdengar.


"Maaf, ini siapa?" tanya Darren.


"Apa Anda keluarga korban?" tanya balik pria dari sebrang telepon.


"Korban?" cicit Darren bingung. Namun, didetik berikutnya, hatinya berdebar dengan mata membulat sempurna.


"Iya, saya tengah membawa korban tabrak lari menuju Rumah sakit. Kalo anda keluarganya, silahkan menyusul ke Rumah sakit. Kalopun bukan, tolong hubungi keluarganya," jelas pria itu.


Deg!


"A-apa?" teriak Darren tergagap. "Baiklah, saya akan segera menyusul sekarang!"


Tanpa menunggu persetujuan, Darren segera memutuskan panggilan sepihak. Pikirannya hanya tertuju pada keadaan istri dan calon buah hati mereka. Segera ia berlari menuju parkiran dan segera memacu kendaraannya.


"Astaga, apa yang terjadi? Ze, maafin aku, maafin aku!" gumamnya penuh penyesalan. "Jika terjadi sesuatu sama kalian aku gak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri," lanjutnya kalut, hingga tak terasa air matanya jatuh begitu saja.


Sementara kedua warga didalam mobil Rafka terus berusaha menghentikan pendarahan di kepala pria itu dengan jaket yang tersampir di jok tersebut. Satu warga yang menyetir, terus di minta untuk melajukan kendaraan dengan cepat. Warga hanya memasukan barang-barang Zea kedalam mobil Rafka, hingga saat ponsel berdering pun, salah satu dari warga lah yang mengangkat panggilan Darren.


"Pak, buruan! Mas ini kehabisan banyak darah. Saya takut, nyawa dia gak bisa tertolong."

__ADS_1


\*\*\*\*\*\*


__ADS_2