Benih Pengikat

Benih Pengikat
Mencoba memulai


__ADS_3

Malam terasa canggung antara Darren dan Zea. Setelah pembicaraan terakhir mereka, ingin sekali Zea bertanya maksud Darren yang tidak akan membiarkan dirinya pergi, dan mengungkapkan jika si jabang bayi membutuhkan mereka. Namun, ia terlalu ragu untuk bertanya melihat Darren sendiri juga terlihat tidak banyak bicara.


Tidak ingin salah mengartikan, Zea memilih untuk tidak bertanya dan mengabaikan semua seolah tidak terjadi apapun. Si ibu hamil itu memilih untuk segera beristirahat.


Darren yang baru saja menyelesaikan tugas kuliahnya, hendak tidur juga. Terlihat Zea sudah terlelap. Perlahan, Darren menaikan selimut untuk menutupi tubuh ramping itu hingga dada. Lalu, mengusap rambut istrinya itu seraya memperhatikan wajah tenangnya.


'Entah apa yang sebenarnya aku rasain. Yang jelas, aku gak akan biarin kamu dan baby kita pergi dariku,' batin Darren yang diakhiri kecupan dikening.


**


Pagi ini, Zea bangun sedikit terlambat. Ia tidak melihat suaminya itu didalam kamar mereka. "Kemana dia?" tanyanya heran. Ia memilih memasuki kamar mandi terlebih dahulu untuk membersihkan diri.


Tak berselang lama, ia pun selesai dengan aktifitasnya. Si ibu hamil itu sudah rapih dengan pakaian dan sapuan make up tipis di wajahnya. Segera ia keluar untuk membuat sarapan untuknya dan sang suami. Namun, langkah ia terhenti diambang dapur.


"Selamat pagi!" sapa Darren dengan senyum tipisnya.


Bukan, bukan senyum itu. Aktifitas Darren yang tengah mempersiapkan sesuatu ke atas meja makan dan apron yang melekat ditubuh tegap itu, yang menjadi perhatian Zea.


"Kamu ... Lagi ngapain?" tanya Zea heran.


"Menurutmu?" Bukan menjawab Darren justru balik bertanya, seraya sibuk mempersiapkan makanan.


Zea berdecih, namun tak ayal mendekat dan melihat hasil masakan suaminya itu. Ia berdecak kagum, saat beberapa menu sehat tersaji di meja. Bahkan, sudah tersedia susu hamil dalam gelas tinggi untuk dirinya.


"Woah, kamu beneran buat ini semua?" tanya Zea tak percaya seraya mendudukkan diri diatas kursi.


"Hem," balas Darren singkat seraya ikut mendudukan diri dihadapan Zea yang tersekat meja. "Semalam aku membaca artikel, tentang sarapan sehat untuk ibu hamil. Dan ... Hasilnya entahlah, kamu bisa mencobanya sendiri," jelasnya.

__ADS_1


Zea tersenyum senang. Rasanya aneh, saat mendapat perhatian pagi-pagi dari suaminya itu. Namun, tak dapat dipungkiri. Hal itu membuat ia bahagia.


"Baiklah, akan aku coba!" ucap Zea meraih garpu untuk mencicipi salad buah yang terlihat menyegarkan dimatanya. "Emm, ini enak banget!" komentar Zea berbinar.


Tanpa basa basi lagi, Zea segera menyicipi satu persatu makanan disana. Ia tidak memedulikan Darren yang tersenyum tipis melihat Kelakuannya. Bahkan, bukan cicipan lagi. Si ibu hamil itu sudah mulai memakan makanan tersebut dengan lahap.


"Emm, aku wupa. Sewamat makan!" ucapnya dengan mulut penuh dan diakhiri senyuman.


Darren tak melunturkan senyumnya itu. Meski terlihat tipis, namun hatinya tidak demikian. Terasa bahagia yang menyelimuti hati saat makanan yang ia buat dinikmati sang istri dan bayinya.


'Aku senang kalian menikmatinya.'


**


Drrtt ... Drrtt ...


"Siapa?" tanya Darren.


"Hem, bukan siapa-siapa," elak Zea.


Lagi-lagi suara dering itu kembali terdengar. Darren merampas ponsel tersebut, hingga ia tau siapa yang menghubungi. "Kenapa gak diangkat?" tanyanya. Zea hanya mengedikan bahu sebagai jawaban.


Darren menghembuskan napas pelan. Ia masih kesal dengan kelakuan Rafka padanya. Namun, ia juga penasaran apa yang diinginkan pria itu. Tanpa persetujuan Zea, Darren menjawab panggilan tersebut.


"Hallo, Ze!" sapa dari sebrang telepon.


Sontak Zea membelakak saat mendengar suara Rafka yang sengaja di loudspeak oleh suaminya itu. Ia hendak merampas ponsel tersebut untuk mematikannya, namun Darren tidak mengindahkan dan justru menjauhkannya. Hingga suara Rafka kembali terdengar.

__ADS_1


"Hallo, Ze! Kamu mendengarkanku?" tanya Rafka memastikan.


Darren memberi kode dengan alisnya, agar Zea bicara. Dengan terpaksa Zea pun menimpali. "Iya, Raf!"


"Kamu dimana? Apa kamu sibuk? Ada hal yang ingin aku bicarakan soal kemarin," ungkap Rafka.


"Aku ... Aku mau berangkat kuliah," balas Zea ragu.


"Baiklah! Makan siang nanti, aku tunggu kamu di resto depan kampus."


"Tapi ...." Zea sedikit ragu mengingat kejadian kemarin, yang pasti membuat mereka canggung.


"Aku harap kamu gak menghindar. Aku butuh banyak penjelasan mengenai hal kemarin," sela Rafka yang seolah tau kegundahan Zea.


Zea menghembuskan napas kasar. "Baiklah!" finalnya.


Panggilan pun terputus tepat saat mereka sampai diparkiran kampus. Sepasang suami istri itu terdiam sejenak di dalam mobil tersebut. Zea bingung bagaimana cara meminta izin pada suaminya itu? Bagaimana pun kejadian kemarin sungguh diluar dugaan mereka.


"Aku akan menemanimu," Suara Darren memecah keheningan mereka. Sontak Zea menoleh dengan raut wajah penuh tanya.


"Bukannya kamu sendiri yang menginginkan kita untuk memulainya?" tanya Darren menatap Zea serius, hingga mata keduanya.


"Ayo, kita coba lakukan!"


\*\*\*\*\*\*


Mohon maafken, baru up lagi. Si utun benar-benar lagi pengen dimanja🙏🤭

__ADS_1


__ADS_2