Benih Pengikat

Benih Pengikat
Terobsesi


__ADS_3

Darren menatap bingung seseorang dihadapannya. "Tumben! Ngapain kesini?" tanyanya.


Seorang pria tersenyum menjengkelkan, dan tanpa permisi masuk begitu saja. "Ck! Teman bertamu tuh di sambut dengan baik," ledeknya.


Darren memutar bola matanya malas. Buat apa temannya itu datang pagi-pagi sekali ke kediamannya? Sangat mustahil 'kan jika untuk menumpang sarapan. Ia kembali menutup pintu, kemudian berlalu menuju sofa menyusul temannya itu.


"Gak usah basa-basi. Gak mungkin kau datang sepagi ini, jika bukan untuk keadaan urgent," ucap Darren yang disambut kekehan pria itu.


"Tuh, tau!" balasnya.


"Ada apa?" tanya Darren yang benar-benar to the point.


"Siapa Der?" tanya Zea menghampiri. "Lho, David?" Bukan hanya Darren, Zea pun ikut heran dengan kedatangan teman suaminya itu yang tiba-tiba.


"Hai, Ze. Apa kabar?" sapa David tersenyum.


Sontak hal itu mengundang wajah masam dari Darren. Hingga tangannya reflek mengusap kasar wajah David yang menatap istrinya. "Gak usah senyum-senyum!" peringatnya.


"Je elah possesif amat maseh, cuma nyapa doang kali," protes David menepis tangan Darren.


"Kondisikan tuh mata, minta di colok!" kesal Darren menimpali.


"Wihh, serem amat!" ledek David terkekeh.


Zea yang baru tau kedekatan keduanya ikut tersenyum. Ia tidak tau jika ternyata Darren dapat berinteraksi juga dengan orang lain. Ia pun berpamitan ke dapur untuk membuat minuman terlebih dahulu.


"Sebenarnya ada apa?" tanya Darren kembali serius ke topik pembicaraan.


"Apa kalian benar-benar udah mempublish hubungan pernikahan kalian?" tanya David balik dengan wajah ikut serius.


Darrren mengangguk mengiyakan. "Kenapa?" tanyanya.


"Apa Laura-"


"Dia menemuimu?" selak Darren yang langsung dapat menebak arah pembicaraan temannya itu.


David berdecak kesal, sepertinya terlalu mudah untuk Darren bisa menebak isi pikirannya. "Dahlah, udah tau juga!"

__ADS_1


Darren menarik satu sudut bibirnya menanggapi. "Apa yang mau dia tau?" tanyanya.


"Segalanya!"


"Dan kau kasih tau?"


"Tentu saja. Negosiasinya gak main-main, Bro. Kapan lagi aku bisa berkencan sama cewek populer seperti dia?" celetuk David apa adanya.


Sontak pria itu mendapat tampolan keras dikepala dari Darren, yang mana membuat ia meringis memegang kepalanya. "Awww!"


Darren hanya memutar matanya jengah. Entah kenapa sekalinya mendapat teman, ia harus mendapat teman lucknut seperti David. Haruskah ia memecatnya saja sebagai teman?


"Udahlah gak usah kayak cewek. Lagian lambat laun juga semua orang tau, awal kalian menikah karena kesalahan. Tapi, 'kan sekarang kalian udah saling menerima. Ya udah, apa yang harus di permasalahin," jelas David.


Cara bicaranya seolah tidak berdosa, namun wajahnya tidak demikian. Terlihat gurat ke khawatiran diraut wajah David, yang dapat Darren tebak, pria itu masih memiliki rasa takut.


"Cih! Kau benar. Gak ada yang perlu aku khawatirkan. Hanya saja, aku kehilangan seorang teman karena itu," balas Darren menyindir.


Sontak David menampilakn wajah memelasnya, "ck! Gak asik lu, Bro. Ayolah kasih kesempatan temanmu ini untuk merasakan kencan dengan gadis populer!"


Belum sempat ia bertanya, Zea datang dengan nampan ditangannya. Si ibu hamil itu membawakan dua cangkir kopi untuk suami dan tamunya tersebut.


"Kopi aja dulu! Aku akan membuat sarapannya," ucapnya menyuguhkan minuman yang ia buat kehadapan keduanya.


"Makasih, Ze!" ucap David dan diiyakan Zea, yang kemudian berlalu kemblai ke dapur.


Segera David meraih cangkir itu untuk menyecap rasa kopi buatan Zea. Namun, karena masih panas, ia benar-benar hanya menyicipnya sedikit.


"Ternyata, Zea bener-bener jadi istri yang baik," celetuk David memuji. Kembali kepalanya menjadi sasaran Darren. Pria itu tidak pernah rela siapapun memuji istrinya.


"Astaga, kau ini?" kesal David menepis tangan Darren. "Gimana bisa Zea hidup sama orang kasar sepertimu?" ledeknya merasa heran.


"Ck! Sudahlah lupakan! Gak usah mengalihkan pembicaraan!" kesal Darren. "Sekarang jelasin, apa aja yang kamu katakan pada Laura!" titahnya.


Rasanya tidak mungkin David menceritakan semuanya. Lalu, tiba-tiba ia memberitahu Darren, jika ia berkhianat. Pasti ada sesuatu yang terjadi.


David berubah murung yang disertai hembusan napas kasar. "Sebenarnya ...."

__ADS_1


Flash back on~


"Baiklah, aku menerima tawaranmu. Tapi, ada syaratnya," pungkas David memberi kembali tawaran.


"Apa?" tanya Laura.


"Aku ingin kita benar-benar kencan!" tegas David.


"Whats? Maksudnya?" pekik Laura kaget.


"Ya, aku pengennya kita benar-benar kencan. Melakukan lebih dari sekedar ken-"


Plakkk!!!


"Kamu pikir aku cewek apaan?" sungut Laura kesal. Segera gadis itu meraih tas dan hendak pergi.


"Tunggu dulu! Bukan itu maksudku, aku-"


"Lupakan! Lupakan kalo kita pernah bertemu. Sampai kapanpun, aku gak akan pernah menyerahkan diri pada pria manapun selain Darren. Gak peduli gimana hubungan dia dan Zea sekarang, aku bersumpah akan membuat Darren menjadi milikku. Ingat itu!" tegas Laura dan berlalu meninggalkan David yang melongo.


Flashback off~


David menghembuskan napas pasrah setelah menjelaskan tawar menawarnya dengan Laura ambyar. Ia menyadari, jika gadis itu benar-benar terobsesi dengan Darren. Begitupun, Darren sendiri. Ia tak mengira Laura bisa menolak pesona seorang David.


"Jadi kau ditolak?" ledek Darren terkekeh.


"Ck!" David hanya berdecak menanggapi yang dibalas tawa ledekan dari Darren.


"Emm, tapi ... Ada hal yang harus dikhawatirkan dari ucapan gadis itu. Takutnya dia benar-benar melakukan hal yang nekat. Jadi, kalian hati-hati aja!" jelas David memperingati.


Darren terdiam mencerna ucapan temannya itu. Benar kata David, tidak ada yang tau isi kepala gadis itu. Seseorang yang memiliki obsesi tinggi, memang harus di waspadai.


'Aku gak akan biarin siapapun menyakiti istri ataupun anakku!'


\*\*\*\*\*\*


Maaf ya, kemarin gak up🙏 mak othor ada keperluan, gak sempat nulis😅 Yuk ramaikan lagi ...

__ADS_1


__ADS_2