
Ting tong!
Suara bel pintu mengalihkan atensi Zea yang tengah membuat sarapan. Segera wanita itu berlari untuk membuka pintu, menyambut siapa yang bertamu pagi-pagi.
Ceklek!
Pintu terbuka, menampilkan seorang pria berwajah tampan. Zea tersentak kaget melihat siapa yang kini tersenyum berdiri diambang pintu.
"Kurap?" cicitnya.
"Hai, Ze! Apa kabar?" tanyanya.
Greppp!!
Bukan menjawab, Zea justru menubrukkan diri berhambur memeluk tubuh tegap itu. Menyembunyikan air mata yang tiba-tiba saja berdesakkan keluar.
Rafka tersenyum getir, namun tak ayal membalas mendekap tubuh yang mulai berisi itu dengan erat. Tanpa mereka sadari aksi keduanya tengah menjadi pusat perhatian Darren dari arah pintu kamar. Pria itu tersenyum sinis melihat pada sepasang manusia tersebut.
"Kamu jahat banget sih, kenapa pulang gak bilang-bilang?" tanya Zea disela isak tangisnya.
"Bukannya aku yang harus tanya begitu. Kenapa kamu jahat banget, nikah gak bilang-bilang?" tanya balik Rafka.
Seketika Zea melepaskan pelukannya, dengan isak tangis yang masih tersedu. "Maafin aku, itu ...." sesalnya menggantungkan ucapan. Ia bingung harus menjelaskan seperti apa.
Rafka menangkup wajah wanita pujaannya itu, menghapus jejak kebasahan dikedua pipinya. "Mungkin buatmu, aku udah gak berarti apa-apa, ya 'kan?" sindirnya disertai kekehan.
"Bukan! Bukan gitu. Buatku, kamu orang penting dalam hidupku, sama seperti Kak Al," jelas Zea, menyangkal ucapan sahabatnya itu.
"Terus, kenapa kamu melupakanku?" desak Rafka.
Zea menghenguskan napas dalam. "Kayaknya kamu udah tau alasannya," cicit Zea menunduk.
Rafka mencoba tersenyum, walaupun terasa berat. Ia masih belum mau menerima keadaan itu. Rasa sesak masih menghimpit rongga dadanya. Ingin ia menyangkal dan membawa lari wanita dihadapannya. Namun, apa daya. Tidak ada hak untuknya melakukan hal tersebut. Kembali pria tampan itu mendekap Zea. Air matanya jatuh, saat ia mengingat harus melepas sang pujaan hati dengan ikhlas.
"Selamat Ze, selamat!" lirihnya.
"Makasih, Raf!" balas Zea membalas kembali pelukan itu.
__ADS_1
"Ehem!" Suara deheman Darren mengalihkan atensi mereka.
Segera Zea melerai pelukannya, hingga sedikit membuat Rafka tertegun. Untuk pertama kali, Zea melepaskan pelukannya begitu saja. Bahkan, terlihat sangat canggung. Namun, ia mencoba sebiasa mungkin. Mengingat status Zea yang sudah berubah saat ini.
"Hai, Raf! Apa kabar?" sapa Darren menampilkan senyum sebiasa mungkin.
Segera ia merangkul bahu sang istri, yang mana membuat Zea sedikit terlonjak. "Harusnya kamu ajak dia duduk. Tidak baik membiarkan tamu berdiri terus!" nasehatnya pelan pada Zea. "Ayo!" ajaknya pada Rafka. Ia berlalu terlebih dahulu menggiring sang istri.
Sementara, Rafka sudah mengepalkan tangan dengan rahang mengeras. Rasa cemburunya tidak dapat disembunyikan. Melihat sepasang suami istri itu tampak harmonis, membuat pria tampan itu geram.
"Kenapa masih disitu?" tanya Darren yang sudah mendudukkan diri di atas sofa.
Zea mengikuti sandiwara Darren, ia ikut tersenyum dan mengajak Rafka untuk bergabung. Kemudian, berlalu ke arah dapur untuk menyiapkan minuman untuk mereka. Rafka mencoba menenangkan diri, dengan menghela napas dalam. Lalu, menghampiri sofa dan mendaratkan bokongnya disana.
Keadaan sejenak hening, menyisakan empat mata saja yang saling beradu tatap. Hingga Rafka memutuskan untuk memecah keheningan tersebut.
"Maaf, aku sedikit syok mendapat berita kalian sudah menikah," ucap Rafka. "Sebagai sahabat, tentu saja aku merasa kecewa. Merasa sudah tidak dianggap lagi, bukan begitu?" lanjutnya seolah menjelaskan adegan sebelumnya.
Darren menarik satu sudut bibirnya. "Ya, tentu. Aku sendiri meminta maaf atas nama istriku yang mungkin lupa memberitahumu," balasnya.
Jelas dari kalimat yang mereka lontarkan mempunyai arti lebih. Seolah tengah menjelaskan posisi mereka masing-masing. Kembali mata mereka beradu, hingga suara Zea mengalihkan perhatian mereka.
Rafka membalas senyuman itu tak kalah manis. Hingga membuat Darren memutar bola matanya malas. Apalagi balasan dari kalimat Rafka, sungguh ingin sekali ia mengusirnya.
"Woah, makasih Ze. Tentu saja, seleraku gak akan pernah berubah. Karena gak ada hal apapun yang berubah dariku," balas Rafka.
Zea tersenyum senang mendengar itu. Ia yang sempat takut sahabatnya itu marah, karena tidak memberithu akan pernikahannya. Merasa sedikit lega melihat senyum manis itu.
"Emm, maaf ya, Raf! Aku gak sempat kasih kabar ke kamu, pasal pernikahan kami. Karena acaranya mendadak, terus aku pikir nanti juga akan digelar resepsi. Makanya aku gak hubungi kamu. Aku tau, kamu sendiri pasti sangat sibuk. Iya 'kan?" jelas Zea panjang kali lebar.
"Hem, mungkin begitu. Tapi, aku turut bahagia atas pernikahan kalian," balas Rafka setelah menyecap kopi buatan Zea.
"Ahh, kurap emang baik!" Wanita itu tersenyum senang melihat respon Rafa. Begitupun Rafka yang selalu menampilkan senyumannya.
Sementara Darren terlihat kesal merasa diabaikan oleh kedua manusia yang sepertinya sibuk berdua itu. 'Cih, sahabat?! Apa katanya? Kurap?' batinnya mendumel.
'Aku yakin, ada perasaan yang disembunyikan pria itu.'
__ADS_1
**
"Kau yakin, kalian cuma sahabat?" tanya Darren yang kini berdiri menyandarkan diri ditembok kamar.
Zea sedikit terlonjak mendapat sambutan pertanyaan seperti itu, saat baru saja memasuki kamar setelah mengantar Rafka pulang. "Ishh kamu tuh, bikin kaget aja!" kesalnya mengusap dada.
Ia mendekat ke arah suaminya itu. "Menurutmu? Kenapa juga kamu bertanya seperti itu?" ledeknya.
"Tentu saja, karena tidak ada persahabatan murni antara pria dan wanita," balas Darren.
Zea menaikan sebelah alisnya. "Apa maksudmu?" tanyanya heran.
"Apa perlu kuperjelas?" tanya Darren memiringkan wajah dengan tarikan disatu sudut bibirnya. "Aku yakin kamu sendiri merasakannya. Dari sorot matanya saja, itu sudah menjadi bukti. Kalo Rafka bukan menganggapmu sahabat. Tapi, seorang wanita," jelasnya.
Zea menautkan alisnya dengan mencoba mencerna ucapan pria itu. Ia kenal Rafka sejak kecil. Dan dari dulu Rafka memang seperti itu, tidak berubah sama sekali. Namun, ia mendapati hal lain dari penjelasan suaminya itu.
"Apa kau cemburu?" selidik Zea mendekatkan wajah dengan tatapan curiga pada Darren.
Sontak Darren berdehem pelan terlihat sedikit kelabakan. "Ngapain juga harus cemburu?" elaknya sebiasa mungkin.
Zea mencebikan bibir, saat melihat ekspresi dan ucapan Darren yang tidak sinkron. Ia menjauhkan wajahnya kembali dengan perasaan sedikit kesal.
"Bagus juga sih, kalo Rafka menyukaiku. Siapa tau dia mau menerima jandaku nanti?" celetuk Zea hendak berlalu. Namun, tangannya dicegat pria itu.
"Siapa yang bakal jadi janda?" tanya Darren tak terima. Ia menarik lengan Zea, hingga wanita itu menubruk dadanya.
"Kamu denger baik-baik. Aku gak akan pernah membiarkan itu terjadi!"
**
"Entah kenapa perasaanku berkata lain. Aku merasa ada sesuatu yang aneh dari mereka berdua," ungkap Rafka yang kini tengah duduk bersama Alzein disebuah kafe.
Setelah pertemuannya dengan Darren dan Zea. Rafka memutuskan bertemu dengan Alzein untuk menanyakan suatu hal yang terasa mengganjal dihatinya.
Alzein terdiam, ia bingung harus menjelaskan seperti apa? Haruskah ia jujur pada sahabatnya itu? Atau ia tetap menutupi fakta seperti yang ia lakukan pada kedua orang tua dan anggota keluarga lainnya.
"Aku tau, sesuatu pasti terjadi. Iya 'kan? Aku kenal siapa Zea, begitupun Darren," selidik Rafka memperhatikan wajah Alzein.
__ADS_1
"Dan aku yakin kau tau sesuatu. Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?"
\*\*\*\*\*\*