
Suara dari alat bantu terdengar begitu lirih, Rafka masih setia memejamkan mata tanpa memedulikan orang-orang yang silih berganti menjenguknya.
"Raf! Maafin aku," lirih Zea. Rasa sesal kembali menyeruak, melihat keadaan sahabatnya yang tergeletak tak berdaya.
Dari samping, Darren tetap setia mengusap bahu sang istri. Mencoba untuk menenangkan. Bahkan, untuk kali ini, ia membiarkan Zea menggenggam tangan pria lain.
"Bangun, ya! Jangan bikin kita khawatir!" pintanya disertai isak tangis.
Belum ada pergerakan atau tanda-tanda pria terbaring itu sadar. Sudah lebih dari dua puluh empat jam, Rafka belum juga sadarkan diri.
Zea tak henti mengajak pria tampan itu berbicara. Hingga dirasa waktu kunjungan sudah habis, Zea dan Darren pun berpamitan.
"Kita pulang dulu ya, Raf! Aku harap, besok saat kita kembali kesini, kamu mau membuka mata kamu," pamit Zea.
Wanita itu hendak melepaskan tangan Rafka. Namun, tiba-tiba saja tangan Rafka menggenggamnya. Sontak, Zea pun memgurungkan niatnya.
"Raf?!" Zea yang kaget sontak berdiri. "Raf, kamu udah sadar?" tanyanya.
"Sebaiknya, aku panggil Dokter dulu," Darren berlalu keluar setelah diiyakan oleh Zea.
Mata Rafka masih terpejam. Namun, sudah terdengar lenguhan pelan dari bibirnya. Zea berulang kali mengajaknya berbicara, seraya menggenggam erat tangan pria itu.
"Aku tau, kamu kuat, Raf!"
Tak berselang lama Dokter bersama timnya memasuki ruangan. Zea dan Darren di persilahakn menunggu di luar. Keduanya pun berlalu dan menunggu di bangku tunggu. Kedua orang tua Rafka yang tengah keluar pun, baru saja kembali.
"Ada apa, Ze?" tanya Sofi khawatir.
"Rafka, Rafka sadar, Tan!" balas Zea tersenyum haru.
"Ah, syukurlah!" Kedua baya itu mengucap syukur, mengadahkan tangan.
"Terus gimana keadaannya?" tanya Putra.
__ADS_1
"Tim Dokter, masih memeriksanya Om. Kita tunggu hasilnya," balas Darren dan diiyakan mengerti pria paruh baya itu.
Tak berselang lama, Dokter dan timnya keluar. Keempat orang itu dengan antusias, segera bertanya.
"Syukurlah, keadaanya sudah membaik. Seperti yang saya katakan kemarin. Pasien hanya tinggal menunggu siuman saja. Tidak ada hal yang perlu di khawatirkan, semuanya sehat dan normal," jelas Dokter. Berulang kali terima kasih pun dilontarakan Putra pada Dokter.
Keempatnya pun memilih untuk melihat keadaan Rafka bersama-sama. Terlihat pria itu sudah membuka mata, disertai senyum tipis dari ujung bibirnya.
"Kurap?!"
Terlalu bahagia, Zea mendekat terlebih dahulu dan tanpa aba-aba memeluk tubuh sahabatnya. Tangis wanita itu luruh di perut Rafka. "Maafin aku, maafin aku!" sesalnya.
Rafka tersenyum mengusap rambutnya. "Apaan? Aku gak apa-apa," sangkalnya.
Akhirnya suara Rafka membuat kedua orang tuanya tersenyum bahagia. Namun, tidak dengan Darren. Tetap saja melihat sang istri memeluk pria lain membuat ia kesal.
"Ehem!" Darren berdehem mendekati brankar. "Gimana keadaanmu?" tanyanya.
"Aku gak apa-apa. Kalian ini, lebay sekali," kekeh Rafka pelan.
"Ck! Tentu aja kami khawatir," kesal Zea menepuk lengan Rafka, hingga ia meringis pelan. "Eh, maaf-maaf!" sesal Zea khawatir mengusap lengan yang ia tepuk.
Rafka justru hanya terkekeh menanggapi, membuat wanita hamil itu ingin sekali memukul sahabatnya tersebut.
"Sayang!" Kini giliran Sofi mendekat dan memeluk tubuh anaknya. "Mama khawatir banget sama kamu ...." ucapnya diakhiri isak tangis.
Rafka mengusap punggung sang Mama dengan sayang. "Suutt!!! Aku gak apa-apa, Ma! Mama jangan nangis, nih lihat! Aku gak apa-apa," ucapnya menenangkan.
Sofi melepaskan pelukan, menciumi wajah anak semata wayangnya itu dengan beribu ucap syukur yang tak henti ia lontarkan.
"Astaga! Udah, Ma, malu! Aku bukan anak kecil lagi," tolak Rafka berusaha menghindar.
"Gak apa-apa. Buat Mama, kamu tetap anak kecil, Mama." balasnya tak mau berhenti. Hingga disambut kekehan ketiga orang disana.
__ADS_1
"Maafin aku ya, Raf! Semua ini salah aku. Seandainya, aku ..." sesal Zea.
"Suutt!! Udah gak usah di bahas lagi. Siapapun akan melakukan hal yang sama untuk orang yang disayangi," selak Rafka. "Bukan hanya kamu, aku juga gak akan biarin calon keponakanku terluka di depan mataku," lanjutnya.
"Jika, sekarang aku yang terluka. Itu bukan salah siapa-siapa. Ini hanya kecelakaan, dan buktinya aku baik-baik aja! Jadi ... Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri! Hem?" jelas Rafka meyakinkan. Zea pun mengangguk, sedikit tenang dengan apa yang sudah terjadi.
Setelah mengobrol sebentar, dan memastikan Rafka baik-baik saja. Darren dan Zea berpamitan untuk pulang. Akhirnya, sepasang suami istri itu bisa bernapas lega.
"Syukurlah, Rafka baik-baik aja!" ucap Zea senang.
Tidak ada jawaban dari Darren yang fokus dengan kemudinya. Tentu saja hal itu membuat Zea heran. "Kamu kenapa?" tanyanya.
"Hem, nggak!" balas Darren singkat.
Zea menatap heran wajah Darren yang terlihat datar. Hingga ia teringat kejadian sebelumnya. Ia tersenyum dan siap menggoda suaminya itu.
"Cieee ... Cemburu nih, ceritanya!" godanya.
"Siapa?" tanya Darren enggan mengakui.
Zea semakin gencar menggoda, ia menoel pipi suaminya yang masih enggan tersenyum "Ayo ngaku aja deh!"
"Enggak!" sangkal Darren tak mau mengakui. Namun, Zea terus bersikukuh menodongnya.
Hingga Darren menghentikan mobilnya di tepi jalan untuk mneghindari mereka dari hal-hal yang tidak diinginkan.
Zea kebingungan melihat Darren yang tiba-tiba menghentikan mobil mereka. Hingga di detik berikutnya, ia dibuat membelakak kaget saat Darren dengan cepat menarik kepalanya. Lalu, meraup bibir ranumnya.
Darren dengan lembut mengecap bibir yang terus menggoda dirinya sejak tadi, hingga keduanya larut dalan ciuman yang kian memanas itu.
"Jangan pernah lagi memeluk siapapun, kecuali aku! Mengerti?"
\*\*\*\*\*\*
__ADS_1