Benih Pengikat

Benih Pengikat
Gadis arogan atau manja?


__ADS_3

Zea menunggu Darren di halte bus. Pasangan suami istri itu sepakat untuk bertemu disana. Berulang kali ia melirik jam di pergelangan tangan saat mobil Darren belum juga lewat. Lima menit yang di janjikan pria itu, kini sudah menjadi lima belas menit.


"Ck! Ini orang niat bareng gak sih? Tau gini, aku pesan taxi online aja," gerutu Zea kesal. "Mana panas lagi, kulitku bisa gosong kalo kayak gini," lanjutnya mendumel sendiri.


Setelah cukup mendumel, akhirnya yang ditunggu Zea pun sampai di hadapannya. Dengan cepat Zea memasuki mobil, tanpa menuggu di bukakan. Wajahnya masih menekuk hingga mobil berlalu. Tidak ada penjelasan atau permintaan maaf dari pria itu membuat Zea semakin kesal.


"Maaf!" Satu kata yang terucap dari Darren, membuat Zea berdecih. Baru setelah beberapa menit pria itu bisa peka.


"Stop!!!"


Darren menghentikan mobil sesuai instruksi dari Zea. "Ada apa?" tanyanya.


"Aku pengen rujak kedongdong itu," tunjuk Zea pada sebuah gerobak berwarna biru di pinggir jalan.


"Ya udah beli," balas Darren enteng.


Zea menoleh mendengar jawaban pria itu dengan tatapan tak percaya. Berharap pria itu yang pergi membelikan, Darren justru santai memainkan ponsel ditangannya.


"Beliin dong!" kesal Zea.


Darren menghembuskan napas kasar. Ia yang sudah dibuat pusing dengan tugasnya hari ini, cukup merasa kesal. Ia menoleh dan hendak protes. Namun, hal itu ia urungkan, saat melihat Zea mengelus-elus perutnya.


"Baiklah!" finalnya mengalah dan segera keluar dari mobil.


Zea yang melihat Darren peka pun tersenyum menang. "Emang enak!" ledeknya, berhasil mengerjai suaminya. Setidaknya, itu sedikit mengurangi kekesalannya karena sudah dibuat menunggu begitu lama.


Beberapa menit kemudian, Darren kembali membawa rujak yang diinginkan Zea. Dengan senang hati, si ibu hamil itu meraih kantong kresek dari tangan Darren dengan senyum merekah dan mata berbinar.


"Makasih!" ucap Zea senang. Meski niat hanya mengerjai, namun entah kenapa hatinya merasa senang mendapat sesuatu yang tiba-tiba ia inginkan dari tangan Darren.


Pria itu hanya menarik satu sudut bibirnya, melihat senyum bahagia dibibir Zea. Ia pun kembali melajukan kendaraannya menuju rumah.


**


Kriuuukk! Kriukkk!


Zea terbangun, saat tiba-tiba saja suara cacing dalam perutnya meminta isi. Ia bangkit untuk mencari makanan yang dapat menenangkan perutnya tersebut.

__ADS_1


"Ya, ampun! Masa harus makan jam segini sih?" tanyanya bermonolog sendiri, saat ia dapat melihat jam di atas dinding.


Tiba-tiba terbesit dalam pikirannya untuk makan sesuatu. "Makan ayam geprek pake cabe ijo kayaknya enak tuh?" gumamnya.


Segera ia menuju dapur untuk mengeksekusi keinginannya. Zea membuka lemari es, mencari bahan-bahan yang akan ia gunakan. Namun, ia lupa jika ini tempat baru, yang mana belum ada bahan masakan yang tersedia. Dikarenakan acara pindah dadakan, ia dan Darren belum sempat berbelanja. Sang Mama juga belum menyiapkan kebutuhan dapur. Mengingat kondisi sang menantu yang masih mual-mual, membuat ia menyarankan Darren memesan saja. Ia hanya menyediakan buah-buahan segar, susu dan jus yang instant.


"Der, bangun!" Zea menggoyangkan tubuh suaminya yang terlelap di atas sofa.


Tidak ada jawaban atau tanda-tanda pria itu bangun. Sekali lagi, Zea membangunkan suaminya itu. Namun, hanya gumaman yang terdengat dari bibir sexynya.


"Darren, bangun dong! Aku laper banget ini," Zea terus menggoyangkan tubuh Darren hingga pria itu tersadar.


"Apa sih?" tanya Darren yang masih enggan membuka matanya.


"Aku laper. Pengen ayam geprek!" rengek Zea.


"Hah?! Ya udah pesen aja, tuh disitu hapenya," jawab Darren asal. Ia justru kembali menyusupkan wajah pada bantal.


"Isshh jam segini mana ada yang mau delivery," protes Zea kesal. "Darren!" pekiknya.


"Kamu tuh berisik banget sih, aku tuh ngantuk!" kesal Darren yang masih tak juga membuka mata.


Sontak, Darren pun membuka mata lebar mendapat ucapan Zea. Ia bangkit seraya mengucek matanya itu. Hingga ia sadar dan dapat melihat jelas wajah memberenggut sang istri yang kini mendudukkan diri di sampingnya. Mendengar sang baby yang menginginkan sesuatu membuat jiwa kebapakannya Darren terbangun.


"Mau makan apa?" tanya Darren pelan.


"Ayam geprek!" lirih Zea menolehkan wajah.


Darren melirik jam di dinding yang sudah menunjukkan jam satu dini hari. "Ya udah, aku beliin dulu!" ucapnya mengalah.


Baru saja, Darren hendak berdiri. Tangan Zea mencegatnya. "Ikut!" rengeknya.


"Buat apa? Udah diem aja! Gak akan lama kok," tolak Darren.


"Pengen ikut, pengen makan disana!" rengek Zea lagi.


Darren menautkan alis heran, saat tiba-tiba sikap Zea terlihat berbeda. Ia yang biasa melihat Zea arogan, merasa aneh saat melihat gadis itu yang berubah menjadi manja.

__ADS_1


"Udah ayo!" ajak Zea bangkit seraya menyeret Darren untuk bangkit.


"Iya, iya!" Tidak mau ambil pusing, ia pun menurut dan segeea bangkit. Mengambil hoodie miliknya dan sang istri dari lemari.


"Nih, pakai dulu!" titahnya. Zea pun hanya menurut dan segera mengenakan hoodienya, begitupun Darren. Kemudian, ia meraih kunci mobil dan berlalu diikuti oleh Zea.


**


Tak membutuhkan waktu lama, mereka sampai disebuah resto cepat saji yang buka dua puluh empat jam. Memesan apa yang diinginkan si ibu hamil itu. Keadaan begitu hening hanya ada dua orang itu saja, pelanggan disana.


"Kamu gak pesen?" tanya Zea memastikan dan hanya dibalas gelengan pria itu.


"Hem, ya udah!"


Darren memperhatikan perempuan dihadapannya yang tengah sibuk dengan layar ponselnya. Pria itu nampak berpikir keras akan beberapa sikap yang ditunjukkan sang istri. 'Seperti apa dirimu sebenarnya? Kenapa aku gak bisa menebaknya? Gadis arogan atau gadis manja?' batinnya bertanya-tanya.


"Silahkan di nikmati!" Suara waiters membuyarkan lamunan Darren.


Atensinya beralih kembali pada Zea yang nampak kegirangan. Gadis itu sampai bertepuk tangan kecil menyambut makanan yang ia mau. Melihat itu, membuat Darren menyunggingkan senyum kecil. Meski sebelumnya ia teramat kesal, namun terselip rasa bahagia bisa menjadi sosok ayah yang baik. 'Ayah?' gumanya tersenyum dalam hati.


"Nih, kamu cobain!" Zea menyodorkan tangan hendak menyuapi pria itu.


"Gak usah, aku gak laper!" tolak Darren.


"Ayo, cobain!" bujuk Zea sedikit merengek. Namun, dibalas gelengan kepala oleh pria itu.


"Ayo dong! Aku pengen kamu nyobain ini!" bujuk Zea sedikit memaksa.


Tidak ingin banyak drama, Darren pun menurut dan membuka mulutnya. Untuk pertama kali, ia mendapat suapan tangan dari orang lain. Dan rasanya ....


"Hah~ pedas!" Segera Darren meraih gelas berisikan cola untuk menetralkan rasa terbakar di lidahnya. Ia yang tidak biasa makan pedas, tentu tak bisa menahan gejolak yang membakar lidah, tenggorokan, bahkan sampai perutnya. Hingga bangkit dan berlari dari tempatnya.


"Kamu mau kemana?" tanya Zea heran.


"Toilet!"


"Hah?!"

__ADS_1


\*\*\*\*\*\*


__ADS_2