Benih Pengikat

Benih Pengikat
Masih canggung


__ADS_3

"Aakhhh"


Zea memekik, terdengar kesakitan saat Darren menekan senjatanya, agar melesak lebih dalam. Sontak hal itu membuat Darren menghentikan aktifitasnya.


"Kenapa berhenti?" tanya Zea heran.


"Bukannya, kamu kesakitan?" Darren bertanya dengan raut wajah khawatir.


Zea melongo, ingin sekali ia menjambak rambut Darren. Hanya karena ia memekik, ia dikira sakit. Tidak tau itu suatu rasa yang tidak dapat ia jabarkan. Memang sedikit sakit, namun ada rasa aneh juga dibalik itu.


Segera wanita itu memeluk leher suaminya. "Lebih dalam lagi!" pintanya.


"Tapi ... Kamu-"


"Nggak!" sela Zea cepat seraya menggelengkan kepala. 'Isshh dasar gak peka!' rutuknya dalam hati.


Tentu ia tidak ingin terlihat lebih menginginkan, meski memang kenyataannya demikian.


Mendengar intruksi itu, Darren pun kembali melesakkan benda berharganya lebih dalam. Hingga tenggelam sempurna. Sensasi panas dari dalam tubuh Zea, membuat senjatanya terasa dipijat. Darren pun perlahan mulai bergerak. Suara Zea melantun indah, bukan terdengar pekikan seperti sebelumnya. Namun, suara de sa han yang membuat Darren tak khawatir lagi.


Darren menjauhkan wajah untuk menatap wajah cantik sang istri. Wajah sexy Zea membuat pria tampan itu tersenyum. Ia masih bergerak pelan, sangat pelan. Takut-takut menyakiti baby mereka.


"Derr emmhh, lebih emmhh, lebih cepathhh," Zea tidak peduli lagi dengan pikiran Darren terhadapnya. Rasa yang kian membuncak, membuat ia ingin segera mencapai nirwana.


"Kamu yakin? Gak akan apa-apa?" tanya Darren memastikan.


"Nggak, lakukan aja emhh!"


"Hem, baiklah!"


Darren menghentikan sejenak gerakan tubuhnya. Lalu, mengecup terlebih dahulu perut rata Zea, menggumamkan kalimat yang membuat konsentrasi wanita itu ambyar. "Maafin Papa ya! Mungkin sedikit mengganggumu," sesalnya.


Tawa Zea pecah, sungguh kalimat Darren membuatnya tergelitik. Untuk pertama kali, ia melihat sikap Darren yang begitu lucu, berbeda dari yang ia kenal selama ini.


"Kenapa ketawa?" tanya Darren heran.


"Kamu ... Kamu lucu banget," balas Zea disela tawanya.


Darren yang baru mengerti maksud sang istri, berdecak kesal. Padahal ia hanya meminta izin pada baby mereka, sebelum melakukan hal yang mungkin akan mengganggu si buah hati di dalam sana. "Sudahlah, gak usah ketawa!" kesalnya.

__ADS_1


Suasana yang harusnya panas dan romantis, berubah menjadi lawakan untuk Zea. Hal itu membuat Darren merasa kesal sekaligus gemas. "Gak mau berhenti?" tanya Darren melesakan kembali senjatanya lebih dalam.


Sontak Zea membelakak kaget. Tawanya hilang berganti dengan pekikan nikmat seperti sebelumnya. Darren menyeringai melihat wajah istrinya itu. Segera ia menyambar bibir ranum itu, dengan tubuh mulai bergerak. Memompa tubuh Zea sedikit cepat.


Hingga hawa panas kembali menjalari ruangan luas itu. Suara-suara sexy melantun indah, silih bersahutan. Ini bukanlah malam pertama buat mereka. Namun, tentu itu pertama setelah mereka berubah status menjadi suami istri. Dan tentu terasa berbeda dari malam waktu itu. Sekarang mereka benar-benar menikmati tanpa pengaruh alkohol. Begitu nyata, dengan kesadaran penuh.


"Aaakhh!!!"


Erangan panjang dari keduanya pun mengakhiri aktifitas mereka. Segera Darren menggulingkan diri ke samping Zea, takut-takut ia ambruk di atas tubuh sang istri dan menghimpit baby mereka.


Darren menarik tubuh sang istri kedalam dekapannya. Dengan nafas yang masih tersenggal ia mengecup berulang kali pucuk kepala Zea, setelah menyeka peluhnya terlebih dahulu.


"Makasih, kamu mau memulainya denganku!"


**


Pagi menjelang, Zea nampak sedikit canggung saat mengingat kembali apa yang sudah terjadi diantara mereka. Ia memunggungi suaminya itu, bingung harus bangun terlebih dahulu atau bagaimana? Bayangan semalam, mengingatkan wanita itu, betapa agresifnya ia.


'Ya ampun, memalukan!' batinnya merutuki. 'Gimana kalo dia ngetawain aku? Ahh malu banget ....'


Greepp!!!


Zea sedikit terlonjak, saat tangan besar Darren memeluknya dari belakang. "Kamu udah bangun?" tanyanya.


Mendengar suara gugup Zea, Darren sedikit bangkit menumpu tubuh dengan lengannya. Lalu, menarik tubuh istrinya itu menjadi telentang. Nampak Zea melengos, enggan menatap dirinya. "Kamu marah?" tanyanya khawatir.


Tidak ada jawaban dari sang istri, membuat Darren kelabakan. Segera ia menangkup sebelah wajah Zea agar bersitatap dengannya. "Apa kamu nyesel ngelakuin itu? Maafin aku, aku mungkin sedikit kasar semalam. Jujur aku gak tau harus seperti apa? Aku hanya ngikutin apa yang naluri aku inginkan. Aku gak maksud-"


Cup!


Cerocosan Darren terputus dengan bibir Zea yang menutup mulutnya itu. Darren tersentak kaget mendapat perlakuan itu. Kemudian Zea menyembunyikan wajahnya pada dada pria itu.


"Kamu bisa diem gak sih? Aku makin malu ...." cicit Zea.


Darren yang sempat melongo, terkekeh. Mungkinkah ia salah paham? Pikirnya. Ia pun mendekap tubuh istrinya itu karena gemas. "Maaf, aku gak tau kalo kamu merasa malu. Mulai sekarang gak ada yang boleh kita tutup-tutupi. Katakan, apa yang kamu rasa ataupun yang kamu inginkan! Begitupun aku, hem?"


Zea hanya mengangguk sebagai jawaban. Hatinya merasa menghangat mendapat penjelasan seperti itu.


"Mau mandi bersama?" tanya Darren setelah mereka melepaskan dekapan. Zea kembali mengangguk disertai senyuman.

__ADS_1


Pria itu ikut tersenyum dan bangkit dari ranjang. Lalu, tanpa aba-aba menggendong tubuh Zea menuju kamar mandi. Meletakkan tubuh itu diatas kloset, selagi ia mengisi bathup untuk mereka berendam.


"Udah biar aku aja!" tolak Zea, saat Darren hendak menggosok punggungnya.


"Gak apa-apa, biar aku membantumu," balas Darren.


Zea tersenyum untuk pertama kalinya ia mandi bersama lawan jenis. Bahkan ia tak ingat pernah mandi bersama sang Kakak atau tidak. Seingatnya, ia merasa tidak pernah melakukan itu, meski dengan saudara kembarnya sendiri.


"Apa kamu punya mantan?" tanya Zea memulai obrolan.


"Cih, mantan!" kekeh Darren.


"Oh iya, aku lupa. Kamu 'kan introvert, mana pernah pacaran," kekeh Zea meledek.


"Siapa bilang? Aku pernah punya mantan," balas Darren, yang sukses membuat Zea menoleh.


"Iya kah? Siapa?" tanyanya antusias.


"Nih!" Darren meraih dagu Zea. "Mantan temen." balas Darren diirngi tawa.


Sontak hal itu membuat Zea berdecak kesal. Ia pikir, suaminya itu pernah punya pacar. Eh, ternyata ... Sama saja seperti dirinya.


"Emang kamu pernah nganggep aku temen?" sindir Zea.


"Menurutmu?" tanya Darren. Zea menaikan sebelah alis tanda tak mengerti.


"Kamu pikir untuk apa aku menyusulmu ke toilet waktu itu?" tanya Darren. "Itu karena aku khawatir. Sebagai teman, mungkinkah aku akan membiarkanmu sendiri dalam kesusahan? Aku masih punya hati untuk itu," lanjutnya menjelaskan.


Zea terdiam mencerna ucapan Darren. Benar juga, pikirnya. Lalu, apa benar cuma karena teman? Bukan karena hal lain? Sayang misalnya?


"Beneran cuma karena temen?" selidik Zea.


"Cih! Emang kamu berharap apa?" ledek Darren.


"Ya, kali. Kamu lakuin itu karena kamu sayang sama aku. Atau kamu pernah memendam rasa gitu sama aku?"


"Percaya diri sekali anda?" ledek Darren lagi menarik hdiung mancung Zea, hingga wanita itu meringis.


"Ihh Darren sakit," rengek Zea membalas mencubit dada pria itu, hingga tergelak.

__ADS_1


Kedua manusia itu terus bercanda di dalam air. Menghilangkan kecanggungan yang sempat mendera keduanya.


\*\*\*\*\*\*


__ADS_2