Benih Pengikat

Benih Pengikat
Pengakuan


__ADS_3

Darren menggandeng Zea keluar dari mobil mereka. Setelah menjemput sang istri dari kafe, ia pun membawa Zea kembali ke kampus.


Tentu ia yang cuek tidak ngeuh akan kabar dari forum yang menggemparkan itu. Namun, tiba-tiba saja ia mendapat chat dari Alzein, akan kondisi Zea saat itu. Alzein berpikir memberitahu keberadaan Zea pada suaminya, adalah satu hal yang benar. Hal itu untuk membuktikan, jika hubungan mereka memang benar sudah membaik.


Dan sekarang? Setelah tau itu, Alzein yakin. Jika hubungan mereka memanglah sudah membaik. Pria itu tidak ingin ikut campur, dan memilih membiarkan keduanya menyelesaikan masalah mereka.


"Apa kau yakin mereka akan baik-baik saja?" tanya Rafka memastikan. Setelah ia mendengar penjelasan dari sahabatnya, ia merasa harus berbuat sesuatu untuk membantu.


Alzein tersenyum setelah menyeruput kopi ditangannya. "Hem, tentu saja. Aku percaya adik iparku," balasnya.


"Ck!" Rafka berdecak mendapati tanggapan seperti itu, yang mana justru membuat Alzein tertawa.


Sementara itu sejoli itu sudah sampai didepan kampus. Keadaan siang, dimana para penghuni istirahat membuat semua mata tertuju pada keduanya. Bisik-bisik pun mulai terdengar dari mereka.


"Bukankah lebih baik kalian bertanya langsung? Dari pada membicarakan di belakang?" tanya Darren dengan nada tegas.


Mata pria itu tertuju pada satu gadis yang ia yakini penyebar berita tersebut. "Bukankah begitu, Laura?"


Seseorang yang disebut Darren pun sedikit gelagapan. Namun, ia mencoba untuk sebiasa mungkin. Gadis itu mendekat diikuti teman dibelakangnya. "Apa kamu menyebut namaku?" tanyanya.


"Menurutmu?" tanya balik Darren dengan wajah datarnya.


Laura tersenyum sinis. "Ya, aku hanya menyimpulkan fakta. Aku melihat Zea bersama seorang pria memasuki poli kandungan. Namun, akhir-akhir ini, aku selalu melihatnya bersamamu. Bukankah itu aneh?" tanyanya.


"Soal pendapat orang-orang. Itu hak mereka mau berkomentar apapun. Bukankah begitu?" lanjutnya.


"Menggiring opini orang untuk berfikiran jelek mengenai seseorang. Bukankah itu tindak kejahatan?" sela Darren. "Bukankah sebelum menyebar berita, sebaiknya kau bertanya terlebih dahulu?"


"Darren ka-"


"Ya, Zea hamil!" teriak Darren menyela kalimat Laura. Membuat semua orang terperangah.


Laura tersenyum sinis. "Lalu, apa yang harus aku tanyakan jika itu memang benar?"

__ADS_1


"Ayah dari bayi itu," sela Darren.


Laura tertawa mengejek. "Tentu saja, Ayahnya adalah pria yang bersamanya di Rumah sakit itu, 'kan?"


"Bukan!" sambar Darren. Semua orang fokus mendengar ucapan pria itu.


"Dia ..." Darren mengelus perut rata Zea. "Anakku! Darah dagingku!" tegasnya.


Sontak semua orang syok. Bagaimana bisa? Tentu saja pertanyaan mereka sama. Bagaimana bisa Darren memiliki hubungan dengan Zea. Sementara mereka tau, tidak terjadi interaksi apapun antara keduanya.


Lalu, Darren mengangkat tangan Zea dan juga dirinya. Menunjukkan cincin pernikahan yang mereka sematkan dijari manis masing-masing. "Zea bukanlah wanita seperti apa yang kalian pikirkan. Dia adalah istriku, ibu dari anakku!" jelasnya.


Semua orang kian menutup mulut melihat hal itu. Sungguh ini adalah kabar yang tak kalah menggemparkan. Bagaimana bisa? Satu pertanyaan mereka yang masih saja terngiang dikepala.


"Aku peringatkan kalian semua. Jika, ada yang menyebarkan berita gak bermutu seperti itu lagi, mengenai istriku. Aku pastikan untuk siapapun itu, harus mendekam di balik jeruji. Atas tindakan pencemaran nama baik. Paham?!" tegasnya, dengan diakhiri tatapan peringatan pada Laura.


Darren menggandeng kembali tangan sang istri dan hendak berlalu. Hingga ia menghentikan langkah saat teringat sesuatu.


Setelah menjelaskan itu, Darren benar-benar membawa Zea pergi. Suasana pun begitu riuh dari orang-orang disana. Sementara Laura menggeram kesal. Ia benar-benar tak mengira, hubungan Darren sudah sejauh itu dengan Zea.


'Pokoknya, kamu hanya boleh jadi milikku Darren!' batinnya kesal.


**


"Kayaknya si Laura marah banget, ya?" tanya Zea memulai obrolan saat mereka sudah memasuki mobil.


"Yang harus dipikirin tuh kamu," balas Darren mengusek pucuk kepala istrinya itu.


Zea tersenyum, namun tetap saja ada hal yang membuat ia penasaran. "Apa kalian pernah memiliki hubungan? Mantan pacar misalnya?" selidiknya.


Darren tertawa mendengar pertanyaan istrinya itu. Untuk apa Zea bertanya seperti itu? Apa itu definisi cemburu? Pikirnya.


Melihat Darren yang tertawa membuat Zea memanyunkan bibirnya. Tentu ia dapat menebak jika pria itu menyangkalnya. Namun, entah kenapa ia begitu penasaran akan sikap Darren yang tidak seperti pada gadis lain.

__ADS_1


Darren menangkup kedua pipi sang istri. Melihat bibir yang mengerucut membuat ia gemas dan segera menyambarnya. Menyecap benda ranum itu dalam, hingga Zea membelakak kaget.


"Kamu dengar ini, aku gak pernah memiliki hubungan sama siapapun. Jangankan berhubungan menjadi sepasang kekasih, berteman pun sulit aku lakukin!" jelas Darren.


"Dan Laura. Dia memang menyukaiku dari waktu sekolah menengah. Dia terang-terangan menyatakan cinta didepan umum, tapi gak pernah aku tanggapi. Aku yakin, kamu tau itu. Entah harus seperti apa lagi aku menolaknya? Dia seperti terobsesi padaku," lanjutnya.


Zea beroh ria mennanggapi cerita Darren. Memang ia sedikit tau, tapi tidak pernah mau peduli. Sekarang ia yakin, jika gadis itu memang terobsesi pada suaminya. "Baiklah, aku kayaknya tau, gimana cara buat dia berhenti," ucapnya memberi saran.


"Gimana?" tanya Darren.


"Menempel," celetuk Zea membuat Darren menautkan alis bingung.


"Ya, aku bakal setiap hari nempel sama kamu. Jangan sampai memberi celah, cewek itu buat masuk dikehidupan kita. Cewek kayak dia tuh hama. Bisa jadi pelakor gak punya muka!" jelas Zea. "Aisshh menyeramkan," lanjutnya bergidik ngeri.


Darren terkekeh mendengar itu. Ia setuju dengan pendapat sang istri. Mereka harus mulai menjaga hubungan yang baru mereka bangun itu dari hama-hama diluar sana.


"Sepertinya, kita harus mengadakan resepsi," usul Darren.


"Hem, apa perlu?" tanya Zea.


"Iya! Biar dunia tau, kalo kamu milikku," balas Darren mecubit gemas hidung Zea, hingga ia meringis.


Zea kembali memberenggut mengusap hidungnya. Lambat laun, si ibu hamil itu mulai menunjukkan sikap manjanya didepan Darren. Sikap yang selama ini hanya Zea tunjukkan pada keluargnya saja. Dan sekarang mungkin hatinya perlahan sudah menerima Darren menjadi bagian dari hidupnya.


"Satu lagi!"


"Hem, apa?" tanya Zea menatap suaminya itu.


Darren meraih tengkuk Zea, hingga wajah mereka terkikis. Senyum dan tatapan pria itu teramat menusuk ke dasar hati Zea, hingga wajah wanita itu tiba-tiba memanas.


"Kayaknya kita juga harus menengok baby, untuk melihat keadaannya!"


\*\*\*\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2