
( ̄y▽ ̄)╭ Ohohoho.....
"Kita sudahi hari ini, hati-hati pulangnya yah... Selamat sore."
"Sore."
Bina berdiri, menggendong tasnya. Hari pertama sekolah nya sudah selesai. Hari ini, mereka tak belajar, hanya perkenalan diri, dan kebersihan kelas.
"Bina, mau sekalian pulang bareng aku ngak?" Sila bertanya, menggandeng lengan Bina menuju pintu kelas.
"Nggak Sil, aku naik angkot aja."
"Yaudah aku duluan yah, papa udah nunggu di depan." Sila melepas tautan tangannya dari lengan Bina, melambaikan tangannya. "Dadah Bina."
Bina tersenyum melihatnya, balas melambaikan tangannya ke arah Sila, hingga gadis itu menghilang dibalik pintu.
Bina melanjutkan langkahnya. Saat kaki nya baru saja melewati daun pintu, Bina melihat tiga pemuda yang pagi tadi duduk semeja dengannya. Pemuda-pemuda itu membelakangi Bina, menatap pada lapangan dihadapan kelas nya, menonton anak-anak eskul bola yang sedang melakukan pemanasan, dengan menggendong tas mereka masing-masing.
Bina menggaruk kepalanya, berusaha mengingat apa yang ia katakan sehingga ketiga pemuda itu berada di depan kelasnya. Bina melanjutkan langkah nya, setelah ia mengingat dengan baik bahwa ia tak mengucapkan sesuatu yang membuat ketiga pemuda itu berpotensi menunggunya. Bukan terlalu GR atau gimana, Bina hanya takut ia tidak menepati janji atau mengingkarinya.
"Eh Dek Bina."
Panggilan itu berhasil membuat Bina menghentikan langkahnya yang sudah lumayan jauh dari kelasnya.
Bina berbalik, melihat pemuda dengan kemeja sekolah sudah terbuka menampakan baju hitam polos didalamnya, tas nya ia tenteng di tangan kiri nya, berlari kecil menghampiri Bina.
"Bentar dulu Dek." Pemuda itu berhenti di hadapan Bina, menggendong tasnya di bahu kiri, meletakkan telapak tangannya di kedua lututnya. Walau larinya pelan, tapi jarak dari tempatnya berdiri tadi dengan tempat Bina lumayan membuatnya ngos-ngosan.
"Kenapa Kak." Tanya Bina.
Pemuda itu mengarahkan telapak tangannya pada Bina, memberi isyarat 'tunggu sebentar,' ia masih berusaha mengatur nafasnya.
"Dek Bina, katanya mau ngajarin kakak bola ilang." Pemuda itu mendongak menatap Bina, setelah nafasnya kembali normal.
Bina menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mengingat apa ia benar-benar membuat janji itu pada pemuda di hadapannya ini.
"Emang iya Kak? Bina nggak inget, Kak Wahyu salah inget kali."
"Orang tadi pagi kamu setuju mau ngajarin kakak bola ilang." Wahyu mengerutkan dahi.
"Masa sih." Bina masih melanjutkan kegiatannya menggaruk kepala, masih berusaha mengingat.
"Iya." Wahyu, pemuda itu menegakkan badannya, membenarkan letak tasnya, menatap Bina.
Bina mengalihkan tatapannya, pada berbagai benda. Bina benar-benar tak ingat telah membuat janji semacam itu.
"Ayo Yu."
Dua pemuda lain yang tadi Bina berdiri Bersama Wahyu, kini berjalan menuju ke arah mereka.
"Bentar, ini Dek Bina nya masa lupa, mau ngajarin." Wahyu menoleh pada dua temannya, mengerucutkan bibirnya ke arah mereka.
"Ayo Dek, katanya mau ngajarin Wahyu bola ilang." Ucap Ucup, menepuk bahu Wahyu.
"Emang Bina bilang gitu ya Kak?" Bina meringis.
"Tuh kan? Ngak inget." Wahyu masih mempertahankan raut wajahnya.
__ADS_1
"Lah, iya, kan tadi pagi ngomong gitu." Ucup merangkul bahu Wahyu, menepuknya pelan.
Bina masih diam, berusaha mengingat juga ia tak bisa, sepertinya ia menjawab sesuatu tanpa kesadaran yang jelas.
"Udah ayo." Ucup, pemuda itu menarik tangan Bina membawanya menuju lapangan basket.
"Cup, jangan ditarik." Pemuda yang sedari tadi diam mendengar kini berucap. Ia memegang tangan Ucup yang menarik tangan Bina, membuat gadis itu berjalan terseret.
"Eh, maaf Dek." Ucup melepasnya, meminta maaf, yang dibalas Bina dengan mengangguk tersenyum tipis.
Ucup berjalan mendahului Bina, mensejajarkan langkahnya dan bergabung dengan Wahyu yang sudah berjalan layaknya kelinci, melompat kesana kemari, dengan senyum cerah, didepan mereka. Nampaknya pemuda itu begitu senang, akan diajarkan teknik bola ilang oleh Bina.
Bina tersenyum melihatnya, dua pemuda itu merangkul bahu satu sama lain, tersenyum cerah, dan berjalan begitu riang seperti anak-anak. Ia sampai berfikir apa pertemanan laki-laki memang selucu ini.
"Ayo." Pemuda yang berdiri di sebelah Bina berucap, meletakkan tangannya di punggung Bina,mendorongnya pelan agar berjalan dengan sedikit cepat.
"Kak Irgi ngak mau ikutan sama mereka." Bina menoleh, menatap pemuda disampingnya. Ia begitu penasaran bagaimana pemuda ini bergaul dengan mereka, karena setahu Bina pemuda ini begitu kalem dari kedua temannya.
"Nggak." Pemuda itu menggeleng, berjalan mendahului Bina.
"Kenapa padahal itu seru menurutku." Bina berlari kecil mensejajarkan langkahnya dengan Irgi.
"Nggak seru, biasa aja, ngeliat aja udah cukup buat saya." Pemuda itu menatap lurus pada kedua temannya di depan.
"Jangan-jangan, Kak Irgi nggak pernah diajak yah?" Bina menutup mulutnya, melirik Irgi.
Pemuda itu balas melirik Bina. "Saya sering diajak, tapi yang mereka lakukan sudah cukup aja buat saya lihat, nggak perlu saya lakukan."
Bina mengangguk-anggukan kepalanya. "Tapi gak ada salahnya, buat ikut juga kak. Sekali-kali gitu, seru tau gila-gilaan bareng temen, karena kan masa SMA cuma sekali, jangan dilewati gitu aja, nanti nggak bisa diulang loh kak, nyesel nanti." Bina panjang lebar.
"Gaes.." teriakan itu membuat seluruh isi lapangan basket menoleh, melihat empat orang yang baru saja datang.
"Wawan... tau ngak, ini Dek Bina si nomor sepuluh yang sering gue ceritain itu." Wahyu berlari menghampiri temannya, meloncat-loncat, memeluk pemuda dengan seragam basketnya.
Wawan-pemuda itu, hanya memasang tampang datar, berdiri tegak memegang bola basketnya. "Oooh yang itu ya." Ia mendorong Wahyu menjauh, beralih menatap Bina, ia tersenyum menyapa.
Bina balas tersenyum kikuk. Ia tak tau akan sebanyak ini laki-laki disini, bahkan tak ada seorang pun perempuan selain dirinya.
"Loh Irgi mau pindah ikut ekskul basket juga?" Pertanyaan itu terlontar dari salah satu anggota basket.
Pemuda disamping Bina menggeleng, ia memperbaiki letak tas pada pundaknya. "Ngak ikut Wahyu sama Ucup." Ucapnya.
"Oooh kirain mau pindah haluan."
"Sana ganti baju Yu, Cup." Ucap Wawan, mendorong bahu Wahyu.
Irgi berjalan menuju samping lapangan, mendudukan dirinya di salah satu kursi tribun disana. Membuka tasnya, sedikit mengobrak-abriknya, kemudian ia minum dari botol yang baru ia keluarkan dari dalam tasnya. Semua itu Bina perhatikan.
Jujur saja Bina bingung harus melakukan apa. Wahyu dan Ucup yang mengajaknya kemari, sudah hilang ditelan pintu entah kemana, anggota basket tak ia kenal, dan ini pemuda yang kini menikmati air itu, yang bisa dibilang satu-satunya orang yang Bina kenal malah mengabaikannya.
"Sini, ngapain disitu, mau dilempar bola kamu." Ooh akhirnya, pemuda itu memanggilnya. Setidaknya Bina masih memiliki 'teman' disini.
Bina berjalan sedikit berlari menghampiri dan mendudukan dirinya di samping pemuda itu. jujur saja ia takut, banyak sekali lelaki yang tidak ia kenal disini, namun ia sedikit merasa tenang dan aman jika di samping Irgi, setidaknya pemuda inilah orang yang dipercayakan orang tuanya untuk menjaga dirinya.
Melihat sekaliling adalah hal yang Bina lakukan sekarang, Ia tak tau harus melakukan apa, ingin pulang saja rasanya. Bahkan ia tak ingat telah membuat janji dengan pemuda Bernama Wahyu tadi.
"Dek Bina, ayo." Pemuda yang baru saja Bina pikirkan berlari keluar dari ruangan yang tadi ia masuki, dengan sudah berpakaian lengkap khas anak basket pada umum nya, ia menghampiri Bina.
__ADS_1
"Yu pemanasan dulu."
...
"Jadi gimana caranya Dek Bina?"
Setelah pemanasan tadi Bina diseret oleh Wahyu menuju pinggir lapangan. Dan disinilah Bina berada dengan dua pemuda yang masih menatapnya lekat.
"Apa kak." Tanya Bina, memiringkan kepalanya.
"Teknik bola ilang." Wahyu pemuda itu memancarkan wajahnya menatap Bina.
Bina mengangguk anggukan kepalanya, kemudian ia mulai mendrible bola basket dan mempraktekkan 'bola ilang' yang Wahyu maksud. Membuat wajah pemuda itu bersinar.
"Woah." Sorak Wahyu bertepuk tangan heboh. "Gue baru liat bola ilang secara langsung Cup, live bayangken."
"Bola nya digimanain Dek?" Wahyu bertanya, wajahnya berubah kebingungan.
"Gini." Bina mempraktekkan nya sekali lagi.
"Gimana sih?" Wahyu juga mempraktekkannya namun hasilnya berbeda, bola yang ia pegang meloncat dan hilang yang benar-benar hilang entah bola itu kemana.
"Lah ilang." Ucup berucap. "Wauw emejing, kayaknya lo lebih jago dari Bina, Yu." Ucup bertepuk tangan, tertawa.
"Gimana sih Dek Bina." Wahyu mengabaikan ucapan Ucup, ia malah fokus menatap Bina.
"Aduuh gimana ya Kak." Bina ikut bingung dibuatnya.
Jujur saja yang memiliki teknik 'bola ilang' bukan Bina, ia mempelajarinya dari salah satu temannya, dalam organisasi basket dulu. Teman Bina bahkan menciptakan sendiri teknik ini. Ia adalah pemain basket jenius
menurut Bina, namun sayangnya, ia tak pernah menjadi pemain utama seperti Bina, karena suatu hal. Karena itu yang tersorot kamera hanya Bina, orang-orang bahkan mengenal Bina sebagai pencipta dari teknik itu. Mengingat nya Bina menundukan kepalanya.
"Dek Bina." Wahyu menyentuh bahu Bina.
Bina mendongak kaget. "Eh, maaf Kak, apa?"
"Ngak papa Dek Bina, ngak usah sedih nanti kakak belajar sendiri aja." Wahyu tersenyum menatap Bina.
"Oh maaf ya Kak, Bina ngak bisa ajarin." Ucap Bina. "Bina pulang aja ya kak."
"Loh Dek Bina, kakak harus Latihan basket dulu, ngak bisa anter Dek Bina, nanti ya nunggu selesai latihan basket, nanti kakak anter, jam segini udah ngak ada angkot." Wahyu Panjang lebar, ia juga sedikit khawatir dengan Bina kala gadis itu menampilkan raut wajah sedih.
"Ngak papa Kak, Bina bisa jalan kaki."
"Loh jangan dong, nanti Dek Bina capek kasian." Ucap wahyu. "Oh atau... Gii." Pemuda itu berbalik berteriak memanggil temannya yang sedari tadi menonton mereka dari tribun sana.
Irgi mengangkat tangannya, tanda ia hadir disana. "Oi," ucapnya.
Wahyu melambaikan tangan nya, meminta pemuda itu mendekat ke arah mereka. "Sini... Anterin Dek Bina pulang Gi, gue mau latihan basket, ngak bisa nganter, Dek Bina mau nya punya sekarang." Ucapnya kala Irgi sudah berada didekat mereka.
"Kenapa?" Irgi mengerutkan dahinya, beralih menatap Bina, gerak-gerik gadis itu mencurigakan.
Wahyu hanya tersenyum, lalu mendorong gadis yang sendari tadi menunduk tak mendongak sedikitpun, ke arah Irgi. Irgi melayangkan pertanyaan melewati matanya, yang menatap tajam Wahyu, Irgi takut temannya melakukan hal yang menyakiti. Pemuda yang ditatap hanya menggeleng tersenyum manis. Irgi juga beralih menatap Ucup, namun tetap ia mendapat jawaban dengan gelengan kepala.
Irgi akhirnya menghembuskan nafas. "Ayo," ajaknya menepuk pundak Bina agar mengikutinya.
CINTA BANYAK-BANYAK (❤️'艸`❤️)
__ADS_1