
♪(´▽`)
Riuh sorakan dari tribun para penonton sudah memenuhi lapangan. Pertandingan basket antar sekolah, untuk mengambil posisi bertanding di semifinal sedang berlangsung disini. Peluit sudah berbunyi, pemain basket sekolah lain sudah berjalan menuju pinggir lapangan, menggenggam hasil pertandingan masing-masing. Pertandingan pertama hari ini sudah selesai.
Bina berjalan di belakang kurang dari sepuluh anak-anak basketnya. Pertandingan selanjutnya adalah pertandingan mereka melawan sekolah yang beberapa bulan lalu latih tanding dengan mereka.
Ucup sudah melompat-lompat untuk memanaskan kembali tubuhnya. Mereka sudah pemanasan sekitar sepuluh menit lalu. Sekarang mereka hanya tinggal pemanasan ringan saja.
“Ini pertandingan kelima kan, Dek?” Wawan menghampiri Bina.
Bina mengangguk. Selama ini pertandingan mereka berjalan tidak mudah. Selisih dari point-point yang mereka dapat juga tak berbanding jauh dari point lawan. Dan pertandingan terakhir mereka dengan lawan mereka sekarang juga tidak bagus. Saat latih tanding dulu mereka kalah telak.
Hal itu membuat Bina sedikit tegang dalam berdirinya.
“Gapapa, kita pasti bisa.” Wawan menepuk pundak Bina, kapten basket itu tersenyum, menenangkan gadis pelatihnya.
“Kan kita udah bikin strategi yang bagus. Pasti menang.” Wawan mengangkat kepalan tangannya, menghibur juga meningkatkan semangat dirinya. Jujur dirinya juga agak berdebar dengan pertandingan mereka kali ini.
Bina mengangguk lagi. “Iya, Kak.”
Wahyu melirik Bina, pemuda itu menghela nafasnya untuk kesekian kalinya saat melihat gadis itu. Ia yakin selama ini gadis itu menghindarinya, tak ada percakapan atau sapaan yang dilontarkan Bina padanya. Bina selalu pergi menghindar setiap kali dirinya membuka sebuah obrolan, berpura-pura tak melihatnya, atau mengabaikan setiap ucapannya.
“Dek Bina.”
Bina menoleh saat namanya dipanggil dengan suara yang tentu saja ia kenal. Suara yang selalu ia abaikan dan tak mau dengar. Pandangan matanya dengan sosok tinggi disampingnya bertemu, sudah lama mereka tak kontak mata seperti ini.
Bina menghela nafas, dadanya berdebar setiap kali dirinya mendengar nama pemuda ini disebut entah oleh siapapun, dan semakin berdebar pula ketika mereka menjalin kontak mata. Dengan cepat Bina alihkan pandangannya pada Ucup. Ia menghampiri pemuda itu memberinya botol minum walau Ucup tak memintanya. Ia terlalu takut akan terjatuh terlalu dalam pada Wahyu. Ia takut menyakiti banyak hati, karena cintanya yang tidak pasti.
Ucup menatap bingung ke arah gadis pelatihnya dan juga sebuah botol minum yang digenggamnya. Pemuda itu mengedipkan mata berkali-kali. Ia bingung.
“Minum dulu Kak,” Bina berucap cepat, ia raih tangan Ucup memaksa pemuda itu menggenggam botol minum yang ada di tangannya.
Setelah diterima oleh Ucup walau masih dengan wajah bingung, Bina berjalan cepat mendudukan dirinya pada kursi. ‘Ngapain sih begitu, nggak jelas banget.’ Bina merutuki tingkah lakunya.
Selalu seperti ini, selama berlatih, selama pertandingan, dan selama mereka berpapasan di sekolah, benar-benar tak pernah ada dialog antara mereka. Wahyu bahkan berpikir keras dalam kepalanya, ia takut ada sikapnya yang menyakiti Bina. Atau apapun itu. Tapi selama ini, ia tak pernah menemukan apapun. Meski begitu, dirinya sering mengucap maaf pada Bina walau tak tau kesalahannya apa. Dan respon Bina hanya menggeleng dan berkata, ‘Kakak nggak salah apa-apa,’ kemudian pergi menghindar.
__ADS_1
Walau begitu, ia masih bertekad untuk meminta maaf. Ia harus memperbaiki hubungannya dengan Bina. Entah bagaimana caranya. Setidaknya mereka harus kembali berteman.
"Yu,” Ucup menepuk pundak Wahyu. “Lihat,” pemuda itu tersenyum mengarahkan telunjuknya ke arah tribun, pada sosok pemuda yang tentu saja mereka kenal akrab.
Wahyu terkekeh melihatnya seorang pemuda dengan seragam pramuka yang duduk di tribun sana. Temannya yang satu itu memang support system terbaik dirinya, Ucup, dan Wawan. Walau berkata tak terlalu suka basket, tapi pemuda itu selalu meluangkan waktu untuk menonton pertandingan mereka.
“Woy Irgi, mau ikut basket?” Wawan berteriak, kemudian terkekeh saat melihat respon gelengan kepala dengan wajah datar dari teman disana.
Anak-anak basket terkekeh melihatnya. Tak terkecuali Wahyu an Ucup, kedua pemuda itu tertawa memegang perut mereka. Irgi dan tawaran basket adalah lelucon yang tak pernah punah sepertinya.
...
Peluit tanda pertandingan akan dimulai berbunyi, seiring dengan bola yang dilempar tinggi oleh wasit pada tengan lapangan. Bina menegakkan duduknya pada kursi, tak jauh berbeda pula dengan tim pengganti yang duduk disampingnya. Mereka terlalu berdebar dengan pertandingan kali ini.
Wawan berhasil merebut bola, pemuda itu langsung mengoper bola pada Ucup dengan cepat. Ucup menangkap bolanya dengan mudah. Pemuda itu diam masih mendribble bola dalam tangannya. Dua orang telah menjaganya. Ia bingung, penjagaan mereka terlalu ketat. Matanya melirik kanan dan kiri, semua anggota timnya telah di hadang. Ucup tersenyum, pertandingan baru dimulai, namun tim lawan sudah memulainya dengan ini.
Ucup menekuk lututnya, bersikap hendak melompat untuk memasukan bola. Melihat itu, dua orang yang menjaganya melompat, berusaha menggagalkan tindakan Ucup. Namun salah, Ucup tak melompat, pemuda itu menunduk, berlari kekiri melakukan pass pada Wahyu di sebelah kanan.
Setelah menerima bola, Wahyu dengan cepat melompat melakukan shooting, menciptakan tiga angka untuk tim mereka.
Pertandingan semakin sengit. Banyak tepuk tangan yang mereka dapat juga ******* kecewa dari para penonton di tribun. Tempon permainan mereka cepat, lebih cepat dari biasanya. Kedua tim terus mencetak poin tak ada yang mau mengalah satu pun.
Mereka terus berlari, melompat, menghadang lawan untuk meraih poin. Tim mereka terus mencetak poin, sama halnya dengan tim lawan yang tak mau kalah. Poin mereka seimbang, seiring berjalannya waktu. Tak ada yang memimpin, tak ada yang tertinggal. Kedua tim memang benar-benar seimbang.
Bina melirik pada angka point. Tujuh puluh dengan poin lawan tujuh puluh satu, tipis sekali. Ia menarik nafas dalam, meredakan sesak dadanya melihat pertandingan. Kedua tim bermain dengan sangat cepat. Jika tim satu tim mencetak poin, maka pencetak poin berikutnya adalah tim lawannya. Begitu terus menerus, hingga kini mereka menginjak babak keempat pertandingan.
Kalau begini mereka bisa saja kalah. Ibaratnya bertanding stamina, stamina tim mereka kurang dari baik. Bina berdiri dari duduknya setelah menghela nafas dalam. Ia menghampiri wasit. Meminta time out untuk tim mereka. Ia harus mengubah strategi. Jika begini terus mereka akn kalah dalam stamina.
Peluit ditiup saat tim lawan berhasil mencetak poin, wasit memberitahu time out untuk tim mereka. Lima menit lagi pertandingan dan mereka harus mengubah gaya bermain atau strategi mereka.
“Dek,” Wawan berjalan kemudian duduk di samping Bina.
Bina berdiri, menatap pada anak-anak basketnya yang kini sudah duduk pada bangku. Ia menghela nafas. “Kita ubah strategi.”
“Kita harus memelankan tempo?” Ucup bertanya setelah menenggak habis botol minumnya.
__ADS_1
“Jangan minum banyak-banyak,” Bina merebut botol dari tangan Ucup, menatap pemuda itu tajam.
“Haus, Bin,” pemuda itu memanyunkan bibirnya.
Wawan hanya diam melihat itu. “Jadi?”
“Kita masih pake tempo biasa. Tapi kak Wawan jadi center,” ucap Bina.
“Loh Bin, Wahyu?” Ucup bingung.
“Aku mau, Kak Wawan yang mencetak poin paling banyak. Tim lawan terus jaga kak Ucup, atau kak Wahyu, tapi kak Wawan terus kosong. Itu bisa jadi kesempatan kita untuk bisa bikin banyak point.”
Anggota tim saling menoleh satu sama lain. Mereka Bingung, sebab Wawan sendiri adalah point guard yang bisa mengatur jalannya pertandingan dengan stabil. Ucup hendak mengeluarkan suaranya.
“Oke.” Wawan berucap, ia mengangguk-nagkukan kepalanya, membuat Ucup menutup kembali mulutnya. Ia tak mengerti bagaimana atau apa rencana Bina. Namun ia yakin, Bina pasti punya hal yang bisa membuat mereka menang.
“Loh Wan.” Ucup berdiri hendak protes, ia sedikit khawatir dengan permainan mereka nanti.
Sedang Wahyu pemuda itu hanya diam. Ia akan menuruti semua hal yang Bina katakan untuk pertandingan mereka. Walau tetap saja dirinya juga khawatir.
“Udah Cup,” Wawan berdiri bersama dengan peluit yang berbunyi, menandakan waktu mereka telah habis.
“Ayo kita semangat.” Wawan berucap menjulurkan tangan mengajak tos teman-temannya sebelum memasuki lapangan.
Ucup dan Wahyu saling melirik. Kemudian tak lama mereka menyatukan tangan dan bertos, sebelum berjalan masuk pada lapangan.
Peluit kembali dibunyikan, bola juga kembali dilempar ke atas. Pertandingan dimulai dengan cetakan point oleh lawan. Namun tak lama di balas dengan cetakan point dari tim mereka.
Pertandingan sengit kembali terjadi. Namun, tim mereka kini lebih stabil dari sebelumnya. Lawan seolah bingung dengan posisi-posisi tim mereka, bingung harus menjaga yang mana.
Poin delapan puluh tiga dengan poin lawan tujuh puluh tujuh, berhasil mereka dapatkan dengan sisa waktu pertandingan kurang dari dua menit.
Hingga pertandingan berakhir dengan bunyi peluit yang melengking. Bina tersenyum menatap lapangan. Mereka cepat belajar walau masih belum sempurna. Anak-anak basketnya kini berjalan menuju sisi lapangan dengan senyum merekah. Mengantongi kemenangan kesekian kalinya.
(。﹏。*)
__ADS_1