Bercerita Tentang Kita

Bercerita Tentang Kita
part 45


__ADS_3

(~﹃~)~zZ


Wahyu tersenyum menatap Bina dari lapangan. Di tengah tepuk tangan yang masih menggema dari atas tribun sana, ia terus pandangi gadis yang berekspresi begitu cerah. Menanggapi banyak tos dari rekan setimnya.


Ia tak beranjak, tak melangkah mendekat atau ingin melakukan tos sekalipun. Bukan karena dirinya tak ingin, namun karena tak bisa. Ia yakin, tos nya akan dibiarkan menggantung diudara tanpa balasan.


Wahyu menghela nafasnya. Mungkin Bina butuh waktu, mungkin akan ada waktu untuk dirinya berbicara dengan Bina. Namun ia tahu bukan sekarang lah waktunya. Untuk sekarang ia hanya ingin menatap.


“Wahyu....” Ucup berteriak dari sisi lapangan, meloncat-loncat memanggil temannya.


Wahyu mengedipkan matanya beberapa kali, mengalihkan pikirannya pada dunia kembali, ia memalingkan tatapannya pada Ucup. Senyum tipis ia sunggingkan, melangkah pelan ia menuju Ucup.


“Menang...” lagi Ucup melompat memeluk Wahyu dengan tangan dan kakinya yang mengalung seperti koala.


Wahyu hanya bisa menghela nafas, menerima beban badan Ucup. Hal yang sering ia dapatkan setelah pertandingan.


“Dua pertandingan lagi kan, Dek?”


Wahyu menoleh saat Wawan berucap. Ia lihat pemuda itu menghampiri Bina, kemudian duduk di kursi, membantu Bina membersihkan botol-botol minum mereka. Wahyu menarik nafas panjang, menahan diri untuk tidak menendang Wawan untuk menyingkir dan ia gantikan. Jujur saja ia iri dengan interaksi kedua manusia itu. Tidak ada yang spesial, namun dirinya sadar kini ia sudah tak bisa melakukannya.


“Yu, Cup, selamat.”


Ucup melepaskan pelukannya pada Wahyu saat mendengar suara itu. Membuat badan Wahyu terhuyung, mengernyitkan dahi kemudian menoleh. Pemuda yang baru saja melepas pelukannya itu berlari menghampiri satu temannya yang lain, memeluknya seperti koala.


“Irgi...” panggil Ucup.


Wahyu tersenyum melihat pemuda berseragam pramuka yang kini berjalan mendekatinya dengan Ucup yang sudah menempel. “Mau ikut basket, bapak Irgi?” tanyanya melebarkan senyum jenaka.


Irgi hanya menggeleng menanggapi anggota basket yang sudah tertawa. Ia harus sabar walau pemuda yang kini di gendongannya juga tertawa lebar, menahan diri untuk tidak melepaskan tangannya dari bokong pemuda itu agar terjatuh dan menubruk lapangan. Kebal dirinya akan pertanyaan yang sudah berulang ratusan kali dari mulut-mulut anak-anak basket, yang hampir tiga tahun ia rasakan.


“Mau coba dulu nggak, Gi?” Wawan berdiri setelah selesai memasukkan botol terakhir pada tas.


“Nggak, saya nggak mau, terima kasih.” Irgi berucap kalem.


“Siapa tau.” Wawan tersenyum lebar, mengikuti Wahyu.

__ADS_1


Irgi lagi-lagi menggelengkan kepalanya, memperhatikan anak-anak basket yang sudah sibuk kembali pada kegiatan masing-masing. Pun Ucup yang sudah lepas dari gendongannya. Matanya melirik Bina, gadis dengan seragam pramuka persisi sepertinya itu tengah duduk pada bangku, menyebelahi Wawan.


Melihat sosok Bina, membuat Irgi kembali mengingat kembali hal-hal yang ia ucapkan di hadapan Andi dan juga Tina. Karena hal itu, ia hindari Bina. Karena hal itu pula, ia sekarang tak berani untuk hanya bertegur sapa dengan kedua orang tuanya. Ia menghindar, tak berani, ia takut. Entah kemana rasa sebenarnya waktu itu.


Sekarang ia merasa Andi mengabaikannya, pun sang mama yang sekarang tak pernah mengabarinya, menanyakan ia dimana atau dengan siapa. Sekecewa itukah mereka pada dirinya. Memang tak ada bentakan atau kemarah yang mereka tampilkan. Namun ia merasa amat bersalah walau tak tau apa salahnya.


Terus Irgi perhatikan Bina, gadis itu kini sudah mencoret-coret kertas yang Irgi tak tahu apa itu. Apa sebenarnya alasan Kardi. Apa sebenarnya rencana mereka. Hanya perjodohan yang ditolak, apa harus sekecewa itu padanya. Apa harus mengabaikan anak sendiri.


“Keren Lo, Bin.”


Suara itu berhasil mengalihkan Irgi dari pikirannya. Ia menoleh pada seorang gadis dengan seragam sekolah yang asing baginya.


Tak hanya Irgi, gadis itu juga berhasil mengalihkan perhatian semua orang yang berada di area itu menatap dirinya. Gadis itu tersenyum congkak, melipat tangannya di depan dada, menata lurus pada Bina.


“Bela,” Bina menegakkan tubuh dalam duduknya, mendongak menatap gadis yang berdiri tak jauh dari tempatnya.


“Lo keren,” gadis itu mengangguk-anggukkan kepalanya, masih menatap Bina.


Bina berdiri, menggenggam erat buku catatan basketnya. Perasaan tidak enak masuk dalam dadanya, membuat nafasnya tak teratur. Ia takut.


Wawan berdiri dari duduknya. Ia masih diam tak berucap, namun tetap takut gadis yang sudah memberhentikannya langkahnya itu berbuat sesuatu. Tak jauh berbeda dengan Irgi, pemuda itu berjalan perlahan mendekat pada tubuh Bina, tanpa di sadari oleh siapapun.


“Lo emang pemain berbakat,” Bela tertawa sumbang. “Dan kenapa sih, pemain berbakat selalu jadi juara, kenapa pemain yang berjuang mati-matian, latihan mati-matian malah nggak dapet apa-apa.”


“Kenapa sih, pemain yang berbakat selalu jadi penghalang.” Bela menaikkan suarnaya, nafasnya memburu penuh emosi.


“Kenapa sih, lo harus ada. Gara-gara lo temen gue nggak masuk pemain inti. Gara-gara lo si anak baru yang sialnya berbakat, temen gue yang berjuang mati-matian malah jadi cadangan. Gara-gara lo temen gue nggak jadi tanding di liga nasional, padahal itu harapan dia, cita-cita dia. Lo emang penghalang.” Bela berucap emosi nadanya terus tinggi, menuding Bina dengan telunjuknya.


Bina hanya diam menunduk, mengeratkan genggamannya pada buku. Ia memang penghalang untuk semua harapan orang. Ia memang penghalang.


“Eh, lo siapa sih?” Ucup mendekat, berucap. Ia tak terima tentu saja.


“Diem lo.” Bela menuding Ucup. Membuat pemuda itu akan beranjak lebih dekat kalau saja Wawan tak menahan lengannya.


“Sekarang, Mila udah nggak ada, dan dia nggak akan bisa wujudin harapannya sendiri. Karena lo. Penghalang,” Bela mengusap air matanya kasar saat air itu jatuh pada pipinya.

__ADS_1


“Maaf,” Bina berucap pelan, bahunya bergetar. Ia juga tak ingin itu terjadi. Ia tak tahu.


“Lo penghalang Bina, kenapa lo selalu beruntung, kenapa lo masih hidup, sedangkan temen gue nggak.” Bela berteriak, menangis tergugu.


“Bela.” Seorang gadis dengan seragam yang sama dengan Bela menghampiri. Badan Bela dibalik menghadapnya, kemudian gadis itu menampar membuat wajah Bela tertoleh ke samping kanan.


Hal itu tentu saja membuat anak-anak basket kaget. Bahkan Ucup mendekat, takut gadis yang baru saja datang melakukan hal yang lebih dari sekedar menampar pada Bela.


Bela memegang pipinya yang kini sudah panas. Wajahnya tertoleh penuh air mata. Tak lama, ia tatap gadis yang baru saja menamparnya. Ia menangis, tergugu.


Bina menutup mulutnya terkejut, juga menahan isak tangisnya. “Putri..” ucapnya pelan. Bahunya semakin bergetar, walau Wawan sudah mengusap bahunya menenangkan. Ia tahu Bela pasti sangat kehilangan.


“Bina nggak salah. Bukan karena Bina, Mila nggak bisa gapai cita-citanya. Bukan karena Bina, mila meninggal. Bina bukan penghalang.” Putri berucap, memegang bahu Bela.


“Mila meninggal karena orang tuanya, karena kanker hati. Bina gak tau apa-apa tentang Mila. Dia anak baru yang belum tahu Mila dan masalah keluarganya. Bina bukan kita, Bina nggak tau apa-apa, Bel.” Putri berucap pelan, terus ia pegang bahu Bela. Ia tahu rasa kehilangan yang Bela rasakan. Namun, ia tak bisa membiarkan Bela terus menyalahkan orang lain. Apalagi Bina yang tak tahu apa-apa.


“Mila mengidap kanker hati, dia disiksa orang tuanya. Mila dibunuh orang tuanya sendiri, bukan Bina,” Putri menggeleng, sejenak mengambil nafas panjang untuk melanjutkan.


“Stop buat nyalahin Bina. Stop, Bel. Bina nggak salah apa-apa. Dia berhak buat gapai impianmu sendiri, buka impian Mila, atau orang lain.” Putri memeluk Bela, menenangkan gadis itu.


Bina sendiri sudah terduduk. Menangis tergugu dengan bahu bergetar. Ini hal yang selalu ia takutkan. Menghancurkan harapan orang lain. Harapan yang terakhir yang Bina halangi. Ia memang penggalang. Bela benar, andai saja dirinya tak ada, semua orang mungkin sudah mendapat harapan mereka sendiri. Tak akan ada penghalang seperti dirinya. tak akan ada yang kesulitan dengan adanya dirinya. Mila juga mungkin sudah memajang piala basketnya sekarang. Mila juga pasti mudah untuk menggapai impiannya jika Bina tak ada.


Putri melirik Bina. Ia tak bisa melakukan banyak hal pada Bina. Ia tak bisa membawa Bina keluar dari traumanya dari pernikahan, atau ketakutannya tentang dirinya yang menghancurkan harapan orang. Ia tak bisa melakukan apapun.


Putri melepas pelukannya dengan Bela, setelah dirasa Bela sudah selesai dengan tangisnya. Menuntun gadis itu meninggalkan tempat mereka, tanpa pamit atau permintaan maaf. Karena dirinya juga bingung harus melakukan apa.


“Dek,” Wawan mendudukan dirinya di samping Bina, mengelus pundak gadis itu.


Irgi masih diam di tempatnya. Menatap Bina dengan banyak pikiran dalam kepalanya. ‘Dia’ yang membuat Bina terlalu takut akan banyak hal itu Mila? Karena gadis itu Bina ingin bermain basket, karena gadis itu Bina menerima perjodohannya. karena gadis itu Bina ingin bermain basket dan mendapat juara, mewujudkan impian Mila, pula menerima perjodohan karena ingin mewujudkan harapan Kardi.


Trauma Bina akan pernikahan, apa karena Mila meninggal di tangan orang tuanya sendiri? Irgi mengacak rambutnya menunduk. Pikirannya terlalu banyak sekarang. Permintaan maaf Bina waktu itu apa karena gadis itu takut harapan dirinya tak terwujud karena Bina. Dan Mila mengidap kanker hati? Sama seperti Pita.


Mata Irgi kembali mantap Bina. Sebelum pemuda itu berbalik badan, berjalan meninggalkan samping lapangan, membiarkan Bina menangis tergugu. Kepalanya terlalu pusing memikirkan banyak hal.


ヾ(⌐■_■)ノ♪

__ADS_1


__ADS_2