Bercerita Tentang Kita

Bercerita Tentang Kita
part 33


__ADS_3

--<-<-<@


Suasana kelas kini rusuh tak terkendali. Akibat jam kosong yang sudah tak terhitung jumlahnya. Mereka memiliki enam pelajaran untuk hari ini. Dan sangat amat hokinya mereka, empat dari enam pelajaran itu semuanya jam kosong. Sudah berjam-jam pula Apis sang ketua kelas tidur, entah bagaimana ceritanya pemuda itu bisa tertidur dengan pulas, sedang kondisi kelas sudah amburadul seperti ini.


Sedang Bina, Rara, dan juga Andri, kini tengah menonton film horor dari laptop yang Rara curi dari lab komputer. Luar biasa memang ibu bendahara kita yang satu itu. Dengan laptop, wifi sekolah, dan juga cemilan yang mereka beli di kantin, mereka siap menikmati jam kosong tanpa mengeluh bosan.


Sila sendiri sudah pergi entah kemana, karena gadis itu tak terlalu suka dengan film horor. Paling-paling gadis itu akan mencari gosip terkini dengan geng gosip di pojok kelas.


“Awas nih abis ini ada jumpscare.” Andri berucap, memegang lengan Rara erat.


Bina menolak, memukul lengan pemuda itu sedikit keras. “Spoiler.” Ucapnya.


Andri tersenyum menampakan giginya menoleh pada Bina. “Maaf bibir gue gatel mau ngomong.”


Rara menoleh, gadis itu mengulurkan tangannya ke arah mulut Andri, menggaruk bibir pemuda itu dengan kasar. Membuat Andri memundurkan kepalanya, mengusap bibirnya yang baru saja di garuk dengan baik hatinya oleh Rara. Andri membuka mulutnya hendak protes atas kelakuan Rara pada dirinya.


“Katanya gatel. Awas spoiler lagi.” Mulut Andri kembali tertutup saat Rara berucap mengacungkan jari telunjuknya tepat di depan hidungnya.


Sesi menonton terus berlanjut, detik demi detik mulai berlalu.


“Waaaa.” Bina dan Rara berteriak, mengagetkan seisi ruangan.


Hingga tak sedikit dari mereka yang juga ikut berteriak, mengumpat, bahkan latah yang tak terkendali.


Apis terbangun, pemuda itu berdiri menggendong tasnya dengan terburu entah untuk apa. “Woy cepet keluar." Ia berkata menggerakan tangannya di tengah kelas, seperti tukang parkir.


Manusia-manusia yang ada dalam kelas menatapnya heran. Mereka masih menampakan wajah kaget akibat teriakan dua gadis yang sedang menonton film horor. Namun tatapan mereka fokus menatap Apis.


Sama juga dengan Bina, Rara, dan juga Andri yang kini sudah mengabaikan suara film yang berjalan dari laptop. Pandangan mereka kini justru tertuju pada ketua kelas mereka yang kini berdiri menggendong tasnya, dengan baju setengah berantakan, muka ketakutan, dan juga sedikit linglung, berdiri di depan papan tulis dengan gerakan yang sama.


Tak mendapat respon dari teman-temannya, pemuda itu berlari keluar kelas dengan sempoyongan karena efek bangun tidur yang masih belum hilang. “Ahhh kebakaran.” Teriaknya berlari keluar dari kelas.


Teriakan itu sontak saja membuat penghuni dalam kelas kaget seketika. Mereka saling memandang satu sama lain, heran. Untuk beberapa saat, kelas menjadi hening, tak satupun diantara mereka yang bersuara. Namun tak lama, mereka pun sadar bahwa Apis mungkin saja bermimpi. Tawa menggelegar tak lama kemudian, kelas yang tadinya sunyi sekejap lalu, sudah ramai dengan gelak tawa para manusia.


Bina memukul-mukul meja, tawanya tak henti sedari tadi. tak jauh berbeda juga dengan Rara, gadis itu tertawa terbahak-bahak, memukul punggung Andri dengan sangat tidak sungkan sedikitpun. Sedang Andri sudah pasrah akan hidupnya, pemuda itu terguling di lantai, namun Rara masih dengan baik hatinya memukuli Andri tanpa jeda.


“Gaes.” Dani si lelaki biang gosip setengah waria, datang dengan cerahnya.

__ADS_1


Hal itu membuat para penghuni kelas seketika menghentikan tawa mereka, kembali fokus pada kegiatan mereka masing-masing.


“Iiihh lagi ngetawain apa hayo.” Dani berjalan memasuki kelas dengan menghentakan kakinya.


Namun hal tersebut tak berhasil mengalihkan perhatian para manusia-manusia itu. Mereka masih tak menoleh barang hanya melirik sedikitpun tidak. Mereka tak mau membuat Dani tau tentang hal yang mereka tertawakan beberapa saat lalu. Bisa saja lelaki itu akan merengek seolah dirinya adalah manusia paling tersakiti di dunia, karena merasa tak dianggap, dan tak diajak.


Dani menghentakkan kakinya berkali-kali pada lantai depan papan tulis, menapat pada teman-temannya yang mengabaikannya. Dengan memberengut kesal, lelaki itu mengangkat tangannya, memperlihatkan sesuatu yang ia bawa.


“Aku bawa cemilan.” Dari berucap keras memejamkan matanya kesal.


Mendengar itu, seperti tersummon, mereka semua menoleh pada lelaki yang kini berdiri menutup matanya. tidak, mereka tidak menatap lelaki itu, mereka menatap pada kotak besar berisi makanan. Yang membuat mereka lapar seketika.


Tak lama satu persatu dari mereka berdiri dan menghampiri Dani. Sangat seram memang, namun inilah mereka apapun bisa, asal dengan makanan semua lancar.


Dani membuka matanya, lelaki itu menampakan wajah datar menatap teman-temannya. “Giliran makanan aja cepet.” Ucapnya mencemooh.


Mereka tersenyum tidak enak menatap Dani. Menggaruk leher masing-masing. Dani membuka kotaknya, meletakan benda berisi makan itu pada lantai. Mempersilahkan teman-temannya untuk mengambil makanan di dalam sana.


Dani kadang kasihan melihat mereka, yang sudah seperti zombie yang tak makan setahun. Jadi tak jarang juga dirinya membawa makanan seperti ini untuk teman temannya. Kasihan juga anak manusia setengah tasmanian devil gini di sekolah elit, pasti jalannya sulit.


Sama halnya dengan Bina, gadis itu dengan anteng tak banyak gaya menikmati makanan gratis dari Dani. Siapa sih yang nggak mau makanan gratis. Bina mengangguk-anggukan kepalanya menikmati makanan yang telah ia tak tahu apa namanya.


Tak lama, Bina memegang kepalanya. Kepalanya berputar menciptakan bayangan yang membuat keseimbangan tubuhnya mulai kewalahan. Badan Bina ambruk jatuh pada lantai.


Hal itu tentu saja membuat teman-teman yang lain kaget. Mereka menghampiri Bina, mengabaikan segala hal yang mereka lakukan tadi. Kini fokus mereka direnggut oleh manusia yang kini terbaring tak berdaya di atas lantai.


Dada Bina sesak. Ia berusaha menarik nafas panjang dengan susah payah. Badannya memerah, panas dan gatal menjadi satu. Namun hanya untuk menggaruknya saja tenaga Bina seolah habis karena fokus dengan nafasnya.


“Panggil PMR.” Andri berteriak. Pemuda itu berdiri menggendong Bina keluar kelas, menuju UKS.


Sedang teman-temannya yang lain kini juga berlari menuju UKS memanggil dokter dari di dalam sana.


Berbeda dengan Sila. Gadis itu kini berjalan di samping Andri memegang erat tangan Bina. Air matanya turun terjun dengan bebas.


“Bina.” Sila berucap lirih, menatap Bina yang masih berusaha mengambil nafas.


Kerusuhan kelas IPA dua tentu saja membuat kegaduhan yang mengakibatkan kini banyak pasang mata yang menatap mereka, karena penasaran. Guru-guru pun keluar berlari ke UKS mengambil bangkar untuk membantu Andri membawa Bina. Entah mereka tak tau sedang terjadi apa, namun mereka tetap membantu.

__ADS_1


Kerusuhan itu berhasil membuat hampir seisi sekolah geger. Tak lepas juga dari kelas dua belas ips.


“Kenapa?” Wahyu bertanya, pada salah satu anak dari kelas IPA dua yang kini tengah berdiri panik di depan UKS.


“Anu kak, Bina... gak tau kenapa.” Ucapnya gugup.


Mendengar nama Bina, Wahyu bergegas masuk ke dalam sana. Menerobos pada banyaknya manusia di dalam sana. Dadanya berdebar, rasa khawatir mulai melingkupi dirinya.


Tak jauh berbeda dengan Wahyu. Irgi sendiri mengikuti temannya itu masuk ke dalam sana. Ia sangat khawatir dengan Bina. Entah kenapa, kini bayang tatapan Kardi pada pertemuan mereka beberapa bulan lalu hinggap di kepalanya. Ia seperti punya tanggung jawab besar akan sesuatu yang dipikulkan ayahanda Bina itu padanya.


“Dek Bina.” Wahyu menghampiri Bina. Menyingkirkan banyak tubuh yang menghalanginya.


Pemuda itu menggapai tangan Bina, menggenggamnya erat. Bina kini sudah terbaring lemah tengah diperiksa oleh dokter UKS. Mengabaikan sepasang mata yang melihatnya nanar.


“Telepon ambulans.” Dokter berkata lantang. Dirinya merasa gadis itu perlu penanganan medis yang lebih baik, secepatnya.


Irgi mengeluarkan ponselnya. Tangannya sedikit bergetar saat menekan satu persatu tombol angka di sana. Sungguh kini dadanya berdebar kencang, rasa khawatirnya meningkat dengan drastis saat sang dokter menyuruhnya memanggil ambulan. Sungguh ia takut terjadi sesuatu dengan Bina.


“Bina.” Sila menangis tergugu di samping bangkar yang Bina baringi. Tubuhnya bergetar, di dalam pelukan Rara.


Tak lama suara ambulan terdengar memeking di telinga. Kerumunan yang tadinya sempat kacau kini sudah sedikit melonggar karena para guru membubarkan.


Irgi bergegas menyingkirkan manusia-manusia di hadapannya untuk menggapai Bina. Tanpa sadar juga mendorong Wahyu hingga pemuda itu terjatuh di atas lantai. Pemuda itu mengangkat Bina dengan kedua tangannya, membawanya menuju ambulan. Mengabaikan banyak pasang mata yang kini menatapnya. Fokusnya kini ada pada Bina, hanya Bina.


Wahyu menatap Irgi, pemuda itu sempat kaget saat dirinya didorong begitu saja oleh temannya yang kini membawa Bina pergi dari dalam sana. Pemikirannya ke sana kemari tentang banyak hal.


“Kak ayo.” Sila memegang bahu Wahyu, membuat pemuda itu menoleh kaget keluar dari pikirannya.


“Ayo ke ambulan.” Ajak Sila.


Seolah pikirannya kembali, Wahyu berdiri, berjalan bersisian dengan Sila menuju ambulan di depan. Di dalam, ia melihat Irgi memegang tangan Bina, dengan raut yang tak bisa dideskripsikan. Raut cemas yang sangat ketara. Tatapan pemuda itu fokus pada Bina, hingga Irgi tak menyadarinya yang masuk ke dalam ambulan.


“Gi.”


Panggilan itu berhasil mengagetkan Irgi. Pemuda itu menoleh, dan reflek melepaskan tautan tangannya dengan Bina, saat matanya berhasil menangkap sosok Wahyu.


 φ(゜▽゜*)♪,

__ADS_1


__ADS_2