
...(👉゚ヮ゚)👉👈(゚ヮ゚👈)...
Sila menatap Bina, gadis itu berdiri di hadapannya dengan muka konyol, berjoget tak jelas, bersama manusia-manusia lain dari kelas mereka, dengan iringan lagu dangdut dari ponsel milik Andri, yang disetel kencang-kencang. Menari nari nggak jelas, kalo kata Andri menghabiskan batre agar nanti sampai rumah ngecas lagi.
Bel pulang sekolah sudah berbunyi lima menit yang lalu. Mereka sekarang berdiri di depan koridor kelas, menghebohkan suasana pulang sekolah yang ramai, menunggu halaman sekolah sedikit sepi karena tak mau terjebak macet di depan gerbang. Sesekali Sila menutup wajahnya malu, ketika ada beberapa anak kelas lain yang berjalan melewati kelas mereka, rasanya ia ingin menyembunyikan wajahnya, saat beberapa dari mereka berteriak dan membuat banyak pasang mata mengarah ke kelas mereka. Coba saja bayangkan bagaimana malunya Sila dan beberapa anak yang masih tergolong normal dari kelasnya, melihat kelakuan teman-teman mereka, dilihat oleh banyak pasang mata.
Sila menutup wajahnya menggunakan telapak tangannya, "ges tolong udah dong." Ucapnya, berusaha menggapai tangan salah satu manusia-manusia itu, agar diam.
"Sambala bala sambalado.. asoy geboy jos." Andri berteriak, mengacungkan tangannya, berjoget, menggoyangkan pinggulnya mengikuti iringan musik. "Semuanya..." lanjutnya, menaikan volume pada ponselnya.
"Sila, ayo Sila." Bina menarik lengan Sila, mengajaknya berjoget bersama. Tak mendapat respon dari Sila, Bina menggaet salah satu lengan perempuan seangkatannya yang lewat di depan mereka, "joget-joget." Bina bersuara pada gadis itu mengajaknya berjoget bersama. Gadis itu tersenyum meringis, menampakan wajah takut ke arah Bina.
Sila menutup wajahnya kembali, dalam hati ia menganggap tak pernah mengenal Bina dan teman-teman yang lain. 'Ya Allah tolong, sadarkan lah mereka.'
"Udah kamu pergi aja." Melihat gadis yang Bina gaet tadi diam menatap Bina, Sila menarik lengannya menyuruh pergi.
'Hohihay premium....'
"Yah tidak premium." Bina berucap ketika kalimat itu terdengar dari ponsel milik Andri, menghentikan lagu yang mengiringi mereka berjoget.
"Sorry." Andri tersenyum menampakkan giginya ke arah teman-temannya yang mendesah kecewa.
"Padahal lagi seru-serunya itu." Salah satu dari mereka berucap.
Berbeda dari teman-temannya yang kecewa, Sila malah menghela nafas bersyukur, akhirnya rasa malu sedikit berkurang, walau masih ada saja siswa-siswi yang memperhatikan mereka.
"Alhamdulillah ya Allah." Sila mengadahkan tangannya mengucap syukur.
Bina menatap Sila, tertawa tertahan. Diantara manusia-manusia kelas mereka yang hampir semuanya 'tak normal,' ada beberapa anak yang bisa dibilang normal, ada banyak sekitar.... tiga, kalau Bina tak salah, sisanya sama saja. Dan diantara tiga itu salah satunya adalah Sila.
Bina mengerutkan dahinya, mengabaikan teman-temannya yang protes pada Andri, karena hohihay nya yang tak premium. Bina malah memfokuskan tatapannya pada vespa biru milik Irgi, yang terjebak macet di gerbang depan, kembali membonceng gadis yang sama dengan dua hari yang lalu.
Dua remaja di atas motor itu berbincang, si perempuan begitu ceria menggerakan bibirnya, entah mereka sedang membicarakan apa. Namun yang membuat Bina lebih mengerutkan dahi adalah respon dari Irgi, pemuda itu tak menanggapi berlebihan, ia hanya mengangguk dan menggerakan bibirnya sedikit, tak tertawa pula jika si perempuan tertawa.
Tidak seperti Irgi yang biasanya berbincang dengannya, walau mereka tak begitu dekat, tapi Irgi masih merespon perkataannya dengan panjang lebar. Apa pemuda itu sedang marah pada si perempuan? Bina mengedikkan bahunya, mengingat ucapan Irgi tempo hari lalu, ini bukan urusannya.
"Wah gue duluan deh ges, my father udah di depan nih." Rara berucap, membuat Bina mengalihkan tatapannya pada Rara. Gadis itu melambaikan tangannya, kemudian pergi pulang setelah mendapat sambutan dari yang lain.
Kepergian Rara menjadi awal mereka pergi satu-persatu, setelah melihat gerbang depan sedikit melonggar dari kemacetan tadi. Begitu pun Bina dan Sila, Sila menggandeng lengan Bina, membawanya menuju halte bus depan sekolah dengan terburu, karena sampai sekarang masih saja banyak pasang mata yang menatap pada kelas mereka, walau tak sebanyak tadi. Rencananya Sila akan menunggu papanya di sana bersama Bina.
"Sil, jangan buru-buru ngapa." Bina menggerutu ketika tarikan pada lengannya membuatnya berjalan terseret.
"Malu Bin, kamu nggak malu?" Sila bertanya menengok pada Bina.
Bina menggelang, membuat Sila berdecak kesal. Apa urat malu Bina dan teman-temannya sudah putus? Sila tak habis pikir.
__ADS_1
"Kamu nggak ngerasa apa, tadi kita jadi pusat perhatian satu angkatan, oh, nggak satu angkatan aja kakak kelas juga ada." Sila menjelaskan menggebu-gebu.
"Nggak papa, biar mereka ingat, this is class ipa dua." Bina tertawa melihat Sila yang melirikan matanya sinis ke arah dirinya.
"Terserah kamu." Sila masih melanjutkan jalannya, menyeret Bina menuju tujuan mereka.
...
"Enak ya Bin di sini, bisa liat orang bermacet-macetan." Sila menatap pada kendaraan-kendaraan yang kini mulai sedikit longgar, karena siswa yang keluar dari gerbang sekolah mereka mulai berkurang.
Bina hanya mengangguk-anggukan kepalanya, tersenyum. Duduk di sini juga bisa membuat Bina sedikit mengistirahatkan pikirannya dari pelajaran atau masalah hidup, melihat kendaraan berlalu lalang sebentar bisa membuat kepalanya beristirahat sejenak.
"Dek Bina." Suara itu menginterupsi keduanya.
"Kak," Bina balas tersenyum pada pemuda dihadapannya.
"Emmh, Sila ya?" Wahyu turun dari motornya, menyapa gadis di samping Bina.
Sila mengangguk tersenyum melihat Wahyu. "Iya kak."
Wahyu balas tersenyum pada Sila, ia berjalan menghampiri keduanya. "Dek Bina pulang naik angkot?" Tanya Wahyu.
"Iya Kak, lagi nunggu angkot." Ucap Bina.
Bina menoleh pada Sila, hendak bertanya, apakah papanya sudah tiba. Namun gadis itu hanya menatap lurus pada kendaraan di jalanan. Tak melihat ke arahnya sama sekali.
"Boleh Kak, tapi nanti tunggu Sila dijemput sama papanya dulu ya." Bina mendongak pada pemuda yang berdiri di sampingnya, melirik Sila. Ia pikir lumayan uang angkotnya bisa ia tabung untuk makan enak akhir bulan, walau bagaimanapun Bina adalah anak kost yang ingin berhemat.
"Yaudah kakak tunggu." Wahyu tersenyum menatap Bina, setelahnya ia mendudukan dirinya disamping Bina.
Sila berdiri setelah keheningan yang terjadi sebentar di antara mereka, membuat Bina mendongak.
"Udah dat..." Kalimat Bina terpotong ketika melihat Sila pergi begitu saja dari tempatnya, tanpa mengatakan satupun kata berpamitan.
Bina menatap Sila yang mulai berjalan menjauh darinya. Gadis itu berjalan cepat, menyelip di antara kendaraan yang baru saja ingin keluar dari gerbang sekolah. Bina mengernyitkan dahinya bingung, apa Sila punya masalah? Bina menghela nafas ketika melihat Sila hilang dari pandangannya. Ia akan tanyakan pada gadis itu besok, jika ada masalah ia akan membantu temannya itu sebisanya.
"Sila udah dijemput ya?" Lamunan Bina buyar karena kalimat itu.
Bina menoleh ke asal suara, "kayaknya iya Kak," ia mengangguk ragu menjawab.
"Mau pulang sekarang? Keburu sore." Ucap Wahyu.
"Ayo." Bina mengangguk, berdiri mengikuti Wahyu.
...
__ADS_1
"Dek Bina, mau makan dulu nggak?" Wahyu bertanya sedikit kencang, melawan suara udara yang ia terjang.
"Hah?" Bina mengeraskan suaranya, tak mendengar kalimat yang Wahyu ucapkan. Wahyu melajukan motornya lumayan kencang, membuat suaranya tak terdengar jelas oleh Bina.
"Makan dulu mau nggak?" Wahyu kembali bertanya dengan suara yang lebih kencang dari sebelumnya.
"Nggak Kak." Bina kembali berteriak.
Ini bukan pertama kali Bina menebeng pada Wahyu ketika pulang sekolah, dan begini lah cara mereka berkomunikasi di atas motor. Cara berkendara Wahyu tak kalem juga tak terlalu kencang, menurut Bina ini cara berkendara dengan standar kecepatan sedang, berbeda dengan Irgi yang terkesan kalem.
"Kenapa?" Wahyu bertanya.
"Nggak papa, nggak mau aja." Jawab Bina.
Tak lama motor Wahyu memelan, kemudian berhenti di depan gerbang kost Bina. Bina menurunkan tubuhnya dari atas motor, setelah Wahyu mematikan motornya.
"Makasih ya Kak." Bina tersenyum, ia sangat berterimakasih pada Wahyu.
"Iya sama-sama, kakak duluan ya, keburu sore." Wahyu tersenyum membalas Bina, kembali menyalakan motor nya bersiap pergi.
"Kak," ucapan Bina berhasil membuat Wahyu mengerem motornya yang hendak ia jalankan.
"Kenapa?" Wahyu mengerutkan dahinya bertanya. "Masih mau kakak disini?" Pemuda itu tersenyum menggoda, merasa senang, menatap Bina.
"Nggak Kak, aku mau nanya." Ucap Bina.
"Nanya apa?" Wahyu kembali mengerutkan dahinya ketika melihat wajah Bina yang terlihat ragu.
"Mmm...." Bina bergumam menyiapkan dirinya, ia ingin menanyakan perihal Irgi, namun ia ragu akan disangka yang tidak-tidak oleh pemuda di hadapannya.
"Tanya aja nggak papa." Wahyu menatap Bina tersenyum lembut, berusaha menenangkan Bina yang terlihat gelisah.
Bina merarik nafasnya berat. "Mmm... Kak Irgi punya pacar baru ya Kak." Ucapnya cepat.
"Ng.. nggak tau. Sebenernya.. mm.. kakak nggak bisa ngasih tau Dek Bina. Emang kenapa?" Wahyu bertanya, raut wajahnya tak seceria tadi.
"Nggak papa Kak, makasih udah nganterin." Bina menatap Wahyu tersenyum manis, mengalihkan pembicaraan.
Wahyu yang melihat itu ikut tersenyum. "Oke kakak duluan ya, cepet masuk, udah sore." Wahyu mengacak pelan rambut pendek Bina, tersenyum gemas ketika gadis itu menunduk. Kakak pamit yah dadah Dek Bina." Pemuda itu melambaikan tangannya, menjalankan motor setelah diangguki Bina.
Bina hanya menunduk, kemudian mendongak ketika merasa suara motor Wahyu sudah jauh darinya. Dengan perlahan Bina memegang kepalanya, tersenyum tipis. Entah kenapa, ia merasa ingin tersenyum. Ini pertama kalinya Bina merasakannya, tak pernah ia mendapat perlakuan seperti itu dari lawan jenisnya, kecuali sang ayah. Entah Bina tak mengerti, kenapa ia bisa merasa senang seperti ini.
...(ノ◕ヮ◕)ノ*:・゚✧...
ily
__ADS_1