
(^U^)ノ~YO
Kaki Bina melangkah keluar kelas. Ia adalah orang terakhir yang keluar dari kelas setelah lebih dari menit-menit yang lalu terus duduk di bangku nya, hingga penghuni kelas meninggalkannya seorang diri di dalam. Sila kembali ke kelas pada pelajaran fisika, namun gadis itu lebih memilih duduk di bangku paling belakang menempati bangku teman mereka yang tidak hadir hari ini.
Sedih rasanya tentu saja. Pita adalah orang pertama yang menjadikannya teman, gadis itu adalah teman pertamanya sebelum mengenal banyak orang di kota ini. Dari banyaknya orang yang ia kenal, selama ia tinggal di sini, Pita adalah orang terdekatnya, mereka selalu pergi bersama, kalau kata Rara mereka ibarat dua gadis kembar, walau tak ada kemiripan.
Bina berjalan perlahan, menyusuri lorong yang masih saja menampakan banyak siswa siswi yang berlalu lalang, walau lonceng pulang sudah berbunyi setengah jam yang lalu.
Para remaja lelaki dengan seragam basket sedang berlari memutari lapangan menjadi pandangan Bina, ketika gadis itu menginjakan kakinya memasuki gedung olahraga. Jadwal latihan mereka memang kini diperbanyak sejak minggu lalu, persiapan mereka untuk tanding basket babak kedua minggu depan. Itu rencana sang kapten.
Bina tak melarangnya, karena dirinya juga berpikir mereka butuh latihan lebih daripada biasanya. Fisik mereka harus lebih kuat dari pada sebelum-sebelumnya. Belum juga teknik-teknik basket mereka yang Bina pikir harus lebih disempurnakan.
Meletakan tasnya pada salah satu kursi tribun, Bina berdiri melihat satu-persatu para remaja itu. Memperhatikan cara mereka berlari dan mengatur nafas, sesekali dirinya juga tersenyum saat sapaan terlontar untuknya. Hingga matanya kini bersitatap dengan mata seseorang. Itu Wahyu.
Pemuda itu tersenyum ceria menampakan giginya seperti biasa. Bahagia sekali tampaknya. Seperti senyuman itu bak magnet yang juga menarik Bina untuk tersenyum membalasnya. Masih dengan senyum, pemuda itu mengerutkan hidungnya sembari menggelengkan kepalanya. Lucu sekali wajahnya hingga berhasil membuat Bina tersenyum geli.
Ia berlari masih terus menatap Bina dengan mata menyipit karena tersenyum. Sampai kaki nya tersandung dengan kaki Ucup di depannya, membuat umpatan dan suara gedebuk berbunyi berbarengan. Mereka terjatuh saling menindih, bukan maksudnya Wahyu yang menindih Ucup.
Ucup mendorong tubuh Wahyu dari atas tubuhnya. “Kampret lu, Yu,” Ucup berdiri terlebih dahulu, pemuda itu menempeleng kepala temannya yang masih jatuh tertelungkup.
Wahyu juga bangkit dari jatuhnya, duduk sembari menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal. “Maaf Cup, nggak sengaja. Oleng tadi oleng.” Pemuda itu tersenyum bodoh mendongak melihat temannya yang masih mencak-mencak karena jengkel.
Sesingkat itu kejadiannya, namun tidak dengan tawa teman-temannya. Mereka masih tertawa, terbahak bahkan ada yang sampai terguling saking lemasnya tertawa.
Bina juga ikut tertawa. Lucu sekali pertemanan kedua pemuda itu. Apalagi Wahyu yang kini sudah berlutut di depan Ucup meminta pengampunan dari temannya yang kini menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
Lucu sekali, pasti seru jika mereka terus bersama. Senyum Bina perlahan luntur. Sila.... ia harus menjauh kan dari Wahyu?
“Dek Bina.” Wahyu berlari, senyum cerianya masih terlihat. Sepertinya ia baru saja mendapat ampunan dari Ucup.
Bina tak menanggapi Wahyu. Gadis itu berjalan melewati tubuh pemuda itu, kakinya melangkah menuju Wawan di sisi lain lapangan. Ada rasa sesak saat melakukannya. Bina bahkan menahan nafasnya saat baru saja melewati tubuh Wahyu begitu saja.
“Dek Bina?” Wahyu membalikkan badannya melihat Bina. Kerutan tercipta di dahinya.
__ADS_1
“Kak, hari ini kita latihan fisik dulu ya.” Bina berucap setelah berhadapan dengan Wawan.
Wawan hanya menganggukan kepalanya. Ia melirik Wahyu sejenak, ada hal yang aneh di antara mereka berdua. Kemudian kapten basket itu, mulai mengambil kendali para anak-anaknya untuk kembali berbaris.
.....
Bina menghela nafas, ia melirik pada ponselnya yang kini sudah menunjukkan pukul lima sore. Tentu saja jam biasa ia pulang jika ada latihan. Ia meraih tasnya, beralih menatap pada lapangan yang kini sepi, sebelum pintu ruang ganti terbuka, menampakan anak-anak basketnya yang sudah berganti kembali dengan seragam sekolah.
“Dek, mau pulang?” Wawan berjalan menghampiri Bina setelah menggendong tas di pundak.
“Iya Kak, pamit ya,” Bina menganggukan kepalanya.
“Nggak sama Wahyu?”
Bina menggelengkan kepalanya dengan cepat saat pertanyaan keluar dari Wawan. Ia harus menjauh dari Wahyu, ia harus menghilangkan Wahyu dari hatinya. Ia tak mau sakit, ia tak mau pertemanannya hancur hanya karena percintaan. Walau jujur dadanya sesak saat mengingat hal itu.
Ia sudah menghindari Wahyu semenjak dirinya menginjakkan kaki di lapangan ini siang tadi. Ia sudah menghindari Wahyu sedemikian rupa, sampai kontak mata pun tak pernah terjadi di antara mereka.
Gadis itu lagi-lagi menggelengkan kepala nya. “Nggak, Kak. Aku udah pesen ojek,” Bina mengangkat ponselnya menunjukkannya pada Wawan.
“Batalin aja.”
Lagi Bina menggeleng. “Aku duluan deh, Kak,” menganggukan kepalanya, Bina pamit pergi dari sana. Ia takut orang yang baru saja ia lihat keluar dari ruang ganti, akan melihatnya.
Tanpa persetujuan dari Wawan, Bina berjalan cepat keluar dari gedung olahraga, bahkan ia sesekali berlari kecil untuk cepat-cepat menjauh dari tempat itu. Ia harus menghilangkan Wahyu. Ia takut Sila membencinya, ia takut gadis itu tak pernah memaafkannya.
“Dek Bina.”
Derap langkah dan panggilan berhasil membuat Bina berlari dari jalannya. Kenapa sesakit ini? Bina tak mau menyakiti Sila. Sudah cukup masalahnya dengan Irgi dan keluarga. Bina cengeng, kenapa semua hal terasa menyakitkan untuk dirinya.
Irgi... dari mana datangnya keberanian yang pemuda itu miliki hingga berhasil membuat semua orang menyerah tentang harapan mereka. Bina juga ingin bersama dengan orang yang ia cintai, namun ia tak terlalu punya keberanian untuk mengambil sebuah keputusan. Ia tak punya keberanian untuk menyakiti banyak orang. Apalagi orang tuanya, atau Sila. Ia hanya bisa berlari, menjauh.
“Dek Bina.” Berhasil, Wahyu berhasil menggapai lengan Bina.
__ADS_1
Bina hanya diam, menunduk. Menahan air matanya, Bina benci dengan sifat cengengnya. Ia benci kenapa tak terlahir sebagai perempuan yang kuat. Ia benci kenapa ia mencintai Wahyu. Ia benci dengan keadaan orang tuanya. Ia benci dirinya yang menyakiti Sila. Bina benci semua hal tentang dirinya.
“Dek Bina kenapa?” Wahyu menatap Bina yang masih menunduk.
Gadis itu hanya diam. Berusaha menahan air yang akan tumpah. ‘Jangan nangis.’ Bina benci air matanya sendiri.
“Kakak antar pulang ya?” Wahyu menunduk berusaha melihat wajah Bina.
Namun dengan cepat gadis itu memalingkan wajahnya. “Aku udah pesen ojek, Kak,” ucapnya pelan.
Wahyu masih belum melepaskan cekalan tangannya dengan Bina. Walau gadis itu dengan pelan menggoyangkan tangannya, berusaha melepaskan.
“Kakak ada salah ya?” Tanya Wahyu.
Bina diam cukup lama. Tidak, Wahyu tidak salah, Sila.. juga tidak salah. Siapa yang tak marah seorang yang disukainya malah dekat dengan sahabatnya sendiri kan? Dirinya yang salah sudah jatuh cinta dengan Wahyu. Dirinya yang salah sudah dekat dengan pemuda itu. Sila benar, harusnya Bina menjauh dari Wahyu, saat gadis itu memberi tahunya kalau Sila menyukai Wahyu. Harusnya Bina menjauh, bukan malah semakin mendekat.
“Dek,”
“Nggak.” Bina memotong cepat ucapan Wahyu. “Kak Wahyu nggak salah,” lanjutnya pelan.
“Kakak antar pulang ya?” Akhirnya hanya itu yang Wahyu tanyakan kembali.
Bina menggelang, “Aku udah pesen ojek,” gadis itu mengeluarkan ponselnya.
Dengan perlahan Bina menekan-nekan ponselnya, hingga aplikasi ojek kini terpampang di layarnya. “Udah deket ojeknya, Kak. Aku pamit.” Bina perlahan melepas tangan Wahyu dari lengannya. Tanpa persetujuan pemuda itu, ia berjalan pergi dari sana.
Wahyu masih diam di tempatnya. Menatap punggung Bina yang mulai menjauh dari tempatnya berdiri. Kenapa semua orang terlihat aneh sekarang. Irgi yang dari bulan lalu belum berubah, dan sekarang Bina.
Wahyu menghela nafas, ia sadar manusia punya banyak cerita dan rahasia. Ia mencintai Bina. Namun, seakan ada benteng besar di antara mereka yang menghalangi. Seperti banyak masalah, yang sepertinya terlalu berat mereka lewati.
Namun, ia masih belum menyerah. Pelan-pelan ia kan mendekati Bina perlahan-lahan.
'(╹ڡ╹ )
__ADS_1