
(●'◡'●)
Vespa biru Irgi sudah berhenti di halaman rumahnya. Bina turun terlebih dahulu, sedang Irgi memasukan motornya ke dalam garasi.
Bina berjalan pelan ke teras rumah, menunggu Irgi selesai memarkirkan motornya, dan keluar dari garasi.
"Akhirnya datang juga." Pintu utama terbuka, menampakan si tuan rumah yang kini merentangkan tangannya, berjalan menghampiri, menyambut Bina.
"Assalamualaikum, Tante." Bina menyambutnya juga dengan pelukan. sedikit canggung, walau bagaimanapun pertemuan mereka bisa dihitung jari.
"Waalaikumsalam, capek nggak pulang sekolah?" Tina bertanya lembut.
Bina hanya menggeleng canggung. Ini adalah pertama kalinya ia bertamu ke rumah Tina, menurutnya Tina punya selera yang bagus dengan desain rumahnya, rumah dengan model modern klasik dengan banyak tanaman bunga di halamannya, membuat rumah sederhana ini tampak sejuk.
"Assalamualaikum, Ma." Irgi berjalan menghampiri mereka, mencium tangan ibunya.
"Kemana dulu kamu? Kok sore banget jemputnya." Tina memberi pertanyaan pada putra nya. Jarak rumah mereka dengan kost Bina memakan waktu tak sampai lima belas menit, dan mungkin akan lebih cepat jika Irgi menjalankan motornya sedikit lebih kencang. Dan pemuda itu baru saja sampai menjemput Bina, ketika menjelang magrib.
Irgi menggelengkan kepalanya, "gak kemana-mana." Ucapnya kalem.
"Bohong," Tina menatap Irgi, mencari gelagat berbohong pada putranya.
"Gak kok Tante, tadi Bina mandi dulu, jadi lama. Maaf ya tante." Bina membuka suara ketika merasakan sedikit sentuhan kecil pada lengannya.
"Tuuh," Irgi menatap pada ibunya.
"Yaudah yuk masuk." Tina merangkul bahu Bina, membawanya masuk kedalam rumah.
Irgi melihatnya, menghela nafas, kemudian mengikuti mereka.
"Bina suka makan apa?"
"Apa aja Tante." Bina tersenyum canggung.
"Yang paling favorit apa?" Wanita itu membawa Bina menuju dapur.
"Tempe." Ucap Bina ragu.
"Tempe?" Wanita itu menatap Bina.
Bina gelagapan, apa makanan kesukaannya terlalu kampungan? Padahal itu adalah makan yang paling ia suka sejak kecil. Ia suka memakannya anget-anget dengan sambal terasi buatan sang ibu di atasnya. Bina bisa makan hanya dengan lauk itu seharian. Tapi apakah makanan itu terlalu kampungan disini, dikota ini.
"Sayang banget, tante cuma masak ikan balado sama sop sayur. Tadi tante kepikiran beli tempe, tapi bingung, jadinya beli ikan." Tina terlihat menyesal.
Bina sesaat menghela nafas, kembali gelagapan, "ngak papa Tante, aku bisa makan apa aja." Ucapnya.
Tina tersenyum pada Bina. "Yaudah yuk persiapan sholat dulu."
Selesai menunaikan sholat, kini keluarga kecil itu berkumpul di meja makan. Dengan tambahan Bina sebagai tamu yang diundang.
"Ayo Bin, makan." Andi sang pemilik rumah tersenyum melihat Bina.
Bina tersenyum canggung menanggapinya. Ia bingung harus melakukan apa. apa ia harus mengambil nasi sendiri atau diambilkan. Ambil nasi sendiri takut dibilang gak sopan, kalau diambilkan takut merepotkan, sudah numpang makan, manja pula minta diambilkan. Tapi kan Bina diundang disini, jadi Bina harus bagaimana.
Bina terus diam, menunduk memainkan jari-jarinya dibawah meja. 'Ya Allah bu, Bina pengen pulang.' Bina tau mereka tidak akan jahat padanya, tidak akan menilai dirinya yang semena-mena jika ia melakukan kesalahan. Tapi masalahnya Bina juga punya malu.
"Ayo Bina makan." Tina berdiri kala Bina terus menunduk. "Gak papa, gak usah malu, anggap aja rumah sendiri." Wanita itu menyendokkan nasi kedalam piring Bina.
Bina mendongak, melihat piringnya terisi nasi dan lauk pauk yang dipindahkan Tina kedalam piringnya.
"Makasih Tante." Bina tersenyum canggung.
"Iya sok makan sayang." Tina tersenyum lembut pada Bina.
Bina mulai memasukan makanannya ke dalam mulut, mengikuti orang-orang yang kini makan dengan tenang tanpa suara.
__ADS_1
"Jangan nunduk terus, leher kamu sakit nanti." Pemuda disamping Bina berbisik kecil.
Bina hanya meliriknya, melanjutkan makan. Pasangan suami istri dihadapan Bina ini, sangat baik padanya. Walau pertemuan mereka hanya sebentar, tapi Bina bisa merasakan perlakuan keibuan dari Tina, sikap peduli dari kardi. Bahkan Irgi, yang ia tahu menolak perjodohan mereka, masih terlihat baik padanya. Entah bagaimana Andi dan Tina mendidiknya, dan bagaimana pula orang tua mereka mendidik pasangan suami istri di hadapannya.
Diam-diam Bina tersenyum, ia merasa punya keluarga baru disini.
"Bina gimana sekolah pertamanya?" Andi membuka suara, setelah meminum air.
Selesai makan, mereka masih duduk disana, dimeja makan, menunggu perut sedikit mencerna makanan. Menikmati puding yang disajikan Tina sebagai pencuci mulut.
"Seru Om." Balas Bina tersenyum sopan.
"Seru? Emang ngapain aja? Mpls dulu kan ini Gi?" Andi menolah pada Irgi, bertanya.
"Hmmm," Irgi bergumam, kepalanya yang menunduk mengamati puding, ia anggukan.
"Jadi ikut ekskul basket?" Andi kembali bertanya pada Bina.
Bina menggeleng, "gak ada ekskul basket Om."
"Loh, emang iya Gi? Bukannya teman kamu ikut ekskul basket ya?" Andi mengerutkan dahi, pria itu berusaha mengingat teman-teman putranya yang mengikuti esksul basket.
Irgi menyendok puding kedalam mulutnya. "Iya, itu ada basket buat klub cowo, klub cewe gak ada," ucapnya setelah menelan puding, masih dengan posisi yang sama, menunduk memperhatikan puding, mengangguk-anggukan kepalanya.
"Bina gimana? Gak papa? Atau mau pindah sekolah aja? Nanti om urus." Andi menatap Bina. Ia tahu putri dari sahabatnya ini, menginginkan sekolah di kota karena ingin mengikuti ekskul basket impiannya.
Bina balas menatap pria dihadapannya. Perasaannya campur aduk. Ia ingin menerima tawaran Andi, walau bagaimanapun tujuannya datang ke kota bukan karena ingin menerima perjodohan, tapi karena basket. Tapi disisi lain, ia juga tak mau merepotkan Andi. Ayahnya bilang, pria dihadapannya ini sudah berusaha mencari kost dengan susah payah. Apalagi orang tuanya, mereka sudah membayar lunas biaya pendaftaran dan keperluan Bina disini, dan kalau Bina pindah, akan ada pengeluaran keuangan lagi pada keluarganya. Dan itu mungkin akan berdampak pada keluarganya.
"Gak papa Om, di sekolah yang ini aja." Ucap Bina pelan.
Irgi melirik Bina, awalnya ia juga kesal dengan alasan gadis ini menerima perjodohan hanya karena basket, tapi ia juga sedikit merasa kasihan pada nya. Irgi tak tau seberapa berharga basket untuk Bina, tapi melihat Bina menangis, sampai ayahnya menawarkan pindah sekolah hanya karena basket, mungkin memang seberharga itu basket bagi Bina.
"Yakin?" Andi bertanya memastikan.
"Yaudah kalo ada apa-apa hubungi Om, Om siap siaga. Atau Irgi, Irgi juga siap siaga yakan Gi?" Pria itu berdiri, menepuk pundak putranya yang hanya diam menunduk memperhatikan puding nya yang tinggal setengah.
"Hari ini Irgi kan ya yang cuci piring, kalo gitu Om pamit Bin mau kerja." Andi mengacak rambut Irgi, kemudian ia pergi berlalu.
Irgi masih diam, masih memperhatikan pudingnya, dengan rambutnya acak-acakan ulah sang ayah.
Bina menyerngit melihatnya. Heran apa menariknya puding itu, bentuk nya sama tak berubah, rasanya juga menurut Bina enak dan tak ada yang berubah. Tapi kenapa pemuda ini terus memperhatikan pudingnya seolah itu adalah sesuatu yang menarik. Bina mengangkat piring pudingnya, ikut memperhatikan puding miliknya, apa ada yang aneh, menurut Bina tidak ada.
Bina menyerngit lagi, meletakan kembali piringnya diatas meja. Menoleh lagi menatap Irgi yang tak kunjung mengalihkan tatapannya. Ikut memperhatikan puding di piring Irgi.
Tina, wanita yang sedari tadi diam itu terkekeh pelan melihatnya. "Biasa itu Bin, emang gitu anaknya, apa aja diperhatiin, sampe sedetail itu."
Bina menoleh pada Tina, masih bingung akan kelakuan Irgi, yang menurutnya aneh. Apalagi pemuda itu hanya diam, seolah ia tak mendengar apapun yang mereka bicarakan.
"Udah biarin aja pudingnya habis juga berhenti sendiri." Tina berdiri, wanita itu membawa piring kosong bekas makanan kedalam wastafel. "Tante tinggal dulu ya." Kemudian berlalu.
Pemuda yang sedari tadi diam tiba-tiba berdiri, membuat Bina kaget, ia sampai menjatuhkan sendok yang ia genggam. Bina sedikit melirik pada piring puding pemuda itu, sudah habis.
Irgi berjalan menuju wastafel, melaksanakn tugasnya mencuci piring.
Melihat itu, Bina buru-buru menghabiskan sisa pudingnya. Bengkit berdiri, berjalan menghampiri Irgi.
"Aku bantu." Bina berdiri disamping Irgi, mengambil alih spon cuci dari tangan pemuda itu.
"Gak usah saya aja." Irgi berusaha mengambil kembali benda berbusa dari tangan Bina.
Bina dengan cepat menjauhkan tangannya. "Aku bantu," ucapnya.
"Ini tugas saya nggak usah." Irgi menatap Bina.
Bina mendongak, balas menatap pemuda disampingnya. "Tapi aku mau bantu."
__ADS_1
"Tugas saya, biar saya kerjakan."
"Kak Irgi udah bantu cuci piring aku, sekarang gantian."
"Kamu gak boleh maksa, ini hak saya." Irgi menatap Bina sedikit menggertak.
"Pokoknya mau bantu." Rupanya gadis ini tak mau kalah, ia balas menatap garang pada Irgi.
Irgi menghela nafas, agaknya akan sulit berdebat dengan Bina. Ia sudah menatap sedikit menggertak pada Bina, namun gadis ini malah balas menatapnya dengan dengan mata melotot dan dan bibir manyun, tak ada galaknya sama sekali.
"Yaudah." Irgi menyerah. Menerima uluran piring yang sudah disabuni Bina untuk ia bilas.
Beberapa saat mereka terdiam, fokus akan pekerjaan masing-masing.
"Kamu tuh segitu pengennya masuk basket?" Irgi membuka pertanyaan, di sela-sela kegiatannya.
Bina mengangguk disampingnya.
"Kanapa?"
Bina melirik Irgi sinis, "kepo." Katanya.
Helaan nafas terdengar dari pemuda disamping Bina.
"Kamu ke kota mau sekolah yang ada ekskul basketnya, dengan syarat dijodohkan dengan saya, ada sangkut pautnya dengan saya dong."
"Ya terus kalo ada sangkut pautnya kenapa?"
Irgi kembali menghela nafas mendengar nada bicara Bina yang terkesan mengejek dan meremehkan, dengan kepala menggeleng kanan kiri, dan gerak bibir yang berlebihan.
"Saya perlu tahu."
"Gak usah, nanti juga kak Irgi tau sendiri."
"Bin." Perbincangan itu terhenti kala suara dibelakang mereka menginterupsi.
Bina berbalik badan merasa terpanggil. Dari daun pintu dapur terlihat Tina perjalan terburu ke arah mereka.
"Kenapa ma?" Irgi bertanya.
"Bin, maafin tante ya, papa nya Irgi ada kerjaan keluar kota malam ini mendadak, tante juga ikut. Jadi kamu sama Irgi aja ya, atau kamu mau pulang aja juga gak papa."
"Iya ngak papa Tante, Tante pergi aja nanti Bina sama kak Irgi." Oke jangan membayangkan Bina akan merasa Bahagia didalam hati karena hanya ditinggal berdua dengan Irgi.
"Atau mau nginep disini juga ngak papa, nemenin Irgi di rumah." Tina tersenyum, melihat kedua remaja di hadapannya.
"Ngak Tante, nanti Bina langsung pulang aja." Bina melambaikan tangan di depan dadanya. 'Waduh ni orang tua ngak takut apa, anaknya aku diapa-apain.'
"Ya udah kalo gitu tante pergi ya." Tina memeluk Bina, yang disambut juga dengan hangat oleh gadis itu. kemudian berlalu diikuti Bina dan Irgi, mengantar mereka sampai depan teras.
"Anterin pulang yuk kak." Ucap Bina kala mobil yang ditumpangi pasangan suami istri itu hilang dari pandangannya.
Irgi tak merespon berlebihan ia hanya mengangguk. Namun tetap berdiri ditempatnya tanpa melakukan apapun.
"Kak." Bina mencolek lengan Irgi.
Pemuda itu menatap Bina, mengerutkan dahi, tangannya terangkat memegang dimana tempat Bina mencoleknya.
Bina ikut mengerutkan dahi menatapnya. 'Kok begituuu.' Bina berkata dalam hati, bingung. Kebingungan Bina bertambah Ketika Irgi berjalan masuk begitu saja meninggalkanya.
"Saya ambil kunci." Teriakan pemuda itu dari dalam.
(✿◡‿◡)
ILY
__ADS_1