
( *︾▽︾)
"Bina, kantin yuk."
Ajakan Sila begitu menggiurkan, membuat Bina langsung berdiri dari duduk nya setelah memasukan buku pelajarannya kedalam tas.
Sudah hampir satu bulan sejak perbincangannya dengan Irgi kala itu. Sebulan juga Bina tak melihat pemuda itu, paling-paling Irgi hanya mengantarkan makanan titipan tante Tina untuknya, itu pun tak ada suara yang terucap selain menginformasikan kalau makanan itu dari mamanya, atau ia melihat pemuda itu di lapangan basket menemani temannya bermain. Sikapnya tak berubah, ia tak sinis atau mengubah cara bicaranya, itu masih Irgi yang biasanya berkomunikasi dengannya. Hanya saja perbincangan mereka lebih terkesan singkat dan tidak panjang lebar, seperti saat mereka mengobrol di atas motor.
Mereka seperti benar-benar asing, saat papasan di sekolah atau sering juga Bina lihat pemuda itu di parkiran menunggu Pita untuk ia antar pulang. Tak ada kata sapaan yang mereka lontarkan, bukan apa, tapi ini yang memang Bina mau.
"Yuuk." Ucap Bina, ia menggandeng tangan Sila.
"Eits mau kemana?" Rara sang bendahara kelas mencegat mereka, menagih uang kas sesuai tugasnya.
Sudah hampir satu bulan lebih ia bersekolah, selama itu pula ia mengenal manusia-manusia yang ada di kelasnya sekarang. Sekarang, mungkin bukan hanya Sila yang menjadi temannya, tapi seisi kelas menjadi temannya, Bina sendiri tak terlalu memilih-milih dalam pertemanan.
"Berapa?" Tanya Bina.
"Kayak biasa." Rara, gadis itu menadahkan tangannya ke arah dua perempuan di hadapannya.
"Woy Erik, mau kabur kemana lagi lo?" Rara mengacungkan tangan kanannya ke arah pintu, dimana remaja lelaki bernama Erik hendak melewati daun pintu. "Bayar utang nyet, nunggak lo dari awal masuk sekolah sampe sekarang." Ucapnya.
"Pasti ngutang lagi dah tu." Tebak Sila.
"Nanti Ra, tagihnya kalo udah lulus, mayan buat jalan-jalan sekelas, si Erik nggak usah diajak." Bina mencolek lengan Rara, tersenyum.
"Ide lo boleh juga sih Bin." Rara menatap Bina.
"Ck, besok." Erik berteriak dari luar kelas.
"Jangan sampe gue datengin rumah lo ye," Rara masih menggebu-gebu, berteriak.
"Anjay yayang Rara jangan galak-galak dong." Godaan itu dilontarkan dari bangku belakang Bina.
"Diem lo." Rara melemparkan pulpennya kearah pemuda itu, yang ditangkap dengan mudah olehnya.
Bina terkekeh merogoh saku seragamnya, memberikan uang kertas berwarna hijau pada Rara. Sepertinya semua bendahara kelas memang galak.
"Ck, Bin gak ada yang lebih kecil gitu, dari tadi gak dapet receh gue." Rara berdecak.
"Miskin amat bu bendahara." Bina merogoh pada tasnya, ia ingat masih menyisakan uang jajannya kemaren, memberikan uangnya pada Rara.
"Ye baru juga menjabat sebulan gue, makasih."
__ADS_1
Setelah mereka berdua selesai dengan si bendahara, Bina menarik Sila keluar kelas menuju kantin. Selama ia bersekolah, ia dan Sila sudah pernah mengelilingi sekolah ini beberapa kali, untuk mengingat jalan-jalan atau tempat yang belum mereka tau, sekarang mereka telah hafal rute-rute nya.
"Bina mau makan apa?" Sila menatap seisi kantin guna melihat makanan yang sekiranya menggiurkan dimatanya.
"Apa ya?" Bina juga melakukan hal yang sama. "Bakso?" Tunjuk Bina kala menemukan tukang bakso, yang ia kira mungkin saja enak, karena melihat antriannya yang lumayan, walau tak sebanyak gerobak ketoprak yang ada di sebelahnya. "Baksoh yang lejat dan bergijiww." Celetuknya.
"Kuy." Sila mengacungkan tangannya, menarik Bina menuju ketempat yang Bina lihat.
"Bina hari ini ngelatih basket ya?" Sila bertanya, kala mereka sudah duduk dan mulai menikmati bakso di hadapan mereka.
Bina mengangguk, Wahyu memintanya mengajarkan basket pada teman-temannya. Pemuda itu bilang bahwa mereka hanya pebasket amatir dan perlu ajaran dari Bina yang sudah lomba sana sini. Bina sempat menolaknya, ia tak sejago itu sampai harus melatih mereka seperti seorang senior, lagipula mereka bahkan senior Bina disekolah, Bina sungkan untuk mengajari mereka. Namun pemuda itu memaksanya, karena beberapa bulan lagi mereka akan tanding dan pelatih mereka sudah tak mengajar mereka lagi karena suatu hal. Pemuda itu juga mengiming-imingi Bina dengan bayaran, Bina pikir itu bisa menambah uang jajannya, jadi ia terima. Ia juga masih bisa bermain basket walau tak langsung.
"Main basket gimana sih?" Sila menopang dagunya menggunakan tangan kiri sedang tangan kanannya mengaduk-aduk bakso yang sudah tinggal setengah.
"Mau liat?" Tanya Bina.
Sila menggeleng cepat, "nanti dimarahin papa," ucapnya cemberut, mengingat ia juga pulang sekolah bersama papanya.
"Naik ojek?" Tanya Bina, memberikan saran.
Sila menggeleng kembali, kedua orang tuanya begitu takut akan tukang ojek, entah kenapa.
"Yaudah." Ucap Bina.
"Kayak biasa kita pulang eskul PMR." Sila mengangguk-anggukan kepalanya kala mendapat jawaban Bina.
"Kamu pulangnya naik apa?"
"Naik ojek online sih, kenapa?" Tanya Bina, menatap Sila.
"Aku kira dianterin siapa gitu." Sila tersenyum menggoda pada Bina.
"Apa Sih, enggak lah." Bina melambaikan tangannya pada Sila. Lagi pula, ia baru saja melatih basket beberapa hari. Bina juga tak berminat memacari salah satunya, naksir saja enggak.
"Masa?" Tanya Sila.
Sila masih tersenyum menggoda Bina, mencolek-colek lengan gadis itu, barangkali juga sahabatnya itu kepincut dengan salah satu pemain basket SMA mereka, Sila akan bantu kecuali satu orang.
"Halo, boleh duduk disini?"
Suara itu mengalihkan Sila dari Bina. Keduanya kini menatap pada satu pemuda yang berdiri disamping Bina, dan dua pemuda lagi disamping Sila, membawa mangkok berisi bakso dan segelas teh ditangan masing-masing.
Bina menatap Sila meminta persetujuan, namun seperti dejavu, gadis yang Bina lihat itu hanya memandang satu arah tak mengalihkan pandangannya. Bina menghela nafas, kemudian tersenyum kearah pemuda yang tadi bertanya, menganggukan kepalanya.
__ADS_1
"Dek Bina, nanti sore pulang sekolah jangan lupa ya?" Wahyu pemuda yang berdiri disamping Bina tadi membuka pembicaraan, setelah mendudukan dirinya, di sebelah Bina.
"Iya Kak." Bina mengangguk, walau sering ketemu masih sedikit sungkan.
Uhuk uhuk
Suara itu berhasil mengalihkan atensi semua orang di meja mereka pada pemuda yang kini terbatuk, menutup mulut nya menggunakan tangan.
"Minum Gi." Ucup, mengangkat segelas teh, memberikannya pada temannya, yang langsung disambut oleh pemuda itu.
"Makasih." Irgi berucap setelah menghabiskan setengah gelas es tehnya.
"Hati-hati Gi." Wahyu menepuk pundak Irgi, menenangkannya pemuda dihadapannya.
Irgi hanya mengangguk pelan, pemuda itu mulai melanjutkan makan, diikuti teman-temannya. Bina meliriknya, tak ada yang berubah dari pemuda itu, namun rasanya aneh, mereka seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar dan tak mau mengucapkan permintaan maaf satu sama lain. Biarlah, Bina juga tak mengharap pemuda itu mengenalnya, jika disekolah. Lebih baik begini, mereka memang tidak kenal kan seharusnya.
"Proposal tugas pak Budi siap Gi?" Ucup menyenggol lengan Irgi, Ketika dirasa pemuda itu sudah tenang.
"Udah tinggal print." Irgi menjawab, matanya tak ia alihkan dari bakso yang ada di hadapannya, mengamatinya dengan sesekali memakannya.
"Bareng Gi ngeprint nya, gue juga mau ngeprint, si Panjul gak mau ngeprint soalnya." Wahyu menyahut, ia melahap bakso terakhir di mangkoknya.
"Kamu basket." Ucap Irgi, ia mendongak menatap Wahyu.
"Tungguin selesai basket ya, please." Wahyu menyatukan telapak tangannya.
"Ck, sama Ucup aja kalo gitu." Irgi kembali pada aktivitasnya, mengamati bakso.
"Gue ada janji with my lop." Ucap Ucup.
"Dih my lop katanya." Wahyu tersenyum mengejek pada Ucup.
"Jomblo diem." Ucup menudingkan telunjuknya kearah Wahyu, membuat pemuda itu merapatkan bibirnya. Sepertinya ia baru saja disadarkan bahwa disini Cuma dirinya yang jomblo di antara trio UWI.
"Yaudah saya tunggu." Irgi berucap mengakhiri.
Bina dan Sila yang sedari tadi mendengarkan hanya bisa diam, ini yang punya meja mereka atau si trio ini sih. Sila yang biasa nya cerewet bahkan sekarang diam, mungkin juga tak enak karena semeja dengan kakak kelas. Gadis itu juga sendari tadi menendang-nendang kaki Bina dibawah meja, mungkin mulutnya sudah gatal ingin mengeluarkan gosip yang sempat gadis itu bilang pada Bina untuk dibicarakan di kantin, namun berakhir tak jadi, karena si trio ini.
Sudah beberapa hari Bina bertemu dengan Wahyu, membuatnya tau bahwa ketiga pemuda yang kini duduk semeja dengannya memiliki julukan sendiri, yaitu UWIW singkatan dari nama ketiganya, dan juga nama ketua osis mereka, Wawan yang juga kapten basket mereka. Sebutan itu juga dibuat sendiri oleh Wahyu, namun karena si ketua osis sibuk dan jarang bergabung dengan mereka, maka lebih sering mereka disebut dangan trio UWI.
"Sip, Irgi nemenin basket lagi." Wahyu mengepalkan kedua tangannya keatas.
q(≧▽≦q)
__ADS_1