Bercerita Tentang Kita

Bercerita Tentang Kita
part 20


__ADS_3

-O-


“Sok Bin, duduk dulu.” Tina berucap ketika Bina baru melangkah memasuki rumahnya.


Rumah keluarga Tina ini begitu tenang entah kenapa, apalagi dihari libur begini. Terasa sepi entah kemana orang-orang yang tinggal dirumah ini, hanya ada Tina yang Bina lihat ketika memeasuki rumah ini. Ini adalah kesekian kalinya ia diundang datang untuk datang bertamu di keluarga ini.


“Lagi pada keluar Bin, papanya Irgi ada kerjaan diluar kota. Irgi tadi pamit mau kerja kelompok, tapi tante udah pesen kok suruh pulang sebelum makan malam.” Tina datang dari arah dapur setelah meninggalkan Bina tadi, ditangannya terdapat nampan berisi minuman.


Bina hanya mengangguk tersenyum, “Tante sendirian dong?”


“Iya, sama Irgi doang, tapi cuma dua hari papanya Irgi disana, jadi nggak papa.” Tina tersenyum menatap Bina, meletakan minuman di atas meja. “Sok diminum dulu.” Ucapnya.


“Tante udah masak?” Tanya Bina, meletakan gelas setelah meminumnya.


“Nggak, tante nggak masak, tante beli, nanti makanannya bentar lagi dateng. Lagi males masak.” Tina tersenyum bercanda pada Bina.


Bina hanya mengagguk-anggukan kepalanya tersenyum menanggapi. Obrolan terus mengalir begitu saja. Untungnya Tina ini adalah tipe ibu-ibu yang sangat baik, dan mengerti bagaimana anak muda itu seharusnya, jadi ya Bina juga tidak secanggung dulu ketika pertama kali datang. Bina rasa, Tina bisa saja jadi teman yang menyenangkan untuknya. Selain obrolan mereka yang menyambung, Bina juga bisa mendapat ilmu-ilmu baru dari wanita itu.


“Assalamualaikum.”


Ucapan salam itu, membuat Bina dan Tina menengok, menyauti salam bersama. Pintu rumah terbuka, seorang pemuda dengan kemeja coklat dan tas sekolah dipunggungnya, berjalan masuk kedalam rumah. Pemuda itu menghampiri Tina, mengambil tangan wanita itu untuk disalimi.


“Dari mana sih Gi?” Tina memukul pelan lengan putranya.


“Dari rumah Wahyu ma, kerja kelompok, kan tadi udah bilang.” Irgi menjawab lembut.


“Malem pulangnya.” Kesal Tina, ini sudah hampir memasuki waktu makan malam, dan pemuda itu baru saja pulang.


“Maaf. Ke kamar dulu ma, mau bersih-bersih.” Irgi pergi, memasuki pintu berwarna coklat, setelah mendapat anggukan dari Tina.


Bina hanya diam melihat interaksi kedua ibu dan anak itu. Pemuda itu juga melewati Bina tanpa menyapa atau bahkan sekedar melihatnya sebentar. Mengingat sehari yang lalu pertengkaran mereka, Bina jadi tidak tau harus bersikap apa pada pemuda itu nanti dihadapan Tina. Walau tak pernah mengeluarkan bayak kata kalau dihadapan orang tua, tapi dulu masih ada Andi yang akan mencairkan suasana, sedang Tina sendiri bukan perempuan cerewet yang banyak tanya. Apa makan malam mereka kali ini akan sunyi.


Tak lama Tina bangkit dari duduknya, pamit keluar mengambil makanan, setelah mendengar bel rumah berbunyi beberapa kali. Berkata pada Bina untuk menyiapkan piring untuk mekanan mereka.

__ADS_1


Bina sedang mengelap piring-piring yang akan mereka gunakan untuk makan, saat pemuda bernama Irgi ini mulai muncul, dengan setelan yang sudah berganti, dengan baju rumahan. Tanpa kata, pemuda itu mengambil lap dari tangan Bina, mengelap piring-piring yang tersisa. Bina hanya diam, tak tau harus merespon seperti apa. Pemuda itu juga diam, mengerjakan pekerjaan yang ia curi dari Bina.


Terdiam cukup lama, karena bingung melakukan apa, akhirnya otak Bina bekerja. Ia mulai mengambil lap baru dan mengelap sendok dan garpu, yang belum satu pun di lap. Keterdiaman mereka membuat Bina canggung, sepi sekali rasanya. Perdebatan mereka sehari lalu, membuat Bina sendiri begitu tak mau bertemu dengan pemuda dihadapannya. Namun undangan dari Tina tak bisa ia hindari begitu saja. Wanita itu akan menghalalkan segala cara agar ia mau bertamu kerumah mereka, dan dengan itu pasti saja ia dan pemuda ini akan bertemu.


Bina terkejut saat sendok-sendok yang berada ditangannya, diambil begitu saja oleh pemuda disampingnya ini. Bina lihat piring-piring sudah dilap bersih oleh Irgi, mungkin pemuda ini mau membantunya. Namun tidak bisakah mengambil sendok  yang tidak berada ditangan Bina. Mengabaikannya, dengan sedikit jengkel, Bina mengambil sendok yang belum ia lap. Namun tak lama sendok itu kembali di rebut oleh Irgi. Tolonglah, apa begini marahnya seorang Irgi, apa-apa direbut, apa-apa ia tidak boleh mengerjakan, menjengkelkan. Bina mengambil sendok baru, saat baru saja ingin mengelapnya, sendok itu kembali direbut.


Menghentakakn kakinya, “ck, kakak tuh kenapa sih?” Decak Bina.


Irgi hanya diam tak merespon Bina, pemuda itu fokus untuk mengelap sendok-sendok yang tersisa. Mengabaikan Bina yang kini dengan kesal membanting lap ditangannya ke atas meja makan, mendudukan dirinya pada kursi meja makan, menjauh darinya. Kemudian hening, kembali mereka sama-sama diam, Irgi dengan pekerjaannya, sedang Bina dengan rasa jengkelnya.


“Seafood nih, Bina suka nggak?” Suara Tina seketika membuyarkan keheningan diantara mereka.


“Suka tante.” Bina berubah tersenyum senang. Selain mereka baik, kali ini Bina juga suka ketika diundang kerumah mereka untuk makan, karena ia pasti akan makan enak. Maklum saja anak kost sepertinya paling mewah makan daging ayam, yang sekali masak bisa ia makan berhari-hari. Namun tak enaknya adalah ketemu dengan Irgi, apalagi setelah perdebatan mereka.


Tina mengambil salah satu piring berukuran besar yang sudah di lap bersih oleh Irgi. Menungakan seafood kedalam sana. Setelahnya menaburkan bawang goreng toples yang wanita itu ambil dari kulkas. Kemudian mereka bertiga duduk, mulai menyantap makanan mereka.


“Ini Bin, lobsternya enak.” Tina menyodorkan salah satu hewan laut itu pada Bina.


“Iya tante,” Bina menerimanya, tersenyum senang. Bagaimana tidak senang makan seafood gratis, lidah senang, hati pun senang. Sejak tinggal disini Bina jarang makan mewah, kalau keluarga ini tidak mengajaknya makan.


Irgi hanya diam menerimanya, pemuda itu menungakan banyak bawang goreng pada piringnya. Kemudian memakannya dengan diam pula. Sendari tadi pemuda itu memang hanya diam tak merespon obrolan yang sesekali keluar dari Tina maupun Bina.


“Irgi tuh suka banget sama bawang goreng loh Bin, kalo nggak dilarang, bakal diabisin semua tau bawang gorengnya sama dia." Tina menyeletuk. Bina hanya mengangguk-anggukan kepalanya.


“Ini Bina kenapa nggak dimakan udangnya, padahal tante beli yang eksra udang loh, enak.” Tina menyedokan udang, hendak ia taruh kedalam piring Bina.


Sebelum itu, Bina menahan tangan wanita itu. “ Bina alergi udang tante.” Ucap Bina cepat.


“Oalah, maaf yah. Sayang banget Bin, padahal tante kira bakal suka kamu sama udangnya, enak soalnya." Tina memasang raut bersalah.


“Iya nggak papa tante,” ucap Bina tersenyum.


“Eh Bina, mau nonton nggak? Mumpung lagi malam minggu.” Tina membuka suara ketika mereka sudah membereskan makanan mereka.

__ADS_1


Bina mendongakan kepalanya menatap pada wanita dihadapannya. “Nggak tante.” Ucap Bina, canggung. Ia melirik pada pemuda dibelakangnya, yang masih terduduk diam.


“Nggak papa, nanti dibayarin Irgi.” Ucap Tina, melihat pada putranya.


Bina menggeleng cepat, “nggak tante, nggak usah.”


“Loh nggak papa.” Tina meletakan piring-piring kotor pada wastafel, berjalan mengehampiri Irgi, menepuk pundak pemuda itu pelan. “Diajak tuh Gi, Binanya nonton. Mumpung malam minggu.”


Ucapan Tina berhasil membuat Irgi mendongak, melihat pada wanita itu. “Yaudah, ayo.” Ucapnya, namun tak sedikit pun melirik pada Bina.


Mendengar nada persetujuan itu, Bina panik. “Nggak, nggak usah. Takut ngrepotin juga.” Ucapnya, bukan apa ia nanti bingung bagaimana jika berdua dengan pemuda itu. Ia tak mau terjebak dalam suasana canggung yang membuatnya tak nyaman nanti.


“Udah, nggak papa Bina. Sana Irgi ganti baju. Biar mama yang cuci piring.” Ucapan Tina langsung dituruti oleh pemuda itu. Irgi berjalan meninggalkan mereka untuk berganti baju mungkin.


“Nanti tante sendirian dong.” Ucap Bina, masih berusaha mencari alasan untuk tidak hanya berdua saja dengan pemuda itu.


“Nggak papa, tante udah gede, berani.” Goyun Tina. Wanita itu berjalan menuju wastafel, mencuci piring-piring mereka.


“Aku disini aja, temenin tante ya.” Tolong Bina tak mau berada dikeadaan dan suasana tidak enak nanti, karena ia sudah menebak bagaimana mereka hanya berdua saja. Ya Tuhan Bina tidak mau disituasi seperti itu.


“Udah sana.” Tina mendorong pelan bahu Bina menjauh dari dirinya. Bina menggeleng, menampakan raut menolak, namun suara dibelakangnya mengintrupsi mereka.


“Ayo.” Pemuda itu sudah siap dengan kemeja coklat, namun modelnya berbeda dengan pertama kali Bina lihat saat pemuda itu baru memasuki rumah.


“Tuh udah siap. Sana.”


Bina hanya pasrah saat didorong kembali oleh Tina. Wanita itu tidak mendorongnya dengan keras, namun tetap bisa membuat Bina, lebih dekat lagi dengan Irgi, hingga ia menabrak pemuda itu. Untung saja dirinya tidak terjatuh karena tangan Irgi yang menahannya. Bina berjalan mundur dengan diam saat menyadari posisinya dengan Irgi sekarang. Sedang sang pelaku hanya tersenyum geli.


“Pamit dulu mah.” Irgi menyalami tangan Tina, kemudian menolah pada Bina yang hanya diam ditempatnya. “Ayo.” Ajaknya.


Bina dengan setengah hati, ikut menyalimi tangan Tina. Membuat wanita itu terkekeh geli melihatnya. Tolong, Bina tarik kata-katanya soal wanita ini yang begitu baik.


“Pamit tante.” Ucap Bina, kemudian berjalan mengikuti Irgi, setelah mengucapkan salam.

__ADS_1


→_→←_←


__ADS_2