
( ´・・)ノ(._.`)
Bina membuka ponselnya menggunakan tangan kirinya, sedang tangan kanannya kini sedang menyendokkan nasi goreng yang ia beli di depan kos tadi.
Malam ini, Bina sedang malas untuk memasak, walau jujur saja bahan masakan dalam kulkasnya sekarang masih banyak, sebab baru saja berbelanja pagi tadi. Namun tetap saja rasa malasnya mendominasi.
Dada Bina berdebar karena suara dering dari ponsel kini terdengar, menunggu ponsel di seberang sana diangkat oleh pemiliknya.
Bina tersenyum tipis melihat wajah sang ibu yang kini tersenyum menatap layar ponsel. “Ibu apa kabar?” Bina bertanya pelan. Sungguh ia merindukan wajah teduh itu, ingin rasanya ia lihat secara langsung. Memegang kulit wajah itu dalam telapak tangannya.
“Baik, Bina gimana, sehat Nak?” Lilis tersenyum lembut menatap putrinya.
Bina mengangguk, tak lama kemudian ia mengalihkan kamera ponselnya ke arah lain, menahan air matanya yang ingin jatuh. Sudah sebulan dirinya tak menghubungi ibu atau ayahnya. Terakhir ketika dirinya di rumah sakit. Ia tak berani menelepon, atau bahkan mengangkat telepon dengan nama Lilis atau Kardi sekalipun. Ia takut melihat wajah kecewa mereka.
"Sehat Bu, aku makan nasi goreng.” Bina berucap sangat pelan, membalikkan kamera ponselnya mengarah pada nasi gorengnya yang tinggal setengah. Menyembunyikan wajahnya yang kini sudah hampir sepenuhnya basah oleh air mata.
“Wah enak tuh kayaknya, ibu mau deh kalo kesana, kita makan itu ya?” Nada ceria Lilis keluar dari speaker ponsel Bina.
“Iya nanti kita coba ya, Bu.” Bina mengusap air matanya, mati-matian gadis itu menahan nada suaranya agar tak terisak.
“Yaudah, Bina makan yang banyak biar sehat,” ucap Lilis.
Bina hanya diam mengangguk, menatap wajah Lilis yang kini memenuhi layar ponselnya, walau ia tahu wanita itu tak melihatnya. Bina sesekali menahan nafasnya saat isak tangisnya hampir saja keluar. Dadanya sungguh sesak.
Wajah wanita itu tak menampakan wajah kecewa atau sedih, malah lebih terlihat bahagia dan ceria. Ia tahu ibunya bukan seorang yang pandai berbohong soal raut wajah, namun wajah yang kini ia lihat memang tak ada kepura-puraan disana.
Walau begitu, berhasil membuat Bina berurai bayak air mata. Bina menunduk berusaha menahan isak tangis nya agar tak terdengar sampai ponsel seberang sana.
Mereka hening sejenak. Lilis masih tersenyum manis di depan layar, wanita itu tak membahas perjodohan, juga tak menyinggung tentang kenapa telponnya tak pernah diangkat atau kenapa Bina tak menelpon mereka selama ini, wanita itu hanya tersenyum menatap ponselnya yang mengarah pada nasi goreng Bina.
Bina tak tahu harus berkata apa lagi. Fokusnya kini hanya menangis tanpa isak sebisa mungkin. Hanya melihat wajah ibunya yang bahkan terlihat bahagia dirinya menangis seperti ini, bagaimana jika wajah yang ia lihat adalah wajah kecewa. Bagaimana jika itu adalah wajah ayahnya.
“Bina...” Lilis memanggil setelah beberapa lama mereka hening.
“Iya,” Bina menahan suaranya.
“Bina harus bisa jaga diri ya disana. Ibu sebenarnya khawatir, walaupun disana ada Tina dan Andi, tapi ya mereka juga nggak tinggal sama kamu.” Lilis berucap lembut.
“Kalau semisal ada apa-apa, sebisa mungkin Bina harus bisa jaga diri sendiri.”
Kemudian hening. Bina masih diam, tak merespon Lilis. Ia mendengarkan tapi juga tak bisa menanggapi.
__ADS_1
“Bina....”
Bina hanya berdehem, pipinya masih terus basah, walau terus ia hapus air-air itu dari wajahnya.
“Nanti janji ya sama ibu, Bina harus menikah.”
Lembut, lembut sekali tutur kata itu. Namun berhasil membuat uraian air mata Bina terjun semakin banyak. Ia remas lerah bajunya sendiri, dadanya nyeri mendengar kalimat itu keluar dari bibir ibunya sendiri.
“Sama siapapun, asal dia baik. Bina harus menikah.”
“Ibu takut nggak bisa jagain kamu, ibu takut nggak kuat jaga kamu dan Apin,” Lilis berucap dengan kata terakhir yang ia ucapkan dengan sangat lirih.
Bina bergumam dengan isak tangisnya. Ia sudah tak bisa menahannya, hingga isak kini terus berlanjut seiring tangisnya.
“Menikah ya, Bin.” Lilis kembali tersenyum mendengar isak tangis putrinya, dengan senyum yang berhasil membuat Bina menangis tergugu.
“Ayah masih berharap dengan kamu sama Irgi.”
“Tapi itu semua terserah kalian.”
“Ayah cuma mau kamu ada yang menjaga. Takutnya nanti terjadi sesuatu.” Pelan sekali kalimat terakhir yang keluar dari bibir Lilis.
Bina masih tak menanggapi, gadis itu hanya menangis tergugu.
Hening lagi di antara keduanya. Lilis yang masih menatap layarnya yang menampakan nasi goreng. Dan Bina yang mulai kembali memakan nasi goreng, walau dengan sesenggukan.
“Si Apin udah tidur, Yah?” Suara Lilis terdengar bertanya pada seseorang di sana, setelah sekian lama.
Suara lelaki yang Bina kenal terdengar mendekat menjawab, yang tak terlalu Bina dengar. Dadanya kini berdetak hebat. Rasa sesak kembali ia rasakan. Air matanya sudah berhenti terjun, namun perasaannya kini menjadi tidak enak.
Apa ayahnya kan kecewa dengan dirinya. Apa ayahnya akan marah dengannya. Apa ia tak akan mewujudkan harapan ayahnya, harapan ibunya, harapan semua orang. Atau dirinya akan mengabaikan semua harapan orang lain. Atau mengecewakan banyak hati?
“Bina apa kabar, Nak?”
Bina memejamkan matanya, saat suara dan kamera ponsel kini beralih pada ayahnya. Bina tak sanggup menatap wajah itu, Bina tak sanggup mendengar suara itu. Apa Kardi akan menampakan wajah kecewanya.
“Wah, Bina makan nasi goreng?” Suara sumringah itu masih Bina dengar, namun ia masih tak berani untuk membuka matanya.
“Ayah mau dong, biar tambah cuaks.”
Bina tersenyum dalam pejaman matanya. Walau mengesalkan, ia selalu rindu dengan banyolan ayahnya tentang kecuaks-an pria itu. Atau tentang semua kejahilan nya. Kejahilan bapak-bapak yang membuat jengkel. Tingkah konyolnya, atau keisengannya dengan Bina atau Apin.
__ADS_1
Pertengkaran-pertengkaran kecil mereka, yang selalu buat Bina jengkel, dan berakhir dimarahi oleh Lilis. Nasihat-nasihat yang kadang juga terucap dari mulut ayahnya yang selalu berkata cuaks. Video-video lucu dari hok-hok yang akan pria itu tunjukan padanya, walau Bina tak sampai pada joksnya yang sangat bapak-bapak.
Ia rindu semuanya.
Dan ia takut, semuanya tak akan terjadi lagi.
Lelehan air matanya menerobos keluar dari sela-sela matanya yang masih terpejam kembali membasahi pipi. Bina menangis lagi. Dadanya semakin sesak, mengingat hal-hal yang mungkin tak akan terulang lagi. Ia rindu ayahnya, ia rindu ibunya. Ia takut mereka tak bisa berkumpul lagi nanti.
“Bina kok diem, Nak?” Pertanyaan dari Kardi tak Bina sahuti.
Menangis lagi. Bina lemah. Ia cengeng. Kenapa ia terlahir dengan sifat yang cengeng sekali. Bina benci. Bina menunduk masih memejamkan matanya, ia menangis dengan segukkan isak yang tak ia tutup-tutupi lagi. Ia takut melihat wajah kecewa ayahnya. Ia takut sekali.
“Bina...” Lembut Kardi memanggil putri sulungnya.
“Ayah nggak marah.” Masih lembut sekali.
Kardi menghela nafas melihat layar ponselnya, yang masih belum beralih dari nasi goreng. Bina tak menyahutinya. Tak juga menampakan wajahnya.
“Ayah tau kalian masih punya banyak hal yang harus dikejar.”
“Ayah hanya takut kamu tak ada yang menjaga.”
“Ayah pilih Irgi, karena ayah yakin keturunan dari Andi pasti baik untuk kamu.” Jeda sekian detik dari Kardi. Sedang Bina, sama sekali tidak mengeluarkan suara. Ia bahkan masih memejamkan matanya, yang masih mengeluarkan bulir-bulir air.
“Ayah sama Om Andi itu temenan dari lama. Ayah tau perangainya kaya gimana. Kalau seandainya, Irgi menyakiti kamu. Andi yang akan bertindak pada anaknya. Karena ayah yakin, Andi sayang sama kamu.”
“Tapi ayah yakin, Irgi itu laki-laki yang baik.”
Kardi terdengar menghela nafas di seberang sana. Sangat dalam. Hingga dada Bina sesak rasanya.
“Tapi kalau kalian punya pilihan lain, gapapa. Itu kehendak kalian.”
“Ayah kan menawarkan sama kamu juga waktu itu, jalani dulu, kalau memang Bina nya nggak mau, ya nggak papa.”
Bina membuka matanya, pandangan yang pertama kali dilihat adalah wajah Kardi yang tersenyum memenuhi layar ponsel Bina. Senyum tulus penuh kelembutan. Namun berhasil pula menusuk dada Bina dengan halus pula. Sesak sampai isak tangisnya sekarang lebih nyaring dari sebelumnya.
Apa Bina benar-benar seorang penghalang bagi semua harapan orang. Ia takut, takut semua yang ada dalam pikirannya benar-benar terjadi.
Bina takut. Benar-benar takut. Ia tak tahu harus melakukan apa. Ia tak punya kekuatan atau keberanian besar, untuk melakukan banyak hal. Ia takut.
/_
__ADS_1