
:O)
“Gaes, upacara gaes, keluar.” Apis berteriak dari arah pintu, mengetuk pintu itu dengan tangannya, menyuruh teman-temannya yang berjalan dengan lambat keluar kelas.
“Ck kenapa upacara sih, mendung juga, tar ujan bubar.” Erik mencibir melangkah malas keluar kelas, mengenakan topinya.
“Ya mana gue tau. Bilangin aja gurunya.” Apis mendorong punggung pemuda itu agar lebih cepat berjalan.
“Tar bayar kas jangan lupa Rik.” Rara menepuk punggung pemuda itu, tersenyum cerah.
“Ya.... besok ya.” Erik menggaruk belakang lehernya tersenyum konyol melihat Rara. Dan kalimat itu berhasil membuat punggung pemuda itu mendapat damprat dari telapak tangan Rara.
“Bina ayo.” Sila berteriak menggandeng lengan Bina yang sudah menunggunya di depan pintu.
Sila berjalan dengan lengan yang bergandengan dengan Bina. Kedua gadis itu berjalan menjalan mendahului manusia-manusia lain yang kini memandang mereka dengan raut bingung, kecuali Rara yang kini menyunggingkan senyumnya menatap kedua gadis itu.
“Itu.... udah baikan Ra?” sinta menghampiri si gadis bendahara itu, menunjuk dua gadis yang sudah melangkah mendahului mereka.
Rara mengangguk tersenyum.
“Gimana?” Andri juga ikut menghampiri Rara.
Rara mengedikkan bahunya tanda tak tau. Ia baru saja memasuki toilet sekolah dan kedua gadis itu sudah berbaikan entah bagaimana ceritanya. Mungkin ada mukjizat di dalam toilet yang membuat keduanya saling membuka hati untuk saling memaafkan. Entahlah, yang penting mereka sudah kembali seperti kembar siam lagi.
“Yok ges ke lapangan.” Apis mendorong punggung teman-temannya yang masih saja berdiri tak menggerakan kaki mereka untuk melangkah.
....
“Bina duluan yah, aku dijemput papa.” Sila melambaikan tangannya. Ketika melihat seorang pemuda berjalan menghampiri mereka.
Bina hanya melambaikan tangannya menanggapi Sila, karena gadis itu sudah melangkah dengan cepat menjauh dari dirinya.
“Dek Bina.”
Bina menoleh, pandangannya beradu dengan mata yang kini menyipit karena bulan sabit yang muncul di pipinya. Bina membalas senyumnya sekilas, sebelum melunturkannya dengan cepat. Perasaan yang aneh itu muncul kembali. Namun dengan yakin pikiran Bina pasti bisa melawannya. Ia harus menggunakan pikirannya. Ia sudah yakin akan membuang semua perasaan yang entah apa itu dari dirinya.
“Topinya kak, makasih,” ucap Bina, menyerahkan topi sekolah yang sempat pemuda itu pinjamkan padanya pagi tadi
Wahyu menyambutnya dengan senyum. “Yuk ke lapangan,” ajaknya menatap Bina.
Bina mengangguk, mengikuti langkah Wahyu di depannya. Hari ini mereka sudah dijadwalkan akan berlatih basket, karena seminggu lagi akan ada latih tanding mereka dengan sekolah sebelah, untuk persiapan mereka mengikuti lomba beberapa bulan lagi.
__ADS_1
“Semangat gaes.”
Ketika memasuki lapangan suara Wawan berteriak menyambut mereka. Pemuda itu mengangkat tangannya menyalurkan rasa semangatnya pada teman-temannya. Ini adalah kesekian kalinya mereka akan mengikuti lomba, dan kesekian kalinya juga mereka berlatih tanding dengan sekolah yang sama. Kalah berkali-kali membuat mereka sedikit merasa pesimis dengan hasilnya.
Namun kali ini, semangat mereka tidak surut begitu saja. Malah Bina yakin mereka semua lebih bersemangat dari
sebelum-sebelumnya. Mengingat waktu mereka juga sudah tak lama lagi di sekolah. Hanya kurang dari setahun waktu bagi mereka untuk membuktikan bahwa ekskul basket mereka hebat. Agar menarik siswa baru kembali meminati ekskul basket, untuk melanjutkan ekskul basket mereka.
“Ganti baju, kita latihan sampe sore aja.” Wawan berucap.
“Loh nggak sampe malam Wan?” Wahyu menghampiri temannya itu.
Wawan menggeleng. Kapten basket yang belum juga melepas jabatannya sebagai ketua osis itu melirik Bina. "Kata Bina, jangan habiskan tenaga kita buat latihan. Tapi siapkan dan habiskan tenaga kita untuk pertandingan. Bukan begitu Bina.” Wawan tersenyum menggoda pada gadis yang kini menunduk menggaruk lehernya, malu.
Wawan sempat bertanya tips-tips latihan yang efektif bagi tim mereka melalui chat pribadi. Dan Bina memang mengatakan itu sebagai gambaran saja. Ia jadi malu jika kalimat itu kini terucap dari mulut ketua osisnya yang kini menatapnya jenaka.
“Wih, bagus juga quotes nya.” Salah satu pemuda yang sudah mengenakan seragam basket berucap.
“Udah-udah, ganti baju dulu. Terus kita pemanasan.” Wawan menggiring anak-anaknya yang masih berdiri bahkan duduk-duduk memainkan ponsel mereka menuju ruang ganti.
Latihan kali ini tak banyak berubah dari sebelumnya. Sesekali Bina mengajarkan mereka teknik-teknik baru yang belum mereka tahu. Memerintahkan mereka mencoba satu persatu. Atau latih tanding satu tim. Semuanya mereka lakukan dengan begitu baik.
Mereka juga sangat menghormati Bina bak pelatih sungguhan. Ketakutan Bina dulu ketika baru saja menginjakan kaki pada lapangan kali itu, kini sudah hilang tergantikan dengan rasa nyaman bak memiliki banyak teman. Walau dari segi umur dan kesenioritasan mereka, mereka masih mau mendapat hukuman dari Bina. Tidak mengejek gadis itu atau apapun.
Jam menunjukan pukul lima sore tepat. Latihan sudah selesai sepuluh menit yang lalu. Bina mendudukan dirinya pada tribun bagian bawah, mengotak-atik ponselnya guna memesan ojek online untuk ia pulang.
“Dek Bina.” Wahyu menghampiri Bina. Pemuda itu sudah berganti pakaian dengan seragam sekolah kembali.
“Iya kak.” Bina mendongak melihat pada pemuda dengan tas di pundaknya, berdiri di hadapannya tersenyum.
“Pulang bareng kakak aja yuk.”Ajak Wahyu.
Bina menggelengkan kepalanya menolak. Ojek online yang ia pesan sudah menerimanya dan sedang dalam perjalanan menuju tempat Bina sekarang. “Nggak kak, aku udah pesen.”
“Batalin aja,” ucap Wahyu.
“Nggak kak kasihan, udah dijalan.” Bina kembali menggelang, kasihan ojeknya sudah dijalan jika ia membatalkan pesanannya. Lagi pula, Bina masih mempunyai misi untuk membuang perasaannya pada Wahyu. Jika begini, Bina rasa tak akan bisa. Lagi, jika ia dekat dengan Wahyu, bagaimana dengan Sila.
“Yaudah deh.” Wahyu mengangguk-anggukan kepalanya. Pemuda itu berfikir mencari topik lain.
“Kakak duluan aja.” Bina berucap ketika melihat pemuda di hadapannya terlihat berfikir.
__ADS_1
“Dek Bina, mau ke pasar malem nggak?” Wahyu bertanya ketika mengingat ucapan Irgi yang membahas pasar malam yang sedang diadakan.
“Pasar malam?” Bina bertanya bingung.
Wahyu mengangguk antusias ketika melihat raut wajah Bina yang terlihat penasaran. “Iya pasar malam.”
“Yang apa?” tanya Bina memiringkan kepalanya.
“Yang ada bianglala. Ada permainan banyak.” Wahyu menjelaskan.
Mata Bina berbinar. Apa maksud pasar malam yang dikatakan Wahyu seperti pasar malam dengan banyak permainan, dan kuda berputar, bianglala itu, yang sering Bina lihat di internet. “Yang itu kakak?” tanya Bina cerah.
Wahyu mengangguk lagi, walau ia tak tau ‘itu’ yang Bina maksud itu apa. “Iya, mau?” Wahyu berucap cerah sekali.
Bina mengangguk, sudah lama dirinya ingin menaiki kuda berputar yang entah apa namanya itu, yang sering ia lihat di internet. Bahkan drama korea juga. Ia sangat ingin. Dan untung saja pemuda dihadapannya ini mengajaknya. Kalau tidak Bina tidak akan tahu ada hal semacam itu di hidupnya.
“Nanti di sana ada kuda yang muter kan, kak?” tanya Bina, tersenyum semangat.
Wahyu menyerngit, memikirkan salah satu wahana yang Bina maksud. “Ooh komedi putar?” Wahyu memajukan bibirnya berucap kata oh, setelah menemukan wahana yang Bina maksud.
Bina mengangguk-anggukan kepalanya, walau dirinya juga tak tahu nama wahana itu. “Iya kak. Ada kan?” tanya Bina.
Wahyu mengangguk tersenyum senang. “Ada. Kita kesana yuk.” Ajak Wahyu.
Bina mengangguk-anggukan kepalanya kembali, ia sungguh sangat senang sekarang. Akhirnya dirinya bisa menikmati pasar malam. “Mau,” ucapnya. “Itu dimana kak?” tanya Bina.
“Gak jauh kok dari pasar malam yang kemarin kita ketemu.” Jelas Wahyu.
“Oke.” Bina mengacungkan jempolnya ke arah pemuda itu. Ia sangat merasa bersyukur bisa kenal dengan Wahyu, karena ia bisa di ajak ke tempat yang dirinya sukai.
Sebenarnya Bina juga bisa pergi sendiri asal ia tau tempatnya. Namun mengingat dirinya tak memiliki teman yang dekat dengan kostnya, dirinya juga seorang perempuan pasti saja ia takut akan bahaya, karena musibah tidak ada tanggal pastinya. Jika ada sang ayah juga, dirinya pasti dikurung dalam rumah dari maghrib, paling-paling kalau keluar ia akan bersama ayahnya. Jadi ia sangat bersyukur dengan adanya ajakan dari pemuda ini.
Bukan Bina tak takut dengan Wahyu. Namun kalau diingat Wahyu adalah teman Irgi. Melihat sikap Irgi yang tak terlalu senang jika teman-temannya memperlakukan perempuan dengan sembarang, maka Bina berfikir Wahyu juga begitu. Dan semoga memang begitu.
“Oke kakak jemput jam tujuh?” Wahyu tersenyum, ia sangat bahagia.
“Oke.” Bina berucap, membentuk jarinya bertanda oke.
“Sip,” Wahyu mengajungkan jempolnya. “Ojeknya udah dateng?”
Bina melihat pada ponselnya, mengecek titik ojek online yang ia pesan. Kemudian ia mengangguk setelah melihat titik itu sudah dekat dengan titik yang ia berikan.
__ADS_1
“Yuk pulang.” Ajak Wahyu.
(⊙_(⊙_⊙)_⊙)