Bercerita Tentang Kita

Bercerita Tentang Kita
part 36


__ADS_3

O(∩_∩)O


Andi menatap tepat pada mata putranya yang kini tanpa takut membalas tatapannya, walau dengan tatapan kosong. Menelisik setiap bola mata Irgi. Ia kaget tentu saja dengan pertanyaan pemuda di hadapannya. Permintaan yang tak pernah terpikirkan oleh dirinya terucap dari mulut Irgi.


Tak jauh berbeda dengan Bina dan juga Tina. Pandangan mereka kini tertuju pada Irgi. Bina juga ikut kaget kala pertanyaan sekaligus permintaan itu dikeluarkan Irgi. Apa Irgi sudah benar-benar tak mempunyai jalan lain selain dengan jalan ini?


Andi menatap Irgi dari ujung kaki hingga mata mereka kembali bertemu. Pemuda itu terlihat kacau, rambut panjang yang sudah lepek dan jatuh hampir menutupi matanya. Seragam yang sudah kusut dan keluar dari celana. Tatapan lelah, walau tak dipungkiri harapan yang terlihat disana juga besar.


Andi menghela nafasnya. Irgi memang penurut, tak banyak meminta dan tak banyak tingkah seperti remaja-remaja pada umumnya. Pemuda itu begitu patuh akan aturan keluarga, begitu patuh pada kedua orang tuanya. Dan Andi sudah menebak bahwa akan ada hari dimana semua ini akan mengeluh lelah dan menentang. Ia sudah tau hari ini akan datang. Namun, dirinya tak mengira pada hal ini lah Irgi melakukan itu.


Andi menarik nafas lagi. “Kenapa?” Akhirnya hanya pertanyaan itu yang Andi ucapkan.


Irgi mengalihkan tatapannya dari mata Andi. Pemuda itu memilih menatap pada sepasang sepatunya yang sudah kotor. Ia...... tak tau harus berkata apa. Dirinya dulu memang pelukis handal untuk menggambar sebuah masa depan. Bahkan dirinya dulu mengatakan pada Bina bahwa ia akan berusaha untuk tidak mengecewakan banyak hati. Namun dirinya sekarang seakan sudah kehilangan lukisan dengan harga milyaran, semua gambarannya dulu kini hilang entah kemana. Rencana-rencana dalam kepalanya seakan tertelan habis oleh waktu. Ia menyerah.


Tepukan pada bahunya oleh Andi, berhasil membuat Irgi kembali. Kembali pada kenyataan dirinya memang ada di dunia yang penuh rencana rahasia. Sepertinya semesta sedang tertawa dengan usaha dirinya untuk lepas dari semua. Tertawa akan penolakan yang ia lakukan pada rencana Tuhan.


“Kenapa?” Pertanyaan kembali diajukan oleh Andi dengan tatapan lekat pada putra semata wayangnya.


Irgi terdiam cukup lama, masih menunduk sudah tak berani menatap papanya. “Irgi.... Irgi nggak bisa,” ucapanya pelan.


“Liat papa.” Andi mengeratkan tangannya pada bahu Irgi, mengguncang pelan.


Pemuda itu masih menunduk. Ia bingung untuk menjawab apa pada Andi. Apa dirinya harus melibatkan Pita pada kalimatnya? Apa dirinya bisa mengatakan itu pada papanya? Apa papanya tak akan marah ketika tahu dirinya sedang berpacaran dengan seorang gadis, dan itu bukan Bina.


“Irgi.” Andi memanggil dengan tegas nama putranya.


“Irgi jawab, liat papa.” Kini kedua tangan Andi mengguncang bahu Irgi sedikit kencang, membuat tubuh Irgi terguncang cepat.


“Irgi.” Andi menghela nafas, memanggil nama Irgi sekali lagi dengan nada yang lebih rendah dari sebelumnya.

__ADS_1


“Irgi....” Pemuda itu bergumam tidak jelas. Pikirannya kini bercabang pada banyak hal. Pita, apa hatinya benar-benar ingin bersama Pita. Gadis itu sakit, gadis itu butuh Irgi. Irgi sungguh mencintainya. Irgi sungguh ingin bersama dengannya.


“Irgi.” Tina berjalan mengahampiri putranya. Wanita itu menyingkirkan tangan sang suami yang terlihat semakin erat meremas pundak putranya.


“Irgi kenapa, Nak?” Tina bertanya lembut. Hatinya seakan sesak melihat penampilan putranya yang sudah berantakan.


Irgi menoleh membalas tatapan sang ibu. Tatapan lembut itu menatap nanar dirinya, tak ada tatapan penuh harap yang tempo hari beliau tampilkan saat dengan semangatnya wanita itu menunjukan foto-foto pelaminan pada Bina. Apa ia harus menghancurkan harapan sang ibu. Apa upaya Tina, yang kesana kemari dengan antusiasnya bertanya banyak WO pada teman-temannya harus ia abaikan.


Bayangan tatapan Kardi juga sudah tak pernah hilang dari kepalanya. Dada Irgi sesak dibuatnya. Apa ia bisa membiarkan Pita pergi dari hidupnya? Atau ia harus menghapus tatapan harap dari wanita di hadapannya. Apa ia harus mengecewakan banyak hati?


“Irgi, kenapa Nak?” Tina kembali bertanya setelah lama Irgi tak membalas ucapannya. Mata wanita itu berkaca. Tak pernah Irgi seperti ini. Tak pernah Irgi menentang kedua orang tuanya. Pasti ada hal besar yang disembunyikan pemuda ini dari dirinya.


Irgi menunduk, ia sudah tak sanggup menatap wajah sang ibu yang kini sudah terlihat berlinang pada matanya. Ia tak bisa menatap wajah kecewa dari kedua orang tuanya. Irgi sudah tak tau kemana perginya keberanian yang tadi ada dalam dirinya. Apa dirinya sudah menyerah untuk berusaha tidak mengecewakan banyak hati?


Andi kembali maju. Ia melepaskan tangan Tina dari bahu putranya. Bergantian kini tangannya yang kirinya yang memegang bahu kanan Irgi. Pria itu mengulurkan tangan kanannya untuk menggapai wajah Irgi, mengarahkan wajah putranya untuk ia tatap.


“Irgi... liat papa.” Andi berucap, saat mata Irgi berlarian kesana kemari tak mau menatapnya.


Irgi akhirnya menatap tepat pada mata sang ayah. Nafasnya seakan berhenti menatap tajamnya mata Andi. Dada Irgi berdebar. Tak pernah sekalipun Andi menatapnya seperti ini, tak sekalipun mereka dalam situasi seperti ini.


“Papa tahu, kamu pasti punya sesuatu.” Andi berucap pelan. “Papa nggak tau apa itu.” Jeda cukup lama di antara mereka.


Tina sudah tak tahan menahan air yang ada di matanya untuk tidak tumpah. Wanita itu menangis tanpa suara, di balik punggung Andi. Ia berkali-kali menghapus anak-anak sungai di pipinya. Tatapan kosong dan lelah Irgi membuat dadanya sesak. Apa mereka terlalu memaksakan kehendak. Irgi tak pernah seperti ini.


“Terserah kamu.....” Andi bersuara. Hal itu membuat Tina pergi dari ruangan begitu saja tanpa pamit.


Jeda cukup lama di antara mereka. Mata Irgi sudah berkaca, saat mendengar suara pintu dibuka dan ditutup dengan cepat. Ia tak mengalihkan tatapannya dari sang ayah. Namun, ia tahu sang ibu sudah meninggalkan ruangan, ia juga tahu Bina sudah memalingkan tatapannya dari mereka.


“Terserah kamu.... papa cuma minta, jangan jadi egois.” Andi menjeda ucapannya, untuk kembali mengambil nafas dalam. “Ada asalan besar yang buat papa setuju buat jodohin kamu dengan Bina. Bukan cuma perjodohan karena pertemanan papa sama Kardi.”

__ADS_1


Irgi mengatur nafasnya yang sesak. Pemuda itu mati-matian menahan matanya agar tak menumpahkan air dari sana. Pertahanannya untuk melawan tatapan tajam sang ayah kini runtuh. Ia sudah tak sanggup menatap mata itu.


“Bina butuh kamu, Gi.” Ucap Andi. “Kardi tak bisa mempercayakan Bina selain sama kamu, anak papa.” Andi lagi dan lagi mengambil nafas dalam. “Kamu yang bisa Kardi percaya untuk menjaga Bina.”


“Kardi nggak akan tenang, kalau bukan kamu orangnya, Gi.” Mata Andi berkaca melihat putranya. Pria itu sampai menunduk sembari dengan tangan yang bertumpu pada pundak Irgi.


“Terserah kamu... tapi papa mohon, ambil jalan yang baik ya.” Andi melepaskan putranya, berjalan menghampiri Bina yang kini berbaring membelakangi mereka.


“Bina.... om keluar dulu ya.” Andi berucap, mengusap lembut bahu bergetar Bina yang tidur membelakanginya. Pria itu kemudian melangkah keluar, tanpa mengindahkan tatapan Irgi.


Irgi menatap nanar pintu ruangan yang tertutup perlahan dari luar. Air dari pelupuk matanya jatuh, bersamaan dengan jatuh nya kedua tutut yang bertemu lantai. Irgi menutup wajahnya dengan telapak tangan.


Kecewa sudah kedua orang tuanya. Kecewa sudah banyak hati oleh dirinya. Dimana perkataannya dulu yang akan berusaha tak mengecewakan banyak hati. Dimana usahanya?


Irgi melirik Bina. Bahu gadis itu semakin bergetar kencang. Andi, Tina, Bina lalu siapa lagi yang akan ia buat menangis nanti. Apa Pita? Apa Wahyu? Apa semua orang akan ia buat menangis dengan kecewa.


Bahu Irgi bergetar. Tuhan punya banyak cobaan untuk dirinya. Tuhan punya banyak jalan untuk dirinya. sampai dirinya bingung harus memilih yang mana.


Andi berkata terserah kan? Berarti sekarang dirinya bebas memilih jalan bukan? Namun kenapa seakan dirinya terikat dengan sebuah hal. Mudah kan? Dirinya kini hanya tinggal mengabaikan banyak hati yang kecewa dan mulai membangun jalannya sendiri. Namun, mengapa dirinya seolah sulit berjalan.


Irgi bangkit dari posisinya. Pemuda itu berjalan menghampiri bangkar Bina. Ia mendudukan dirinya pada kursi samping bangkar, menengelamkan kepalanya pada lipatan tangannya yang ia buat di atas kasur Bina.


Dirinya Ingin beristirahat sejenak. Kalau bisa ia ingin berlari menghampiri Pita, menenggelamkan dirinya pada pelukan gadis itu. Ingin sekali. Namun apa itu tak akan mengecewakan banyak hati lagi?


Ia tak tahu kenapa Tina seperti itu. Ia tak tahu kenapa sang ayah menampakan wajah begitu. Ia tak tahu kenapa mereka berlaku begitu. Ia tak tahu.


“Maaf, Bina.” Irgi berucap sebelum pergi dalam alam mimpinya. Ia sudah lelah.


[]~( ̄▽ ̄)~*

__ADS_1


__ADS_2