Bercerita Tentang Kita

Bercerita Tentang Kita
part 30


__ADS_3

ヾ(@⌒ー⌒@)/


Bina berjalan bersisian dengan Wahyu. Jam sudah menunjukan pukul lima sore, dan latihan basket sudah selesai dua puluh menit yang lalu, mereka sudah berganti baju dan kini sedang berjalan di sepanjang koridor menuju parkiran.


Wahyu memelankan langkahnya, menyesuaikan langkah Bina, dan Bina menyadari itu. Gadis itu mati-matian menahan sudut bibirnya yang hendak naik, ia tak bisa begini. Akhirnya Bina melarikan matanya pada sekelilingnya. Suasana koridor sekolah kini sudah sepi, walau masih terlihat anak-anak anggota marching band tengah membereskan alat-alat mereka di lapangan.


Mata Bina menangkap seorang pemuda yang ia kenal di lapangan sana. Itu Irgi. Ia sudah tak melihat pemuda itu untuk seminggu ini. Tidak mengantar makanan dari Tina, juga tidak datang ke lapangan basket untuk menemani Wahyu.


“Keliatan sibuk banget ya?” Tanya Wahyu.


Bina menoleh pada pemuda di sampingnya, pandangan mereka bertemu. Sejenak mereka bersitatap, walau dengan cepat, Bina kemudian menunduk dan mengangguk. ‘Aduh tolong dong.’ Bina berucap dalam hati, dadanya berdebar di dalam sana tak karuan. Kalau begini bagaimana dirinya bisa lepas dari perasaannya.


“Kata Irgi, bentar lagi mereka lomba.” Ucap Wahyu, menatap pada temannya, di sana.


“Lomba?” Bina mendongak. Wahyu hanya mengangguk menjawabnya.


Bina menyerngitkan dahinya. Dipikir-pikir, Wahyu dan teman-temannya kini sudah kelas tiga. Bukannya mereka harus fokus untuk mempersiapkan ujian. Dan lagi Wawan belum juga melepas jabatannya sebagai ketua osis. Tapi mereka malah sibuk untuk mengikuti berbagai lomba.


“Kalian kenapa masih ekskul sih?” Tanya Bina, bingung.


Pemuda di samping Bina terkekeh. “Kamu baru sadar ya? Kalo kakak kan emang karena basket.” Ucap Wahyu. Pemuda itu memang ingin melanjutkan basketnya, karena kalau bukan mereka siapa lagi yang ingin meneruskan ekskul basket di sekolah ini.


Bina mengangguk-anggukan kepalanya. Mereka memang bertujuan untuk itu. Bina beralih menatap para anak-anak ekskul drumband di lapangan.


Wahyu ikut melarikan matanya pada Irgi, menatap pada pemuda yang kini membawa masuk sebuah alat musik kedalam ruangan. “Kalo Irgi, memang terlalu cinta dengan organisasi. Mungkin dia bakal stop kalo udah puas dengan pencapaian, dan juga nafsunya tentang dunia itu.” Senyum tipis terbit di bibir Wahyu. Irgi itu memang benar-benar seorang yang sangat dia ikuti untuk hal apapun, selain baik dan bijak, Irgi juga seorang yang menurutnya luar biasa.


Bina mengangguk-anggukan kepalanya. Sebenarnya ia juga penasaran akan sosok Irgi. Pemuda itu menimbulkan banyak pertanyaan dalam kepalanya. Dari cara Irgi berbicara, bersikap, sampai cara pemuda itu menegur teman-temannya yang tanpa sengaja berlaku tidak sopan padanya, ia yakin pemuda itu pasti punya sifat yang baik.


“Dek Bina.” Wahyu memanggil, membuat Bina seketika menolah.


“Menurut Dek Bina, orang dengan tubuh pendek bisa main basket gak sih?” Pertanyaan random keluar dari pikiran Wahyu.


Bina memiringkan kepalanya, pemuda ini terlalu jauh melemparkan topik pembicaraan. Namun tak ayal, ia menjawab. “Menurut aku, bagus sih Kak.” Ucap Bina.

__ADS_1


“Bagus gimana?” Wahyu mengernyitkan dahinya, menatap pada gadis di sampingnya yang menatap lurus koridor.


“Ya jarang kan pemain basket dengan tubuh pendek. Pasti ikonik banget buat penonton.”


“Tapi kan kalo dibanding pemain tinggi, dia susah untuk melakuan teknik-teknik bola dalam pertandingan.” Wahyu berfikir.


“Bagus dong, mereka bisa menciptakan teknik mereka sendiri.” Bina tersenyum.


“Maksudnya?”


“Pemain lawan akan kaget dengan teknik baru. Mereka akan kewalahan menghadapi pemain pendek, karena mereka terbiasa untuk melawan pemain tinggi. Itu bisa menjadi senjata pamungkas tim untuk menang.” Ucap Bina.


Wahyu tersenyum, menatap pada gadis di sampingnya. Bina memang luar biasa. Gadis itu bisa membuat strategi, yang menurut orang lain adalah kelemahan, namun itu diubah oleh Bina untuk menjadi sesuatu yang bisa menjadi kekuatan.


“Kalau pemain tinggi biasa nya bermain diatas. Pemain pendek bisa bermain di bawah. Mereka bisa menjadi angsa yang menyelam, dan hilang tak terlihat di permukaan.” Lanjut Bina.


“Keren ya?” Wahyu mengangguk-anggukan kepalanya. Ia membayangkan di hadapannya ada sebuah pertandingan, dengan salah satu tim memiliki pemain dengan tubuh pendek. Membayangkan pemain itu, menjadi angsa yang siap menyelam kesana-kemari. Keren.


“Ya kan? Sebuah kekurangan menurut orang, bisa kita ubah menjadi sebuah senjata yang luar biasa berbahaya.” Ucap Bina tersenyum ceria.


“Duluan ya Kak.” Bina pamit, melambaikan tangannya, yang disambut Wahyu dengan hal serupa.


“Hati-hati Dek Bina.” Balas Wahyu. Pemuda itu berbalik setelah melihat Bina yang mulai menjauh.


Langkah Bina berhenti saat ia mengingat sesuatu. Gadis itu berbalik, berjalan cepat menghampiri Wahyu yang sudah hendak menaiki motornya.


“Eh, Kak.” Bina memanggil, ia lupa akan pesan dari Sila siang tadi. Gadis itu membuka tasnya, mengobrak-abrik benda-benda di dalam sana, sembari berjalan. Mencari sesuatu.


“Kenapa Dek?” Wahyu berjalan menghampiri Bina. Membantu gadis itu untuk menopang tasnya.


Bina masih merogo tasnya, hingga benda yang ia cari kini sudah ada di tangannya.


“Ini.” Bina menyerahkan satu kotak bekal berwarna biru pastel pada Wahyu.

__ADS_1


“Ini apa?” Wahyu menerimanya, membolak-balikan kotak itu, untuk mendengar benda di dalamnya.


“Eh, jangan digituin.” Bina menahan tangan Wahyu yang terus mengguncang benda di tangannya sembari mendekatkan benda itu pada telinga.


“Apa isinya?”


“Itu kue. Jangan diguncang gitu nanti rusak kuenya.” Ucap Bina, membereskan lagi tasnya.


“Kue apa? Kamu yang buat?” Wahyu dengan senyum semangat membuka kotak itu. Ia menatap pada kue-kue lucu berbagai bentuk, dari yang berbentuk hewan sampai bentuk bintang. Senyumnya semakin lebar melihat itu.


“Bukan, itu dari Sila.” Ucap Bina, ia sudah menggendong kembali tasnya. Ikut juga mengintip pada kotak di tangan Wahyu.


“Ohh, temen kamu?” Tanya Wahyu, senyumnya masih ada, namun rasa semangat tadi kini berkurang.


“Iya. Itu katanya bikin sendiri. Kak Wahyu coba aja.” Balas Bina, gadis itu menampakan segaris senyum tipis.


“Makan sama kamu yuk, disana.” Wahyu menunjuk pada sebuah kursi taman di dekat mereka. “Ojeknya belum datang kan?” Tanyanya, menatap Bina tersenyum.


Bina menggeleng, ia mengotak-atik ponselnya sejenak. “Ojeknya udah deket, Kak Wahyu makan sendiri aja, kan itu pemberian Sila, masa aku makan juga.” Ia juga membalas senyum Wahyu dengan senyum cerahnya.


Wahyu mengangguk-anggukan kepalanya. Ia menutup kembali kotak itu. “Yaudah nanti aja cobanya di rumah.” Ucap Wahyu, masih tersenyum.


Bina ikut tersenyum tipis. Kemudian ia melirik kembali pada ponselnya. “Kak, ojeknya udah nyampe. Aku duluan ya.”


Bina melangkah pergi dari sana, setelah Wahyu mengucap hati-hati dan melambaikan tangan padanya. Menahan dadanya yang sekarang terasa terhimpit oleh benda besar.


Bina berdiri di halte. Tentu saja mengatakan bahwa ojeknya telah tiba pada Wahyu tadi adalah sebuah kebohongan. ia takut perasaan yang ia rasakan pada Wahyu ketika pemuda itu dengan senyum menerima kotak berisi kue pemberian Sila, akan semakin membuatnya merasa sesak. Ia takut perasaannya semakin besar. Ia takut.


Bina berjongkok, memeluk lututnya sendiri. Matanya memanas, dan tak lama buliran air itu kembali ia rasakan di pipinya. Bina menenggelamkan wajahnya pada lutut menangis tanpa suara seorang diri di halte yang sepi.


Bolehkan ia berlari kembali menghampiri Wahyu dan merebut kotak itu dari tangannya, dan berkata dirinya juga bisa membuat kue untuk Wahyu. Dirinya juga menyukai Wahyu. Ia ingin sosok itu memeluknya seperti tempo hari ketika ia menangis. Bolehkah?


Bukannya yang Sila lakukan juga seharusnya Bina lakukan ketika sedang jatuh cinta. Bukan malah berada di sini dan menangis. Tapi, bukannya dulu ia bilang pada Sila bahwa dirinya tak menyukai Wahyu, dan ia mau Sila bersama Wahyu. Tapi kenapa sekarang perasaannya begini?

__ADS_1


Apa ini yang Irgi rasakan terhadap Pita. Mereka Ingin bersama, namun Bina halangi dengan keegoisannya. Apa dirinya memang sebuah halangan untuk semua orang?


(‾◡◝)


__ADS_2