Bercerita Tentang Kita

Bercerita Tentang Kita
part 9


__ADS_3

○( ^皿^)っ Hehehe...


Hari ini, hari pertama Bina masuk sekolah. Sejak semalam Bina sudah mempersiapkan keperluan sekolah, seperti buku, dan peralatan sekolah lainnya. Ia bahkan mencoba pakaian sekolahnya berulang kali, lepas pasang-lepas pasang, sampai pakaian yang tadinya rapi, berubah menjadi kusut, hingga ia harus menyetrikanya kembali, subuh tadi, saking semangatnya.


Kini Bina mondar-mandir di dapur, memasak yang bisa ia masak dengan cepat dan gampang, untuk sarapannya, dan mungkin ia bisa membawa bekal untuk menghemat pengeluaran.


Setelah makan dengan cepat, Bina memasukan bekal yang sudah ia hias seaesthetic mungkin ke dalam tas nya, untuk ia bawa ke sekolah. Mengenakan sepatu dengan cepat, kemudian keluar dari kosnya, menutup pintu dan berjalan santai, menuju pinggir jalan untuk menyetop angkutan umum yang akan membawanya ke sekolah.


"Binaaa.." Teriakan itu berasal dari gadis berkuncir dua yang melambaikan tangannya, ke arah Bina yang baru saja turun dari angkutan umum berwarna kuning yang ia tumpangi.


Bina tersenyum canggung membalasnya. Adegan gadis itu membuat banyak pasang mata melihat ke arah mereka. Tolonglah ini dunia nyata, bukan film atau drama, hingga harus berteriak dan melakukan adegan itu.


Malu, Bina berjalan cepat menghampiri gadis yang masih melambaikan tangannya dengan senyum cerah.


"Udah ayo masuk." Bina menangkap tangan Sila yang masih melambai. Menariknya masuk kedalam sekolah.


"Aku ngak nyangka kita sekelas, nanti Bina duduk bareng aku ya." Sila berucap disamping Bina.


Bina hanya mengangguk dan tersenyum sebagai jawaban. Melanjutkan langkah mereka menuju letak kelas mereka.


"Bina udah sarapan?" Tanya Sila.


Mereka mendudukan diri di kursi yang mereka pilih, disamping jendela yang mengarah pada koridor depan kelas mereka.


"Udah." Bina mengangguk. "Kamu udah?"


"Belum." Sila menggeleng, tersenyum. "Mama kesiangan, ngak masak." Gadis itu memajukan bibirnya lucu.


Bina tersenyum melihatnya. "Mau makan bekal aku?" Tanyanya.


"Kamu bawa bekal?"


Bina mengangguk, "mau?"


"Ngak ah itu kan bekal kamu, temenin aku ke kantin aja yuk." Sila berdiri dari duduknya, menggenggam tangan Bina mengajaknya berdiri.


Bina berdiri, mengikuti Sila yang membawanya menuju kantin. Mereka berjalan menyusuri koridor, sesekali bertanya letak kantin pada beberapa kakak kelas yang mereka temui.


Sampai dikantin, tangan Bina kembali ditarik oleh Sila. Gadis itu membawanya menuju salah satu kursi kosong untuk mereka duduk.


"Bina mau pesen apa, biar aku yang pesen." Sila berdiri kembali.


"Teh anget aja."


"Okee."


Sepeninggalan Sila, Bina menoleh kesana-kemari, pandangannya menyusuri kantin. Dari penglihatannya kantin ini cukup besar, tak heran juga karna murid disini juga lumayan banyak. Ia juga mendengar ini juga bukan kantin satu-satunya yang ada, masih ada satu kantin lagi yang entah Bina tak tau letaknya.


"Dek Bina."


Panggilan itu berhasil membuat Bina menatap sosok di depannya. Pemuda yang beberapa hari lalu selalu berdiri didepan dan memegang mik,kini duduk dihadapan Bina, tersenyum melihatnya. Pemuda itu tak memakai seragam osisnya, ia memakai seragam SMA persis seperti Bina.


"Kak." Bina balas tersenyum canggung.


"Sendiri?" Pemuda itu masih menampilkan senyumnya.


Bina menggeleng, "sama temen Kak, Kak Wahyu sendiri?"


Wahyu menggeleng, senyumnya tak pudar dari bibirnya. "Sama temen, mereka lagi pesen."


"Ooh.." Bina mengangguk-anggukan kepalanya.


"Dek Bina, mau ikut ekskul basket yah kemarin?" Tanya Wahyu. Bina hanya mengangguk. "Segitu pengennya?" Tanyanya lagi. Bina mengangguk lagi.

__ADS_1


"Dulu, Dek Bina pernah ikut basket?" Lagi-lagi Bina mengangguk. "Boleh ceritain soal itu ngak?"


Bina menatap pada pemuda di hadapannya sebentar. "Aku dulu ikut organisasi basket di kampung Kak. Timnya lumayan solid, sering ikut pertandingan juga, menang, kalah ya gitu, kenapa Kak?" Jelas Bina panjang lebar.


"Peringkat paling tinggi yang pernah kalian dapetin apa?"


Bina berfikir, "kayaknya, juara basket putri tingkat kabupaten kota deh Kak."


"Nama tim kamu lesgar bukan?" Wahyu memajukan tubuhnya ke arah Bina.


Bina menyerngitkan dahinya. "Kok Kakak tau." Tanyanya.


"Bener?" Bina mengangguk ragu, melihat ekspresi pemuda dihadapannya begitu sumringah.


"Gue ngefans banget sama tim kalian, pantes aja muka kamu ngak asing." Wahyu menepuk tangannya didepan muka Bina, membuat gadis itu mengedipkan mata kaget. "Apalagi si nomor sepuluh, keren banget. Bola basketnya bisa ilang." Wahyu berucap menggebu-gebu.


"Kalo boleh tanya, yang bisa ilangin bola itu siapa ya namanya?"


Bina masih setia menatap pemuda itu, caranya menyampaikan hal yang ia suka begitu seru, apalagi dengan ekspresi yang begitu cerah.


Bina menunjuk dirinya sendiri sebagai jawaban dari pertanyaan pemuda dihadapannya. Wahyu melotot meresponnya, menunjuk Bina dengan telunjuknya. Bina mengangguk menatap pemuda dihadapannya, heran sedikit takut. Apa ia akan mengeluarkan bola matanya dihadapan Bina.


Hening, mereka tak membuka pembicaraan. Bina melarikan tatapannya, melihat sekeliling kantin, canggung. Sedang pemuda di depannya masih setia menatapnya, dengan senyum yang masih tetap ada.


"Beneran kamu?" Pemuda itu masih tak bisa percaya dengan fakta yang baru saja ia dengar.


Bina mengangguk, ragu. "Kenapa Kak?" Gadis itu bertanya, suaranya mencicit hampir tak terdengar.


"KEREN." Teriak Wahyu, membuat Bina hampir terjengkang dari duduknya. "Kamu keren banget." Ucapnya menggebu.


Sedang Bina, gadis itu masih mengatur nafas dan menenangkan detak jantungnya yang hampir meloncat keluar akibat teriakan Wahyu. Ia sedikit melirik pada sekitar, melihat pada orang-orang yang tampaknya mereka juga terkejut akan teriakan tiba-tiba dari pemuda yang masih menampakan wajah sumringahnya ini.


"Abis pulang sekolah, ada latihan basket, Dek Bina mau ya nanti ajarin kita taktik bola ilang." Ucap Wahyu.


Tak lama, Sila datang membawa nampan berisi makanan dan minuman pesanan mereka.


"Kak Wahyu yah?" Tanya Sila, mendudukan dirinya di sebelah Bina.


Kedua remaja yang itu menoleh ke arah Sila, menatap gadis itu dengan ekspresi yang berbeda.


"Kenapa?" Dengan wajah bingungnya, Sila bertanya.


Dua remaja yang tadi menatap Sila, menggeleng bersamaan.


"Kak Wahyu yah?" Tanya ulang Sila, pada satu-satunya lelaki di meja mereka.


Pemuda itu mengangguk, ekspresinya telah berubah menjadi senyum yang bersahabat.


"Wahyu." Wahyu mengulurkan tangannya ke arah Sila.


Sila menyambutnya dengan senyum ceria. "Sila."


"Temennya Dek Bina yah?" Sila menangguk sebagai jawaban.


"Yu, duduk disini?" Pertanyaan itu berasal dari dua pemuda yang baru tiba di meja mereka, membawa nampan yang sepertinya pesanan mereka.


Bina sempat bersitatap dengan salah satunya, ia mengenal orang itu.


Wahyu menoleh pada keduanya, mengangguk sebagai jawaban. "Ngak papa kan Dek Bina?" Tanyanya pada gadis di hadapannya.


Bina menoleh ke arah Sila. Gadis itu hanya tersenyum menatap Wahyu, tak mengalihkan tatapannya. Menganggap bahwa Sila tak keberatan, Bina kembali menoleh pada Wahyu, mengangguk menjawab.


Dua remaja lelaki yang tadi berdiri, kini mendudukan dirinya mengisi kursi kosong di meja mereka.

__ADS_1


"Cup, tau ngak Cup." Wahyu menyenggol lengan teman disampingnya. "Dek Bina itu pemain basket yang bisa ilangin bola, si nomor sepuluh yang gue ceritain." Ceritanya.


"Loh, iya?" Pemuda disamping Wahyu tampak menatap Bina.


Bina yang ditatap, hanya tersenyum canggung, dan mengangguk. Ia sedikit melirik pemuda lain disamping Wahyu, yang juga meliriknya sekilas.


"Keren banget ya? Dek Bina tuh sering banget ikut lomba basket tau Gi. Walaupun pernah kalah, tapi tim mereka ngak pernah nyerah. Gue selalu nonton ulang pertandingan mereka lewat hutub." Wahyu bercerita, kali ini ia menyenggol teman lain di sampingnya.


Pemuda yang disenggol Wahyu, hanya mengangguk sebagai responnya. "Keren." Ucapnya singkat.


"Ck, Irgi mah ngak seru kalo diajak ngomongin basket." Wahyu menggerutu, mengerucutkan bibirnya kedepan.


"Saya kan ngak ngerti basket, jadi ya saya respon sepengetahuan saya aja." Irgi berucap kalem, pemuda itu sedikit melirik Bina.


"Ikut basket dong, Gi, biar ngerti." Ucup, pemuda disamping Wahyu berucap.


"Saya ngak tertarik."


"Dramben aja teruss." Sindir Wahyu.


"Saya lebih suka musik, daripada olahraga." Pemuda itu masih mempertahankan nada bicaranya, kalem, walau disindir begitu ia tetap berbicara dengan nada rendahnya.


Bina yang melihat interaksi mereka, hanya tersenyum kecil. Lucu rasanya melihat interaksi pertemanan para lelaki ini.


"Kak Wahyu ikut ekskul basket?" Sila bertanya.


Wahyu mengangguk, senyum nya terbit melihat Sila, membuat Sila juga tersenyum melihatnya.


"Sila ikut eskul apa?" Tanyanya balik.


"PMR Kak, bareng Bina." Jawabnya.


"Iya Dek Bina?" Ia beralih pada Bina.


"Iya Kak." Bina mengangguk tersenyum canggung.


"Bareng sama pacarnya Irgi ya?" Wahyu, mengangguk-anggukan kepalanya. "Nanti kalo ada apa-apa, Dek Bina bisa minta bantuan Pita, pacarnya Irgi." Ia tersenyum menatap Bina.


Bina kembali mengangguk tersenyum canggung pada pemuda di hadapannya. Ia sedikit melirik pada Irgi, pemuda itu hanya diam, menunduk menikmati makanan, sesekali memperhatikan makanannya. Apa tidak apa-apa? Mereka melakukan ini, bukankah ini jahat. Bina merasa dirinya adalah seorang selingkuhan, yang merebut pacar orang.


"Cup, nanti Dek Bina mau ikut latihan basket ya, gue mau diajarin bola ilang." Ucap Wahyu. Ucup hanya mengangguk, menikmati makanannya.


"Pulang eskul jam berapa Yu?" Irgi bertanya.


"Setengah lima mungkin, kenapa?"


"Nanti Bina pulangnya jam berapa?" Irgi bertanya lagi, ia tidak melihat lawan bicaranya, sibuk memperhatikan makanan dihadapannya.


"Ya sama kaya gue, kenapa sih?" Wahyu mengerutkan keningnya, menatap Irgi.


"Nanti Bina pulangnya gimana? Jam segitu ngak ada angkot." Irgi masih menunduk.


"Loh emang Dek Bina pulangnya naik angkot? Ngak naik motor?" Wahyu menatap Bina.


"Naik angkot Kak," Bina mengangguk.


"Yaudah nanti pulang nya kakak anter, ya?" Wahyu tersenyum.


Bina melirik irgi, pemuda itu masih dalam posisi yang sama, menunduk memperhatikan makanannya. Apa maksud pemuda itu memberi tahu Wahyu kalau ia pulang naik angkutan umum. Pemuda itu memang tak memberi tahunya langsung, tapi secara tidak langsung kan itu memberi tahu.


"Eh, kok lo tau Gi, Dek Bina pulang naik angkot?" Wahyu mengerutkan dahi, kembali menoleh pada pemuda disampingnya.


"Ngak sengaja kemarin pulang mpls liat." Jawabnya, masih menunduk. Wahyu hanya menggumamkan kata 'oh' mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.

__ADS_1


LOVE YOU ALL ^3^


__ADS_2