Bercerita Tentang Kita

Bercerita Tentang Kita
part 11


__ADS_3

ƪ(˘⌣˘)ʃ


Bina menaiki vespa Irgi, dengan si pemilik duduk di depannya, bersiap menyalakan motornya.


"Irgi."


Panggilan itu berhasil mengalihkan atensi mereka pada asal suara. Gadis dengan seragam PMR di samping motor kini menjadi arah pandang mereka.


Bina mengerjapkan mata, badannya seketika membeku tak bergerak dalam posisinya. Bagaimana ini? Apa ia akan menjadi perusak hubungan orang? Apa ia akan menjadi pemicu mereka bertengkar? Apa ia akan menyakiti hati seseorang? Bina tidak mau sungguh. Pikiran-pikiran negatif terus menghantui Bina, pertanyaan-pertanyaan tentang apa dan bagaimana terus berputar dalam kepalanya. Apa ia mengambil keputusan yang salah, dengan menyetujui perjodohan yang telah direncanakan.


"Pita?"


Suara pemuda di hadapan Bina, berhasil membuat Bina sadar kembali, namun badannya masih diam tak bergerak, bahkan menggerakan sedikit tangannya pun ia tak bisa. Bina benar-benar diam, tak mengeluarkan sedikit suara pun. 'Ini aku turun ngak ya?' Bina benar-benar takut akan posisi ini, ia takut bergerak atau mengeluarkan suaranya, ia takut itu akan membuat sesuatu yang salah, ia takut melakukan kesalahan.


"Gi..." Pita, gadis itu menatap Irgi bertanya, suaranya lirih tak ada kesan marah sama sekali.


"Ini Bina." Irgi menjawab, ia sedikit melirik Bina. "Wahyu suruh saya antar, soalnya Bina pulangnya naik angkot, jam segini ngak ada angkot." Jelasnya.


Bina dengan takut-takut melirik pada gadis yang masih berdiri di sebelah motor yang ia tumpangi. Ia lihat, gadis itu mengangguk pelan, menggumamkan kata 'oh' tanpa suara. Mungkin sadar diperhatikan seseorang, gadis itu melirik pada Bina, dengan cepat Bina mengalihkan pandangannya menunduk.


"Kamu kenapa kesini, ekskulnya selesai?" Irgi bertanya saat pandangan kekasihnya mengarah pada Bina.


"Oh, aku cuma mau ngasih ini, aku buat tadi pagi semoga masih enak dimakan.” Pita menyodorkan kotak makanan kehadapan Irgi, tersenyum cerah.


"Makasih sayang." Irgi ikut tersenyum melihat Pita, ia menerima kotak itu, mengacak rambut gadis itu dengan gemas.


"Aku pergi dulu, yah." Pita masih tersenyum cerah kearah Irgi.


"Oke, nanti pulang sama siapa? Nanti saya balik lagi kesini kalo ngak ada yang nganter."


"Ngak aku sama papa, makasih." Pita melambaikan tangannya. "Hati-hati yah." Senyum nya masih tak luntur.


"Okee dadah."


Irgi menyalakan motornya kala melihat Pita sudah hilang dari pandangannya. Ia mulai meninggalkan pekarangan sekolah dengan Bina yang duduk di boncengannya.


"Kak..." Bina memanggil pelan kala motor Irgi sudah dirasa jauh dari sekolah. Seperti biasa Irgi menjalankan motornya perlahan, membuat suara Bina dapat terdengar jelas ditelinga Irgi.


"Hmm."


"Itu... pacar Kakak ngak papa?" Tanya Bina, suaranya pelan hampir tak terdengar kalau saja Irgi melajukan motornya sedikit lebih kencang.

__ADS_1


"Pita? Ngak papa. Kamu ngak usah ikut campur Bin, kan saya sudah pernah bilang, masalah saya dan Pita itu urusan saya." Irgi menjawab lembut.


"Hmm..." Bina bergumam.


Jujur saja ia takut dijambak, dan diseret turun dari atas motor Irgi, kemudian ia dieksekusi dengan brutal oleh gadis itu, seperti di film-film yang sering ia tonton. Walau ia tau gadis itu berperilaku lembut di pertemuan terakhir mereka tempo hari, tapi kan siapa tau namanya manusia.


"Pita ngak seperti yang kamu pikir Bin. Dia pribadi yang lembut, dia dewasa, ngak mungkin dia cemburu sama hal sepele kaya gitu, dia juga tau porsi mengendalikan emosi, tau mana prioritas." Ucap Irgi panjang lebar.


Nadanya seperti sangat khas Irgi, lembut tak ada suara yang lebih tinggi intonasinya atau nada sombong didalamnya, benar-benar lembut. Kalau ia pikir, Irgi terlihat sangat mipir ayahnya, sang ayah adalah seorang yang bertutur kata lembut jika menasehati atau berbicara serius, dibalik ke cuaks-an nya. Bina rasa suara dan cara bicara Irgi adalah favoritnya dari pemuda dihadapannya ini.


"Karena itu Kak Irgi suka Kak Pita?" Bukan apa, Bina hanya penasaran.


"Hmmm... Gimana ya, kalo dibilang itu alasannya juga bukan, tapi mungkin, salah satunya bisa dibilang." Pemuda itu mengangguk-anggukan kepalanya.


"Ooh.. ceritain dong Kak, pas nembak Kak Pita gimana?" Tanya Bina, ia sedikit memajukan kepalanya di samping kepala Irgi, siap mendengar cerita.


"Kepo." Balas Irgi singkat.


"Ck, ngak papa, nambah koleksi cerita romans aku kak." Bina meletakan tangannya di pundak Irgi, menepuknya, kemudian ia remas pelan.


Irgi menggoyangkan pundaknya yang perlakukan Bina bak squishy. Tak kunjung dilepaskan, Irgi menepuk tangan Bina yang berada di pundaknya.


"Au, sakit.." Bina menepuk bahu Irgi sedikit kencang, memundurkan kepalanya, kemudian ia mengangkat tangannya, guna ia usap tangannya yang kini memerah.


Bina berdecak jengkel, bibirnya ia memanyunkan kedepan, "kan cuma gitu, Kak Irgi malah bales kenceng, tanganku merah." Ucapnya.


"Lebay."


Bina lagi-lagi menepuk pundak Irgi kencang, membuat pemuda itu meringis kesakitan.


"Lebay lebay, orang sakit kok." Bina sedikit meninggikan suaranya. Ia menjauhkan duduknya mundur menjauh dari Irgi.


"Sini saya liat."


Irgi melepaskan tangan kiri nya dari setir, mengulurkannya kebelakang, meminta Bina memperlihatkan tangannya.


Bina mengulurkan tangannya, yang ditangkap Irgi begitu mudah. Pemuda itu sesekali memperhatikan tangan Bina sembari matanya fokus menatap jalanan. Dilihatnya tangan Bina yang sedikit memerah.


"Sedikit doang." Ucapnya, tapi tak lama pemuda itu menggumamkan doa, kemudian ia meniup tangan Bina berulang kali.


Bina yang diperlakukan begitu, bukannya baper ia malah mengingat ayahnya lagi. Sang ayah juga memperlakukannya sedemikian rupa jika ia terjatuh, saat kecil. Pria itu selalu mengatakan pada Bina ketika ia terjatuh, untuk tetap tegar walau ia seorang perempuan, ia harus kuat. Pemuda ini benar-benar membuatnya merindukan sang ayah.

__ADS_1


Sadar tangannya masih di genggaman Irgi, Bina buru-buru menariknya.


"Udah nggak sakit?" Pemuda di hadapan Bina bertanya.


"Iya." Ucap Bina pelan.


"Saya punya pertanyaan." Irgi bersuara, ketika Bina diam.


"Apa?"


"Tentang keluarga kamu, boleh saya tanya?"


Bina mengangguk, walau ia tau pemuda di hadapannya tak bisa melihatnya. Bina menghela nafas, kemudian bergumam.


"Keluarga kamu itu gimana orang-orangnya?"


"Hmm..." Bina berfikir. "Sifat?" Bina bertanya ragu. Mendapat gumaman dari Irgi ia pun melanjutkan. "Kalo ayah, ya mungkin sifatnya sama kaya om Andi, ibu lembut, terus Apin ya gitu cerewet sama sedikit nakal, tapi lucu." Ucap Bina sambil mengingat bagaimana sifat anggota keluarganya.


"Kalo kamu?" Pemuda itu kembali bertanya.


Bina sedikit kaget dengan pertanyaan Irgi, membuat, mungkin hanya dirinya, sedikit canggung disini. Bina terdiam cukup lama, kalau dipikir ini adalah percakapan terpanjang mereka, dan mereka akan berbincang cukup panjang seperti ini hanya ketika mereka ada diatas motor, dijalan menuju tujuan mereka. Mungkin dengan ini mereka akan semakin mengenal satu sama lain, karena mereka sendiri pun tidak tau kedepan akan seperti apa, dan mungkin ini adalah cara Irgi menyelesaikan semuanya.


"Hmm, Bina suka basket." Ucap Bina, singkat.


"Itu aja? Yang lain nggak ada." Irgi mengerutkan dahinya.


Bina menggeleng, "ng.... nggak." Ucapnya ragu. "Kalo Kak Irgi?" tanya Bina guna mengalihkan pembicaraan.


"Setelah saya bilang, kamu juga harus bilang Bina. Saya nggak tau kedepan bakal jadinya gimana, tapi lebih baik mengenal dulu kan."


Bina hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia juga tau tapi seperti sulit membuat dirinya lebih terbuka dengan orang baru seperti Irgi. Mereka bahkan hanya berkomunikasi jika berada di motor, mereka seperti orang yang kenal di sekolah. Bina juga tak mau dekat dengan Irgi di sekolah, tapi kan maksud Bina, ya gitu deh.


"Iya Kak Irgi dulu aja." Ucap Bina.


"Oke, mulai dari papa, papa tuh serius tapi ngak serius, beliau tipe orang yang sangat tegas kalau lagi serius atau marah, tapi lembut dan humoris. Mama, dia lembut, penyayang dan perhatian. Kalau saya, ya gini aja seperti yang kamu lihat, apa adanya aja." Ucap Irgi.


"Kak Irgi punya saudara?" Tanya Bina, penasaran sebab ia tak menemukan orang lain dirumah pemuda ini.


"Nggak, saya anak tunggal, Bina dua bersaudara?"


"Iya, Bina anak pertama, Apin bontot."

__ADS_1


Irgi tersenyum, agaknya jika nanti mereka berdebat akan sulit. Si anak tunggal dan anak sulung, mari lihat esok hari siapa yang kan menang jika mereka berdebat. Tapi sepertinya Irgi akan lebih banyak makan ati daripada Bina, ia akan melatih diri untuk lebih sabar. Meski dirinya tak tau akan seperti apa ia dan Bina beberapa tahun lagi.


.·'¯'(>▂


__ADS_2