
(●ˇ∀ˇ●)
Badan Bina menegang ditempat. Tak bisa ia gerakan barang seincin pun dari tempatnya. Pegangannya pada piring kupat tahu milik Irgi kini mengencang. Suasana yang tadinya ramai ditelinga, kini seolah ia tuli, Bina tak mendengarnya. Pikirannya fokus kepada pemuda dengan setelan kasualnya, yang berdiri, menunduk menatapnya yang sedang duduk.
“Kak...” Bina berucap lirih.
Kewaspadaanya tentang Irgi yang ia tunggu tak kunjung kembali, kini sudah hilang entah kemana. Fokusnya kini tentang pemuda dihadapannya. Melupakan rasa hausnya. Sekarang ia bukan mengaharapkan Irgi datang, ia malah mengharapkan Irgi tak kunjung datang sampai sekiranya pemuda ini pergi.
Wahyu, pemuda itu mendudukan dirinya pada bangku Irgi, disamping Bina. Hal itu membuat Bina lebih menegakan tubuhnya. Ia mulai meliarkan matanya kesana kemari, mencari sosok Irgi yang tak ia temukan dimana pun. Entah pemuda itu kemana, tapi Bina harap Ia tak kunjung kembali untuk waktu yang singkat. Dalam hati Bina berdoa, supaya Irgi membeli minum ditempat yang jauh.
“Dek Bina sendiri?” Wahyu bertanya, membuat Bina menolahkan kepalanya cepat menghadap pemuda itu. Pemuda itu tersenyum ceria menatap Bina.
Bina mengangguk pelan. “Iya kak.” Setelahnya Bina mengalihkan tatapannya kembali, diam-diam masih tetap mencari keberadaan Irgi.
“Dek Bina suka kupat tahu ya?” Wahyu bertanya kembali.
Bina mengangguk kembali, “iya kak,” jawabnya. Sungguh ia benci sekali dengan situasi seperti ini. Ia sangat takut Irgi datang, dan Wahyu tau tentang dirinya dan juga Irgi. Bina takut, dirinya akan di fitnah merebut pacar orang atau apapun. Ia juga tak mau Wahyu menilainya sebagai perempuan murahan, perebut pacar orang. apalagi Irgi yang hubungannya dengan Pita entah bagaimana.
Bina gelisah, merubah duduknya untuk kesekian kali, guna mengurangi rasa cemas dalam dirinya. Telapak tangannya berkeringat, dibawah sana. Ia juga masih meliarkan matanya menatap pada manusia-manusia yang memenuhi pasar malam ini. Berusaha menemukan sosok yang sendari tadi ia cari. Sungguh perasaan Bina benar-benar cemas sekarang.
Melihat gelagat Bina yang aneh, Wahyu mengerutkan dahinya. “Dek Bina cari apa?” Tanyanya.
Mendapat pertanyaan itu membuat Bina kembali lagi menoleh pada Wahyu. Gadis itu diam untuk beberapa saat, menatap pada pemuda disampingnya yang tersenyum cerah menatap nya juga. Bina berusaha menetralkan rasa cemasnya, ia mulai mengatur nafasnya. Mengeyahkan rasa-rasa tidak enak dalam hatinya. Biarlah, dari pada dirinya terus merasa tidak nyaman, lebih baik dirinya mulai menenangkan diri. Ia hanya tinggal berdoa nanti didalam hati semoga Irgi tak kunjung kembali dulu.
“Nggak cari apa-apa kak.” Bina menjawab setenang mungkin. “Kak Wahyu beli apa?” Tanyanya mengalihkan pembicaraan.
Wahyu mengedikkan bahunya tak tau, "dek Bina naik apa kesini?”
“Angkot kak.”
“Tadi tuh sama kakak aja, dari pada sendiri.” Wahyu tersenyum menatap Bina.
Bina mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia tak terlalu fokus dengan obrolannya. Sungguh rasa itu kembali lagi, rasanya Bina ingin sekali berteriak sekarang juga entah kenapa. “Mau sendiri aja kak.” Ucapnya tenang.
“Ya dari pada sendiri mending sama kakak, bahaya malem-malem sendiri dek, nanti kenapa napa gimana?”
“Nggak papa kak, bareng temen kok.” Bina tersenyum membalas.
“Loh tadi kataya sendiri.” Wahyu mengerutkan dahinya, menatap lekat pada gadis disampingnya.
Sekarang tubuh Bina kembali menegang. Matanya ia larikan kesana kemari mencari alasan yang tepat. Dadanya berdebar seolah ia baru saja dikagetkan oleh sesuatu. Pikiranya berputar mencari susunan kata yang tepat untuk ia keluarkan. Sepertinya ia baru saja salah menjawab satu pertanyaan dari pertanyaan-pertanyaan Wahyu. Aduh tolong Tuhan Bina tak pandai berbohong, jadi tolong bantu Bina untuk mendapat kekuatan berbohong walau itu mustahil. Tapi kan katanya boleh berbohong asal dengan alasan yang baik kan?
Bina menggaruk belakang lehernya, menampakan wajah bodohnya pada pemuda yang kini masih menatapnya menanti jawaban dari bibirnya. “Emang Bina tadi ngomong gitu ya kak?” Bina tersenyum menampakan giginya.
“Iya,” Wahyu mengangguk masih menampakan raut bertanya pada Bina. “Jadi, sendiri apa bareng temen?” Tanyanya.
“Sama temen kak, kayanya tadi aku salah ngomong deh.” Bina menyengir bodoh.
Wahyu mengangguk-anggukan kepalanya, tersenyum geli melihat tingkah Bina. “Sekarang temennya mana?”
__ADS_1
“Lagi beli minum.” Bina mengedarkan kembali pandangannya pada lautan manusia yang memenuhi pasar malam ini.
“Oh. Mang satu ya, bungkus.” Wahyu mengacungkan tangannya pada si mamang kupat tahu, yang disauti dengan acungan jempolnya.
“Kakak sendiri?” Bina bertanya penasaran.
“Sama mama.” Wahyu menjawab melihat pada gerobak perabotan, dimana sang ibu berada. “Tuh,” tunjuknya.
Bina mengangguk-anggukan kepalanya, tersenyum. Lucu sekali rasanya kepasar malem dengan mama katanya. Dan sempat-sempatnya pemuda ini mengajak Bina, untuk pergi ke pasar malam bersama.
“Dek Bina mau kenalan?” Wahyu bertanya tiba-tiba menoleh pada Bina tersenyum cerah.Ia baru saja mendapat ide yang lumayan oke untuk ia kerjakan, dari pada gabut menunggu sang mama berbelanja. Mungkin saja dengan ia perkenalkan Bina pada sang mama, wanita itu menyudahi belanjanya dan pergi pulang sendiri dengan gojek, agar ia bisa mengantar Bina pulang nanti. Dan syukur-syukur sang mama mau membantunya mendekati Bina.
Mendapat pertanyaan itu membuat Bina langsung menggelengkan kepalanya. Membuat raut wajah pemuda yang kini menatapnya ceria berubah seketika menjadi murung, menunduk sedih. Bina juga bingung masa tiba-tiba mau dikenalkan dengan mamanya Wahyu. Dengan mamanya Irgi yang sudah dipercaya oleh sang ayah saja dia ngangong-ngangong. Apalagi dengan mamanya wahyu, di pasar malem pula.
Melihat raut wajah Wahyu yang tak kunjung berubah setelah beberapa lama, akhirnya Bina menyentuh bahu pemuda itu. “Maaf ya kak.” Ucap Bina.
Wahyu mendongak tatapannya beradu dengan Bina. Pemuda itu mengerucutkan bibirnya maju kedepan. Menatap Bina dengan sedih.
“Kenapa?” Tanyanya Wahyu.
“Ya masa aku tiba-tiba dateng ucuk-ucuk minta kenalan sih.” Ucap Bina.
“Ya nggak papa.” Wanyu menghentakkan kakinya pada tanah yang ia pijak. “Mau ya?”
“Nggak mau kak.” Bina menggeleng.
Bina menggeleng kembali. “Nggak.”
“Kakak kesel, mama nggak selesai-selesai belanjanya, dari kurang lebih sejam yang lalu.” Wahyu berucap menggebu, menghentak-hentakan kakinya, memberenggut.
Bina terkekeh geli melihatnya. Ia tak pernah menemukan seorang lelaki dengan model seperti Wahyu ini, sangat lucu. Umurnya memang lebih tua dari Bina, tapi tinggahnya Bina merasa seperti ingin sekali membanting nya saking lucunya pemuda ini. Seperti anak TK yang ngambek tidak dibelikan mainan oleh sang mama.
“Sabar kak, namanya juga perempuan.” Bina mengelus pundak Wahyu pelan, namun segera ia pindah kan tangannya secepat mungkin dari tempat itu.
“Semua perempuan begitu ya?” Wahyu bertanya dengan pelan.
“Hmm, nggak semua sih, tapi hampir semua kaya gitu.” Jelas Bina.
“Ngeselin ya?” Wahyu bertanya.
“Aku ngeselin?” Tanya Bina menunjuk dirinya sendiri.
“Perempuan.” Wahyu menjawab.
“Aku perempuan.” Bina berucap pelan, sekarang dirinya mulai bingung dengan identitasnya sebagai perempuan.
“Loh iya ya.” Wahyu tertawa memukul-mukul punggung Bina dengan gemas.
Walau pelan punggung Bina lama-lama terasa panas. Merasa begitu, Bina mendorong Wahyu, hingga pemuda itu terjengkang dari duduknya. Sepertinya kemistri pertemanan Irgi dan Wahyu begitu erat, sampai-sampai posisi jatuh estetik mereka pun terlihat sama, luar biasa. Bedanya Wahyu bergulih sekali, dengan gaya estetiknya, menabrak beberapa orang.
__ADS_1
Melihat itu Bina tertawa terbahak, kakinya ia hentak-hentakkan ke tanah. Sampai-sampai ketupat tahu ditangannya hampir saja terjatuh. Si mamang ketupat tahu juga tertawa melihat pemuda itu. Beberapa orang juga tertawa melihatnya. Benar-benar seperti dejavu.
Tak lama Wahyu bangkit berdiri, sersenyum menampakan giginya, meminta maaf pada orang-orang yang ia tabrak. Berlari menghampiri Bina, yang kini masih menertawakan dirinya.
“Dek Bina ah.” Wahyu duduk kembali ditempatnya, menutup wajah malu.
Bina dan si mamang masih terbahak tertawa. Sungguh itu benar-benar lucu sekali. Pemuda itu membuatnya tertawa lepas malam ini. Sungguh Bina serasa hilang ingatan dengan semua masalahnya dengan dunia jika ia berada didekat Wahyu. Ia serasa tak punya beban tentang semua hal.
“Lucu banget kak.” Bina mengatur nafasnya, berusaha meredakan tawanya.
“Hati-hati atuh A’.” Si mamang juga menghentikan tawanya.
“Dek Bina udah ih.” Wahyu menyenggol lengan Bina, melihat gadis itu masih saja tertawa perlahan dengan wajah memerah.
Setelah beberapa saat Bina menghentikan tawanya.
“Nih A', pesenannya.” Si mamang menyodorkan sebungkus ketupat tahu pada Wahyu. “Lain kali hati-hati A,” si mamang tersenyum geli.
“Hehe, makasih mang.” Wahyu tersenyum malu, menerima bungkusan itu.
Tak lama setelah menerima itu, ponsel Wahyu berdering. Pemuda itu berdiri, berjalan sedikit jauh dari tempat Bina,
mengangkat teleponnya. Bina terus memperhatikan semua kelakuan pemuda itu yang mengangguk-angguk sembari menggerakan bibirnya. Hingga tak lama pemuda itu terlihat mematikan teleponnya, kembali menghampiri Bina.
“Dek Bina, kakak duluan ya, mama udahan belanjanya katanya.” Ucapnya pada Bina.
Bina mengangguk, “iya kak, hati-hati.” Bina tersenyum.
“Dek Bina beneran sama temen kan?” Pertanyaan Wahyu mendapat anggukan dari Bina.
“Beneran kan? Nanti kakak kesini lagi nganter dek Bina deh.” Wahyu memegang dagunya berfikir.
“Nggak kak, nggak usah, aku sama temen kok. Nanti dia kasian sendirian dong.” Bina menggeleng, berucap cepat.
“Yaudah deh, nanti dek Bina kalo ada apa-apa hubungi kakak ya!” Wahyu tersenyum lucu menatap Bina.
Lagi-lagi Bina mengangguk, balas tersenyum juga. Setelahnya pemuda itu pergi meninggalkan Bina dengan lambaian tangan dan berjalan mundur beberapa langkah, tak lupa juga menampakan giginya yang tak pernah tertinggal. Tingkahnya membuat Bina lagi lagi terkekeh geli.
“Bin munimnya.” Irgi datang tepat setelah Wahyu pergi masuk dalam kerumunan manusia.
“Ah iya, makasih kak.” Bina menerima gelas plastik itu, menyerahkan piring ketupat tahu pada pemiliknya.
“Kamu udah abis?” Irgi bertanya, dan hanya dibalas anggukan dari Bina.
“Tadi ada Wahyu ya?” Irgi bertanya lagi, nadanya biasa saja, tatapannya ia fokuskan pada piring, mulai menikmati makanan. Ia memang melihat Wahyu dan Bina, mulai dari Wahyu datang, ia sudah melihatnya. Minuman juga sudah ia pesan dan sudah berada ditangannya, namun ia tak kunjung menghampiri Bina karena ia tak mau Wahyu tau tentang mereka.
Pertanyaan itu hanya di jawab deheman dan anggukan Bina. Setelahnya diantara mereka hanya diisi oleh keramaian orang-orang.
👈(⌒▽⌒)👉
__ADS_1