
> <
Sore ini begitu sejuk, tak seperti hari-hari lainnya. Tak mendung, namun redup dan tak panas. Suara marching band dari lapangan sebelah terdengar meriah, mengiringi sebagian anak-anak PMR yang kini tengah membuat tandu darurat, di lapangan.
Bina duduk di atas lapangan, menatap teman-temannya yang sedang berlomba dengan waktu, membuat tandu sesingkat dan sekencang mungkin. Gadis itu menggulung pelan tali di genggamannya, untuk ia gunakan lagi nanti.
Bina menoleh, sedikit mengintip pada salah satu kelas yang anak-anak PMR jadikan untuk ruangan PP (pertolongan pertama). Ia lihat Sila sedang belajar membalut luka dengan sebuah kain berwarna putih di sana. Ia dan Sila memang mengikuti ekskul yang sama, namun di dalam mereka kembali dibagi dalam kelompok. Sila memilih mengikuti PP, dan Bina mengikuti tandu, karena ia tak terlalu suka dengan materi dan hafalan.
“Bina, ayo. Ini yang lain udah selesai.”
Bina berdiri dari duduknya, setelah pasangan tandu nya memanggil. Gulungan talinya yang sudah selesai ia letakan pada sisi empat bambu dengan berbeda ukuran. Gadis itu berjalan menuju garis yang sudah di tentukan, bersiap untuk membuat tandu darurat.
“Satu, dua, tiga, mulai.”
Setelah hitungan berakhir, Bina berlari bersama dengan pasangannya. Mengambil bambu pendek, dengan bambu panjang yang ia duduki. Memalangkan kedua bambu berbeda ukuran itu. Bina mengikat simpul palang, pada pertemuan bambu secepat mungkin, kemudian menariknya sekuat tenaga agar tak lepas bila di cek dan aman untuk pasien yang akan ia bawa. Juga pada bagian berlawanan. Setelahnya, ia mengikat simpul jangkar. Hingga tandu darurat telah selesai dibuat.
“Selesai.” Ucap Bina, mengambil bendera tanda waktu harus dihentikan.
Bina duduk kembali di atas lapangan. Menatap pada kakak kelasnya yang kini mulai memeriksa tandu darurat yang ia buat.
“Bina.”
Bina menoleh saat namanya dipanggil. Seorang perempuan dengan syal kuning khas PMR wira, berjalan mendekat ke arahnya.
“Udah latihannya?” Perempuan itu bertanya. Pita, Perempuan itu mendudukan dirinya di samping Bina.
“Udah, Kak.” Ucap Bina.
“Itu jaraknya harus berapa?” Gadis itu bertanya kembali, melihat sembari menunjuk tandu Bina yang kini mulai di ukur jarak pada simpul jangkarnya.
__ADS_1
“Em... itu dua puluh lima cm, Kak."
Kemudian mereka sama-sama hening. Bina gelisah. Suasana canggung yang sangat tidak ia sukai telah kembali ia alami.
“Em...” Bina bergumam kecil. Kepalanya mencari topik pembicaraan yang pas pada situasi seperti ini. “Kakak udah latihannya?” Akhirnya hanya kalimat salinan yang bisa meluncur dari mulutnya.
Perempuan itu tersenyum ceria menatap Bina. Kemudian ia mengangguk, “Iya.”
“Aku dengar dari Irgi, kamu kan yang ngelatih basket sekarang?” Perempuan itu terlihat sangat semangat.
Bina mengangguk, “iya, Kak."
“Gimana? Seru nggak?” Pita bertanya semangat menatap Bina.
Bina bergumam sebentar, “seru, Kak.”
“Iya Kak.”
“Gimana persiapannya?”
“Bagus kok, Kak.” Bina menggaruk kepalanya bingung. Ia tak tahu harus menjawab bagaimana.
Pita tersenyum melihat Bina. Gadis di sampingnya ini terlihat sedikit bingung, juga menjawab singkat setiap pertanyaannya. “Semangat ya. Semoga menang,” ucapnya.
Bina menganggukan kepalanya. “Makasih, Kak.”
Lagi. Mereka hening. Pita yang sibuk melihat tandu Bina yang tengah diperiksa oleh salah satu anak PMR. Gadis Itu terlihat sangat semangat dan antusias dengan tontonannya.
Bina terus diam-diam menatap gadis di sampingnya. Mereka terhitung tak pernah berinteraksi walau tergabung dalam ekskul yang sama. Bina hanya melihat gadis itu beberapa kali ketika apel pembukaan dan juga ketika istirahat, hanya itu. Mungkin karena mereka mengikuti bidang yang berbeda. Pita lebih sering berada di dalam kelas, sedang Bina berada di lapangan.
__ADS_1
Bina kira gadis ini tak masuk eskul hari ini, pasalnya saat apel pembukaan tadi gadis itu tak terlihat. Juga kemarin saat liburan Irgi terlihat gelisah, pemuda itu juga pergi dari liburan kemarin lebih awal, bahkan berbohong kepada kedua orang tuanya, karena sebuah pesan dari Pita. Bukan Bina lancang karena mengintip pesan seseorang, namun dirinya terlanjur penasaran. Di pesan itu tertulis, Pita sedang di rumah sakit. Bina kira gadis ini sakit. Namun gadis itu kini terlihat sangat semangat. Mungkin Pita hanya sakit biasa, dan Irgi khawatir. Wajarkan?
Bina tersenyum, menatap Pita. Pita terlihat sangat ceria. Gadis itu begitu cantik, senyumnya yang manis, tutur kata yang lembut. Dan perilaku yang sangat baik. Mungkin mereka memang cocok. Irgi dengan tutur lembutnya bertemu Pita dengan kesempurnaan yang gadis itu miliki. Mereka begitu sempurna, ia rasa.
“Bina, gimana masuk eskul PMR, seru nggak?” Pita bertanya menoleh pada Bina.
Bina mengangguk tersenyum. “Iya, Kak,” jawabnya.
“Kakak masuk dulu ya. Semangat.” Pita berdiri dari duduknya, berjalan pergi setelah mendengar Bina mengatakan ‘iya.’
Bina masih melihat Pita. Kekasih Irgi itu berjalan menghampiri teman-temannya, kemudian tak lama gadis itu tertawa, entah kenapa. Lihat, bahkan disaat perempuan lain jika tertawa mungkin menampilkan wajah yang konyol. Gadis itu masih mempertahankan wajah cantiknya.
Bina jadi membayangkan bagaimana Pita bersanding dengan Irgi di kemudian hari, pasti sempurna.
Tak lama, Bina menunduk. Andai saja, itu mudah terjadi. Andai saja dirinya tak jadi penghalang bagi mereka berdua, andai saja dirinya memang tak ada di dunia. Pasti semua orang bisa mewujudkan harapan mereka. Sila juga, mungkin pertengkarannya dulu tidak akan terjadi jika dirinya tak ada. mungkin Sila sekarang sudah bersama Wahyu, mungkin sekarang Irgi bahagia dengan hidupnya, tanpa harus memikirkan banyak hal tentang dirinya dan juga keluarganya.
Dirinya sekarang menambah beban bagi semua orang. Apalagi Irgi. Ia bisa melihat tatapan Irgi pada tatapan Tina, saat wanita itu berkata tentang pelaminan tempo hari. Tatapan yang mungkin ingin Irgi tolak, namun tak bisa. Tatapan penuh harapan yang tak pernah bisa mereka abaikan.
Nanti keputusan apa yang akan mereka ambil. Nanti siapa saja yang akan sakit hati. Nanti berapa orang yang akan mereka buat kecewa. Nanti harapan siapa yang akan terwujud. Harapan siapa yang akan pupus. Harapan dirinya, Irgi, orang tua mereka, atau siapa yang akan terealisasikan. Apa akan ada yang menangis, kecewa, sakit hati. Apa dirinya kan bahagia.
Apa Bina terlalu egois. Dirinya harus apa? Ayahnya... Bina harus apa?
Bina merogoh kantong celananya. Membuka room chatnya dengan sang ayah. Menulis sebuah pesan disana, namun tak lama kembali ia hapus. Apa ayahnya akan kecewa pada dirinya, kalau ia menolak perjodohan?
Bina takut sakit hati. Bina takut kecewa. Bina takut mengecewakan. Bina takut tak sesuai harapan. Bina takut menjadi penghalang. Bina takut akan semua hal. Bina takut akan dunia. Dirinya terlalu takut akan semua hal.
Bina cengeng, egois, selalu mengambil keputusan seorang diri tanpa memikirkan orang lain. Dirinya takut menghalangi harapan orang. Bina harus apa?
'\((( ̄( ̄( ̄▽ ̄) ̄) ̄)))/
__ADS_1