
X_X
Udara malam menerpa wajah Bina, membuat gadis itu memejamkan matanya menikmati. Suasana hening, namun tidak secanggung tadi. Motor Irgi melaju pelan seperti biasa, membuat mereka lebih lama dijalan, ditambah rasa hening yang tercipta, membuat perjalanan mereka kali ini benar-benar terasa lambat. Rasanya jalanan menuju kost Bina terasa sangat panjang malam ini.
Lampu-lampu yang dihasilkan kendaraan dan gedung-gedung tinggi menyatu memeriahkan gelapnya malam, membantu sang bulan dan bintang. Suara kendaaraan yang ramai juga berlomba dengan suara jangkri yang kini sudah tak terdengar. Sedikit macet karena ini waktu bagi para manusia-manusia menikmati hidup, lepas dari jeratan kerjaan dan pelajaran, bebas sesaat yang harus benar-benar mereka nikmati, sebelum esok akan kembali sama.
“Bina.” Irgi tak bermaksud memanggil, ia hanya bergumam kecil.
Namun Bina mendengarnya. Gadis itu berdehem. Mengingat mereka hanya duduk diatas vespa biru yang melaju dengan perlahan. Membuat suara udara tak bisa mengalahkan suara mereka.
Irgi menghela nafas, gatal sekali bibirnya untuk langsung mengutarakan hal-hal yang ada dipikirannya. Ia berniat ingin membicarakannya ketika mereka sudah sampai ditempat tujuan, agar mereka juga lebih leluasa. Namun sudah tak tahan sekali rasanya Irgi ingin berucap.
“Kamu ada hubungan apa dengan Wahyu? Kalian deket atau apa?” Irgi bertanya pelan, ia takut membuat Bina sakit hati dan menanggis kembali.
Mendapat pertanyaan itu membuat Bina tidak nyaman. “Nggak ada apa-apa,” ucapnya pelan.
“Kamu ada perasaan sama Wahyu?” Irgi kembali bertanya.
Bina berdeham sebentar akan pertanyaan Irgi. Ia juga terlalu bingung akan perasaannya. Perasaan yang akhir-akhir ini muncul jika berada didekat Wahyu. Apa perasaan itu bisa dibilang rasa jatuh cinta? Apa Bina jatuh cinta dengan Wahyu. Perasaan bahagia dan seolah dirinya melupakan semua masalah hidupnya jika berada dekat dengan pemuda itu, apa bisa dikatakan rasa jatuh cinta. Atau ia hanya merasa nyaman saja? Dalam, dirinya Bina hanya menganggap Wahyu seorang teman. Namun perasaan nya mengatakan tidak hanya itu, dan ia bingung apa maksud dari ‘itu.’
“Bina.... saya nggak tau gimana perasaan kamu dengan Wahyu. Tapi tolong jangan buat Wahyu sakit hati, jangan buat Wahyu merasa kecewa dengan semuanya. Dia teman saya, dia tidak tahu tentang kita. Saya takut kalau dia tahu dan sakit hati akan keputusan yang saya dan kamu ambil nantinya.” Irgi berucap pelan, sangat pelan, ia sangat hati-hati dalam berkata.
Bina diam tak menjawab, ia juga sadar akan dirinya dengan Irgi bagaimana. Apalagi pikirannya kini merambat pada Sila, gadis itu juga mungkin akan sakit hati dengannya, jika ia memang mempunyai perasaan itu pada Wahyu. Tentang perasaannya, mungkin ia tak akan membuat semua itu jelas, Bina akan menyimpannya tanpa tau perasaan apa itu.
“Bukan saya melarang kamu untuk jatuh cinta atau apa, saya tidak melarangnya. Saya sendiri juga sekarang bersama perempuan. Mungkin, jika kamu ingin membuat sebuah hubungan percintaan, tolong jangan dengan Wahyu, saya takut Bina.” Ucap Irgi lembut.
Bina berdehem, mungkin jika ia diposisi yang sama dengan pemuda dihadapannya, ia juga akan memilih jalan yang sama dengan yang Irgi lalui sekarang.
“Saya takut Wahyu kecewa dengan saya, saya takut dia membenci saya.” Irgi berucap pelan. Walau bagaimana pun Wahyu adalah temannya, ia takut pertemanan mereka renggang karena keputusannya sendiri. Walau ia tak tau keputusan apa yang akan dia ambil nanti, tetap ia takut. Ia takut akan merubah segalanya.
“Kalau kamu memang mempunyai perasaan pada Wahyu, tolong selesaikan masalah kita terlebih dahulu.” Ucap Irgi.
Bina hanya diam mendengarkan, ia tak tau harus merespon bagaimana. Dirinya sungguh tak tau dengan perasaannya sendiri bagaimana. Dan benar kata Irgi, sebelum ia mengambil keputusan untuk memastikan perasaannya pada Wahyu, ia harus menyelesaikan tentang dirinya dan juga Irgi. Sedang dirinya, tak bisa melakukan itu. Sila, gadis itu juga masih ia pikirkan. Bina menegakakan tubuhnya, diam, memikirkan banyak hal dalam kepalanya.
Suara kendaraan kembali mendominasi suasana mereka. Tak ada yang berucap, tak ada yang membuka bibir. Mereka diam untuk waktu yang sedikit lebih lama.
“Saya minta maaf...” Suara Irgi menerobos diantara suara kendaraan.
Bina mendongak menatap gedung-gedung tinggi disisi jalan. Beberapa cahaya dari jendela-jendela itu sudah redup, walau begitu masih banyak jendela yang memancarkan cahaya kekuningannya.
“Buat apa?” Tanya Bina lirih.
“Kemarin saya membentak kamu.” Irgi lebih lirih.
__ADS_1
Bina hanya berdehem.
“Saya minta maaf.” Irgi menjeda cukup lama. “Saya terlalu emosi,” pemuda itu menarik nafas panjang. “Saya minta maaf,” ucapnya sekali lagi.
Bina ingin menangis rasanya. Ia jadi mengingat sang ayah entah kenapa. Irgi, yang seolah mati-matian menolaknya, sedang Bina malah dengan ringan menganggukan kepala. Ayahnya.... apa Bina bisa menolaknya. Harapan Irgi, harapan ayahnya, kedua orang tuanya, Wahyu, Sila, atau harapan siapa yang harus ia wujudkan. Dirinya? Apa dirinya masih mempunyai harapan untuk dirinya sendiri.
Bina ingin lari, berteriak, melarikan dirinya sendiri dari harapan orang lain. Dan akan mewujudkan harapannya sendiri, ia akan punya harapannya sendiri. Tidak mewujudkan harapan orang lain, tidak bingung harus mewujudkan harapan siapapun. Hanya dirinya dan harapannya sendiri. Namun, apa dirinya bisa? Apa dengan begitu semua orang tak akan membencinya?
Bina menghela nafas dalam. Pikirannya kesana kemari tak tentu arah. Menciptakan fatamorgana, yang tak akan pernah menjadi kenyataan.
“Mau makan es krim kak?” Bina bertanya, setelah matanya tak sengaja melihat tulisan bercahaya berwarna, bertuliskan nama salah satu minimarket yang cukup terkenal.
“Udah malem, masih mau?” Irgi balik bertanya, yang di jawab Bina hanya dengan deheman.
“Oke.” Irgi berucap, membelokan setir motornya ke arah minimarket.
...
“Mau yang mana?” Irgi membuka tempat es krim, melihat pada Bina.
Bina memegang dagunya, berfikir. Banyak sekali merek dan rasa es krim yang terpampang disana. Mulai dari rasa yang umum seperti stroberi, coklat dan vanila, sampai rasa unik seperti rasa hinhomi. Namun, satu yang menjadi pusat perhatian Bina, satu merek es krim dengan rasa coklat yang tempo hari ia nikmati dengan Wahyu.
Bina menggerakan tangannya, hendak mengambil es krim stik yang baru saja mencuri perhatiannya. Namun tangan Irgi lebih mendahuluinya. Pemuda itu mengambil salah satu es krim corn dengan rasa coklat di samping tempat es krim yang Bina ingin ambil. Hingga Bina menatap pemuda itu.
“Udah? Yuk bayar.” Irgi berjalan mendahului Bina menuju kasir untuk membayar es krim mereka, setelah gadis itu menganggukan kepala.
Lalu-lalang kendaraan, pedagang kaki lima, dan manusia-manusia yang keluar masuk minimarket kini menjadi pandangan mereka. Menikmati satu es krim di tangan masing-masing, tanpa mengelurkan dialog apapun.
Bina menggigit corn es krimnya, menoleh pada Irgi yang diam menikmati es krimnya. Pemuda itu bersandar santai pada kursi, memerhatikan salah satu pedagang kaki lima di depan minimarket. Seorang bapak-bapak tua pedagang mie ayam yang sepi pembelinya. Entah apa yang dipikirkan pemuda itu, hingga pendangannya tak teralihkan pada apapun.
“Kak.” Bina memanggil.
Irgi menoleh pada Bina. Pemuda itu tak menyaut dengan suara, hanya ekspresinya yang menampakan raut bertanya.
“Aku boleh tanya?” Bina bertanya hati-hati.
Pemuda itu hanya mengangguk tak mengelurkan ekspresi berlebihan.
“Kakak udahan sama kak Pita?” Bina bertanya cepat, kemudian memalingkan pandangannya pada jalanan tak mau melihat Irgi.
Irgi tak langsung menjawab, ekspresinya tidak berubah, hanya biasa saja. Pemuda itu diam beberapa saat, menatap Bina yang tatapannya dengan cepat beralih kesan-kemari entah melihat apa. Irgi menarik nafasnya panjang, mengalihkan tatapannya kembali pada si bapak penjual mie ayam.
“Nggak.” Irgi menjawab setelah lama tak bersuara. Nadanya biasa saja tak ada rasa marah atau apapun. Sama seperti Irgi yang biasanya, lembut dan kalem.
__ADS_1
Mendapat jawaban itu Bina langsung menolehkan tatapannya pada Irgi. “Terus?” Tanyanya penasaran.
"Saya disuruh Pita untuk deket perempuan lain....” Irgi menjeda. “Saya nggak mau, tapi dia maksa.” Irgi tak mengalihkan tatapannya.
“Kenapa.” Bina memiringkan kepalanya bertanya bingung.
“Kamu nggak perlu tau.” Irgi berucap lembut.
Bina diam, masih banyak pertanyaan dalam kepalanya, namun tak bisa ia ucapkan. Dari ekspresi pemuda itu, ia bisa melihat ada rasa sedih disana.
“Intinya, bukan mau saya deket dengan perempuan lain.” Irgi menoleh tersenyum tipis menatap Bina.
Mata Irgi yang menatapnya memancarkan kesedihan yang tak bisa Bina respon dengan baik. Bina bingung ingin merespon bagaimana. Jujur saja ia sangat lambat akan perasaan. Tak tau harus merespon bagaimana dengan obrolan yang serius atau bersikap seperti apa ketika diposisi sekarang.
“Pulang yu.” Irgi mengakhiri tatapannya dengan Bina,
Pemuda itu berdiri, berjalan terlebih dahulu tanpa persetujuan Bina. Bina masih duduk ditempatnya saat pemuda itu berjalan menjauh melewati motornya sendiri, entah mau kemana. Hingga pemuda itu berhenti pada gerobak mie ayam yang beberapa saat lalu ia tatap.
Bina hanya duduk diam memperhatikan. Ia lihat pemuda itu mengobrol dengan si bapak penjual yang sedang membuat pesanan, sesekali mereka juga tertawa entah kenapa, karena Bina tak bisa mendengarnya. Hingga si bapak penjual dan Irgi bertukar barang, si bapak menyerahkan kantong plastik hitam entah apa isinya, dan Irgi yang menyerahkan uang.
Bina baru bangkit dari duduknya dan berjalan, setelah melihat Irgi berjalan menghampiri motornya.
“Kamu mau nggak?” Irgi meperlihatkan kantong plastik hitam ditangannya pada Bina. “Saya kenyang.” Lanjutnya, tersenyum.
“Apa?” Bina menerima, dan melihat isi dalam kantong plastik itu.
“Mie ayam.” Jawab Irgi.
Bina menggelang, ia menyerahkan kembali plastik itu pada si pemilik.
“Aku juga kenyang.”
Pemuda itu menggaruk belakang lehernya bingung. “Terus ini gimana?” Irgi menatap Bina bertanya.
“Kalo kenyang kenapa beli?” Bina balik bertanya. Bingung dengan tingkah pemuda di hadapannya.
“Kasian Bin, katanya belum ada yang beli.” Ucap Irgi.
“Yaudah kasih orang aja.” Bina tersenyum.
Irgi mengangguk-anggukan kepalanya. “Yaudah ayo pulang.” Pemuda itu menaiki motornya, mengajak Bina untuk pulang. Biar nanti ia berikan saja mie ayam itu pada anak-anak dijalan.
┬┴┬┴┤(・_├┬┴┬┴
__ADS_1