Bercerita Tentang Kita

Bercerita Tentang Kita
part 12


__ADS_3

(*^-^*)


“Dek Bina.”


Bina menoleh pada asal suara, pemuda dengan keringat membasahi dahinya berlari kearah Bina. Bina mengernyitkan dahinya, bertanya dalam kepala kenapa pemuda itu menghampirinya.


“Kenapa Kak?” Tanya Bina kala pemuda itu sudah ada dihadapannya.


“Ngelatih basket ya Dek Bina.”


Bina menggelang, “Bina nggak bisa Kak.”


“Kenapa? Kamu jago, kamu keren. Beberapa bulan lagi, tim kakak mau tanding Dek, butuh pelatih.” Wahyu menangkupkan tangannya ke didepan dada, “please.”


“Tapi..”


“Dek Bina pikirin dulu aja, nanti hubungi kakak kalo berubah pikiran.” Wahyu menadahkan tangannya ke arah Bina.


Bina diam, mengerutkan kembali dahinya, tak mengerti yang dimaksud manusia di depannya. Apa pemuda ini ingin meminta uang Bina untuk membayar angkot, untuk pulang. Memikirkan itu, membuat Bina merogoh sakunya mengeluarkan uang sepuluh ribu rupiah dari dalam sana, menyerahkannya ke arah Wahyu. Siapa tau Wahyu lebih membutuhkan dari pada dirinya, kasihan juga kalau harus pulang berjalan kaki, mungkin saja rumahnya lebih jauh dan memakan waktu daripada kost Bina.


Wahyu berdecak melihatnya, “minta nomor Dek Bina, nanti nggak bisa dihubungi kalau nggak punya nomornya.” Wahyu menjelaskan pelan, setelah melihat Bina memiringkan kepalanya, dengan raut bertanya.


“Ooh.” Bina mengangguk-anggukan kepalanya, tangannya bergerak memasukan kembali uang, berganti merogoh tasnya mencari ponsel. “Nih.”


Wahyu menerimanya, mengetikan nomornya pada ponsel Bina, kemudian menekan tombol panggil, hingga ponselnya berbunyi.


“Nih, kakak duluan ya.” Wahyu berlari meninggalkan Bina, setelah mengembalikan ponsel pada pemiliknya.


Setelah wahyu menghilang dari koridor, Bina berjalan menuju halte menunggu angkot. Namun ditengah perjalanan pemandangan di ujung koridor membuat Bina berhenti sejenak. Ia berdiri disana menghadap seorang gadis yang Bina tau bernama Pita. Mereka sedang membicarak sesuatu yang Bina tak bisa dengar. Mengedikkan bahu Bina melanjutkan jalan.


"Ya Gi..."


Irgi menghela nafas untuk kesekian kalinya, ia lihat mata gadis dihadapannya sudah memerah menahan air mata.


"Pit, saya nggak papa, kita jalani dulu." Irgi berujar, nadanya begitu lembut.

__ADS_1


"Tapi aku sakit Gi, aku penyakitan." Pita meninggikan suaranya, air matanya yang sedari tadi ia tahan kini meluncur bebas membasahi pipinya.


"Kamu bisa sembuh." Tekan Irgi.


"Nggak, aku nggak bisa sembuh, dokter bilang kesempatannya cuma dua puluh persen." Gadis itu menutup wajahnya, menggunakan telapak tangan.


"Bisa, dua puluh persen itu masih bisa Pit, sayang..." Irgi memegang bahu Pita, merengkuhnya dalam pelukan. Suasana sekolah saat ini sudah sepi, bel pulang sudah berbunyi dua jam yang lalu. Ia disini berdiri diujung lorong bersama gadis yang dua jam lalu memanggilnya kemari.


Gadis itu menggeleng dalam dekapan Irgi, "nggak bisa Gi, mustahil." Ucapnya sesegukan, suaranya hampir tak jelas, teredam karena kedalam pelukan.


"Nggak sayang, kamu pasti bisa, kaya dulu, kamu pikir saya bakal ninggalin kamu, kalo saya berpikir kaya gitu udah dari dulu saya ngelakuinnya. Tapi nggak kan?" Irgi mengeratkan pelukannya dengan sang gadis. Jujur ia sangat menyayanginya, ia gadis yang baik dan penuh kelembutan, dari sekian banyak perempuan, ia adalah satu-satu nya yang menurut Irgi berbeda.


"Kamu bisa sama perempuan yang kamu bonceng kemarin, dia cantik." Pita melepas pelukannya, menunduk menatap sepatu Irgi.


"Kamu cemburu?" Irgi bertanya.


"Nggak, aku mau kita putus, aku penyakitan." Pita menekan ucapannya.


Irgi diam, dari sekian banyaknya perdebatan yang mereka lakukan, baru pertama kali gadis dihadapannya mengucapkan kata-kata seperti itu. Irgi menatap Pita, gadis yang masih menundukan kepalanya itu, menangis membuat bahunya bergetar. Apa ini akhir dari mereka, sungguh Irgi tak mau, ia sangat menyayanginya, satu tahun adalah waktu yang cukup lama bagi mereka, Irgi mengetahui banyak hal, belajar banyak hal dari gadis ini, ia bahkan sudah tau penyakit gadis ini sebelum mereka menjalin hubungan, ia bahkan tak masalah, tapi kenapa sekarang gadis ini mengatakan ini.


Pita menarik nafas panjang, bersiap mengeluarkan suara. "Yaudah..." ucapnya, setelah itu ia pergi, meninggalkan Irgi di lorong sepi sendiri, tanpa mengucapkan kata apapun lagi.


Irgi menghela nafas berat. Ia diam ditempat, menatap gadis yang kini mulai menjauh dari tempat dirinya berdiri sekarang. Pemuda itu menunduk menatap sepatunya sendiri, sepatu pantofel hitam itu kini mulai basah karena tetesan air yang berjatuhan dari kedua mata Irgi. Irgi mengangkat tangannya, guna menutup matanya, bahunya bergetar menahan isak tangis nya.


Sungguh Irgi tak mau berpisah dari gadis itu, sungguh Irgi begitu mencintainya, sungguh Irgi ingin menjaga nya. Gadis yang berhasil membuatnya keluar dari zona nyaman, gadis yang membuatnya tak lagi sama seperti dulu, sungguh ia benar-benar tak mau lepas darinya. Ia tau gadis itu sendiri membutuhkannya, ia butuh seorang yang mendukung satu sama lain, menjadi semangat satu sama lain. Bagaimanapun Irgi akan memperjuangkannya.


Pemuda itu menghapus air matanya, sekali lagi menghela nafas panjang. Berlari keluar sekolah, menuju parkiran menemukan motornya, menaikinya menuju tempat seseorang yang ia pikir salah satu orang yang membuat nya begini.


.....


"Kamu bisa kan menolak perjodohan ini?"


Pertanyaan Irgi membuat gadis yang kini duduk di hadapannya kini menatapnya kaget.


Irgi sudah membuat keputusan, ia akan bersama Pita walau gadis itu mau mereka berpisah. Ia akan menolak perjodohan yang dilakukan orang tuanya terhadap dirinya dan gadis dihadapannya. Namun, Andi sang papa pasti tidak akan mengiyakan keinginannya, dan ia pastikan semua kuncinya ada pada gadis yang kini masih menatapnya ini. Gadis ini bisa membuatnya lepas dari perjodohan yang membuat mereka seperti ini.

__ADS_1


"Bina." Panggilnya. "Saya gak tau masa depan akan gimana, tapi saya mau membuat masa depan saya sendiri. Saya ingin mengambil jalan saya sendiri." Irgi menatap lekat pada Bina.


"Kaka pikir aku mau dijodohin?" Bina balas menatap Irgi. "Aku juga nggak mau. Kalo.... bukan karena hal itu." Bina menunduk memainkan tangannya.


"Itu apa?" Irgi masih lekat menatap Bina.


Bina diam, ia tak mau mengatakan apapun pada Irgi, sama hal nya dengan yang pemuda itu katakan ketika ia mulai membahas Pita. Ini bukan urusan Irgi, dan akan ia urus, urusannya sendiri. Suatu hal yang tak perlu ia katakan pada siapapun, bahkan orang tuanya.


"Bina, alasan kamu ada hubungannya dengan kehidupan saya. Tolong katakan." Irgi masih berbicara lembut, namun ia tekan pada dua kata terakhirnya.


"Bukan urusan kak Irgi, itu urusan ku, aku urus sendiri." Ucap Bina, ia juga mengikuti intonasi bicara pemuda itu.


"Gimana nggak ada urusannya sama saya? Dengan alasan itu, kamu mau dijodohkan dengan saya, memang sepenting apa sih?" Pemuda itu menghela nafas ketika selesai berbicara.


"Pokoknya bukan urusan kak Irgi." Bina menatap Irgi, nada bicaranya ia menaikan satu oktaf.


Irgi balas menatap, ia lihat mata gadis itu memerah dengan linangan air mata di dalamnya. Irgi menghela nafas, ia tak boleh terpancing emosi. Ia lihat Bina menaik turunkan dada mulai mengatur nafasnya, gadis itu juga mengepalkan tangannya,mungkin menahan diri agar tidak menangis dihadapannya.


Irgi mengambil nafas panjang sebelum ia berbicara, ia menatap Bina lembut. "Maaf.." ucapnya. "Saya mungkin juga emosi sama kaya kamu, tapi tolong Bina, bilang sama saya alasannya, itu menyangkut saya. Saya sayang banget sama Pita, saya mau menjaganya, kalau ada kamu saya gak mungkin sama Pita. Kalau kamu nggak bilang alasannya, saya nggak ada alasan untuk sama kamu. Kamu bilang nggak mau dijodohkan dengan saya, tapi kamu juga nggak bisa bilang nggak sama orang tua kamu, karena suatu alasan. Saya juga sama, saya tidak bisa menolak, kecuali kamu menolak. Saya mohon, sebelum kamu lulus, tolong bilang sama saya alasannya. Tolong bilang, agar saya juga bisa mempertimbangkan." Irgi menatap sendu Bina, ia mengambil nafas panjang untuk kesekian kalinya.


"Saya pamit, saya minta maaf." Irgi bangkit dari duduknya, meninggalkan Bina sendirian.


Setelah kepergian Irgi, Bina menutup wajahnya. Ia menangis, seluruh tubuhnya bahkan bergetar karena isaknya.


Apa ia egois? Apa ia seenaknya sendiri mengambil keputusan, sehingga orang lain bahkan tak punya kesempatan karena nya. Sama saja seperti dulu? Apa akan sama seperti dulu? Dulu ketika ia masih menjadi salah satu anggota organisasi basket bernama lesgar. Bina masih ingat bagaimana tangis teman-temannya, bagaimana bergetar tubuhnya kala itu. Berita yang ditayangkan pada ponsel salah satu dari mereka, menayangkan berita kematian, kematian anggota mereka.


Berita gadis berumur empat belas tahun yang gugur, meninggalkan dunia bahkan sebelum mimpinya tercapai. Apa Bina akan menjadi penghambat juga kali ini? Penghambat seseorang meraih mimpi dan harapan mereka? Apa Bina juga akan seperti itu lagi.


Bina terisak, namun sesaat, ia bangkit masih dengan tangis air mata yang membasahinya, berjalan menuju kamarnya.


Sedang Irgi menghela nafas, ia sendari tadi tidak pergi. Ia berdiri didepan pintu kost Bina, mendengarkan isakan gadis itu, ia takut Bina melakukan hal-hal yang diluar perkiraan BMKG. Setelah suara isakan nya menghilang, Irgi baru menaiki motor vespanya pergi meninggalkan kost Bina.


(〃 ̄︶ ̄)人( ̄︶ ̄〃)


Thanks lop u

__ADS_1


LIKE!


__ADS_2