
(  ̄3)(ε ̄ )
“Kak.” Sila memanggil pemuda yang berjalan di hadapannya.
Wahyu, pemuda itu hanya membalas dengan gumaman. Pikirannya kesana kemari karena Bina, dan juga karena sikap aneh yang baru saja ia lihat dari Irgi.
Hening sejenak di antara mereka. Sila ragu untuk mengajukan pertanyaan yang sedari tadi ada di kepalanya. Dirinya begitu gugup untuk hanya mengeluarkan suara. Sedang Wahyu sendiri pemuda itu tak menyahut, atau menanyakan apapun pada Sila.
“Kak Wahyu suka Bina?” Tanya Sila cepat. Dadanya berdebar menunggu Wahyu menjawab pertanyaan semborononya. ia menarik nafas dalam, bersiap untuk mendengar jawaban dari Wahyu.
Wahyu melambatkan jalannya, hingga Sila juga ikut melambat di belakang. Pemuda itu mendongak menatap langit yang kini mulai menggelap karena mendung. Iya, dirinya memang menyukai Bina. Namun seperti ada sesuatu yang menjanggal karena pertarungan antara hati dan pikirannya.
“Gak tau.” Wahyu menjawab. Dari sekian banyaknya jawaban yang bisa ia berikan hanya jawaban itu yang keluar dari mulutnya.
Nafas Sila tercekat sebentar. Dadanya yang semula berdebar tak karuan kini mulai mereda. Bukan jawaban itu sebenarnya yang ia nantikan, namun dirinya merasa masih memiliki kesempatan yang besar. Senyum tipis Sila terbit begitu saja.
...
Irgi duduk sendiri pada meja kantin rumah sakit, mengunyah makanan dalam mulutnya dengan pelan. Perutnya meronta ingin makan, namun dirinya seakan tak ingin memakan apapun. Ia sudah menelepon Andi untuk mengabari pria itu. Irgi juga sudah mendapat pesan panjang dari ayah Bina, yang membuat dirinya seakan tertimpa beban yang semakin berat pada pundaknya.
Irgi menghela nafas setelah menelan makanannya. Sebentar lagi papa dan mamanya datang, atau sudah datang, Irgi tak tahu. Dirinya sekarang bingung harus kembali ke sekolah atau menunggu Bina di rumah sakit.
Irgi sangat ingin melihat kondisi Bina untuk memastikan. Walau sudah diinfokan oleh Wahyu bahwa Bina baik-baik saja, tetap dirinya seakan harus memastikan. Irgi merasa dirinya mempunyai tanggung jawab atas semua yang terjadi pada Bina.
‘Irgi tolong jaga Bina ya.’ Itu adalah pesan terakhir yang dikirimkan Kardi padanya dari panjangnya pesan yang pria itu kirim.
Irgi kembali menghela nafas dalam, meletakan rotinya yang hanya ia makan seperempat. Pemuda itu menelungkupkan wajahnya pada lipatan tangannya diatas meja. Irgi ingin sekali menangis rasanya.
Pita. Ia tahu gadis itu berbohong ketika mengatakan baik-baik saja. Ia tahu, karena tidak mungkin jadwal pemeriksaannya sepadat ini kalau gadis itu baik-baik saja. Gadis itu sudah tak masuk ke sekolah selama tiga hari, dan berkata pada Irgi bahwa dirinya sedang ke rumah sakit.
Ia tahu tak akan mudah penyakit Pita sembuh, butuh waktu yang panjang untuk itu. Butuh waktu bertahun-tahun. Dan Irgi ingin sekali berada di samping Pita untuk itu. Ia ingin menemani setiap langkah Pita untuk sembuh. Namun, Bina.. bagaimana? Orang tuanya? Kardi?
Irgi mendongakan kepalanya, kemudian berdiri sambari mengambil nafas dalam. Pemuda itu menggapai rotinya, mengantongi makanan itu karena sayang untuk membuangnya. Irgi melangkah pergi meninggalkan kantin. Setelah membaca pesan yang baru saja dikirim Andi padanya.
...
“Gimana udah enakan?” Tina berucap, mengelus lembut rambut Bina, setelah memberi gadis itu minum.
Bina mengangguk menjawab. Badannya masih memerah, namun nafasnya yang tadi sesak kini sudah kembali lancar.
__ADS_1
“Tante, mau telpon ibu boleh?” Bina bertanya ragu. Ponselnya ada di sekolah.
“Iya tadi ibu dan ayah kamu nelpon tapi kamu belum sadar. Tante coba telpon lagi ya.” Tina membuka ponselnya, berusaha menelepon orang tua Bina.
Saat panggilan terhubung Tina menyerahkan ponselnya pada Bina. Yang langsung diterima oleh gadis itu.
‘Halo, Bin ya ampun gapapa kan?’ Suara sambutan dari Lilis langsung menyapa Bina.
Bina tersenyum mengangguk, “Bina baik, Bu.”
‘Aduh, pasti udang ya? Kamu kenapa makan udang?’ Lilis sudah menatap khawatir putrinya.
Gadis itu menggaruk kepalanya, bingung ingin menjawab apa. Sebab dirinya juga tak tau. Dokter mengatakan bahwa ia alergi, dan sudah pasti itu karena udang karena Bina tak memiliki alergi apapun selain udang.
“Nggak tau Bu.”
‘Kamu ini. Udah tau alergi udang kamu itu bahaya Bina, harus hati-hati makannya.’ Lilis tampak mengerutkan keningnya menatap Bina yang kini nyengir bodoh.
Bina hanya mengangguk-anggukan kepalanya sedari tadi, mendengar ceramah sang ibu yang kini belum juga berakhir. Orang tuanya tak bisa datang karena kesibukan Kardi, dan Bina juga melarang saat ibunya ingin pergi sendiri menemuinya sekarang, karena perjalanan yang lumayan menghabiskan banyak waktu. Dirinya juga sudah baik-baik saja sekarang.
‘Oke ibu tutup udah mau ashar. Nanti malam ibu telepon lagi.’
Telepon tertutup setelah Bina membalas salam dari sang ibu. Ia meletakan ponsel Tina pada nakas di sebelah bangkarnya, karena wanita itu pamit untuk keluar sebentar. Di saat yang bersamaan dengan itu pintu terbuka menampakan Irgi dengan pakaian sekolah yang sedikit berantakan.
“Lagi beli makanan.” Bina menjawab, memperhatikan Irgi yang kini mulai mendudukan dirinya pada kursi samping.
Irgi menatap Bina, pemuda itu terlihat sangat lemas, matanya sedikit memerah, dan terlihat berantakan.
"Kakak kenapa?" pertanyaan Bina meluncur begitu saja saat Irgi tak mengalihkan tatapan dari matanya, tanpa suara.
“Kamu... baik?” Irgi tak membalas Bina, ia malah mengajukan pertanyaan.
Bina mengangguk, tak melepaskan tatapannya dengan pemuda itu. Menatap setiap inci dari wajah teduh yang terlihat murung di hadapannya. Mereka saling bertatapan cukup lama tanpa suara. Hingga Irgi berkata.
“Saya boleh minta sekali lagi tentang hal yang sama?” Tanya Irgi.
Bina tak menjawab. Tak mengiyakan, tak juga tidak memperbolehkan. Rasa nyerinya pada selang infus yang tertancap pada punggung tangannya kini mulai tak ia hiraukan. Fokusnya kini melawan tatapan Irgi yang tepat pada matanya.
“Bina..... kamu bisa gak batalin tentang kita?” Irgi berkata, nadanya lemah tak bertenaga. Seakan pemuda itu sudah tak berharap pada apapun keinginannya.
__ADS_1
Gadis dihadapan Irgi menarik nafasnya dalam, menahan udara mengandung oksigen itu lebih lama dalam paru-parunya. Ia memalingkan wajahnya, seakan kalah akan tatapan Irgi yang kini justru masih setia menatapnya.
“Bina kan udah bilang Kak.” Hanya kalimat itu yang keluar dari bibir Bina.
“Nggak bisa ya?” Irgi juga mengalihkan tatapannya, pemuda itu menunduk, menatap pada kolong brankar Bina yang tak lebih bercahaya daripada yang lainnya.
“Pita sakit, Bin.”
Kalimat itu berhasil membuat Bina kembali menatap Irgi. Pemuda itu masih menunduk, hingga Bina hanya bisa menatap pada rambut lebatnya.
“Saya pengen banget nemenin Pita dari pengobatan sampai sembuh. Dan... itu perlu bertahun-tahun. Dan itu nggak bakal terwujud kalau saya sama kamu. Saya mau dengan cinta saya sendiri Bin. Saya sayang banget sama Pita.” Kalimat itu mengalir dari bibir Irgi begitu saja.
Nafas Bina tercekat mendengarnya. Pita? Gadis sempurna itu sakit? Apa gadis dengan kondisi fisik, prestasi, dan juga tingkah laku yang sempurna itu sakit? Sakit apa? Tak terpikir di kepala Bina, bahwa perempuan PMR itu sakit. Apa parah? Ia menatap lekat Irgi.
“Kanker hati stadium dua.” Irgi mendongak menatap Bina yang kini sadar atau tidak mata gadis itu berlinang, genangan-genangan itu mulai semakin banyak seiring dengan berjalannya waktu.
“Bisa sembuh kan?” Lanjut Irgi.
Bina tak menjawab. Gadis itu berbaring menatap Irgi dengan uraian air matanya. Ia sungguh tak menyangka akan begini. Gadis itu, Pita. Apa benar gadis secantik itu mengidap penyakit berbahaya.
“Saya sama Rasya, pacaran disuruh sama Pita. karena Pita sakit.”
Sudah tak terkira lagi derasnya anak-anak sungai yang Bina cipta pada pipinya. Apalagi melihat tatapan Irgi yang seperti sudah kosong. Tak ada harapan lagi disana. Ini pertama kalinya Bina melihat tatapan itu dari Irgi.
Irgi mengulurkan tanganya, mengusap pipi Bina yang basah. “Jangan nangis.” Ucapnya lembut. Pemuda itu mengusap puncak kepala Bina pelan.
“Maaf.” Bina menangis tergugu. Apa ia salah mengambil keputusan? Apa dirinya jahat? Irgi sudah bahagia dengan harapannya, dunianya. Pemuda itu sudah menggambar masa depannya dengan rapi. Namun seenaknya, Bina malah merusak dan mengacak-acak gambaran itu.
Malah dengan egoisnya Bina mengambil keputusan seorang diri tanpa berpikir orang lain akan kecewa, menderita, atau sakit karena tindakannya. Tapi..... bagaimana dengan ’dia?’ bagaimana dengan ayahnya?
Bina masih menangis tergugu. Dengan Irgi yang masih setia menghapus air matanya yang tak pernah berhenti, sembari mengusap kepalanya dengan lembut.
“Loh Bina.” Pintu terbuka. Tina berjalan pelan menghampiri Bina, saat melihat Bina yang berurai air mata.
Irgi menyingkir dari tempatnya, memberi ruang pada sang ibu untuk melihat Bina.
“Kamu kenapa? Irgi jahat?” Tina bertanya mengelus kepala Bina. Bina menggeleng menjawab Tina, air matanya entah kenapa tak bisa berhenti. Bibirnya bungkam tak bisa hanya untuk mengatakan tidak.
“Gi kenapa?” Andi menghampiri Irgi menepuk pundak pemuda itu, bertanya pada putranya, yang berdiri menatap kosong Bina.
__ADS_1
Pemuda itu menoleh pada papanya, menatap Andi penuh harap, ada sedikit tatapan kosong terlihat disana.
“Irgi mau boleh ijin, tolak perjodohan sama Bina, Pa?”