Bercerita Tentang Kita

Bercerita Tentang Kita
part 38


__ADS_3

(≧∀≦)ゞ


Bina menghela nafasnya cukup berat saat poin dari lawannya kembali bertambah disana. Menciptakan jarak kedua angka yang semakin menjauh dari waktu ke waktu.


Gadis itu melirik pada sebuah jam waktu di atas meja para juri. Empat menit lagi. Waktu sesingkat itu harus mereka manfaatkan sebaik mungkin. Tiga puluh tiga poin dengan poin lawan tiga puluh tujuh poin.


Mereka harus berhasil. Mereka harus lolos dari penyisihan pertama mereka. Berbulan-bulan mereka berlatih tanpa henti. Mengembangkan setiap hal yang mereka punya. Mempelajari yang mereka tak bisa. Mereka pasti bisa. Mereka harus bisa.


Dada Bina kembali berdebar saat lemparan bola Ucup dari luar garis penalti memantul mengenai ring. Membuat bola hampir saja kembali direbut lawan. Namun tak lama, Wahyu berlari, kemudian melompat tinggi melakukan dunk dengan cepat di atas sana.


Bina berucap syukur dalam hati. Sorak sorai dari tribun menambah debaran hati Bina. Gadis itu tersenyum menatap angka poin yang kini berganti, mereka berhasil mengambil dua poin lagi.


Pertandingan kembali berlanjut. Waktu semakin berlalu, detik demi detik yang terus bertambah. Namun bagi mereka waktu terus berkurang. Mereka harus mengejar poin, mereka harus mengejar waktu yang semakin sedikit pula, saat tim lawan kembali mencuri tiga poin dari mereka.


Wawan berlari menggenggam bola. Nafasnya terengah, keringat sudah mulai membasahi sebagian seragam basketnya. Pemuda itu melakukan behind back pass, mengecoh lawannya di depan, mengoper bolanya pada salah satu anaknya di samping kanan.


Remaja yang baru saja di oper bola oleh Wawan itu langsung berlari menuju belakang garis penalti, melakukan sedikit dribble mengecoh, kemudian melemparkan bola tepat masuk pada ring. Menciptakan sorakan juga teriakan dari tribun penonton. Mereka berhasil mencetak tiga poin.


Bina tersenyum. “Semangat gaes,” gadis itu berteriak, entah didengar entah tidak dirinya tak peduli.


Mereka butuh konsentrasi. Namun Bina tahu, mereka juga butuh tenang. Gadis itu yakin tubuh mereka kini sudah panas, seiring panasnya pertandingan babak terakhir mereka. Poin mereka kini sudah dekat. Mereka hanya tinggal memberi sedikit poin di sana dan mereka yang akan memimpin pertandingan. Hanya itu.


Derap langkah dan decitan sepatu dengan tempo yang cepat kini Bina dengar. Mereka benar-benar tak mau menyia-nyiakan waktu barang hanya sedetik pun tidak. Tim lawan juga tak mau kalah, mereka sudah kebobolan lima poin, dengan kegagalan menembak sebanyak tiga kali.


Pertahanan dan juga serangan mereka seimbang. Mereka akan menyerang juga bersamaan mereka akan bertahan saat lawan mulai masuk pada lapangan mereka. Cukup lama mereka hanya bertahan.


Hingga kini, entah bagaimana caranya, Ucup sudah melompat tinggi melakukan dunk pada ring lawan. Mengukir kembali sebuah poin di meja juri sana.


Angka satu yang kini hilang berganti angka nol, dengan angka lima puluh lima yang terus berkurang pada jam yang berjalan mundur di atas meja juri membuat dada Bina berdebar dua kali lipat lebih cepat. Kenapa waktu terlalu cepat berjalan? Mereka masih butuh waktu lagi. Hanya sedikit lagi.


Hal itu membuat mata Bina berkaca. Sedikit lagi, mereka hanya perlu mempertahankan nya sedikit lagi, mereka harus mempertahankan atau menambah poin. Dan mereka akan menang.


“Gaes, satu menit.” Bina berteriak memberi tahu. Ia panik. Apa mereka bisa.


Wahyu tersenyum di lapangan sana dengan keringat bercucuran pada pelipisnya, menatap Bina. Sebelum kembali berlari menggapai bola yang dioper padanya.


Menit tadi kini berubah menjadi detik. Cepat, sebuah detik memang cepat berlalu. Mereka masih terus menyerang, tanpa ada yang ingin mengalah.


Nafas Bina berhenti sejenak saat bola oren itu kembali di lempar lawan berusaha masuk kedalam ring. Namun akhirnya memantul keluar di atas sana.


Hal itu membuat Wawan melompat tinggi menggapai bola, dan tanpa pikir panjang melemparnya. Ucup mendapatkan bolanya berlari, kemudian melakukan shooting dari luar garis penalti.

__ADS_1


‘Semoga masuk.’ Bina memejamkan matanya. Waktu seolah melambat pada saat itu. Hening. Hingga suara sorakan, dan sebuah peluit melengking memasuki indra pendengarannya. Membuat Bina membuka kedua matanya. Menatap pada lapangan di depan matanya.


Di sana, beberapa remaja lelaki dengan seragam basket, bercucuran keringat, tengah berdiri sembari mengatur nafasnya.


Bina melirik pada angka poin. Waktu habis. Angka dengan tulisan nama sekolahnya, lebih besar dari pada angka dengan nama sekolah lain di sebelahnya. Mereka menang?


Bina menundukkan kepalanya. Matanya berkaca. Mereka baru saja memulai sesuatu dengan luar biasa.


Wawan mengatur nafasnya. Pemuda itu melirik samping lapangan, pada pelatihnya yang kini menutup wajah menggunakan telapak tangannya. Pemuda itu tersenyum. Ia mengusap wajahnya yang keringat, berjalan menghampiri teman-temannya.


Kapten basket yang baru saja melepas jabatannya sebagai ketua osis sebulan lalu itu menepuk pundak satu persatu temannya. “Kerja bagus, kita mulai dari sini.” Ucapnya tersenyum lembut.


Ucup berlari memeluk salah satu temannya. Membuat sebagian dari mereka kini berpelukan, mengikuti.


Wawan tersenyum melihatnya. Pemuda itu melarikan matanya, menatap pada tribun dan juga lapangan. Ramai sorakan sorakan dan tepuk tangan menjadi satu, begitu meriah. Hingga kini matanya menangkap sosok Wahyu, yang berdiri menunduk di tengah lapangan sana.


“Yu.” Wawan berlari kecil menghampiri temannya. “Kenapa?”


Wahyu mendongak. Pemuda itu tersenyum menatap wajah kaptennya. “Gue seneng banget.” Kemudian pelukan antara keduanya tercipta.


Wawan menepuk-nepuk punggung Wahyu. Ia tahu Wahyu sangat mencintai basket sama sepertinya. Mereka bersama sejak belajar basket, hingga kini mereka berdiri di lapangan ini. Mereka memang lemah dulu, namun sekarang mereka bisa.


Wawan melirik Bina sekali lagi. Pemuda itu melepas pelukannya dengan Wahyu, berjalan hendak menghampiri gadis pelatihnya.


“Gue,” ucap Wahyu, sebelum meninggalkan Wawan yang tersenyum geli di belakangnya.


...


“Dek Bina.” Wahyu memanggil, menghampiri Bina.


Gadis itu masih menutup wajahnya, bahunya sedikit bergetar. Walau tak ada suara  isakan, Wahyu tau gadis di hadapannya sedang menangis.


“Dek Bina.” Wahyu memanggil sekali lagi, memegang pundak Bina.


Wahyu menggaruk belakang lehernya ia bingung harus berkata apa. Merasakan bahu Bina yang semakin bergetar. Pemuda itu memberanikan dirinya lebih mendekat ke arah Bina. Dengan perlahan kedua tangannya merengkuh Bina masuk kedalam pelukannya.


Tangis yang tadinya tanpa isak, kini berubah dengan isakan kecil. Bahu Bina juga semakin bergetar. Wahyu mengeratkan pelukannya. Ia tahu perjuangan mereka tak mudah.


“Kita berhasil,” bisik Wahyu.


Pemuda itu terus mengusap punggung Bina. Meletakan dagunya pada pucuk kepala gadis itu. Mengabaikan sorakan yang kini masih berlanjut karena kemenangan mereka.

__ADS_1


Poin mereka empat puluh tiga dan poin lawan empat puluh. Tak terlalu jauh, bahkan mereka hampir seimbang.


Wahyu mendongak menatap lampu-lampu di atas. Dengan perbedaan poin itu, ia sadar mereka masih pemula, mereka masih memulai.


“Kita masih di sini ya, Dek,” Wahyu bergumam. Ia semakin mendekap Bina lebih erat dari sebelum-sebelumnya.


“Kita bisa nggak ya, sampe sana.” Kepala Wahyu kini sudah penuh dengan pertandingan semi final.


“Pasti bisa.” Bina berucap, menganggukan kepalanya dalam dekapan Wahyu. Dirinya Sudah selesai dengan tangismu.


Gadis itu melepaskan dirinya dari Wahyu. Menatap pemuda yang kini berdiri menjulang di hadapannya. “Pasti bisa,” ulanganya, berucap dengan sungguh.


Wahyu ikut tersenyum. Kemudian tak lama mengumpat akibat tepukan keras pada bahunya.


“Kampret.”


Ucup tersenyum lebar. “Kita menang.” Tak lama pemuda itu melompat, memeluk Wahyu dengan tangan dan kaki yang melingkar pada tubuh temannya.


Wahyu menghela nafas, dirinya kini harus terbebani dengan berat badan Ucup, yang tertumpu sepenuhnya pada dirinya. “Ya Allah, Cup,” ucapnya.


Ucup menatap Wahyu, masih dalam posisi yang sama. “Kita menang,” pemuda itu dengan riang penuh senyum, mengguncang tubuh Wahyu.


Wahyu sendiri sudah memasrahkan dirinya. Kadang memang personaliti dirinya dan temannya yang satu ini sering terbalik. Walau menahan beban berat, karena jujur Ucup tak ringan seringan kapas, dirinya Mengumbar senyum, membalas senyum dari temannya yang kini nemplok pada kirinya seperti seekor koala.


Ucup masih setia memeluk temannya, dengan posisi yang sama. Saat Wawan dan lainnya mulai bergabung dengan mereka, ke tepi lapangan. Yang awalnya hanya dirinya dan Wahyu yang berpelukan kini pelukan itu bertambah menjadi pelukan teletabis.


Wawan tersenyum geli melihatnya. Pemuda itu berjalan menghampiri Bina yang kini masih terus menghapus air matanya.


“Makasih ya Dek.”


Bina menggeleng, “makasih juga, Kak.”


Wawan tersenyum melihat Bina. Pemuda Itu hendak berjalan menjauh, berniat mengambil tisu dari seorang yang ia kenal di tribun sana. Namun langkanya berhenti saat dengan perlahan seorang pemuda yang ia kenal juga berjalan melewatinya dengan satu pak tisu di tangan.


Pemuda itu menyodorkan selembar tisu pada Bina. Gadis itu tak langsung menerimanya. Mereka berpandangan cukup lama. Hingga, pemuda itu mengulurkan tisunya membantu Bina menghapus air pada pipinya.


Bina menegang, refleks gadis itu mengambil satu langkah mundur menjauh. Pandangannya dengan pemuda itu kembali bertubrukkan tak lama. Setelah kejadian di rumah sakit sebulan lalu, dirinya dan pemuda ini tak pernah berucap kata walau hanya sekedar menyapa. Bina sudah tak pernah melihatnya, bahkan ketika dirinya di undang Tina untuk makan malam di rumah mereka pun, dirinya tak menemukan pemuda itu, bahkan bayangannya pun Bina tak melihatnya.


“Hapus air matanya, Dek. Jangan nangis.” Ucap Irgi.


Bina buru-buru, mengambil tisu dari Irgi, saat tangan itu kembali terulur menggapainya. Gadis itu, menunduk menghapus air matanya sendiri.

__ADS_1


Hal itu tak lepas dari pandangan Wahyu. Pemuda itu diam, membiarkan dirinya masih dalam pelukan teman-temannya. Tetap menatap pada dua orang berbeda kelamin di sana.


✪ ω ✪


__ADS_2