
(☆▽☆)
Bina membuka matanya yang terasa berat. Gadis itu mengusap matanya yang kini membengkak karena menangis sore tadi. Hidung nya tersumbat, hingga nafasnya kini tak teratur. Ia mendongak, melihat pada nakas. Di sana sudah ada ponselnya, yang entah dibawa siapa kemari.
Gadis itu membalik tubuhnya menjadi terlentang, menatap pada putihnya langit-langit rumah sakit yang menjadi arah pandangannya. Berharap sumbatan pada hidungnya hilang. Gadis itu meraba samping bangkarnya, sudah tak ada Irgi di sana. Entah Bina tak tahu pemuda itu kemana.
Bina menoleh. Seorang wanita yang ia kenal sedang berbaring, mendekap tas sekolahnya erat, tertidur lelap di sofa sana. Bina mengerutkan keningnya, dengan cepat ia melarikan tatapannya pada jam dinding yang tergantung di samping pintu, benda itu menunjukan angka sepuluh.
Bina memejamkan matanya. Sudah jam sepuluh malam dan wanita itu masih disini untuk menunggunya. Bina kembali menoleh, ia tersenyum melihatnya. Ia tahu wanita itu begitu menyayanginya.
Bina menatap lekat wajah terlelap itu. Wajah dengan raut lelah dan mata yang membengkak. Raut kecewa yang masih tergambar jelas. Melihatnya Bina tak sanggup mengecewakannya lebih dalam lagi dengan penolakannya juga.
Apa Tina begitu kecewa dengan Irgi? Apa sepenting itu perjodohan ini. Bina bisa menebak, ini karena ayahnya. Bina juga menerima semuanya karena ayahnya. Ia juga ingin menolak, seperti Irgi. Namun melihat bagaimana raut kecewa dari Andi dan Tina saja dirinya sudah tak sanggup, apalagi dengan raut kecewa ayahnya.
Air matanya meleleh kembali. Bina mengubah posisinya kembali terlentang. Menatap pada lampu yang menyala terang, walau sudah malam. Apa yang harus mereka lakukan? Bina tahu Irgi begitu mencintai Pita. Ia harus apa?
Bina terisak dalam tangisnya. Air matanya mengalir melewati telinga dan jatuh pada bantal tidurnya. Nafasnya sesak, karena hidungnya perlahan kembali tersumbat. Bina bingung.
Bina menolak saat lengannya disentuh dengan perlahan oleh seseorang. Menatap wajah yang kini tersenyum menatapnya. Wajah teduh dengan senyum lembut yang membuat Bina semakin terisak. Sakit rasanya menatap senyum itu, karena ia tahu ada kecewa besar yang ditutupi.
“Kenapa, Nak?” Pertanyaan lembut, yang sama lembutnya dengan usapan tangan dinginnya pada telapak tangan Bina.
“Mau minum? Tante ambilin.” Wanita itu, Tina, melepaskan tangannya, beranjak menganbil gelas berisi air pada nakas.
Tina membantu Bina mendudukan badannya. Kemudian menghapus air matanya yang masih terus mengalir, dengan sebelah tangannya. Dengan senyum wanita itu menyodorkan segelas air pada Bina.
Gadis itu menerimanya, meminum sedikit air dari sana. Bina menatap Tina, setelah wanita itu mengembalikan gelas pada tempatnya.
“Tante.”
Tina tersenyum, mendudukan dirinya di samping Bina, tangannya dengan setia menghapus air mata Bina yang terus mengalir. “Kenapa?”
Bina menunduk. Ia tak tahu harus berkata apa. Apa ia harus meminta maaf, atau harus menolak. Atau... Bina harus berkata apa?
“Ada yang sakit?” Tina mengusap pelan pundak dan punggung Bina.
“Bina kapan pulang?” Akhirnya hanya pertanyaan itu yang keluar dari bibirnya.
__ADS_1
“Besok kalau dokter bilang kondisi kamu memang sudah stabil.”
Bina mengangguk saja.
“Nggak betah ya di sini?” Tanya Tina.
Bina menggeleng. Rasanya ia ingin terus menangis. Air matanya terus keluar walau berusaha ia hapus dengan cepat.
“Kangen ayah, ibu, ya?” Tanya Tina. Bina hanya diam tak menjawab.
“Tadi ibumu telpon, tapi kamunya tidur, jadi ibumu matiin lagi.” Tina berucap pelan.
“Oh temen kamu juga ada yang nengok kesini. Tuh sekalian bawa buah.” Telunjuk Tina mengarah pada seperangkat buah pada nakas.
Bina masih diam. Tangannya masih fokus untuk menghapus air mata. Ia tak terlalu mendengar apa yang Tina ucapkan. Pikirannya kini masih tak lepas kejadian sore tadi.
“Maaf...” lirih Bina. Tidak tahu, ia hanya merasa bersalah atas semuanya.
Bina merasakan tangan yang mengusapnya dengan pelan kini berhenti.
“Maafin Irgi juga, ya.” Tina berucap lirih.
“Mungkin kalian terbebani dengan ini. Kalian masih muda. Harusnya kita para orang tua bisa mengerti dengan pilihan kalian sendiri.”
“Kalian masih punya cita-cita yang tinggi. Masih punya harapan yang besar.”
Tina mengambil nafas panjang. “Bina... tante minta maaf.”
Nafas Bina terhenti beberapa detik saat Tina mengucapkan kalimat itu. menggelengkan kepalanya, mendongak menatap Tina. Tidak, Tina tak bersalah. Namun, bibirnya bungkam tak mengeluarkan satu katapun.
“Tadi, setelah isya, ayah kamu nelpon.” Tina kembali berucap setelah lama terjadi keheningan.
“Ayah kamu bilang, semua terserah kamu dengan Irgi. Mau di lanjut silahkan, kalau nggak pun gapapa.”
“Om Andi juga bilang begitu kan.” Ucap Tina.
“Jadi sekarang, semua terserah kalian.” Tina tersenyum sangat lembut pada Bina.
__ADS_1
“Tante nggak tahu alasan kalian menolak. Tapi tentu tahu kalian pasti punya alasan yang besar.”
“Satu lagi, ayah kamu berpesan. Siapapun asal dia orang yang baik, yang harus menjaga kamu.”
“Kardi cuma mau kamu terjaga dengan baik. Kamu adalah orang yang sangat ia sayangi selain ibu dan adik kamu.”
“Dia memilih Irgi, karena dia tahu Irgi anak dari Andi, sahabatnya karibnya dari dulu. Kardi percaya Irgi bisa jaga kamu.”
“Tapi kalau kalian menolak, gapapa.”
Bina masih diam dalam duduknya. Membiarkan air matanya mengalir bebas membasahi punggung tangannya. Ia tahu banyak rasa kecewa yang Tina dan orang tuanya rasakan.
Bina tak bisa melihat wajah kecewa ayahnya. Bina bahkan tak sanggup hanya membayangkan nya saja. Bina tak bisa membuat mereka kecewa. Tapi bagaimana caranya. Dirinya tak bisa berbuat apapun.
Irgi pun yang dulu berkata kan berusaha tidak mengecewakan banyak hati, kini sudah berhasil mencetak wajah kecewa dan bengkak dari mata ibunya sendiri. Bagaimana dengan dirinya.
Bina terlalu lemah. Cengeng.
“Bina... kamu harus cari pasangan yang baik nanti, cari mertua yang baik, ya. Jangan nggak menikah, nanti ayah kamu khawatir.” Tina masih terus mengusap puncak kepala Bina, dengan senyum yang tak pernah luntur dari bibirnya.
“Tante, dan om Andi, khawatir.”
“Ayahmu juga khawatir kamu tidak ada yang menjaga.”
Air mata Bina sudah tak bisa ia bendung lagi. Ia menangis dengan pundak yang bergetar, isak tangisnya yang ia tahan tadi kini juga sudah lepas, saat Tina mengatakan kalimat terakhirnya.
Ia harus cari dimana orang sebaik Tina dan Andi. Bina bingung, tak ada gambaran rumah tangga di kepalanya. Tak ada bayangan pernikahan. Bina tak pernah mau menikah. Bina takut. Ia takut suaminya tak baik. Ia takut mertuanya tak sebaik ibunya dan Tina. Ia takut.
Tina mendekap Bina dalam pelukannya. Mengecup puncak kepala gadis itu dengan penuh sayang. Tangannya mengusap punggung Bina naik turun tanpa henti. Ia begitu menyayangi gadis dalam pelukannya ini.
“Bina harus bisa jaga diri sendir nanti, nggak semua orang baik.”
“Bina harus bisa mencapai harapan Bina, cita-cita Bina.”
Tina terus mengeratkan pelukannya dengan Bina. Meredam isak tangis gadis itu dalam pelukannya. Ia tahu, Bina tahu semuanya.
(;′⌒`)
__ADS_1