Bercerita Tentang Kita

Bercerita Tentang Kita
part 6


__ADS_3

(ó㉨ò)


Kini Bina duduk disalah satu bangku halte, menikmati es kelapa dengan pemandangan kendaraan berlalu lalang, yang membosankan, barharap angkot akan lewat, mengantarnya pulang. Berhubung di sekolahnya kegiatan MPLS hanya sehari, jadi ini adalah mpls pertama dan terakhir Bina, untuk masuk SMA.


Bina menunduk menekan tombol power pada ponsel nya. Kini benda itu menunjukan wallpaper dan angka yang menunjukkan pukul lima sore. Ia sudah menunggu selama satu jam disini.


Sendiri, tak ada yang menemani. Bina terus menunduk, sesekali melihat kendaraan yang berseliwaran, berharap ada angkot yang ia tunggu. Memainkan ponsel untuk menghilangkan bosan. Suara kendaraan terus terdengar menjadi temannya. Hingga suara motor yang berhenti mengalihkan perhatiannya.


Bina mendongak, mendapati seorang pemuda yang ia perkirakan, adalah salah satu osis dari sekolahnya, dilihat dari seragam yang ia kenakan. Menggunakan motor vespa biru dengan helm yang senada warnanya dengan motor, mukanya tak terlihat, akibat gelap dari kaca helm yang pemuda itu kenakan. Pemuda itu memutar kunci motor, guna mematikannya. Melepas helm yang ia kenakan, kemudian turun dari motornya.


"Saya cariin di kost ngak ada, kamu ngapain disini?" Pemuda itu berjalan pelan menghampiri Bina. Walau nada bicaranya biasa saja, ia masih kesal dengan alasan yang gadis ini ucapkan dipertemuan terakhir mereka, namun ia berusaha menerimanya.


"Aku nunggu angkot."


Pemuda itu berhenti dihadapan Bina, menunduk menatap Bina sejenak. Kemudian mengangkat tangan kiri nya, melihat pada jam tangan yang ia sematkan disana. "Jam segini mana ada angkot, jadwal angkot disini kalo ngak pagi, ya jam 2 siang, sampe jam 3 doang, ngak akan ada jam segini. Mau kamu tungguin sampe malem juga ngak bakal dateng angkot nya," pemuda itu kembali menatap Bina.


Bina mendongak, melihat pemuda yang berdiri menjulang tinggi dihapannya yang sedang duduk. Kemudian menunduk kembali, "aku ngak tau, kak Irgi kenapa disini?"


"Saya disuruh jemput kamu sama mama, katanya mau makan malam bareng, ngerayain kamu pertama masuk sekolah." Irgi, pemuda itu sudah di rundung oleh permintaan sang ibu sejak ia baru saja mematikan motornya didepan rumah, sehabis pulang dari sekolah. Irgi menghela nafas, ia bahkan belum mandi.


"Aku belum mandi, nanti aja jemputnya kalo aku udah mandi."


"Yaudah ayo." Irgi mencolek bahu Bina dengan telunjuknya.


"Aku bilang abis mandi aja," ucap Bina, memegang bahunya yang baru saja dicolek, mendongak melihat si pelaku.


"Ya iya ayo."


"Mandi dulu."


"Ya iya ayo, saya antar ke kost, atau kamu mau jalan kaki aja."


Bina mendongak kembali menatap pemuda tinggi dihadapannya, kamudian menunduk lagi. Ia ingin menolak, takut dijalan akan salah satu osis yang melihat mereka. Takut ia akan menjadi omongan orang-orang, apalagi dituduh merebut pacar orang, Bina tidak mau. Bina tak mau menyakiti, ia tak mau terlibat akan sesuatu yang lebih rumit lagi, Bina tak mau. Biarlah urusan Irgi dan pacarnya, diurus oleh pemuda itu, itu urusan Irgi, bukan urusannya.


Tetapi membayangkan betapa lelahnya ia sehabis pulang pmls, terus harus berjalan menuju kost nya, yang lumayan jauh, bisa mati dijalan ia kalau begitu.


Bina Kembali mendongak menatap Igri yang kini juga menatapnya, mengangguk. Biarlah, ia hanya perlu berdoa sepanjang jalan agar tak ada siapapun yang melihat mereka.


Irgi berbalik berjalan menuju motornya, menaikinya, mengenakan helm, kemudian menoleh kembali pada Bina.


"Kamu mau jalan aja ke kost?" Igri bertanya, kala mendapati Bina masih duduk memperhatikanya dari kursi halte.


Bina tersadar, buru-buru berdiri membuang es kelapa yang sudah habis sendari tadi, kedalam tong sampah, kemudian menghampiri Irgi dan motornya.


"Udah?" Igri menyalakan motornya, mendiamkannya sejenak. Sambil menunggu Bina siap dibelakangnya.


"Udah kak."


Irgi menjalankan motornya bergabung dengan kendaraan lain dengan tujuan masing-masing. Pemuda itu mengatur kecepatan motornya agar tak terlalu kencang. Kendaraan roda dua itu kini berjalan pelan, seiring dengan kendaraan yang mulai menyalip disisinya.

__ADS_1


"Bina." Irgi memanggil, mencoba membuka pembicaraan ditengah jalan.


"Hmmm." Bina menyahut dari belakang.


"Kedengaran ngak suara saya?" Pemuda itu bertanya, memastikan Bina benar-benar mendengarnya.


"Kedengaran kok," ucap Bina, suaranya tak kalah dengan udara yang mereka terjang, karena kendaraan melaju pelan.


"Kamu pernah bilang, kamu mau jalanin 'ini' dulu kan?"


Bina mengerti 'ini' yang pemuda dihadapannya maksud adalah, tentang mereka berdua.


"Iya," jawab Bina singkat.


"Tentang saya dan Pita, kamu ngak usah pikirkan. Itu urusan saya. Dan tentang orang tua kita, nanti saya usahakan supaya mereka tak kecewa." Pemuda itu menghela nafas cukup berat.


Bina mengangguk, 'namanya Pita.'


Terasa sangat berat bagi Irgi. Mungkin berat rasanya meninggalkan orang yang kita harapkan untuk saling berbagi kasih hingga nanti, tapi harus terganti dengan sosok lain yang baru saja dikenal beberapa hari yang lalu. Menerima orang baru, dan meninggalkan orang yang benar-benar membuatnya kembali berwarna, tak semudah yang terbayangkan.


Bina sendiri tak pernah memiliki pacar, tapi ia kadang mengerti, karena tak sekali dua kali ia menerima curhatan dari para temannya. Dari helaan nafas pemuda ini, Bina yakin hal ini sangat sulit pemuda ini terima. Ia sendiri sudah pasrah akan bagaimana nanti nya, seperti ucapan orang tuanya, mereka selalu mengusahakan yang terbaik untuk anak mereka. Sedang untuk alasan tak mau menikah sendiri, ia akan coba lebih melihat sisi baik pada pasangan yang ideal menurut Bina, termasuk itu juga orang tuanya.


"Dan untuk kamu.... Saya juga usahakan, apapun itu, itu tak mambuat kamu sakit hati." Pemuda itu kembali bersuara.


Lempu lalu lintas dihadapan mereka berganti warna menjadi merah. Kendaraan yang mereka tumpangi, perlahan berhenti. Igri menurunkan kedua kaki nya, menjaga keseimbangan pada motor. Keduanya mendongak, menatap pada benda persegi panjang dengan tiga lampunya, yang kini sedang membanggakan sang warna merah, pertanda bahwa kendaraan harus berhenti sejenak.


Bina diam, dalam hati ia juga menyemogakan. Semoga apapun yang ia pilih nanti, tidak menyakiti dan mengecewakan orang-orang yang ia sayangi.


Benda persegi yang tadi membanggakan warna merahnya, kini berganti menjadi hijau. Irgi kembali menjalankan motornya, menuju tujuan.


Tak berselang lama, kini vespa biru itu sudah terparkir rapi didepan kost Bina.


"Mau nunggu kak?" Tanya Bina bingung, ketika melihat pemuda jangkung ini masuk tanpa dipersilahkan. Tidak sopan.


Pemuda itu mengangguk, berjalan lurus menuju dapur Bina. Menyergit melihat kondisi tempat itu begitu berantakan.


"Berantakan banget, Bin."


Bina yang hendak masuk kamar untuk meletakan tasnya, menengok kaget.


"Ya Allah, jangan kesana," Bina berlari menghampiri Irgi, yang kini mambelakanginya. Tas besarnya masih setia ia gendong. Merentangkan tangan nya didepan pemuda itu, mencoba menghalangi.


Prang


Betul sekali, tas besar Bina menyenggol wajan dan teman-temannya yang bertumpuk diatas wastafel. Mengakibatkan benda-benda itu terjatuh, tergeletak, dan sebagian pecah, dibawah kaki Bina. Menimbulkan suara yang nyaring.


Bina mematung, kaget dengan apa yang baru saja ia lakukan. Perlahan ia menunduk, disana, dibawah kaki Bina, pecahan piring gelas dan mangkok bertebaran, wajan dan pasangannya juga terpental jauh dari kaki Bina. Perlahan Bina mendongak, menatap pada pemuda yang kini juga menatap padanya. Ingin sekali rasanya Bina menangis kalau saja tak ada manusia lain disini.


"Kak," panggil Bina, meminta bantuan.

__ADS_1


Pemuda yang sendari tadi terdiam menatap Bina karena kaget, kini mengedipkan matanya, berusaha mengenbalikan kesadaran.


"Jangan gerak," teriak Irgi, membuat Bina yang tadinya ingin bergerak mengambil sapu untuk membersihkan kekacauannya kini berhenti, kaget.


"Nanti kamu kena beling," lanjutnya.


"Terus?" Tanya Bina, mendongak menatap Irgi.


Irgi bingung menoleh kanan-kiri, tapi tak menemuka ide yang bagus. Akhirnya dengan ragu ia menyelipkan tangannya di ketiak Bina. Bina melotot. Pemuda itu tak menghiraukannya, dengan cepat ia mengangkat Bina, tanpa ekspresi keberatan sama sekali, seperti bukan mengangkat manusia, membawanya ketempat yang bersih dari pecahan beling.


Bina melongo, diam berdiri tak bergerak sama sekali. Sedang pemuda yang tadi mangangkatnya segera berlari keluar.


"Kak...." ucap Bina pelan, matanya masih menatap pada pintu yang menelan pemuda itu dari penglihatannya. Bingung, canggung, kaget, malu, sudah tercampur rata dalam diri Bina.


Tak selang berapa lama, pemuda yang membuat Bina setengah sadar itu kembali. Ditangannya terdapat sapu dan serok, berjalan pada kekacauan yang Bina perbuat.


Selagi Irgi membereskan pecahan beling. Bina masih saja mematung ditempatnya, ingin sekali membuka mulut tapi kepalang malu dengan yang baru saja ia perbuat.


"Dari pada kamu diam aja, mending bantuin saya," Irgi menoleh pada Bina. Rupanya berbeda dengan Bina yang terlihat sangat malu, pemuda ini malah terlihat santai dan biasa saja.


Bina menatap Irgi. Diam. Ia tak bersuara barang sedikit pun.


"Yaudah kamu mandi aja." Pemuda itu mengibaskan tangannya, memerintah Bina untuk segera mandi dan bersiap.


Bina segera masuk kamar, menutup pintu. Diam, bingung, Bina sudah seperti orang tak waras. Mengedipkan matanya perlahan, kemudian.


"Oh ya Allah."


Bina langsung membaui ketiaknya, walau bagaimana pun tangan Irgi, 'calon suami' nya Bina, sudah menempel pada ketiaknya. Bagaimana kalau ia bau terasi, dan bau itu menempel pada tangan Irgi? Karena ia kan abis panas-panasan, keringetan, dari pagi sampe sore berkegiatan. Oh selain itu memalukan, Bina juga takut manusia yang ada dibalik pintu yang sedang ia sandari ini, ilfil padanya. Seandainya Irgi juga bukan calon suaminya, tetap saja itu sungguh memalukan.


"Oke aman lah ya." Ucap Bina, setelah membaui ketiak nya. Aromanya tak begitu buruk, tak terlalu ketara. Semoga saja tidak menempel, hanya itu doa Bina sekarang.


Selesai dengan drama ketiaknya kini Bina mulai melepas tasnya, mengambil handuk dan segera bersiap untuk mandi. Takut pemuda itu akan menungggu nya lama.


Tak sampai setengah jam Irgi menunggu. Bina keluar dari kamar, ia menatap pada pemuda yang kini juga menatapnya.


"Udah?" Irgi bertanya.


Bina mengangguk. Ia melihat sekeliling, terutama pada bagian dapurnya. Tempat itu kini sudah bersih dari beling, tak hanya itu, wastafel yang tadinya kotor dan penuh kini sudah bersih dan rapih. Ia beralih menatap pada tempat piring sederhananya, disana sudah ada beberapa piring dan peralatan dapur lain yang masih meneteskan air, seperti baru saja dicuci. Bina melongo menatap nya.


"Itu saja ijin bersihkan, soalnya risih." Irgi bersuara canggung, menggaruk belakang lehernya yang tak gatal. Ia tak enak kala melihat Bina melongo melihat dapurnya sendiri. "Maaf, tadi saja juga buat teh ngak ijin dulu, itu piring nya saja juga cuci sekalian soalnya," lanjutnya.


Bina menolah pada Irgi, menatap pemuda itu yang kini terlihat tak enak. Ia tak masalah kalau pun Irgi mau buat teh atau membuat makanan sekalipun. Tapi ia kaget kenapa pemuda itu memcuci dan membersihkan cucian piringnya.


Bina mengangguk ragu, menjawab Irgi.


"Mau langsung pergi sekarang?" Irgi bertanya. Kemudian berjalan keluar, kala gadis itu menganggukan kepalanya.


LOVE YOU ❤️(❁'◡'❁)

__ADS_1


__ADS_2