
(ToT)/~~~
Bu Ida sedang mencoret-coret papan tulis di depan sana, menuliskan rumus-rumus yang hanya sedikit Bina mengerti.
Bina memangku dagunya bosan memperhatikan. Ia tak terlalu bersemangat hari ini. Hari senin yang sangat menyebalkan, di mulai dari bangun subuhnya yang terlambat akibat nonton drakor, di upacara yang amanatnya saja sudah hampir setengah jam, juga pelajaran yang membuatnya pusing. Diawali dengan matematika, kemudian biologi, setelah istirahat akan ada matematika minat, kemudian akan ada presentasi fisika yang dilakukan sampai pulang nanti. Luar biasa, semoga harimu tak seperti Bina.
Mengikuti Bu Ida, Bina mencoret-coret belakang bukunya. Bukan, bukan mencoret atau menghitung rumus yang ada di depan papan tulis sana. Namun, dirinya hanya membuat tanda tangannya sendiri, menulis kata-kata puitis, berlatih menulis huruf hangeul untuk langkah pertamanya menjadi pendamping seorang Min Yoongi, sampai dirinya mulai memikirkan strategi untuk pertandingan basket seminggu lagi.
Sesaat Bina tersenyum mengingat pertandingannya kemarin. Lelah tentu saja. Namun rasanya juga bahagia. Hingga rasa tak enak juga ia rasakan di sana. Ia melirik Sila di sampingnya gadis itu hanya diam memangku dagu sama seperti Bina, memperhatikan papan tulis di depan sana.
Bina menyenggol Sila. Gadis itu hanya meliriknya sesaat. Saat di lapangan tadi mereka tak berbaris berdampingan seperti biasa karena Bina terlambat, jadi dirinya berbaris di barisan paling akhir.
“Sil, kemarin aku menang tau.” Bisik Bina, melirik Bu Ida di depan sana.
“Tau,” ucap Sila.
“Poinnya selisih dikit, tapi nggak papa, permulaan.”
Sila mengabaikan Bina, gadis itu hanya mengangguk-anggukan kepalanya, tak mengalihkan sedikit pun tatapannya dari Bu Ida.
Bina mengernyit melihatnya. “Kenapa sih, sakit?”
Sila menggeleng, membuat kerutan di dahi Bina bertambah. “Marah sama aku?” Tanya Bina.
“Nggak.”
“Terus kenapa?”
Sila lagi-lagi menggelang, gadis itu tak sedikitpun melirik Bina. Ia juga tak menyahuti topik yang berusaha gadis itu angkat. Tatapannya memang tak lepas dari papan tulis sana, namun raut wajahnya, murung tak bersemangat. Entah karena pelajaran Bu Ida atau hal lainnya.
Bina masih memandng wajah Sila, saat Bu Ida berkata yang berhasil membuatnya mengalihkan tatapan.
“Baik, jam ibu sudah habis. Kalian catat, minggu depan kita ulangan bab sebelumnya.”
“Yaaah.” Sorakan itu berhasil membuat Bu Ida yang sedang merapikan barang-barangnya, mendelik dengan tajam, membuat ruangan kembali senyap dengan sekejap.
__ADS_1
“Kalian itu, nanti ketinggalan sama yang lain kalo ulangan nya di tunda mulu.” Gerutu Bu Ida, wanita itu berjalan ke arah pintu, mengucap salam, sebelum keluar dari kelas, mengabaikan anak muridnya yang kembali heboh di dalam kelas.
Bina mengarahkan duduknya menghadap Sila. Gadis itu hendak beranjak, namun dengan cepat Bina menahan pahanya agar gadis itu tak meninggalkannya.
“Kita perlu ngomong deh kayaknya,” ucap Bina.
“Ngomong apa?” Sila mengubah duduknya menghadap Bina, hingga kini kedua gadis itu berhadapan.
“Kamu marah?” Bina bertanya perlahan.
Sila menghela nafas gadis itu menggulirkan matanya melirik pintu dengan malas. “Menurut lo?” Tanya nya.
Bina menegakkan duduknya mendengar nada dan kalimat yang Sila ucapkan. Sila bukan gadis yang akan menggunakan kosa kata gue-lo, bahkan pada Bina sekalipun yang teman dekatnya. Namun, sekarang kosa kata itu digunakan Sila, saat berkata padanya.
“Kenapa?” Bina bertanya hati-hati.
Sila kembali menghela nafas, menyipitkan matanya menatap Bina. Kakinya ia silangkan di bawah sana, merogoh pada kolong mejanya, mencari ponsel.
Hal itu terus Bina perhatikan, sampai Sila kini terlihat mengotak-atik benda pipih dalam genggamannya sebentar sebelum mengarahkan layarnya pada Bina.
Layar itu menampilkan sebuah lapangan basket dengan sebagian pemainnya sudah berada di sisi lapangan, tanda permainan berakhir. Namun itu hanya latar belakangnya saja, yang menjadi fokus dalam foto itu adalah seorang remaja perempuan yang tengah berpelukan dengan salah satu pemain berseragam basket sekolah mereka, di sisi lapangan.
“Jelasin apa sih? Jelasin kalo enak di peluk Kak Wahyu?” Sila bertanya congkak, dagunya ia naikan mengintimidasi Bina.
“Bukan, bukan gitu. Kita nggak sengaja.” Bina menggelengkan kepalanya.
“Nggak sengaja? Orang jelas lo nikmatin kok.”
“Gak, Sila. Aku sama Kak Wahyu cuma teman.”
“Teman apaan? Teman tapi mesra?” Sila menaikan nada suaranya, membuat perhatian sebagian penghuni kelas kini mengarah pada mereka.
Rara mengernyitkan dahinya, kemudian ia menyenggol lengan Apis yang kepalanya sudah akan terjun pada lipatan tangan. Menunjuk pada Bina dan Sila menggunakan dagunya, saat pemuda itu bertanya.
“Berantem lagi?” Tanya Apis.
__ADS_1
“Gue nggak tau.” Bisik Rara, gadis itu mendudukan dirinya di samping Apis, memperhatikan kedua gadis yang kini duduk berhadapan di bangku mereka.
“Ra.” Andri menghampiri Rara, menyenggol lengan gadis itu. Sama seperti Rara, Andri juga menggunakan kode yang sama, bermaksud menunjuk gadis-gadis itu.
Rara hanya mengedikan bahunya tak tahu, dengan bibir manyun. Ia tak suka jika kedua gadis itu bertengkar kembali seperti bulan-bulan lalu. Selama hampir tujuh bulan mereka saling mengenal, ia benar-benar tak suka jika ada temannya yang bermusuhan.
“Lagian selain Kak Wahyu, orang lain ada yang meluk lo? Kan mereka juga temen, kok nggak meluk lo sih?” Sila bertanya kembali.
Bina menggeleng kan kepalanya. Bukan, bukan begitu maksudnya. Ia memang memiliki perasaan lebih pada Wahyu, namun mereka memang hanya sebatas teman, hanya itu, tak lebih. Tapi bagaimana dirinya mengatakannya pada Sila.
“Udahlah.” Sila berdiri dari duduknya. “Gue kira waktu itu pas gue bilang lo boleh deket sama Kak Wahyu, lo ngerti perasaan gue. Dan bakal deket ya.... sekedar temen aja gak lebih. Ternyata nggak ya, gue minta maaf deh, mungkin guenya aja yang terlalu berprasangka baik sama lo.” Gadis itu berucap menunduk menatap Bina. Kemudian dirinya melangkah hendak keluar dari kelas.
“Sila, mau kemana? Masih ada pelajaran biologi bentar lagi.” Apis berdiri dari duduknya, menatap Sila. Membuat pandangan semua orang yang tadinya menatap Sila kini menatap dirinya.
“Bolos. Capek gue.” Sila melangkah keluar, pergi mengabaikan Apis yang masih memanggil-manggil namanya.
Dirinya juga tak mau sebenarnya merasa begini. Namun hatinya seakan sakit rasanya melihat yang teman dekatnya sendiri bersama orang yang disukainya. Padahal ia sudah memberi tahu. Namun, kenapa Bina tak mengerti. Padahal dirinya juga bukan siapa-siapa. Namun kenapa sesakit ini? Orang terdekatnya sendiri yang juga ‘merebut’ orang yang ia sukai.
Ia tahu Bina juga menyukai Wahyu. Ia tahu pemuda itu juga mungkin menyukai Bina. Namun dirinya ingin egois sedikit saja. Semua yang ia inginkan harus pupus. Menuruti keinginan orang tuanya, menuruti semua orang yang mungkin saja juga menyakitinya. Ia juga punya sesuatu yang ia inginkan sendiri.
....
Bina masih duduk di tempatnya, menatap pada arah pintu yang menelan Sila pergi dari ruang kelas. Kenapa seperti ini lagi? Dadanya juga kenapa merasa sesak lagi. Sudah ada masalah baru lagi dengan Sila, bahkan masalah dengan Irgi saja belum selesai dari sebulan yang lalu. Kini malah bertambah.
Dari mulai keluarga, Irgi, orang tua Irgi, bertambah akan urusan hati, masalah pertemanan juga ikut serta di dalamnya. Bina menghela nafas setelah menjabarkan semua masalahnya. Umurnya masih enam belas tahun, namun kini masalah dalam hidupnya sudah beranak cucu seperti ini.
Entah Bina yang memang cengeng atau bagaimana, dirinya merasa berat sekali dengan beban-beban berat dalam pundaknya. Memang masih banyak hal yang perlu disyukuri, melihat banyak manusia yang terlantar di luar sana. Namun ia juga manusia, yang punya rasa lelah.
“Bin.”
Panggilan itu berhasil mengalihkan Bina dari segala pikirannya. Kini tatapannya berseteru dengan perempuan yang kini duduk di sampingnya.
“Nanti kita bantu baikan lagi ya?” Rara gadis itu mengusap pundak Bina.
Bina hanya diam menatap Rara. Jujur ia iri dengan semua hal yang gadis ini miliki. Tidak punya masalah, selalu ceria, selalu bahagia di usia mudanya. Setidaknya itu yang ia lihat, ia juga tak tau lebihnya bagaimana.
__ADS_1
Rara merengkuh Bina dalam pelukannya. Ia tahu bukan hanya masalah Sila, namun masih banyak masalah lain yang gadis dalam pelukannya miliki, meski ia tak tau apa itu.
(~﹃~)~zZ