
(^_-)db(-_^)
Bina berjalan bersisian dengan anggota basket. Namun jalannya tak secepat anak-anak basket karena kakinya tak bisa dibandingkan dengan mereka. Mereka yang melangkah dengan tiga langkah normal, butuh Bina susul dengan lima langkahnya. Sedikit lebay, namun tak heran karena tinggi badannya saja hanya sampai pundak mereka. Dirinya yang tadinya bersisian dengan mereka, kini sudah tertinggal lumayan jauh dibelakang.
Bina tak berusaha mengejar mereka. Tidak berusaha untuk mensejajarkan langkahnya dengan para lelaki yang berjalan santai namun bagi dirinya itu sangat cepat. Ia sudah melakukannya setidaknya tiga kali sebelum kini mereka memasuki koridor, menuju parkiran.
Bina melangkah normal seperti biasanya. Menatap pada punggung-punggung yang kini perlahan mulai menjauh darinya. Pikirannya kembali pada pembahasannya dengan putri beberapa saat lalu. Kalau dipikir benar yang dikatakan gadis itu. Dirinya harus menggapai harapannya sendiri, namun Bina seakan terjerat akan sesuatu yang tak bisa ia lepaskan dengan mudah. Ia harus berusaha keras untuk itu.
“Bina.”
Bina menoleh kaget pada pemuda yang kini mensejajarkan langkah dengannya. Pemuda itu menoleh padanya tersenyum tipis, sebelum memalingkannya ke arah depan.
“Kenapa?” Tanya Bina.
“Saya boleh tanya?” Pandangan Irgi lurus ia tak menatap Bina.
“Apa?” Bina memiringkan kepalanya bertanya.
“Dia’ itu siapa?” Kini pandangn Irgi menolah menatap lekat mata Bina.
Bina memalingkan wajahnya. Gadis itu memilih menatap kaki-kakinya yang melangkah pelan. Lagi-lagi hal ini. Mereka pasti akan bersiteru kembali dengan pembahasan yang sama. Bukan tak tau ‘dia’ yang Irgi maksud siapa. Pemuda itu berada tepat di belakangnya ketika putri menghampirinya, dan pasti Irgi mendengar semua perbincangan dirinya dengan gadis itu.
“Bukan siapa-siapa.” Jawabnya.
“Basket ya?” Tanya Irgi. Pemuda itu kembali menatap lurus.
Irgi sudah tak mau menanyakannya lagi. Karena menurutnya itu adalah masalah Bina. Dirinya memang mau mengetahuinya. Namun biarlah, biarkan Bina menyelesaikan masalahnya dengan caranya sendiri. Dirinya hanya ingin memastikan sesuatu yang ada dalam pikirannya.
Bina tak menjawab, langkahnya dipercepat. Namun tentu saja, pemuda jangkung itu dengan mudah menyamakan langkah kakinya yang tak seberapa lebar. Hingga kini keduanya berhasil sampai pada parkiran.
Bina mendongak menatap pada parkiran yang kini hanya terisi dengan dua manusia dan beberapa kendaraan. Ia melirik Wahyu, pemuda itu terlihat sedang berbincang dengan Wawan, entah membicarakan apa. Namun tak lama, keduanya menolah melihat Bina yang kini berjalan cepat dengan Irgi.
Merasa diperhatikan. Bina pun memelankan langkahnya, yang juga diikuti oleh pemuda di sampingnya.
“Dek Bina.” Wahyu melambaikan tangannya, tersenyum cerah.
“Kak.” Blas Bina.
“Makasih ya Dek.” Wawan berucap.
“Sama-sama Kak, kalian keren.” Ucap Bina mengacungkan jempolnya tersenyum.
“Berkat kamu juga.” Balas Wawan ikut tersenyum.
“Berkat kita semua.” Ucap Bina mengoreksi.
Hal itu membuat Wawan tersenyum. Pemuda itu berbalik menepuk pundak Wahyu dan Irgi. “Gue duluan ya." Ucapnya.
“Hati-hati Wan.” Irgi berucap pelan.
__ADS_1
“Lo nggak mau ikut basket nih.” Sebelum pergi Wawan berucap tersenyum pada Irgi.
Irgi menghela nafas, lagi-lagi ini. Tak habis-habisnya pembahasan tentang dirinya yang tak mau mengikuti ekskul basket. Tak heran juga banyak yang menyayangkan akan hal itu. Karena ketiga teman-temannya memasuki basket sedang dirinya sendiri malah mengikuti ekskul drumband. Apalagi tinggi badannya yang memang terlihat cocok dengan olahraga satu itu.
“Nggak mau.” Ucap nya pelan.
Wawan dan Wahyu terkekeh geli. Sangat seru melihat Irgi yang terlihat lelah akan pertanyaan yang selalu dilontarkan para anak basket padanya. Tapi hebatnya, Irgi selalu menjawab dengan lemah lembutnya, tak pernah marah atau meninggikan suaranya. Hanya ekspresinya saja yang sangat menunjukan kalau dirinya sudah sangat muak dengan pertanyaan itu.
“Yaudah pamit.” Wawan berucap, meninggalkan mereka bertiga dengan motornya.
Wahyu menolah pada Bina ketika Wawan sudah tak terlihat. “Yuk Dek Bina, kakak anter.” Ucapnya.
Bina melirik Irgi. Tak maksud apa, namun gadis itu takut Irgi mengiranya macam-macam. Atau.. entah lah ia hanya ingin memastikan ekspresi Irgi bagaimana. Entah kenapa.
“Hati-hati Yu.” Irgi menepuk pundak Wahyu berjalan menuju motornya. “Bin, Yu, duluan ya.” Ucapnya kemudian pergi setelah mendapat anggukan dan pesan hati-hati dari Wahyu.
“Yuk Dek Bina.” Wahyu berucap mengajak Bina.
...
Motor Wahyu berjalan perlahan ketika berada di depan kost Bina. Bina turut berucap terima kasih yang disahuti Wahyu dengan anggukan dan senyuman. Namun senyuman itu tak luntur untuk waktu yang lama. tak ada kata pamit juga tak keluar dari bibirnya.
“Kenapa Kak?” Bina bertanya. Tidak, ia tidak kan menawarkan Wahyu untuk mampir. Tidak akan ia masukan lelaki pada kostnya. Irgi pengecualian karena pemuda itu, ia.... yakin baik, terbukti karena orang tuanya juga percaya padanya.
“boleh minta air putih nggak dek Bina. Kakak haus.” Wahyu tersenyum semakin lebar. Tenggorokannya terasa kering, sedang botol minumnya sudah tandas ia minum saat pertandingan tadi.
“Ohh boleh Kak, tunggu sebentar.” Bina mengangguk, berbalik berjalan memasuki kostnya untuk mengambil segelas air.
“Kak.” Bina berucap dari balik badan Wahyu, membuat pemuda itu menoleh.
“Apa? Airnya nggak ada? Kakak beli aja kalau begitu.” Wahyu hendak berdiri dan pergi, namun.
“Nggak Kak. Anu lampunya mati.” Ucap Bina ragu.
“Oh, mau Kakak benerin?” tanya Wahyu.
“Bisa Kak?” tanya Bina.
Wahyu mengangguk tersenyum, bangkit menuju pintu kost Bina. “Boleh masuk?” tanyanya menatap Bina.
Setelah mendapat anggukan dari Bina, pemuda itu berjalan masuk. Pemuda itu mengambil kursi, dan menaikinya.
“Senter Dek.” Wahyu berucap menunduk melihat Bina.
Bina mengangguk, mengeluarkan ponselnya, menyalakan senter dari benda pipih itu. Kemudian mengarahkannya sesuai dengan intruksi dari Wahyu.
“Dek Bina punya lampu cadangan nggak?” Wahyu bertanya sesudah mengecek pda bohlam lampu.
“Punya Kak sebentar.” Bina berjalan memasuki kamarnya, mengambil bola lampu baru dari sana. Karena seingatnya ia masih memiliki satu buah lampu baru, pembelian ayahnya saat pertama kali datang ke sini. Entah untuk apa ayahnya memberikan bola lampu, namun akhirnya benda itu berfungsi disaat sekarang ini.
__ADS_1
Wahyu menerima benda yang disodorkan Bina. Pemuda itu memutar bola lampu lama guna melepasnya.
“Kak,” ucap Bina, mendongak menatap Wahyu. Bibirnya ingin sekali menanyakan tentang perasaannya pada Wahyu. Apa pemuda itu merasakan hal serupa padanya. Apa perasan ini benar-benar rasa suka. Atau apa.
“Hm.” Wahyu berdehem, tak mengalihkan tatapannya dari tempat lampu.
“Kakak suka Sila?” ucap Bina cepat. Bukan, bukan itu yang ingin Bina tanyakan. Namun entah kenapa sangat sulit menanyakannya.
“Hm,” Wahyu menunduk menatap Bina. Bingung dengan pertanyaan gadis itu.
Bina mengeratkan pegangannya pada kursi yang kini menopang tubuh Wahyu. Mengapa ia menanyakan hal itu.
“Sila temen kamu?” Wahyu bertanya, yang hanya dijawab dengan anggukan oleh Bina. “Kenapa nanya gitu?” tanyanya balik.
Bina menggeleng, gadis itu memilih menunduk menatap pada lantai kostnya. “Nggak jadi deh.” Ucap Bina. ‘Apa sih Bina, kamu nggak jelas banget.’
Wahyu hanya mengangguk-angguk bingung. Pemuda itu turun dari kursi setelah menyelesaikan pekerjaannya. Ia berjalan menghampiri saklar lampu dan menyalakannya. Lampu menyala terang, tanda pemasangannya sudah benar. Wahyu tersenyum melihatnya.
“Makasih Kak.” Bina juga ikut tersenyum melihatnya.
Wahyu mengangguk. “Bayarannya air putih ya.” Ucap Wahyu.
Bina mengangguk terkekeh. Ia berjalan menuju dapur. Sedang Wahyu berjalan keluar dari kost Bina, ia akan menunggu Bina di teras depan saja.
Bina menghampiri Wahyu, dengan segelas teh manis dingin di tangannya. Ia menyerahkannya pada Wahyu.
“Masalah kemarin sudah selesai Dek?” Tanya Wahyu, meminum tehnya.
Bina diam sebentar memikirkan masalah apa yang Wahyu maksud. Bina mendudukan dirinya di samping pemuda itu. Setelah mengetahui maksud dari pemuda itu, ia menoleh. Tatapannya beradu dengan Wahyu. Apanya yang selesai? Dirinya lelah.
Bina menggeleng.
Wahyu tersenyum lembut mendapat jawaban itu dari Bina. Ia menarik nafas sejenak, “Dek Bina serius, mau menyelesaikan masalah Dek Bina?” Tanyanya.
Bina tak merespon berlebihan, ia hanya mengangguk. Ia juga ragu akan dirinya dengan masalah-masalahnya. Apa dirinya bisa menyelesaikannya.
“Kalau Dek Bina serius, berarti doa dan usahanya juga harus serius.” Senyum dibibir Wahyu tak surut. “Seperti yang Kakak bilang tempo hati, Tuhan tidak akan memberi cobaan kalau Dek Bina nggak bisa selesaikan.”
“Jangan usahanya aja Dek, harus ada doa. Dua hal itu penting.” Wahyu berucap.
Kemudian hening. Wahyu tak melanjutkan bicaranya.
Sedang Bina, lagi dan lagi berseteru dengan pikirannya. Benar yang Wahyu ucapkan. Namun dirinya sudah terlanjur ragu akan kemampuannya untuk menyelesaikan masalah. Dirinya terlalu cengeng dan banyak alasan. Dirinya lemah.
“Kakak pamit ya, udah sore banget.” Wahyu bengkit, memecahkan pikiran semrawut dalam kepala Bina.
Bina ikut bangkit, mengangguk. Melihat Wahyu menaiki motornya melambaikan tangannya kemudian pergi meninggalkannya sendiri.
Bina menghela nafas kembali. Apa tak ada orang yang akan membantunya menyelesaikan masalah? Apa ia harus seorang diri. Kalau dirinya ditemani Wahyu mungkin akan dengan mudah masalahnya selesai. Namun untuk menceritakan masalahnya pada pemuda itu saja ia masih ragu. Ia bukan siapa-siapa, mereka hanya teman, dan harus menjadi teman, hanya itu.
__ADS_1
Bina tidak boleh memberatkan pundak Wahyu dengan masalahnya. Tidak boleh. Ia tidak boleh melibatkan Wahyu.
o(*^▽^*)┛