
O.O
Canggung, suasana diatas vespa biru yang melaju begitu pelan ini begitu canggung. Suasana yang begitu Bina benci. Mereka tak ada yang mengeluarkan suara barang hanya bergumam sedikit pun tidak. Hanya suara kendaraan yang sendari tadi Bina dengar, kendaraan-kendaraan yang nampak ramai dari pada biasanya, karena wajar ini adalah malam minggu. Tidak ada obrolan panjang yang hanya terjadi diatas motor seperti biasanya. Mereka masih enggan berbicara satu sama lain.
Hal lain yang membuat Bina gelisah adalah, ia takut akan ada siswa sekolahnya yang melihat mereka bersama. Ini adalah malam minggu, begitu ramai dengan muda-mudi yang keluar menghabiskan waktu, entah dengan teman atau pacar. Dan tidak menutup kemungkinan bahwa ada saja yang keluar di daerah sini dan melihat mereka. Dari pada rasa canggung Bina lebih takut hal itu terjadi.
Berusaha menepis rasa gelisah yang tak nyaman, Bina melihat sekeliling. Banyak sekali pedagang-pedagang kaki lima yang berjualan dipinggir jalan. Saat mereka melaju melewati pasar kecil, pinggir jalan. Sekarang bukan hanya suara kendaraan yang terdengar, suara orang-orang yang terdengar seperti gumaman karena terlalu banyak juga terdengar. Makanan-makanan yang sangat sering Bina temui semenjak ia tinggal disini, dijajakan sepanjang jalan. Tak jauh berbeda sebenarnya dengan yang ada dikampung Bina, namun banyak juga makanan-makanan yang Bina tak tau bagaimana bentuk dan rasanya.
Tak sengaja mata Bina menatap pada salah satu pedagang kaki lima yang peminatnya tak terlalu banyak. Matanya berbinar melihat itu, itu adalah jajanan tradisional yang sudah lama Bina ingin cicipi. Seakan melupakan rasa gelisahnya, kini rasa itu berganti dengan rasa lapar, padalah Bina baru saja makan banyak dirumah Irgi tadi. Bibir Bina terbuka, ingin mengatakan pada Irgi untuk berhenti dulu. Namun, kembali ia rapatkan, merasa tak enak juga canggung, kembali Bina rasakan.
“Mau beli sesuatu dulu?”
Pertanyaan itu berhasil membuat Bina mendongak, menatap pada helm biru dihadapannya, matanya berbinar. Senyum Bina terbit begitu saja, entah dia merasa Irgi sangat peka sekali dengannya. Dengan semangat Bina menganggukan kepalanya. Namun tak lama sadar bahwa Irgi tidak bisa melihatnya, Bina bergumam dengan semangat. Entahlan Bina akan menyingkirkan pikiran negativ dari kepalanya tentang kemungkinan ada orang yang melihat mereka bersama. Nanti Bina akan berdoa dalam hati banyak banyak.
“Mau apa?” irgi bertanya, menatap sekeliling yang sekiranya Bina inginkan.
“Itu kak, disana.” Bina menunjuk salah satu pedagang kaki lima yang tadi sempat ia lihat.
Motor Irgi perlahan berhenti didepan gerobak berwarna hijau bertuliskan ‘ketupat tahu’ dengan warna putih. Bina turun dari motor, berjalan dengan terburu menghampiri simamang pedagang. Irgi dibelakangnya baru saja mematikan motornya.
“Mang, ketupat tahunya satu ya.” Bina berucap semangat, tersenyum kepada si pedagang. Ia memsan untuk dirinya sendiri, untuk Irgi nanti ia tanya pemuda itu.
“Iya neng, duduk dulu.” Si mamang pedagang langsung membuatkan, menyodorkan bangku kecil untuk Bina duduk.
Bina duduk disana dengan semangat, senyum tak lepas dari bibirnya, menatap pada tangan si mamang yang dengan cekatan membuatkan pesanannya.
Sedang fokus menatap si mamang, kepala Bina terasa ditampar dari belaknag, tidak kencang, namun tetap saja itu membuat kepala Bina yang kini terasa besar oleng kedepan. Bina menolah, menatap si pelaku yang kini berjongkok disebelahnya, menggeplak bahu pamuda itu dengan kencang.
“Helm dilepas dulu.” Irgi, pemuda itu menunjuk pada helm miliknya yang kini masih terpasang di kepala Bina.
Mendengar itu Bina meraba kepalanya. Benar yang dikatakan pemuda itu, Bina masih memakai helmnya, tak heran banyak pasang mata yang menatapnya, walau tak ia pedulikan. Malu, buru-buru Bina melepaskan helmnya. Pantas saja kepala Bina masih terasa berat, dikiranya karena beban hidup, ternyata memang karena beban hidup. Setelah melepas helmnya, Bina menyerahkan helm itu pada si pemilik, yang diterima begitu saja olehnya.
__ADS_1
“Saya udah dipesenin?” Irgi menatap Bina, bertanya. Mendapat gelengan dari gadis disampingnya, sebagai jawaban, Irgi menyenggol lengan Bina. “Saya juga pesenin.” Ucapnya.
“Kak Irgi sendiri aja.” Bina tak mengalihkan tatapannya dari si mamang penjual.
“Sekalian.” Irgi menyenggol Bina lagi.
Bina berdecak, menyenggol balik Irgi cukup kencang, membuat pemuda itu oleng dan terjatuh dari jongkongnya, terduduk ditanah. Melihat itu Bina terkikik pelan. Tak hanya Bina, si mamang pedagang juga melihatnya.
“Aduh si a’a, sok duduk disini.” Si mamang menyodorkan kursi kecil lainnya pada Irgi.
Pemuda itu menerimanya, dengan senyum malu berucap terimakasih. Seakan melupakan masalah mereka, Bina semakin terkikik geli melihatnya. Bukan hanya Bina dan si mamang yang melihat rupanya, tapi banyak orang lain juga melihatnya. Bahkan beberapa ada yang menahan tawa, karena pose jatuh Irgi yang memang tidak estetik.
Terjatuhnya memang tidak sakit, tapi malunya itu loh, Irgi serasa ingin menghilang dari Bumi. Melihat gadis disampingnya yang masih tertawa tertahan, Irgi menyentil dahi Bina sedikit keras. Membuat Bina seketika menghentikan tawanya, menganggkat tangan memegang dahinya yang kini sedikit memerah. Tak terima, Bina mengangkat tangannya, hendak membalas. Namun...
“Kamu bales, saya jorokin kamu, biar jatuh kaya saya.” Bisik Irgi.
Kalimat itu berhasil membuat Bina diam dalam duduknya. Menegakkan punggungnya, Bina kembali menatap pada si mamang ketupat tahu yang kini mulai fokus kembali pada pekerjaannya.
“Mang satu lagi ya.” Ucap Bina mengacungkan jari telunjuknya, menatap si mamang.
“Siap neng.” Si mamang mengacungkan jempolnya. “Makan disini atau bungkus neng?” Tanyanya.
“Bung...”
“Makan sini aja mang.” Irgi berucap cepat menyela Bina, membuat Bina menutup kembali bibirnya, menyerngit menatap Irgi.
“Nggak bungkus kak.” Bina menampakan raut bertanya pada pemuda disampingnya.
Irgi hanya mengangguk sebagai jawaban. Namun tak lama pemuda itu menatap Bina. “Kamu mau nonton?”
“Nggak kak.” Bina menggeleng cepat. Ia lebih baik di tempat seperti ini dari pada pergi nonton film dengan pemuda di sampingnya ini. Bina tidak bisa membayangkan bagaimana canggungnya mereka nanti. Di tempat yang semua orang diam, sepi, dan itu mungkin menambah kecangngan. Mending di sini, ia bisa melihat banyak orang dengan banyak obrolan mereka, setidaknya bisa mengalihkan dirinya dari rasa canggung yang ia rasa.
__ADS_1
“Kalo mau nonton, bungkus aja.”
“Nggak ah.” Bina menggelang, tatapannya masih memperhatikan si mamang.
Irgi hanya mengangguk melihatnya. Mengikuti Bina memperhatikan si mamang yang dengan lihainya membuat pesanan mereka. Tak lama si mamang menyodorkan dua piring ketupat tahu pada Bina dan Irgi. Mereka menerimanya, berucap terimakasih dan mulai menyantap makanan itu.
Seakan sadar kembali dengan keadaan, Bina mulai menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, waspada. Mencari wajah-wajah yang mungkin saja familiar di matanya. Yang kemungkinan adalah salah satu siswa dari sekolah yang sama dengan mereka. Bina harus waspada, jika ada yang ia kenal, ia akan segera menutup wajahnya entah menggunakan piring ketupat tahu, atau apapun itu dan mengajak Irgi untuk pergi dari tempat ini secepatnya.
Irgi sempat menyerngitkan dahinya melihat kelakuan Bina, ia juga ikut melihat ke kanan dan ke kiri mengikuti Bina, mencari sesuatu yang mungkin saja dicari oleh gadis itu. Namun tetap tidak menemukan sesuatu yang mungkin berpotensi untuk Bina cari.
“Kamu kenapa sih?” Akhirnya pertanyaan itu keluar dari mulut Irgi karena saking sudah lelah tak berhasil menemukan sesuatu yang mungkin Bina cari.
Bina menoleh pada pemuda di sampingnya. Menggeleng sebagai jawaban. Kemudian, ia mulai kembali dengan kegiatannya. Bina menyipitkan mata, ia harus menajamkan matanya melihat sekeliling, waspada.
Irgi menatap Bina, gadis itu masih saja melarikan matanya ke sana kemari, entah mencari apa. Ada rasa bersalah di diri Irgi, mengingat pada hari itu ia kelepasan dan membentak Bina. Gadis itu menangis, pasti Bina juga kaget dan takut waktu itu.
Sungguh Irgi tersulut emosi, ia tidak bisa mengendalikan emosinya waktu itu, apalagi itu juga membahas tentang Pita. Ia masih berjibaku dengan masalah Pita, dan Bina membahasnya waktu itu. Ditambah masalahnya dengan Bina, itu membuatnya tak bisa mengendalikan diri. Dan akhirnya bentakan itu keluar dari mulutnya. Ia juga tak ingin membentak Bina, mengingat kembali bagaimana gadis itu menangis karenanya.
Saat ingin membuka mulutnya untuk meminta maaf, Bina terbatuk cukup keras. Irgi yang hendak mengucapkan kata maaf, dengan terburu menepuk punggung Bina, menenangkan gadis itu. setelah Bina cukup tenang. Irgi menyantap ketupat tahunya dengan suapan besar, meletakan piring ketupat tahu nya yang sudah tinggal setengah di atas tanah.
“Saya beli minum ya.” Irgi bangkit dari duduknya.
Mendapat anggukan dari Bina, pemuda itu hendak berjalan meninggalkan Bina, namun ia kembali berbalik menatap pada Bina yang sudah sangat fokus dengan makanannya. “Mau minum apa?” tanyanya.
“Apa aja kak.” Ucap Bina, mulai masih memakan makanannya.
Setelahnya Irgi pergi, meninggalkan Bina. Gadis itu kini sudah mulai tenang menyantap makanannya, karena dirasa Irgi juga sudah tidak di dekatnya, ia tak perlu waspada.
Hari sudah mulai malam, dan semakin malam pasar juga semakin ramai. Bina sudah merasa seperti semut sekarang. Namun ia tidak pedulikan, ia juga sudah tak peduli dengan kewaspadaannya terhadap kemungkinan siswa sekolahnya melihat dirinya. Kini mata itu masih waspada, namun bukan untuk mewaspadai hal itu. kewaspadaannya adalah untuk mencari seorang dengan setelan coklat, bernama Irgi, yang sendari tadi ia tunggu, namun tak muncul juga. Entah pemuda itu membeli minum di Samudra bagian mana, sampai ketupat tahu milik Bina kini sudah ludes lima belas menit yang lalu. Dan ia harus menjaga ketupat tahu milik Irgi, agar tidak tertendang oleh kaki-kaki manusia yang melewatinya.
“Dek Bina.”
__ADS_1
Panggilan itu membuat Bina seolah membeku ditempatnya.