Bercerita Tentang Kita

Bercerita Tentang Kita
part 26


__ADS_3

=(


Pasar malam ini begitu indah dimata Bina. Warna-warninya cahaya lampu bercampur dengan warna-warninya manusia yang ada, begitu menakjubkan di matanya. Suara-suara manusia dan suara musik yang entah Bina tak tau asalnya dari mana, menjadi satu menciptakan kemeriahan suasana.


Banyak wahana-wahana dan permainan yang sering kali Bina lihat di internet kini sudah di depan matanya. Bina bisa melihat langsung dan mungkin juga ia akan mencoba semua wahana dan permainan yang ada.


Senyum gadis itu tak luntur sejak turun dari motor Wahyu di parkiran tadi. wajah cerahnya tak surut, walau melihat banyak manusia yang sudah seperti semut yang berkumpul di depan sana.


Bina mendongak menatap sebuah benda besar, melingkar dengan kandang-kandang burung disisinya. Itu pasti akan membawanya pada puncak tertinggi dari manusia-manusia yang ada di sini. Ia juga mungkin akan melihat pemandangan indah dari tempat tinggi itu. Bina ingin menaikinya.


“Mau coba yang mana dulu?” Wahyu bertanya, menatap gadis di sampingnya yang begitu terlihat bahagia sekarang. Menggemaskan.


“Itu.” Bina berucap menunjuk pada kuda berputar yang ia maksud sore tadi. Sebelum mencoba banyak hal Bina akan mencoba itu terlebih dahulu.


“Oke, ayo beli tiket dulu.” Wahyu berjalan mendorong pelan punggung gadis itu.


Bina berjalan terburu, menerobos pada manusia-manusia di depannya, yang menghalangi jalan. Ia sungguh tidak sabar.


Sedang Wahyu, pemuda itu sudah kewalahan. Hampir saja dirinya kehilangan Bina, kalau matanya tidak tajam untuk melihat kemana gadis itu berjalan. Mengingat tinggi badan Bina hanya sampai pundaknya, membuat ia harus benar-benar melihat gadis itu, tak ia biarkan untuk hilang dari pandangannya.


“Mau naik yang mana?” Wahyu  melihat pada kuda-kuda yang berputar, yang sebagian sudah mempunyai pemiliknya.


“Itu.” Bina menunjuk pada salah satu kuda berwarna putih dengan hiasan warna-warni. Sangat cantik.


Wahyu menghampiri salah satu penjaga wahana. Setelah menyerahkan tiket, ia menunjuk pada kuda yang Bina maksudkan.


Benda berputar itu berhenti. Wahyu mengajak Bina untuk menaiki kudanya. Setelahnya, kuda-kuda itu mulai kembali berputar, membawa serta Bina dan juga Wahyu. Dengan iringan lagu yang begitu menyenangkan.


Bina sangat senang. Ia membuka ponselnya, memotret beberapa suasana pasar malam dengan ponselnya. Juga tak lupa ia memotret dirinya yang sedang menaiki kuda. Namun tak puas hanya dengan swafoto, yang membuat hanya dirinya yang terlihat, sedang kudanya hanya terlihat sebagian. Ia pun melirik pada pemuda di sampingnya.


Pemuda itu sedang melihat sekitar. Wajahnya datar, tak menampakan wajah ceria seperti biasanya.


“Kakak kenapa?” Bina bertanya pelan.


Mendengar suara Bina, Wahyu menoleh. Senyum ia lemparkan pada gadis di sampingnya itu. “Nggak papa.”


“Nggak suka naik ini ya?” Tanya Bina lagi.


“Nggak, suka kok.” Wahyu masih tersenyum.


“Iya?”


Wahyu mengangguk pelan. “Mau apa?” Tanyanya.


“Fotoin.” Bina menyerahkan ponsel nya pada Wahyu, yang diterima begitu saja oleh pemuda itu.

__ADS_1


Wahyu tersenyum. Ia menatap layar, menekan gambar bulat pada layar, hingga menghasilkan beberapa foto dari gadis itu. Sangat cantik, menggemaskan sekali tingkahnya, ketika mengubah gaya dari yang tersenyum biasa sampai manyun pun ada. hal itu membuat bulan sabit di pipinya terbit cukup lama.


Wahyu sangat senang sekarang. Ada perasaan yang amat bahagia jika berada dekat dengan Bina. Mungkin memang benar, perasaan yang ia rasakan ketika dengan Bina, memang perasaan suka. Ia sudah menyimpulkan perasaannya itu sejak beberapa hari lalu. Memang benar perasaannya ini benar-benar perasaan suka. Walau dirinya masih ragu, ia akan memperjuangkan Bina atau tidak.


...


“Kak mau itu.” Bina berucap, menunjuk pada makanan berbentuk kapas dengan warna yang menggoda.


Waktu mereka untuk menaiki komedi putar sudah berakhir lima menit yang lalu. Mata Bina menyusuri pada setiap sudut pasar malam. Seolah dirinya tak mau melewatkan pemandangan apapun dari tempat ramai itu.


“Itu?” Wahyu ikut menunjuk pada gerobak dengan hiasan lucu warna-warni yang menghiasi. Bina mengangguk senang. “Ayo,” ajaknya.


Wahyu berjalan pelan, beriringan dengan langkah Bina yang kecil. Gadis itu kini berjalan santai, tak seperti beberapa saat lalu. Wahyu tersenyum, menatap pada gadis disampingnya. Gadis dengan rambut sebahu itu tersenyum lebar, menggerakan kepalanya kekanan dan kekiri, membuat rambutnya berayun seirama. Sangat lucu sekali.


“Mang, satu ya.” Wahyu berucap pada seorang pria di balik gerobak permen kapasnya. Pria itu mangangguk menanggapi Wahyu.


Bina menoleh pada pemuda di sampingnya yang kini menatap juga padanya. “Kakak nggak pesen?” Bina memiringkan kepalanya bertanya.


Wahyu menggelang menjawab. Respon itu hanya Bina balas dengan anggukan kepala.


Bina kini tengah menatap pada mesin pembuatan permen kapas yang dengan ajaib benda itu mengubah gula menjadi kapas-kapas awan yang berwarna.


“Loh Wahyu?”


Dua manusia itu berhasil membuat Bina menegang di tempatnya. Bagaimana tidak, kedua manusia itu sudah pasti Bina kenal. Pandangannya dengan salah satu manusia itu bersibobrok. Hal itu membuat Bina menunduk memilih menatap pada ujung sepatu yang ia kenakan.


“Yoo, Gi. Kencan?” Wahyu bertanya menggoda, mengedipkan sebelah matanya ke arah temannya.


Irgi melepaskan tautan tangan dengan kekasihnya. Pemuda itu menepuk pundak Wahyu, menyapa pemuda itu. Mengabaikan godaan dari temannya.


“Udah lama?” Irgi balik bertanya.


“Baru.” Wahyu berucap, ia merangkul pundak Irgi.


“Jangan malem-malem.” Irgi berucap membalas rangkulan dari temannya. Melirik sebentar pada Bina.


Bina masih menatap pada sepatu nya, sampai pedagang permen kapas memberinya benda dagangannya di depan Bina. Gadis itu mendongak, menerima makanan dengan bentuk kapas itu. Membayarnya tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Bina memilih diam mendengarkan Wahyu yang berbicara panjang lebar dengan temannya.


“Kamu Bina kan?”


Suara perempuan yang pernah Bina dengar beberapa kali menyapa telinganya. Perempuan itu berdiri di belakang Bina. Seolah menolak kehadiran sosok itu, ia seakan sulit untuk hanya sekedar berbalik badan dan menyapa.


Entah kenapa. Dirinya juga bingung. Sekarang dirinya seolah takut akan kepergok sedang selingkuh, padahal dirinya kini hanya sedang bermain di wahana dengan Wahyu pula, bukan dengan siapa pun.


“Iya kak.” Bina mengangguk, masih menunduk tak berani tuk mendongak.

__ADS_1


“Kamu suka permen kapas?” Perempuan itu bertanya semangat.


“Iya kak.” Bina hanya mengangguk kembali. Melirik sedikit pada gadis di hadapannya.


Sangat cantik, anggun, dan kalem. hal itu bisa dinilai hanya dari penampilannya saja. Gadis itu mengenakan rok dengan panjang di bawah lutut, dengan motif bunga-bunga kecil yang cantik. Rambut panjangnya ia gerai, sedikit bergelombang, tak lupa sepatu putih yang sangat amat cocok dengannya. Dan menurut Bina, semua gambaran itu sudah pasti benar adanya. Pita, gadis itu, benar-benar sangat sempurna.


Berbanding terbalik dengannya, yang kini hanya memakai kaos bergambar kartun. Tak anggun, malah dirinya seperti bocah hilang dari tangan mamanya.


“Aku juga suka.” Gadis itu berucap, tak lama ia pun memesan hal serupa dengan Bina pada si pedagang.


“Kamu kelas apa?”


Pertanyaan kembali lagi Bina dapatkan dari gadis di hadapannya. Sungguh perasaan yang tadinya senang karena ia berada di tempat ini. Malah kini berganti dengan rasa ingin pulang. Kalau begini jadinya Bina lebih memilih menghabiskan waktunya menonton drama korea nya yang tinggal dua episode itu.


“IPA dua kak.” Jawab Bina pelan.


“Ohh.” Gadis itu mengangguk-anggukan kepalanya mengerti. Setelahnya ia diam, menunggu permen kapasnya.


“Bin, mau naik apa lagi.” Wahyu berkata, pemuda itu berjalan menghampiri Bina, setelah tadi menjauh dengan Irgi entah berbicara apa.


Mendengar pertanyaan itu Bina memegang dagunya, berfikir. Entah, sekarang yang ada dipikirannya adalah pulang saja, atau menghilang dari pandangan kedua tamu tak diundang nya ini. Apa lagi pemuda ‘itu’ walau tak berkata tapi ia bisa merasakan tatapanya, dengan tatapan yang tak bisa Bina translate artinya. Ia tak mengerti.


”Bingung kak.”


Akhirnya hanya kalimat itu yang keluar dari bibir Bina. Rencana-rencananya untuk mencoba semua wahana sudah hilang entah kemana, padahal tadi ia sudah susun di dalam kepalanya, ia akan menaiki yang mana terlebih dahulu. Bina menggaruk kepalanya bingung.


“Bianglala aja gimana?”


Pertanyaan sekaligus saran dari gadis yang kini memegang permen kapas dengan warna yang sama dengan Bina, membuat tiga kepala menoleh padanya. Bina mengangguk-angguk saja sebagai respon.


“Aku juga mau naik itu sama Irgi. Pas kan? Yuk bareng.” Ajaknya. Gadis itu menggandeng lengan Irgi, berjalan terlebih dahulu di depan Bina dan Wahyu.


Melihat temannya yang sudah berjalan, Wahyu mendorong punggung Bina untuk juga berjalan mengikuti kedua manusia dihadapan mereka.


“Di makan Bin.” Wahyu mencomot sedikit permen kapas dari tangan Bina, memakannya.


Bina hanya mengangguk, ikut memakan permen kapasnya. Berjalan menuju bianglala.


Mereka kini sudah berada di salah satu sangkar besi, mirip dengan rumah burung. Benar yang ada di bayangan Bina, pemandangan dari sudut pandang ini membuatnya bisa melihat pemandangan yang lebih indah. Sungguh sangat indah. Senyumnya terbit tak luntur barang sedetik.


Sama halnya dengan Wahyu. Pemuda itu juga tersenyum manis memandang pemandangan indahnya. Bukan, bukan pemandangan di luar sangkar yang indah. Namun di dalamnya. Senyum manis yang ia cipta tak semanis senyum yang kini menjadi arah pandangnya. Satu kata yang lebih dari kata indah...


“Cantik...”


(ˉ▽ ̄~)

__ADS_1


__ADS_2